Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 221 Akankah Badai Cepat Berlalu?


__ADS_3

Seperti mimpi, hari ini Inayah diam-diam mengikuti Arthur dan keluarganya sampai masuk pesawat di bandara Soekarno Hatta dengan air mata bercucuran.


Sang suami akan pulang ke kampung halamannya nun jauh di sana. Di benua yang berbeda.


Sebuah lagu yang sangat pas sekali liriknya mengalun lembut dari load speaker di salah satu kafe kecil di dalam bandara.


Ku selalu mencoba


Untuk menguatkan hati


Dari kamu yang belum juga kembali


Ada satu keyakinan


Yang membuatku bertahan


Penantian ini kan terbayar pasti


Lihat aku sayang


Yang sudah berjuang


Menunggumu datang


Menjemputmu pulang


Ingat slalu sayang


Hati ku kau genggam


Aku tak kan pergi


Menunggu kamu di sini


Tetap di sini


Berkali-kali Inayah menyusut air matanya sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit.


Kehamilannya sudah memasuki bulan kelima, tapi sudah merasakan kesedihan yang mendalam dan terasa sangat menyakitkan.



"Mas..., lekaslah sembuh! Cepatlah pulang! Anak kita menantimu kembali, Mas Arthur!" gumamnya pelan dengan mata menatap tanpa kedip pesawat yang membawa Arthur terbang ke benua Amerika.


Mengantar Arthur secara diam-diam tanpa Ia ketahui adalah hal terberat yang Inayah lakukan saat ini.


Sebelum dirinya pergi meninggalkan rumah Arthur di kota hujan menuju kota metropolitan, sempat terjadi drama rumah tangga yang memilukan.

__ADS_1


Perpisahan yang menyakitkan hati Inayah dengan Arthur apalagi Pupu yang sampai menangis histeris memegang erat gamis Inayah agar tidak pergi ikut Amelia dan Lukman.


Isak tangis Inayah dan putra Arthur itu tetap tak mampu meluluhkan kekerasan hati Arthur yang dalam kondisi amnesia retrograte.


Inayah sangat menyadari kalau semua yang terjadi adalah balasan Allah untuknya atas perbuatannya sendiri.


Beberapa kali ia minggat dari rumah ketika rumah tangga kecilnya diguncang masalah.


Beberapa kali pula dirinya lebih keras kepala dibandingkan Arthur sang kepala keluarga.


Kini, Arthur yang biasanya penyabar menghadapi dirinya yang masih labil dan sering bersikap kekanak-kanakan seperti bertukar posisi dengan dirinya.


Melihat keangkuhan Arthur, seperti berkaca pada dirinya sendiri.


Inayah menyadari Tuhan Maha Baik. Dikirimkannya jodoh yang sebelas-dua belas plek ketiplek adat tabiatnya. Ia merasa sedang bercermin melihat Arthur. Itu sebabnya tak ada sedikitpun Inayah menaruh rasa benci apalagi dendam mendapati kelakuan Arthur yang sangat menyebalkan.


"Pegang kunci rumah ini, Inayah! Kamu-lah pemilik sahnya setelah Arthur Handoko, putra kami. Atas nama Arthur, Papi dan Mami memohon maaf ya yang sebesar-besarnya sama kamu dan keluarga. Maaf..."


Inayah mengingat ucapan Frederica tadi pagi di depan bandara ketika mereka secara diam-diam melakukan pertemuan tanpa sepengetahuan Arthur dan Pupu yang sudah menunggu di boarding lounge.


Pelukan hangat Inayah dapatkan dari sang ibu mertua.


"Mami akan selalu kontak kamu tanpa sepengetahuan Arthur. Jangan khawatir, Suami dan putramu aman bersama Mami. Mami yakin, Arthur akan segera ingat kembali pada hidupnya yang penuh kebahagiaan. Yang sabar ya, Inayah? Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatanmu untuk calon cucu Mami. Janji?"


Inayah mengangguk.


Lidahnya kelu, mulutnya membisu seiring air mata yang terus menetes tanpa bisa ia hentikan.


Rama yang mengantarkan adiknya dengan mobil kantor perusahaan Bimo tak bisa berbuat banyak.


Kondisi Arthur bukanlah kondisi yang patut Ia hujat apalagi Ia salahkan seratus persen.


Ini adalah takdir. Takdir Inayah, takdir Arthur dan juga takdir semua anggota keluarga termasuk dirinya.


Arthur dalam kondisi kurang sehat jasmani dan rohaninya. Jiwanya sedang mengalami fase pencarian jati diri karena hilangnya separuh memori ingatan secara sementara akibat kecelakaan lalu lintas.


Rama hanya bisa berdoa dan mendoakan agar Arthur segera pulih kesehatannya.


Inayah sendiri sadar betul kalau dirinya lah yang membuat Arthur sampai mengalami kecelakaan.


"Andai saja saat itu aku tidak buat masalah dengan kabur ke rumah Mbak Amel. Andai saja aku bisa bersikap lebih dewasa untuk tidak ambekan dan membuat mas Arthur pusing tujuh keliling karena tingkahku. Andai saja aku tidak menelponnya saat Ia sedang mengemudi dan kalut karena masalah yang dihadapinya serta tingkahku yang enggak banget. Hhh..."


Rama meraih jemari adiknya tanpa kata.


Hanya genggaman hangat berharap Inayah kuat dan tegar menerima cobaan hidup.


"Mas...! Aku ingin kembali tinggal di rumah mas Arthur. Bisa bantu aku mendapatkan izin Mbak Yu' dan Mas Lukman?"

__ADS_1


Rama mengangguk.


Pria yang baru saja berulang tahun yang ke-tiga puluh tahun itu menyunggingkan senyuman pada sang adik. Dan sang adik langsung menggelayut kan kepala di bahunya.


"Yang sabar ya adikku. Badai pasti berlalu. Pelangi indah akan datang setelah hujan di sore hari mereda. Semua yang terjadi, pasti ada hikmahnya. Yang kuat, yang tabah. Ini adalah ujian kehidupanmu agar kamu semakin dewasa dan lebih baik lagi kedepannya."


"Hik hiks hiks..., mas!"


Ucapan Rama membuat Inayah kembali tumpahkan air mata.


Tangan kokoh Rama yang kiri dengan sigap menarik bahu Inayah dan merangkulnya. Sementara tangan kanannya tetap fokus memegang setir.


"Doakan aku kuat menjalani ujian ini, Mas! Aku... rindu sekali mas Arthur yang dulu. Mas Arthur yang selalu mengejarku. Mas Arthur yang sabar dalam membimbingku. Hik hiks hiks... padahal belum sehari aku dan dia berpisah. Tapi hati ini rasanya sesak menahan kerinduan, Mas! Hik hiks hiks... Apakah patah hati itu seperti ini rasanya, mas? Sakit sekali. Sangat sakit, Mas!"


Melihat Inayah yang semakin menangis histeris, Rama menghentikan laju kendaraannya. Mereka sengaja melipir di pinggir jalan sebelum masuk tol Jabodetabek.


"Maaf, Mas. Maafkan Aku yang tidak bisa mengendalikan diri. Maaf ya?!"


"Menangislah, Inayah. Aku ini adalah kakak kandungmu. Aku mengerti kondisimu. Menangislah! Keluarkanlah semua bebanmu. Hilangkan semua kegundahan di hatimu agar lega dan kembali siap hadapi dunia."


Mendengar sang kakak mendukungnya, Inayah semakin merasa sedih juga bahagia.


Ia keluar dari mobil dan menangis di pinggir trotoar.


Tiba-tiba sebuah mobil Avanza berhenti tepat di depan mobil Expander yang Rama kendarai.


"Inayah? Ada apa? Kenapa kamu menangis? Siapa dia? Apa dia menyakitimu? Apa kamu mau ikut saja denganku?"



"Rendy?"


"Siapa dia?" tanya Rama langsung mode on garang.


"Dia... teman satu kampus, Mas. Asisten dosen juga."


"Kamu... siapa? Kamu mau berbuat jahat pada Inayah?"


Rendy yang tak banyak tahu tentang anggota keluarga Inayah bertindak seolah Rama adalah pria jahat yang sedang jahil iseng pada perempuan yang disukainya itu, langsung pasang badan mendekat dan merangkul Inayah tiba-tiba.


"Hei, kamu! Beraninya melakukan hal tak senonoh pada adikku!" seru Rama membuat Rendy terbelalak.


"A_adik? Jadi,"


Spontan Rendy melepas rangkulannya yang sebenarnya adalah akting saja. Karena di film-film dan sinetron, biasanya orang jahat akan berfikir panjang ketika ada yang datang membantu korbannya dan berpura-pura sebagai kekasih.


Ternyata prediksinya salah.

__ADS_1


Memerah seketika wajah Rendy.


BERSAMBUNG


__ADS_2