Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 176 Tiga Menantu Hebat


__ADS_3

Arthur mengabari Inayah kalau Ia akan pulang lebih cepat dari yang dijadwalkan karena orang tuanya ingin segera berkenalan dengan menantu dan keluarganya.


Inayah cemas.


Ia gugup. Khawatir dirinya tidak bisa mengimbangi orang tua Arthur yang konglomerat, orang kaya raya beruang banyak.


Inayah sampai curhat dan minta advice secara pribadi kepada kakak sulungnya, Amelia.


"Jangan panik, Nay! Jangan juga kita jadi merubah sikap apalagi sifat hanya untuk menyenangkan keluarga suami. Jadilah diri sendiri. Tetap rendah hati seperti biasanya kita berbuat, karena kita memang berasal dari keluarga sederhana. Jangan ingin dipandang baik hingga kamu jadi over acting dihadapan mereka. Cukup sewajarnya saja. Semua mengalir seperti air saja, Inayah!"


"Mbak Yu' sih enak. Sedari awal sudah kenal sama keluarga Mas Lukman. Aku? Langsung menikah tanpa sempat dikenalkan dulu oleh Mas Arthur ke keluarganya. Ditambah lagi, kami berbeda keyakinan, Mbak!"


"Ya setiap orang itu berbeda jalan hidupnya, Inay! Mbak Yu' dulu juga beneran insecure. Degdegan parah pas pertama kali ketemu Mama Fanny dan Papa Bimo. Siapa bilang aku melewati semua dengan begitu mudahnya. Tapi Alhamdulillah, mereka semua orang baik. Mereka menerima kehadiranku yang jelas-jelas sangat jauh dibandingkan putranya. Mas Lukman bujangan, Aku janda. Bahkan status sosial kita. Tentu saja was-was Keluarganya tidak akan merestui hubungan kami. Kalau kamu, ikatan kalian sudah lebih erat karena bukan status pacaran melainkan menikah. Otomatis hubungan kalian jauh lebih jelas. Ditambah Arthur juga punya kehidupan sendiri tanpa tergantung pada orang tua. Dia menikah denganmu dan kalian tinggal jauh dari orang tua Arthur. Kalau Mbak Yu', waktu itu Mas Lukman adalah tumpuan keluarga. Masih tinggal bolak-balik dan masih jadi anak Mama. Hehehe... Bisa Inay bayangkan betapa takutnya Mbak Yu'. Masalah keyakinan, itu adalah urusan pribadi seseorang dengan Tuhan. Jangan pernah membeda-bedakan. Apalagi kalian sama-sama belum kenal dan belum pernah bertemu satu sama lain. Siapa tahu, mertuamu justru jauh lebih welcome dan humble dibandingkan mertua orang lain yang seagama. Iya kan? Hehehe..."


Inayah tersenyum tipis.


"Mbak Yu' benar. Makasih ya, Mbak. Aku kini lega, mendengar nasehat Mbak Yu'. Mbak juga terlihat keren dan elegan sekarang. Bahasanya, bagus banget. Hehehe..."


"Aku juga terus belajar, Nay! Tentunya untuk mengimbangi mas Lukman. Aku gak mau buat suamiku malu. Aku ingin Ia bangga karena telah mengambil keputusan menikahiku. Hihihi... Jadi, terus belajar dan belajar. Perlahan saja, lama-lama bisa sejajar juga kan. Hehehe..."


Amelia membuat dirinya jauh lebih tenang. Semua yang diucapkan kakaknya itu benar. Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu takut. Jangan lebay apalagi alay. Setiap orang memiliki karakter dan juga sifat yang berbeda. Bahkan bila mungkin penilaian mereka pada dirinya kurang bagus, Inayah akan menerima. Dia memang masih teramat muda. Masih perlu banyak belajar dalam hal segalanya. Apalagi untuk urusan rumah tangga. Yang sama sekali tak pernah Inayah bayangkan dirinya akan menikah muda.


Arthur menchat Inayah kalau mereka akan langsung menuju rumah sakit. Keluarganya akan menjenguk Mia terlebih dahulu.


Inayah dan keluarganya menyambut kedatangan keluarga Arthur di rumah sakit.


Mia memang ditempatkan di ruang ICCU khusus dengan kamar inap yang lebih privasi. Kelas VVIP. Itu semua adalah prakarsa Lukman dan kedua menantu Mia yang lainnya. Yakni Alif dan Arthur.


Frederica terkejut melihat banyaknya anggota keluarga Inayah, kecuali si kembar putra-putri Amelia dan Lukman yang ditinggal di rumah bersama suster mereka. Bahkan para menantunya juga berkumpul di ruangan perempuan paruh baya yang hampir seusia dengannya.


Perempuan asli San Fransisco itu diam-diam mengagumi keeratan hubungan anggota keluarga Inayah. Bahkan disaat musibah kepala keluarga sedang terbaring sakit, semuanya semakin kuat mendukung satu sama lain.


Tanpa banyak bicara, hanya tatapan kekaguman dan senyum kebahagiaan melihat putranya terlihat berbeda sekali dengan kehidupannya yang dahulu.


Ia juga suka menatap Inayah yang gugup berdiri disamping Arthur.


Frederica tersenyum pada Joko. Keduanya mengangguk dengan kode.


Sesekali Frederica melirik Arthur yang tersenyum sumringah.


Arthur Handoko dulu pendiam. Wajahnya nyaris tak pernah senyum. Tiada hari tanpa bermuram durja.


Bahkan ketika ditanya, Arthur lebih suka menjawabnya dengan gesture tubuh seperti anggukan atau gelengan kepala saja. Hingga dewasa, Arthur seperti itu.


Di tempat kerjanya juga dia dingin menakutkan. Jarang berbicara panjang lebar. Langsung pada inti dan tidak suka berbelit-belit orangnya.

__ADS_1


Tapi kini, Arthur terlihat cerah ceria. Murah senyum bahkan banyak bicara.


Frederica diam-diam memperhatikan putranya dalam hati.



(Visual Alif)



(Visual Lukmanul Hakim)



(Visual Arthur Handoko)


Di kesempatan kali ini, Frederica dan Joko memang sengaja hanya menyimak obrolan keluarga menantunya. Itu adalah kebiasaan pasangan suami istri itu ketika berada di lingkungan baru.


Hanya sepatah dua patah kata dan senyuman manis sesering mungkin. Selebihnya, mereka hanya menyimak. Melihat dan menilai seberapa akrab nantinya mereka mengimbangi.


Tiba-tiba,


"Mak!?! Mak!!! Dokter, Mak sudah sadar!"


Joko dan Frederica pun ikut senang meskipun sempat panik.


Sungguh suatu keajaiban. Mia terbaring dengan kepala agak tinggi setelah minta tambahan bantal penyangga pada dokter dan suster yang berdatangan memeriksanya.


Mia bahkan tersenyum merespon tatapan Frederica yang duduk dihadapannya dengan jemari hangat menggenggam.


"Ibu..."


"Senangnya..., kehadiran saya disambut Ibu Mia. Puji Tuhan, luar biasa. Saya senang dan bahagia."


"Teri...ma kas_sih..."


Mia tersenyum tipis.


Keduanya saling berpandangan. Diam dan hanya saling lempar senyuman. Namun seperti ada obrolan telepati dalam hati. Tampak terlihat Frederica mengangguk sambil mengusap lembut punggung tangan Mia.


"Putri Ibu sangat cantik. Saya bangga, putra saya bisa menikahi gadis manis yang santun seperti Inayah. Saya senang, putra saya memiliki keluarga baru yang mencintai dia dan juga sangat dia cintai selain keluarganya sendiri."


Mia mengedipkan matanya. Senyumnya terus mengembang.


"Saya... titip put_ri sa_ya. Dia... ma_sih sangat muda. Masih belum banyak... yang ia... keta_hui. Saya mohon...bim_bingan...nya."

__ADS_1


Mia mengucapkan kalimat panjang dengan suara terbata-bata pada Frederica.


"Saya akan menyayangi Inayah seperti menyayangi putra kandung saya sendiri. Ibu tidak perlu kuatir. Kita dulu juga pernah muda. Hehehe..."


Mia terisak. Mengucapkan kalimat terima kasih pada Frederica dan Joko dua kali.


Mia mengangkat tangannya. Melambai pelan kepala tiga menantunya yang saling bertatapan.


"Sini..."


Ketiganya menghampiri Mia.


"Mak titip...anak_anak E_mak ya?!"


Lalu tiba-tiba,


Mia tersengal. Tubuhnya berguncang keras membuat semua yang ada di kamarnya terpekik histeris.


Lukman dan Alif berlari memanggil dokter yang berjaga di ruang depan kamar inap Mia.


"Dokter! Dokter Ramon!!! Cepat!"


Mia... mendapatkan pemeriksaan dari beberapa dokter spesialis termasuk dokter Ramon.


Semua tindakan mereka lakukan demi membantu kondisi Mia agar stabil kembali.


Namun,


Amelia, Rama, Tia, Inayah dan Gaga tersentak melihat tangan Emak yang terkulai lemas.


Pertanda...


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..."


"Emaaakkkk!!!"


Hari itu, Hari Senin. Mia berpulang ke Rahmatullah dengan bibir tersungging senyuman. Dan raut wajah kuning cerah memancarkan kebahagiaan.


Mia meninggal dunia, menyusul sang suami yang sudah menantinya di alam baka.


Tangisan kesedihan seketika menggema memenuhi ruangan kamar inap Mia.


Jodoh, rezeki, umur... Allah lah Sang Maha Pengatur.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2