Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 218 Hari Bahagia Siti Juriah


__ADS_3

"Mas..., bisakah kita berbicara empat mata?"


Arthur menatap wajah Inayah dengan tatapan tajam.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Ingin membuatku lupa ingatan dan kembali jatuh cinta lagi padamu? Aku sudah menyadari satu hal. Doa-doa yang kau panjatkan semuanya adalah tipu muslihat setan. Aku memang tidak percaya adanya Tuhan. Tapi aku percaya, kalau kau dan kalian sebenarnya adalah pengikut setan yang suka sekali bermain sihir membuat orang berubah. Kau, juga calon istri si Victor itu! Kalian adalah perempuan-perempuan yang rela berbuat apapun demi untuk mencapai tujuan!"


"Astaghfirullah..., Mas Arthur! Ini bukan masalah doa-doa apalagi sihir! Ini masalah kejiwaan Mas yang sedang down karena amnesia retrograte yang mas Arthur derita. Andai mas bersikap lebih tenang dan mau menerima kenyataan kalau kita ini adalah pasangan suami istri. Mas bisa lihat album foto keluarga kita. Mas bisa tanya orang-orang yang sekiranya mas anggap sebagai teman. Atau kalau mas benar-benar ragu, Papi dan Mami adalah orang yang paling bisa mas percaya. Mas...! Mas hanya kehilangan memori ingatan lima tahun belakangan ini. Mas jangan panik. Ada kami yang akan memberikan informasi yang sesungguhnya."


"Aku tidak nyaman bersamamu, Inayah. Aku... ingin cerai! Pi, Mi,... aku akan pulang ke San Fransisco bersama kalian. Aku ingin menemui Bianca."


"Arthur..."


"Keputusanku sudah bulat, Mi! Jangan sampai kita berdebat dan ribut semakin besar!"


"Hhh..., Mas! Besok adalah hari pernikahan mas Victor dengan Mbak Putri Fania. Bisakah kita menahan diri untuk acara besok? Kita adalah pasangan suami istri yang diketahui khalayak ramai. Bisakah besok Mas menahan diri untuk berjalan bersamaku di hari kebahagiaan mereka? Ada mbak Amelia dan keluarga suaminya. Aku tidak ingin mereka menjadi gusar melihat ketidak harmonisan kita di sana. Setelah itu, aku pasrahkan semua keputusan pada mas Arthur."


"Hm. Baiklah. Tapi aku tidak janji akan menggandeng tanganmu di sana!"


"Iya, Mas!"


Hancur berkeping-keping hati Inayah.


Berderai jatuh linangan air matanya di pipi.


Frederica mengekornya hingga masuk kamar.


"Sayang... Mami mohon, bersabarlah. Arthur lima tahun yang lalu adalah pribadi yang sangat keras kepala. Dia bahkan tak segan pergi tinggalkan rumah jika pendapat kami tidak sesuai dengan asumsinya. Jika kamu sampai salah sedikit saja berucap, akan fatal akibatnya."


"Mami, Inayah tak bisa berbuat banyak selain mencoba mencari alasan supaya mas Arthur bisa segera pulih ingatannya."


Frederica menepuk-nepuk bahu Inayah dengan lembut.


"Kami mendukungmu, Nak!" katanya sembari memeluk erat Inayah yang kembali berurai air mata.


.................


Semalaman Inayah tidak bisa tidur.


Hatinya gelisah mengingat betapa keras kepalanya Sang Suami.


Sejak Arthur siuman dari koma, Inayah tak diperkenankan untuk menemaninya di rumah sakit. Bahkan setelah pulang ke rumah pun, Arthur memerintahkan istrinya itu untuk pindah kamar.


Dengan Pupu, Arthur lebih sayang karena anak kecil imut itu adalah darah dagingnya bersama Bianca.

__ADS_1


Bahkan terkadang Pupu dimintai tidur di ranjangnya.


Kemarin-kemarin, Arthur tidak terlalu memanjakan Pupu secara gamblang meskipun di hatinya ada rasa sayang.


Hari ini mereka akan pergi ke pesta pernikahan Victor dan Juriah yang terkesan dadakan.


Mereka hanya butuh waktu dua minggu seminggu setelah menjenguk Arthur di rumah sakit tempo hari.


Pernikahan yang bahkan oleh Juriah sendiri seperti pernikahan kontrak karena Victor yang terlihat diam-diam menghanyutkan.


Hati Juriah sebenarnya dihantui kebimbangan. Apakah Victor benar-benar mencintainya, atau hanya sekedar akting saja.


Bahkan Juriah merasa Victor hanya ingin menikahinya untuk menutupi kebelokannya di mata masyarakat yang sudah mulai curiga pada gemah gemulainya.


"Kenapa kulihat kamu tidak terlalu antusias, Put?"


Pertanyaan Victor membuat Juriah terdiam.


"Aku takut ini hanya mimpi."


"Ini nyata, Sayang. Lima jam lagi kita akan jadi pasangan suami istri. Cubit saja pipimu yang menggemaskan ini."


Victor menjawil pipi Juriah.


"Tidakkah kamu lihat pengorbananku untuk menikahimu? Aku mengucap dua kalimat syahadat. Tiga hari kemudian, aku disunat juga. Dan sekarang..., lima jam lagi, aku akan mengucapkan ijab kabul menikahimu. Apa itu tidak membuatmu bahagia?"


Juriah merasa jantungnya disentil Victor.


"Maaf, Mas! Tapi semua ini terlalu sempurna bagiku. Terlalu hebatnya cinta datang dengan cepat membuatmu mendekat secepat kilat."


"Itu karena aku takut kamu keburu diambil orang!"


Tentu saja Juriah cengo'.


Entah apakah ucapan Victor benar atau hanya asal ucap. Tapi hatinya sejenak melunak dan lumer meleleh. Juriah tersipu malu.


"Kamu sangat cantik ketika bertingkah seperti ini. Menggemaskan dan ingin sekali kul+++t bibir ranumnya."


Bulu kuduk Juriah merinding. Ngeri-ngeri sedap mendapatkan pujian yang mengarah ke hal yang sensitif.


"Kenapa kamu seperti illfeel padaku, Putri? Apa..., aku ini tidak sesuai dengan kriteria suami idamanmu?"


"Tidak, Mas! Kamu adalah pria dewasa yang begitu sempurna. Aku justru minder dan nyaris tak percaya kalau kamu melakukan semua ini untukku. Sungguh! Apalagi sampai kamu bilang sesuatu yang mengejutkan. Kamu takut aku keburu diambil orang. Kamu juga memujiku setinggi langit. Memuji wajahku cantik, bodiku bagus, juga... bahkan bibir ini. Aku, aku merasa... kamu sedang bersandiwara jadinya, Mas!"

__ADS_1


Grepp.


Victor mel++++ bibir Juriah dengan cepat.


Juriah tentu saja terkejut. Tapi kali ini dia tidak berontak. Juriah diam menikmati sensasi ciuman yang Victor berikan.


Meskipun seorang janda dan bahkan pernah bercinta dengan atasannya juga, Juriah adalah perempuan yang polos yang tidak pernah mendapati ciuman hot seperti saat ini.


Lidah Victor bahkan masuk ke dalam rongga mulutnya. Bermain-main di langit-langit mulut dan menarik ulur bibir atas dan bawahnya.


Perlahan membuat Juriah kian menikmati ciuman luar biasa dari sang calon suami.


Krieeet...


"Halo, pengantin! Sudah si_,"


Rozie Sang asisten sekaligus penata rias keduanya langsung menutup mulutnya melihat keintiman yang Victor lakukan bersama Juriah.


"Alamak! Ish, kalian nih! Kunci pintunya dong kalo mau kissing!" gerutunya sembari keluar cepat dan langsung menutup pintu.


Bruk.


"Hehehe..."


Juriah tertunduk malu sambil tersenyum kecil. Pipinya merah merona.


"Aku cinta padamu. Itu sebabnya aku bergerak cepat ingin menikahimu. Apakah kamu percaya padaku, Siti Juriah alias Putri Fania?"


Juriah mengangguk.


Keduanya saling berangkulan.


"Ayo, kita hadapi dunia bersama!"


Juriah menatap wajah Victor. Ia mengusap lembut bibir Victor yang tampak semakin merah karena lipstiknya yang turut menempel di sana.


Keduanya tertawa bersama.


Ya Allah ya Tuhanku... Terima kasih atas kebahagiaan yang Kau berikan ini. Aku sangat bersyukur. Akan ku jaga cinta Mas Victor selama-lamanya. Akan ku terima kelebihan serta kekurangannya. Mulai saat ini, aku ingin jadi istri yang baik.


Doanya dalam hati.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2