
Seperti mimpi, Amelia kini berada diantara kerabat yang turut hadir dalam acara pemakaman Kan'an Bapaknya.
Empat bulan yang lalu, Ia masih bercengkrama, bersenda gurau bersama Bapak serta Emak dan dua adiknya yang masih sekolah.
Masih tertawa terbahak-bahak ketika beliau menceritakan hal-hal lucu yang membuat Gaga maupun Inayah terkadang ikutan mencandainya.
Menetes air mata Amelia.
Tia dan Alif yang sedari tadi menjadi wakil keluarga yang mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang datang berta'ziah seolah menjadi anak paling besar padahal bukan.
Rama sudah Emak kabari. Tetapi sudah tiga hari handphonenya tidak aktif. Entah mengapa.
Keluarga besar berharap Rama dalam kondisi baik-baik saja di atas lautan samudera Hindia bersama para awak kapal lainnya.
Pemakaman Kan'an berjalan tertib. Suasana alam pun seolah turut berdukacita dengan cuaca yang sejuk, mendung tapi tidak hujan.
Amelia hanya bisa memeluk tubuh dingin Emaknya yang sama terkejutnya dengan dia sepanjang pemakaman.
Lelehan air mata seolah tak kunjung kering meskipun kantung mata Amelia bengkak kebanyakan menangis.
Kan'an adalah orang yang baik. Semua proses pemakaman ditanggung oleh pihak yang menabraknya dan para tetangga, kerabat serta keluarga terdekat semua bahu membahu meskipun tanpa menerima uang lelah. Hanya ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dari pihak keluarga yang diwakili Alif, Suami dari Tia, adik Amel yang kedua.
Satu persatu tamu pamit pulang setelah memberikan penghormatan terakhir kepada Kan'an dan ucapan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
............
"Seperti mimpi rasanya. Bapakmu telah tiada. Tiga puluh dua tahun menikah bersamanya, serasa seperti kemarin sore saking bahagianya kami hidup bersama. Susah senang, kami lalui berdua. Tawa canda dan tangis kesedihan, kami nikmati juga bersama. Lahir kalian satu persatu. Hidup kami semakin ramai dan penuh warna."
Mia tersenyum getir mengingat kenangan indah saat mereka awal menikah.
Tiga putrinya dan satu putra bungsu ikut menangis mendengar cerita cinta Mia yang luar biasa. Kisah cinta kedua orang tua mereka yang melebihi indahnya kisah cinta Romeo dan Juliet. Mereka berharap memiliki pendamping hidup yang setia sampai akhir, menerima segala kekurangan, selalu mencintai sampai tutup usia. Seperti kisah cinta Kan'an dan Mia.
Sungguh dunia terasa indah ketika bersama suami tercinta yang baik, humoris dan apa adanya itu.
Kini, semua telah jadi kenangan. Kenangan indah yang tak akan pernah Mia lupakan. Sampai dirinya dipanggil Sang Pencipta menyusul pujaan hati tercinta.
Jodoh, rezeki dan umur, semua adalah rahasia Illahi.
Mungkin sudah suratan garis tangan Kan'an, berpulang ke Rahmatullah dengan jalan yang tiba-tiba seperti ini. Kan'an meninggal dunia ketika tubuhnya dibawa ambulans ke rumah sakit terdekat di pasar Jogjakarta.
Amelia sendiri pulang ke kampungnya dengan diantar Lukman sampai terminal.
Pria bujangan itu tadinya bersikeras ingin mengantar Amelia sampai tujuan. Namun dengan halus Amel menolak karena bisa membuat Emaknya makin shock jika mengetahui kalau dirinya pulang diantar pria tak dikenal.
Berkali-kali Lukman menitipkan Amelia yang tampak tak bisa menahan kesedihan dan terus menangis pada supir dan kondektur bus kota yang membawa Amelia ke kota kecil tanah kelahirannya.
Pria itu benar-benar mengkhawatirkan kondisi Amelia. Hingga diam-diam dia mengikuti langkah jandanya Solehudin itu dari belakang tanpa sepengetahuan Amel. Lukman ikut naik bus kota yang sama tetapi mengambil duduk di kursi paling belakang.
__ADS_1
Seperti saat ini, Lukman juga turut menghadiri acara pemakaman Kan'an. Kini Ia duduk di warung dekat rumah orang tua Amelia.
Setelah melihat raut wajah Amelia jauh lebih baik, baru-lah Lukman pulang kembali ke Ibukota.
Ia baru akan tenang setelah Amelia berada di tengah-tengah keluarganya.
Sementara itu Adam Malik terkejut mendengar kabar kalau Bapaknya Amelia meninggal dunia dan katering untuk tiga hari ke depan dicancel oleh Tasya dibantu tetangga yang mau diajak bekerja.
"Bapaknya Mbak Amel meninggal dunia?" tanya Adam yang kebetulan datang ke kontrakan Amel untuk mengambil makanan katering sendiri dengan alasan Lukman tidak masuk kerja.
"Iya, Boss."
"Mbak Amel pulang kampung diantar Lukman?" tanyanya lagi sedikit menyelidik.
Ia pernah mendengar cerita Lukman kalau dirinya sudah sangat dekat dengan Amelia.
Sempat Adam tanyakan tentang suaminya Amelia, Lukman hanya bilang Suaminya ada dan tidak tinggal bersama.
Adam sendiri cukup menahan diri untuk tidak bertanya ini-itu secara mendalam soal pribadi Amelia yang membuatnya susah tidur akhir-akhir ini.
Adam ingin menchat Amelia setiap malam, tapi Ia coba bertahan demi menjaga nama baik dan tak ingin disebut sebagai pebinor atau perebut bini orang.
Meskipun dirinya penasaran dengan Amelia, bukan berarti Ia akan melakukan apapun untuk mengetahui semuanya tentang Amel.
Biarlah waktu yang membuka tabir sisi Amelia yang lain.
Yang penting bagi Adam, Ia akan punya banyak kesempatan untuk berteman lebih akrab lagi dengan perempuan yang sangat mirip dengan istrinya itu.
Mimpi indah membuatnya berpeluh banjir keringat.
Dalam impiannya, terlihat Amelia dan Juriah yang sedang mandi bersama di sungai. Benar-benar pemandangan yang luar biasa. Bahkan sampai membuatnya mimpi basah karena terlihat jelas body Amel serta Juriah yang lengkap dengan keindahannya.
Dalam mimpi, kedua istrinya yang cantik dan molek itu justru akrab satu dengan yang lain.
Mereka saling membantu memakaikan kondisioner rambut membuat Soleh hidup bagaikan raja. Sungguh mimpi yang indah.
Juriah yang melihat Soleh sedang duduk termenung di bibir tempat tidur langsung menepuk pundaknya.
"Mas...! Dibawah banyak pelanggan lho! Ayo buruan bangun!"
"Iya, Sayang!"
Entah mengapa, Soleh jadi kepikiran Amelia.
Rasa rindunya menyeruak. Ingin sekali jumpa dengan istrinya yang pertama itu.
__ADS_1
"Yang!"
"Hm?"
"Aku mau ke rumah Ibu dulu sebentar ya?"
"Bukannya dua hari lalu Mas habis kesana nengokin Ibu?"
"Entah, Yang! Aku kepikiran Ibu. Takutnya sakit."
"Ya sudah. Tapi jangan lama-lama! Aku gak mau di toko sendirian."
"Kan banyak orang? Ada Sentot juga Bima."
"Ya masa' aku harus mesra sama lelaki lain?"
Soleh tersenyum lebar. Ia memeluk tubuh istrinya hingga sebelah pipinya menempel di dada Juriah yang kenyal.
Seketika mimpi barusan bercinta dengan dua wanita istimewa di hatinya itu kembali terbayang.
Soleh iseng menggesekkan wajahnya ke dada Juriah. Membuat istri mudanya itu meninggi libidonya dan mereka main dulu satu ronde.
Begitulah Soleh kini. Hidup diperbudak nafsu dan syahw+t yang membelenggu.
Dalam angannya, betapa inginnya Ia kembali menjadikan Amelia belahan jiwanya. Bersama Juriah hidup berdampingan. Saling mengerti dan saling melengkapi satu sama lain.
Sungguh khayalan poligami yang ingin Soleh rengkuh lagi.
Siang menjelang sore ini Ia ingin menelpon Amelia. Ingin mendengar suara mantan istrinya yang bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang eksotis.
Soleh membayangkan gesture bercinta Amelia dahulu ketika mereka masih dalam naungan rumah tangga bahagia.
Amelia ibarat burung merak. Meskipun keindahan bulunya tersembunyi, tetapi dalam gerakan bercinta, Amel jauh lebih lihai dan jago dibandingkan Juriah yang memang belum begitu pengalaman.
Namun soal keindahan tubuh serta kulit kuning langsat yang mulus, Juriah lah pemenangnya.
Semua memiliki kelebihan masing-masing yang membuat Soleh semakin ingin menarik perhatian Amelia lagi.
Niat pulang Soleh ke rumah Mariana adalah ingin menanyakan tempat tinggal dukun yang sering Ibu serta almarhum Bapaknya datangi.
Soleh teringat ucapannya sendiri dahulu. Ketika tahu kalau kedua orang tuanya cenderung suka mendatangi tempat perdukunan ketimbang meminta sendiri kepada si Empunya Kehidupan.
"Hati-hati sering ke tempat begituan, Bu! Salah-salah kita justru jadi musyrik karena telah menduakan Allah Ta'ala!"
Kala itu Ia masih memilih jalur langit langsung. Sama seperti Amelia, yang lebih suka duduk tafakur berzikir di malam hari dengan sholat sunah jika inginkan sesuatu atau sedang galau ingin curhat tentang kesusahan di hati.
Tapi kini justru Soleh sendiri yang penasaran dan ingin meminta bantuan dukun agar bisa memelet Amel lagi.
__ADS_1
Ia ingin mimpi indahnya menjadi kenyataan.
BERSAMBUNG