Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 158 Keributan Yang Mengejutkan


__ADS_3

"Tanganmu dingin, Yang!" gumam Lukman seraya meraih jemari Amel dengan penuh perhatian.


Kini mereka sudah duduk di kursi tunggu ruang dokter spesialis kandungan. Menunggu nomor antriannya dipanggil suster dan tiba giliran diperiksa ke dalam.


Amelia tersenyum menatap wajah Sang Suami.


Lukman seperti tahu isi hati Amelia. Lukman menggeleng kuat-kuat.


"Jangan dipikirkan masa lalu! Ingat, ada dua calon anak kita yang menunggu launching!" tegur Lukman yang sedang cemburu.


Amelia mengelus pipi Lukman yang gerahamnya terlihat menguat.


"Iya, Papa Sayang! Cuma sedang berfikir, dan sangat bersyukur karena Allah Maha Baik padaku."


Lukman menatap wajah Amelia.


"Aku cemburu! Jangan mengenang kebersamaan kalian di masa lalu! Huff huff hufff!"


Lukman bertingkah meniup ubun-ubun Amelia membuat istrinya yang tengah hamil besar itu tertawa kecil.


"Aku malah mikirin siapa itu namanya, produser bule yang sempat dekati kita pas waktu bulan madu?"


"Yassalam, genitnya! Malah mikirin pria lain lagi!" seru Lukman. Dengan gemas dicubitnya pipi chubby Amelia yang kini lebih berisi sejak hamil.


"Hehehe..., maaf, Mas! Emak dan Rama bilang, kalau bule itu sedang produksi filmnya saat ini di Jerman. Hm..., gak kebayang Aku jadi artis dan terbang ke Jerman, hihihi..."


"Allah Maha Baik padaku. Istriku ini dikasih dua anak sekaligus biar gak lenjeh kepingin jadi artis dan main film sama bule tengil itu."


"Hehehe..., iya juga ya, Mas!"


"Ya iyalah. Kamu cukup main film sama Aku. Jadi artis Aku, bikin cerita hidup bersamaku dan anak-anakku nanti! Bukan kepincut sama bule tengil itu!"


"Hehehe... ya ampun, Mas! Lagipula mana ada bakat Aku jadi artis? Memangnya secantik apa sih Aku sampai kamu berfikir kejauhan begitu! Hehehe..., jadi ge'er nih!"


"Kamu itu idaman pria-pria bule. Lupa ya sama ucapan perias MUA pernikahan kita tempo hari? Ehh pas honeymoon ternyata beneran didekati bule penasaran. Beneran bikin Aku jantungan!"


"Maasss...! Aku beruntung mendapatkan kamu. Sangat beruntung! Entah apa jadinya Aku jika tanpa kamu. Mungkin masih terus berjuang berdagang di teras rumah kontrakan. Kamu segalanya bagiku, Mas! Terima kasih."


Kini Lukman yang merona tersipu malu.


Amelia sedang memujinya setinggi langit.


Amelia menarik tangan Lukman. Meletakkannya di atas perut buncitnya yang bergerak.


"Ini..., bukti cintaku padamu. Allah memberikan dua sekaligus. Hehehe..."


Cup.


Lukman mengecup kening istrinya.


Ia tersipu setelah sadar kalau disekitar mereka sudah cukup banyak pasien lain yang mengantri dan senyum-senyum memperhatikan interaksi pasangan suami istri itu yang terlihat uwu menggemaskan.


Lukman telah berjanji dalam hati. Akan menjadi suami dan Ayah yang sayang istri anak nantinya.

__ADS_1


Ia ingin seperti Papanya, tapi santai dan demokrasi seperti Mamanya.


Khayalan Lukman sudah tinggi di awan.


Masa-masa kesepian hidup membujang kini semakin jauh dari ingatan.


Lukman kini sudah bahagia. Sangat bahagia karena akhirnya beristrikan Amelia seperti dugaannya.


Amelia terlihat cuek di luar rumah, tapi di dalam rumah, istrinya itu sangatlah perhatian padanya.


Makan, minum serta pakaiannya, semua Amelia yang menyiapkan. Juga perhatian kecil seperti menyiapkan mandi aroma terapi dan pijat massage seminggu sekali serta menyediakan secangkir minuman berkhasiat untuk kesehatan juniornya juga.


Lukman sangat tersanjung diperhatikan sedemikian detilnya oleh Amelia.


Tidak seperti Soleh yang dulu menganggap perlakuan khusus Amelia itu adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan oleh istri.


Lukman berbeda sekali.


Ucapan terima kasihnya berkali-kali tanda Ia sangat mensyukuri nikmat beristrikan Amelia.


Tapi sejak perut Amelia makin membesar dan terlihat semakin kesulitan bergerak, massage pijatannya dihentikan dahulu. Lukman tidak tega melihat Amelia mengurus dirinya hingga kelelahan.


Ditempat yang berbeda,


Inayah sedang belanja ke pasar tradisional setelah pulang dari kampus.


Stok makanan di lemari pendingin rumah sudah kosong. Mia memberinya mandat agar mengisi kembali bahan-bahan makanan yang sudah habis.


Hingga tiba-tiba,


"Nona! Minta uang!"


Inayah terkesiap.


Seorang laki-laki berdiri dengan tangan menengadah santai menatapnya.


Anak punk!


Inayah segera menyodorkan selembar uang lima ribuan dan kembali berjalan.


"Tunggu! Masa' segini?"


"Ehh?!?"


Laki-laki itu menarik tungkai lengan Inayah dengan cepat. Kini bahkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Inayah.


Grep.


"Jauh-jauh kau dari gadis ini!"


"Heiii!!!"


Kejadiannya sangat cepat. Membuat Inayah bingung dan,

__ADS_1


Bug bag bug, bag bug!!!


Tiba-tiba anak punk itu mendapatkan bogem mentah hingga posisinya terbaring di tanah dan... Arthur mendudukinya sambil menjotos wajahnya beberapa kali.


"Mas Arthur!!! Jangan!!! Nanti orang itu bisa mati!!!" pekik Inayah panik sekali.


Anak punk itu bonyok dengan wajah berlumuran darah.


Arthur bangkit.


Ia mengambil dompetnya dan menaruh lembaran uang kertas ratusan ribu rupiah di dada anak punk itu.


"Sekali lagi kau berani memalak dan merampok Inayah, urusan ini bakalan panjang!" ancam Arthur dengan jari telunjuk mengarah pada wajah anak punk yang masih terbaring di tanah sambil mengangguk dan mengangkat tangan.


"Ayo!!"


Inayah hampir lupa bernafas.


Sungguh kejadian yang membuat dirinya takut dan bingung barusan. Semua serba cepat.


Arthur menarik tangan Inayah dan membawanya keluar dari kerumunan yang kian membludak.


"Kenapa main hajar gitu, Mas? Gimana kalo tadi itu ada polisi dan kamu ikut diamankan?" protes Inayah agak kesal.


Lihat tasmu!" balas Arthur tak kalah kesal.


"Hahh?!? Tasku! Koq bisa?" pekik Inayah lagi.


Inayah terkejut melihat tas bagian bawahnya yang sudah terkena torehan silet hingga nyaris dompet dan isinya jatuh berarakan tanpa ia sadari.


"Dia itu mau nyopet kamu juga! Makanya kujotos congor baunya itu tanpa ampun!"


Inayah bergidik ngeri.


Sumpah ini adalah kejadian yang baru pertama kali Ia alami.


"Kalau dompetku diambil, gimana ngurus surat-surat berharga ini!?" gumamnya dengan suara bergetar.


"Makanya hati-hati! Ini Jakarta, Nona!" gerutu Arthur sambil membukakan pintu mobilnya kepada gadis ingusan yang bau kencur itu hingga masuk dan terduduk di jok depan.


Arthur masuk juga.


Perlahan mesin mobil Pajeronya dihidupkan dan kendaraan melaju perlahan.


"Motorku, Mas!" teriak Inayah, baru tersadar.


"Biar orangku nanti yang ambil! Mana kuncinya?"


Inayah menganga, kemudian menurut.


Arthur membuat gadis imut itu blank seketika.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2