
"Itu... kayak si Arthur?!?"
Lukmanul Hakim, suaminya Amelia yang kebetulan sedang ada urusan di hotel Asmara Hilton melihat Arthur yang masuk pintu lift menuju lantai atas.
Saat itu, Lukman juga sedang ada janji temu dengan Dirut utama hotel tersebut untuk kerjasama dalam hal pasokan sayur mayur dari perusahaan sang mama dan almarhumah ibu mertuanya.
"Hm. Sepertinya dia juga sedang ada pertemuan di sini. Kalo gak salah, filmnya akan segera masuk tayang meskipun hanya di putar di bioskop luar negeri." Lukman bergumam dengan dirinya sendiri.
Dia mensupport semua anggota keluarganya termasuk Arthur Handoko yang kini telah menjadi adik iparnya karena menikah dengan Inayah, adik Amelia.
Pertemuannya dengan petinggi hotel Asmara Hilton itu berhasil membuahkan kerjasama dan teken kontrak kerja untuk jangka waktu satu tahun. Perusahaan holtikultura Mamanya jadi pemasok sayur mayur ke hotel ini mulai besok pagi.
Lukman bersiap pulang ke rumahnya di Jakarta pukul sepuluh malam karena pertemuan telah selesai. Ia pun turun ke lantai bawah menuju basemen hotel setelah mengabari Amelia kalau akan segera pulang.
Baru saja hatinya lega dan gembira karena akan membawa kabar baik untuk Mama dan istrinya juga, tiba-tiba Lukman mendengar beberapa orang bercakap-cakap dengan suara yang cukup keras.
Terlihat seperti para jurnalis karena dibahu mereka tersandang kamera besar dan juga peralatan rekam suara.
"Ini bakalan jadi berita besar. Skandal yang akan membuka kedok sutradara bule itu. Hehehe..."
"Gokil! Hahaha... Lo dapet bayaran berapa, San?" ucap yang seorang lagi.
"Bisa lah buat gue beli Aerox cash. Hehehe..."
"Duh anjirrr, rezeki tuh! Coba aja Miss Bianca lebih dulu kenal gue. Hadeuh, bagi hasil lah!"
"Tenang, jatah kalian udah ada juga! Asalkan kerja rapi dan berita tepat sasaran keluar di deadline utama besok pagi di semua media online. Bonus kalian juga ga kaleng-kaleng dari dia!"
"Woke, kerjasama yang mantap ini!"
Lukman menghentikan langkahnya. Ingatannya melayang pada Arthur.
Ini wartawan pasti sedang membicarakan si Arthur! Ada apa ya sama dia? Skandal? Skandal apa? Apa Arthur sedang dijebak seseorang? Perempuan?
Jantung Lukman berdegup kencang.
Sebelum bergegas meninggalkan riungan para oknum jurnalis itu, diam-diam Lukman mengambil gambar foto mereka dan merekam sedikit percakapannya untuk bukti bila nanti diperlukan. Karena semakin jauh obrolan mereka semakin terdengar mencurigakan.
Lukman kembali putar arah. Langsung masuk kembali ke dalam kotak lift dan naik ke atas.
Aku gak bisa membiarkan ini terjadi!
Lukman segera menuju lobi utama dan bertanya di meja resepsionis.
"Selamat malam, Mbak! Saya mau tanya apakah ada pertemuan para produser dan sutradara film di ruangan VVIP atau VIP?"
"Tidak ada, Pak. Hari ini seminar di beberapa ruang tidak ada yang dari bidang perfilman."
"Atau, apa ada produser film yang menginap di hotel ini?"
"Maaf, Pak. Kami tidak diperkenankan memberitahu identitas penghuni kamar sembarangan. Mohon maaf atas ketidak-kuasaan kami."
"Ya, Saya tahu itu. Saya juga putra pemilik hotel bintang lima di Ibukota. Dan baru saja ada pertemuan dengan direktur utama hotel Asmara Hilton. Kebetulan saya melihat adik ipar saya yang seorang produser dan sutradara film tadi pukul setengah sepuluh malam menuju ke atas. Saya hanya ingin memastikan apakah beliau menginap di sini atau hanya singgah sebentar."
Operator hotel yang cantik dan masih muda itu seketika wajahnya agak tegang. Ia baru menyadari kalau Lukman adalah orang penting dan bukan orang sembarangan karena baru saja bertemu dengan Dirut hotel.
Akhirnya Lukman diantara dua orang roomboy untuk kembali naik ke lantai tujuh tempat Arthur tadi sempat menanyakan kamar Bianca.
Di lantai tujuh, suasana sunyi sepi.
Hanya suara tumit sepatu pantofel Lukman dan dua orang roomboy yang mengantarnya.
Tiba-tiba,
Krek
"Mas, Mas... tolong!!!"
Lukman terkesiap.
__ADS_1
Arthur keluar dari dalam kamar hotel dengan tubuh basah kuyup dan langsung menarik tangan salah seorang roomboy hotel Asmara Hilton.
"Arthur!?!"
"Mas... Lukman? Cepat bantu Aku!" serunya dengan suara keras.
Keempat pria itu bergegas masuk ke dalam kamar.
"Telpon rumah sakit terdekat! Minta ambulans segera karena ada nyawa yang harus segera ditangani!"
Lukman tercekat.
Tubuh seorang perempuan tanpa busana dan hanya ditutupi selembar selimut basah tergoler di atas bathtub.
"Siapa perempuan itu, Arthur?" tanya Lukman dengan suara terpekik.
"Nanti saja jawabannya! Ayo bantu angkat dulu ke ranjang!"
Arthur meminta bantuan semuanya untuk mengangkat tubuh Bianca yang pingsan tak sadarkan diri.
Pergelangan tangannya mengeluarkan tetesan darah segar.
Perempuan itu ternyata menyayat urat nadinya ketika berendam di dalam bathtub.
Bianca segera di pakaikan baju seadanya oleh Arthur dengan gugup karena dihadapan kakak iparnya sendiri.
Tak lama kemudian mobil ambulans telah datang dan segera membawa Bianca meluncur ke rumah sakit untuk pertolongan pertama.
Malam yang menegangkan bagi Arthur dan Lukman tentunya.
............
"Bagaimana keadaan pasien, Dokter?" tanya Arthur di rumah sakit.
"Anda keluarga pasien?"
"Ya!"
Leukemia limfoblastik akut. Jadi, kondisinya belum bisa kami tangani. Tapi kami akan berusaha untuk melakukan yang terbaik."
Arthur tertegun.
Bianca memang sakit leukimia seperti yang dia kata.
Ia menyesal meragukan ucapan perempuan yang pernah dua kali menyakiti hati serta perasaannya itu.
Mereka sempat berselisih paham dan saling adu mulut karena masalah percintaan dimasa lalu.
Arthur marah sekali karena Bianca bisa-bisanya menyimpan rahasia besar tentang kehamilannya hingga melahirkan Arthur Pangestu, putra yang disinyalir adalah hasil hubungan gelap dengan dirinya pada saat itu.
"Aku pergi, karena aku sadar akan menyusahkanmu pada akhirnya!"
"Bohong! Perempuan berkepala ular! Mulutmu penuh dengan bisa!'
"Kau bebas memaki-maki Aku, tapi Aku tenang karena istrimu mau merawat putra kita pada akhirnya!"
"Aku tahu sebenarnya bukan itu tujuanmu!"
Bianca membelalakkan bola matanya.
Ia terkejut Arthur mengetahui niatnya memang bukan hanya menyerahkan Aturr saja, tapi... Ia ingin meninggal dunia dengan hati bahagia dipangkuan Arthur, kekasih hati yang selalu ia lukai perasaannya sedari dulu.
Bianca menyesal, mempermainkan cinta Arthur.
Di saat dokter memvonisnya kalau umurnya tidak akan lama lagi, Bianca mulai sering memikirkan Arthur.
Dulu, ia selalu menganggap Arthur hanyalah boneka mainannya.
Cintanya hanya untuk Roger Simons, pria yang mampu membuatnya melayang tinggi jauh ke angkasa.
__ADS_1
Arthur hanyalah teman kecil yang lebih mirip kucing peliharaan yang manis dan penurut.
Arthur mengekornya selalu. Tapi tidak mampu membuat hati Bianca tersentuh dan terenyuh.
Cinta Arthur tulus, suci dan murni. Bianca tahu itu. Tapi dia tak bisa membalas perasaan Arthur karena ada Roger Simons di relung hati terdalamnya.
Untuk menolak Arthur secara tegas, tentu saja Bianca tidak berani. Bianca takut juga kalau Arthur yang selama ini meng-handle segala kesukaran hidupnya kecewa, sedih dan menghilang.
Bianca akhirnya bersandiwara memerankan dua peran sekaligus dalam hidupnya. Peran protagonis juga peran antagonis.
Bagi Bianca yang seorang pemain teater kawakan di San Fransisco, semuanya begitu mudah baginya.
Bianca membohongi Arthur juga dirinya sendiri.
Hingga akhirnya untuk kurun waktu yang lama, Ia tanpa sadar telah menyakiti Arthur lagi dan lagi.
Pernikahannya dengan Simons, awal dari kehancuran hati Arthur. Tapi Bianca berhasil membuat Arthur bertahan dan menerima kenyataan kalau dirinya harus ikhlas menunggu jandanya Bianca.
Bianca berbohong, kalau Ia dan Roger dinikahkan oleh kedua orang tua mereka untuk alasan bisnis keluarga.
Sekali lagi, Arthur masuk perangkapnya.
Arthur semakin tampan. Tapi Roger Simons masih yang tertampan di hati Bianca. Tapi Roger memilih masuk militer hingga dikirim negara bertugas ke perbatasan.
Bianca kesepian. Arthur lah yang jadi pelampiasan kesedihannya ditinggal Roger bertugas.
Hubungan mereka membuahkan hasil. Bianca hamil. Tapi setelah Ia melakukan pemeriksaan, ternyata dirinya menderita penyakit yang mematikan.
Pikirannya semrawut.
Bianca takut sekali ditinggalkan Roger Simons juga Arthur Handoko.
Ia menyadari kalau Tuhan akhirnya menghukum atas semua kesalahannya di masa lalu.
Demi untuk tidak terluka karena ditolak dua pria yang pernah Bianca bohongi, akhirnya Ia memutuskan untuk pergi dari keduanya. Mencoba bersinergi dengan dirinya sendiri dan berobat ke Eropa atas rekomendasi kedua orang tuanya.
Bianca sempat sembuh dan sehat setelah setahun melahirkan Arthur Pangestu.
Simons menceraikan Bianca dan mengambil hak asuh putri pertamanya. Tinggalkan Bianca dalam kondisi hamil besar kala itu. Dan ia pun pulang ke rumah orang tuanya, meminta bantuan mereka serta memohon agar tutup mulut juga pada orang tua Arthur yang adalah tetangga sekaligus sahabat mereka sedari muda.
Empat bulan belakangan ini, Bianca merasa tubuhnya mulai kembali tidak beres.
Ia memutuskan untuk datang berobat ke rumah sakit dan mendapatkan vonis dokter kalau umurnya tidak akan bertahan lama.
Bianca mulai sering bermimpi buruk. Bahkan semakin kesini hampir setiap hari.
Ia bersyukur ada Arthur Pangestu yang menemani hari-hari sepinya.
Meskipun jauh berbeda benua dengan Arthur Handoko, Bianca masih terus memantaunya. Memperhatikan Arthur dari kejauhan dan turut bangga atas prestasi serta keberhasilan Arthur di dunia perfilman internasional.
Melihat Arthur masih sendiri, membuat Bianca mulai berfikir untuk memberikan kesempatan kepada dirinya bersatu dengan Arthur meskipun sesaat.
Bianca ingin menikah dengan Arthur. Berjalan di altar mendapatkan bimbingan Pendeta yang menyatukan mereka menjadi pasangan suami istri yang sah seperti harapan dan impian Arthur Handoko di masa muda mereka.
Ternyata...
Bianca salah kira.
Ternyata Arthur diam-diam telah menikah.
Rupanya Arthur telah bisa melupakan dirinya bahkan kini beristrikan seorang muslimah taat yang berpenampilan soleha. Bahkan perempuan cantik yang masih muda belia berstatus seorang mahasiswi semester awal.
Tentu saja cukup menohok hati Bianca yang awalnya sangat percaya diri.
Malu, sedih, kecewa, kesal dan marah bercampur menjadi satu. Bianca tidak terima kenyataannya kalau Arthur telah ada yang dicintai dan mencintainya setulus hati.
Bianca ingin sekali hidupnya berakhir bahagia.
Menikah dengan Arthur, mengurus buah hati mereka meskipun hanya beberapa bulan saja. Ingin mati dipelukan Arthur Handoko, pria yang begitu mencintainya. Ia ingin mengucapkan maaf yang tulus dan terima kasih yang besar karena cinta Arthur kepadanya.
__ADS_1
Tapi ternyata, Bianca salah perkiraan.
BERSAMBUNG