Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 190 Akhir Yang Bahagia 2


__ADS_3

Akhir cinta yang bahagia.


Arthur dan Inayah berhasil melewati badai rumah tangga yang datang menerpa.


Bianca keluar dari rumah sakit dan pamit permisi untuk yang terakhir kali pada pasangan suami istri yang akan mengurus putranya itu.


Putra Arthur Pangestu yang sudah sebulan lebih tinggal bersama Inayah awalnya sempat ketakutan kalau akan kembali diambil dan diasuh Bianca.


Bahkan Aturr sempat menangis keras dipelukan Inayah. Tak mau menatap wajah Bianca.


Aturr sepertinya memiliki trauma yang cukup besar karena kekerasan yang sempat Bianca lakukan ketika mengurus dan merawat bocah itu.


"Tidak, Sayang! Mama Bianca hanya ingin pamitan. Tidak akan membawa Pupu pergi. Mama Bianca akan kembali ke negara asalnya. Pupu adalah anak Papa dan Bunda. Sampai kapanpun Pupu akan tinggal bersama kami di sini. All right?"


Pupu adalah panggilan sayang Inayah pada putra sambungnya itu.


Dan Pupu juga sudah mengerti bahasa Indonesia karena Inayah mengajarkannya perlahan setiap hari.


Bianca senang, Inayah menyayangi Pupu seperti putra kandungnya sendiri.


Bianca memeluk erat Inayah dan mengucapkan terima kasih dengan suara parau menahan haru.


Arthur tidak banyak berkata-kata. Ia sangat menjaga perasaan Inayah dan tak ingin membuat suasana kembali memanas. Ia hanya membukakan pintu mobil untuk Bianca dan mengucapkan kalimat selamat tinggal. Arthur juga berkata agar Bianca menjaga dirinya dengan baik. Bahagia sampai akhir, itu doanya juga yang disampaikan langsung membuat Bianca tersenyum dan mengangguk terharu.


Lambaian tangannya menjadi pertemuan terakhir kedua mantan pasangan itu.


Bianca kini tersadar kalau Arthur berhak bahagia. Dan Tuhan sudah memberinya bahagia dengan mengirimkan seorang gadis cantik nan baik hati. Itu semua karena ketulusan hati Arthur tentunya.


Siapa yang berbuat baik, pasti balasan indah yang akan diterimanya. Begitu sebaliknya. Siapa yang berbuat jahat, balasan keburukan pun akan datang menghampirinya.


Tuhan itu Maha Adil.


Kini Bianca mengerti akan arti hidup yang sesungguhnya.


.......


Empat bulan telah berlalu.


Film garapan Arthur mendapatkan respon positif di kancah dunia. Meskipun tidak menjadi film terbaik, tapi film itu dinobatkan sebagai film terfavorit dengan kisah cerita yang mengharu biru serta latar belakang pemandangan yang indah karena syuting kebanyakan di Bali.


Arthur bahagia sekali sambil memeluk erat tubuh sang istri yang akan segera dibawanya ke pelaminan untuk yang kedua kali.


Pernikahan mereka sudah Arthur rencanakan selama ini. Pernikahan yang akan menjadi kenangan indah seumur hidup Arthur dan Inayah.


Arthur ingin semuanya sempurna. Karena Inayah adalah gadis sempurna yang Tuhan kirimkan untuknya.


Inayah adalah keberuntungan hidup baginya.


Seperti pernikahan Amelia dan Lukman dahulu, Inayah ingin mengundang seluruh tetangganya di kampung untuk menghadiri pernikahan mereka di villa milik keluarga Joko Handoko di kota hujan.


Untuk itu, keluarga besar almarhumah Mia pulang kampung konvoy empat mobil sekaligus.


Keluarga Lukman-Amelia, keluarga Tia-Alif, Keluarga Arthur-Inayah, juga ada pasangan partner Rama dan Shinta serta Gaga yang turut serta di mobil kakak laki-lakinya itu.


Semua putra-putri Mia-Kan'an pulang kampung. Tujuannya adalah ziarah kubur dan mengundang seluruh tetangganya untuk menghadiri pernikahan Inayah yang diadakan di villa Puncak Pass selama tiga hari berturut-turut.


Sebelum menuju rumah sederhana mereka yang tidak dirubah untuk menjaga kenangan indah bersama Bapak Emak, mereka melipir ke area pemakaman terlebih dahulu.


Makam Mia dan Kan'an bersebelahan. Rapi dan telah dipasang keramik yang indah. Membuat seluruh anak mereka bahagia karena kerabat mereka merawatnya dengan baik dan selalu bersih.

__ADS_1


Amelia memangku Adam dan Lukman menggendong Hawa. Tia tertawa melihat Alif menggandeng putranya yang telah tumbuh remaja. Sementara Inayah menuntun Pupu dan Arthur menjinjing koper kecil berisi makanan. Rama berjalan beriringan dengan Shinta yang terus digoda Gaga setiap waktu.


Suasananya sangat menyenangkan. Penuh kekeluargaan.


Mereka khusu' berdoa dengan bersimpuh di depan makam kedua orang tua.


Lukman yang memimpin doa. Dan semua mengamininya.


"Mak, Pak... Kami datang berkunjung ke rumah kalian. Kami semua, hidup bahagia. Mak Bapak tak perlu risau. Kami semua telah memahami arti kehidupan setelah mendapatkan pelajaran dari kalian. Terima kasih, telah menjadikan kami anak yang baik. Terima kasih, telah merawat kami dengan kasih sayang dan pendidikan hidup yang luar biasa. Hik hiks hiks... Mak, Pak... Semoga Allah memberikan kalian tempat yang indah karena amal ibadah serta kebaikan kalian berdua. Semoga Allah mengumpulkan kita kembali nanti di akhirat. Aamiin ya Allah ya robbal'alamiin..."


Amelia sebagai anak tertua mengucapkan kalimat-kalimat yang indah, membuat semuanya menitikkan air mata keharuan.


Lima belas menit berharga, berdoa dan tafakur. Mereka menuju rumah masa kecil mereka yang sederhana.


Sempat direnovasi, tetapi tidak merubah tampilan karena mereka ingin mempertahankan kenangan indah bersama di rumah itu. Bahkan coret-coretan tulisan tangan iseng Amelia, Tia, Rama, Inayah dan Gaga masih ada sampai saat ini. Semua untuk mempertahankan kenangan.


Sempat ada orang yang menawar rumah dengan harga tinggi, tapi Amelia dan yang lainnya menolak. Rumah itu adalah rumah yang sangat berharga bagi mereka meskipun tidak lagi mereka tinggali.


Mereka hanya akan pulang sesekali, untuk menengok seperti saat ini.


Ada kerabat dari Mia yang mengurusnya rutin setiap hari, sehingga keadaan rumah itu tidak kotor berdebu. Bahkan beberapa perabotan di lap setiap minggunya dan ranjang tidur setiap sebulan sekali diganti spreinya.


Amelia menatap lekat rumah mereka dengan penuh kerinduan pada Kan'an dan Mia.


Lukman merangkul bahunya. Tersenyum manis dan keduanya masuk rumah yang pintunya sudah terbuka lebar karena Tia dan Alif membuka gemboknya.


"Mas... Soleh?"


Semua terkejut, Rama yang masih ada di luar menegur seseorang.


Seseorang yang sedang menanggul karung penuh berisi rumput hijau untuk makanan ternak berjalan tertatih dengan peluh bercucuran di sekujur tubuh.


"Ka_kalian pulang kampung? Maaf..., saya kira kalian tidak akan kembali menginjak rumah ini. Saya..., saya tinggal di gang sebelah. Permisi..."


Soleh memerah wajahnya.


Ia tak berani menegakkan kepala dan menatap wajah Amelia yang terdiam terpana.


Malu hati atas semua perbuatannya di masa lalu. Soleh berlalu setelah pamit dengan suara terbata-bata.


Paman Burhan mengatakan kalau Soleh membeli rumah Cak Kodir dan tinggal di sana sejak beberapa bulan terakhir.


Soleh tinggal sendirian setelah bercerai dengan istri mudanya yang bernama Siti Juriah.


Soleh kesal karena cacat fisiknya dimanfaatkan Juriah untuk meminta-minta di persimpangan lampu merah.


Soleh malu, ia merasa masih sanggup untuk mencari nafkah meskipun dengan keadaan yang tidak lagi sempurna.


Tapi Juriah tidak punya hati dan selalu ingin Ia jadi gembel gelandangan pengemis karena lebih banyak bawa uang setiap hari dibandingkan kerja halal lainnya.


Juriah meminta cerai dan Soleh mengabulkannya.


Soleh membeli rumah kecil milik cak Kodir dan membeli sepasang kambing dari hasil jual rumah warisan orangtuanya dan sisa bagi hasil dengan Lani, adik perempuannya.


Lani sendiri kini bekerja di Macau sebagai Tenaga Kerja Asing di negeri orang.


Mariana Ibunya Soleh sudah meninggal dunia setahun yang lalu. Itu sebabnya Ia dan Lani sepakat menjual rumah orang tua mereka dan membagi hasil penjualannya untuk modal usaha.


Soleh membuka usaha bengkel kecil-kecilan di pinggir jalan setelah membeli mesin kompresor dan alat-alat perkakas bengkel lainnya.

__ADS_1


Setiap sore ia pergi mencari rumput untuk pakan kambingnya agar besar dan beranak pinak.


Begitulah keadaan Soleh sekarang.


Amelia tidak ingin bahagia diatas penderitaan orang lain. Cukup pelajaran hidup berharga yang dapat Ia petik dari kisahnya di masa lalu.


Bahwa Allah tidak tidur. Allah akan senantiasa mengganti kesedihan menjadi kebahagiaan. Allah akan merubah keburukan menjadi kebaikan.


Semua akan ada balasan. Baik dan buruk setiap langkah yang diambil, semua akan Allah bayar tunai. Hanya tinggal menunggu waktu saja.


Orang yang berbuat jahat, pasti ada balasan. Begitu pula orang yang telah berbuat baik.


"Sayang..., kenapa kamu agak pendiam? Apa karena bertemu orang itu,"


Amelia menutup mulut suaminya dengan jari telunjuknya.


"Tidak, tidak karena bertemu dengan mantan suamiku. Tapi karena Aku melihat sendiri, kebaikan Allah Ta'ala kepadaku, Mas. Aku bahagia, sangat bahagia. Karena diberi jodoh seorang pria tampan baik hati bernama Lukmanul Hakim. Aku bersyukur sekali. Dan aku berharap jodohku ini akan sepanjang hidup selalu bahagia selamanya. Saling bisa menutupi kekurangan masing-masing. Merawat dan membesarkan putra-putri kita hingga berhasil."


"Aamiin..."


Lukman mendekap Amelia dengan lembut sekali.


Bibirnya mengecup kening sang istri.


"Aku sayang kamu, Amelia..." bisiknya lirih.


"Terima kasih, Mas... Terima kasih untuk cintamu padaku yang begitu banyak dan besar. Aku juga sayang kamu, cinta kamu, dan juga anak-anak kita."


"Kalau seandainya tambah satu anak lagi, gimana? Hihihi..."


Lukman mengikik tertawa kecil mendapati cubitan mesra Amelia yang selalu ia suka.


"Boleh ya?" godanya lagi.


"Boleh. Tapi kamu harus janji, aku adalah perempuan satu-satunya dalam hidupmu sepanjang umurmu!" jawab Amelia dengan bibir mencucut.


"Hei, mana bisa! Mama dan Hawa? Bagaimana?"


"Hehehe... oiya ya. Lupa, Mas! Hehehe..."


Lukman mengecup kening Amel. Lalu beralih ke pipi kanan dan pipi kiri. Kemudian turun ke bibir seraya berkata, "Kamulah satu-satunya, Amelia! Cintaku hanya untukmu. Tidak akan pernah kubagi. Insha Allah, aku akan pegang janjiku ini."


Cup.


Amelia mel++++ bibir Lukman dengan hati yang hangat.


Rumah masa kecilnya jadi saksi cintanya pada sang suami yang telah memberinya dua anak kini.


Doa-doa kebaikan berumah tangga langgeng selamanya menggumam di dalam hati keduanya.


Hidup hanya sekali. Berharap menikah pun cukup sekali.


Tetapi jika kenyataannya harus mengalami kepahitan dalam berumah tangga, tetap harus berjiwa besar menghadapi permasalahan yang ada.


Setiap kepahitan hidup pasti ada gantinya.


Impian hidup bahagia, jika kita berbuat baik, selalu berdoa dan terus berusaha yang terbaik, pasti Tuhan akan berikan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2