Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 90 Samsiah Yang Telah Kembali


__ADS_3

Pemakaman Cia dihadiri oleh seluruh anggota keluarga besar Mariana, kecuali Soleh.


Ia hanya mengirimkan orang untuk jadi wakil dirinya yang masih di rumah sakit mengurus Juriah.


Soleh sendiri belum berani menceritakan keadaan Cia keponakannya pada Juriah karena khawatir Sang istri drop lagi kondisinya.


Soleh juga belum melihat Samsiah datang menjenguk Juriah sehingga Ia menanyakannya kepada Ojan yang kembali datang di pagi hari.


"Umi kemana, Bi? Soleh tidak lihat Umi beberapa hari ini."


"Dia sedang keluar. Biarkan saja. Nanti juga pulang!" jawab Ojan dengan singkat.


"Hape Umi ga aktif, Bi!" timpal Juriah membuat Ojan mengusap lembut lengan putrinya itu.


"Dia pergi ke selat kerumahnya Mbah Surip. Kamu tahu khan? Ingat dulu pernah diajak ke sana?" Ojan berkedip. Memberi signal pada Juriah.


Juriah menelan ludahnya.


Ia teringat pada seorang pria setengah tua yang mengobatinya dengan ritual mandi kembang pukul dua belas malam. Mengobati kesialannya yang digagahi pria gila kala itu sampai hamil dan melahirkan.


Entah mengapa, kala itu Juriah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan Umi dan Abinya untuk ikuti aturan mandi kembang tengah malam. Sudah mirip lagu saja.


Soleh sibuk mengurus pakaian kotor Juriah. Hari ini Ia berencana pulang dulu ke ruko. Ingin pulang sebentar.


Tapi ternyata Juriah tidak ingin Ia tinggal meskipun sekejap saja.


"Jangan! Jangan pernah pergi dari Aku, Mas! Hik hik hiks..."


Tangisan Juriah melemahkan hati Soleh. Mau bagaimana lagi. Ia kini harus mengikuti semua keinginan Juriah yang masih belum stabil kondisi kesehatannya.


Meskipun pendarahan Juriah sudah dapat diatasi, tetapi ternyata Juriah masih harus melakukan pemeriksaan lanjutan. Benjolan mionnya berubah menjadi kista.


Dokter menganjurkan agar Juriah segera operasi pengangkatan kistanya agar tidak terulang lagi pendarahan seperti tiga hari lalu.


Otomatis, Soleh juga harus mempersiapkan diri mendampingi Juriah melakukan pengobatan sampai dengan selesai dan sembuh total.


Samsiah pulang ke rumahnya setelah lima hari kemudian menginap di rumah dukun perempuan bernama Nyai Dasima.


Samsiah juga melakukan ruwatan untuk tubuhnya agar kembali terjaga semua eksistensinya sebagai seorang perempuan cantik nan awet muda disayang suami dan orang sekitarnya.


Dia kembali percaya diri dan berharap Juriah yang sempat memakinya di telepon melupakan kejadian dirinya yang ketahuan selingkuh dengan Tito.


Samsiah juga sudah sangat rindu pada berondongnya itu. Ia mengkhayalkan kembali pertemuan dengan Tito dan Tito semakin sayang dan cinta sampai mau Samsiah ajak kawin lari jika terjadi hal-hal yang Ia khawatirkan.


Terkejut dirinya mengetahui Juriah dirawat di rumah sakit dari cerita yang Le Giman tuturkan.


Hari itu juga Samsiah mendatangi rumah sakit dengan ditemani istrinya Giman.


Ojan ternyata ada di ruang inap Juriah. Ia memang sangat menyayangi putrinya.


"Mas... Juriah..."


Suami dan anaknya itu langsung menoleh ke arah pintu. Samsiah berjalan masuk perlahan dengan hati deg degan luar biasa.

__ADS_1


Apalagi Soleh juga menatapnya dengan tatapan tajam.


"Umi..."


"Sayangku, maafkan Umi ya Nduk! Umi tidak tahu kalau kamu masuk rumah sakit. Umi lupa bawa cas-an hape. Jadi ponsel Umi mati selama di rumah Nyai! Maaf ya?"


Samsiah merengkuh tubuh Juriah yang terbaring lemah.


Air mata Juriah menetes perlahan.


Hanya bisa menciumi pipi perempuan yang sangat disayanginya itu. Tanpa bisa berkata apa-apa.


Juriah berfikir panjang.


Ia merasa lebih baik diam mengingat kelakuan Uminya karena khawatir keadaan Abi yang juga belum sembuh total.


Setidaknya Uminya sudah menyadari kekeliruannya dan tidak mengulanginya lagi.


Juriah akan berusaha melupakan semua. Sama seperti dulu Samsiah yang mengurus dirinya ketika tersandung masalah.


Juriah selalu bersyukur memiliki orang tua seperti Samsiah. Tak pernah menghakimi dirinya yang pernah kena musibah. Justru terus mensupport bahkan mencarikan Juriah jodoh.


Kini Ia harus legowo memaafkan kesalahannya. Karena bagi Juriah, tidak ada manusia yang tidak melakukan dosa.


Apalagi saat ini dirinya juga lemah serta butuh sekali dukungan Samsiah.


"Umi..., Ju harus masuk ruang operasi seminggu lagi." Cerita Juriah setelah Samsiah melepaskan pelukannya.


Juriah kembali memeluk tubuh Uminya.


Samsiah senang dan lega.


Ternyata kesaktian Nyai Dasima tidak ada tandingannya. Putri serta menantunya seolah lupakan kejadian dirinya yang selingkuh dengan Tito. Bahkan tanpa masalah karena keburukan perbuatannya dan tidak sampai bocor ke telinga Ojan.


Samsiah tersenyum tipis.


Ojan tak lepaskan pandangannya pada Samsiah.


Nafsunya meninggi melihat wajah cantik Sang istri yang kian bersinar cerah.


Ia ingin sekali mengajak pulang Samsiah dan bermain perang-perangan seperti tempo hari.


Samsiah lupa pada keberingasan yang dilakukan Ojan di atas ranjang tidur mereka dan fokus menghibur Juriah.


Soleh tidak terlalu peduli. Tetapi pikirannya justru mengingat Tito yang sudah berselingkuh dengan Samsiah yang memang cantik juga menggoda di mata Soleh.


Adik iparnya itu kabarnya juga sampai pernah dipergoki Lani via ponsel sedang bermain kuda-kudaan dengan Ibu mertuanya.


Soleh menyembunyikan senyum smirk-nya. Ada sebal juga kesal mendongkol di hati. Tapi juga salut pada keberanian Tito yang justru jauh lebih jago mempermainkan perasaan perempuan seperti dirinya.


"Hhh..."


Soleh menghela nafas tanpa sadar membuat Samsiah menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Terus kata dokter apa, Leh?"


"Masih dalam tahap observasi, Umi!"


"Semoga semuanya segera teratasi dan pulih seperti sedia kala."


"Aamiin..."


"Leh, jaga Juriah baik-baik. Kami pulang dulu ya? Kasihan Umi pasti lelah karena belum istirahat dari perjalanan panjang."


Samsiah terperangah.


Ojan seperti memberinya kode untuk hal-hal yang paling Ia takutkan.


"Abi, Umi disini saja ya? Abi saja pulang duluan. Istirahat ya? Umi mau temani putri kita. Ya Bi, ya?" kata Samsiah dengan kalimat mesra. Berharap Ojan menuruti perkataannya. Namun...


"Umi menolak pulang, Abi juga tetap di sini. Kalau Umi pulang, Abi pulang!" timpanya lagi.


"Umi pulanglah! Ada Mas Soleh yang menemani Ju di sini. Kasihan Abi juga. Setiap hari di sini temani Ju dan Mas Soleh."


Ojan tersenyum lebar.


Putrinya memang yang terbaik. Karena mengetahui perasaan hatinya yang meletup-letup menahan rindu ingin menjam+h tubuh Sang istri.


Berbeda dengan Samsiah.


Wajahnya pucat pias dan dibayangi ketakutan yang besar mengingat kejadian beberapa hari lalu. Sampai Ia bertekad kabur jika saja Tito bersedia ikut dirinya kala itu.


"Umi mau temani putri Umi satu-satunya, Bi! Sayang..., jangan suruh Umi pulang! Ya Sayang? Umi disini temani kamu."


"Tapi Abi juga butuh Umi. Juriah ada Mas Soleh. Umi kemari lagi besok saja. Sekalian istirahat juga di rumah, ya?!"


Juriah sulit sekali Ia rayu. Justru seolah mendorongnya masuk kandang macan. Begitu pemikiran Samsiah hingga akhirnya Ia terpaksa menurut pulang bersama Ojan.


Di dalam mobil pun Ojan sudah genit melakukan manuvernya dengan mengelus-elus tangan Samsiah.


Gemetar dan ketar-ketir Samsiah jadinya. Padahal Giman dan istrinya satu mobil juga dengan mereka.


"Maas... malu dilihat Giman!" tolak Samsiah ketika Ojan mulai merebahkan kepalanya di bahu Samsiah dengan manja.


Tingkah Ojan membuat Samsiah makin muak.


"La wong kita ini suami istri, Sayang! Ndak perlu malu. Hehehe..."


Giman dan istrinya pura-pura abaikan kelakuan juragan yang masih kerabatnya itu dengan senyuman.


Tinggal Samsiah yang semakin geram dalam hati.


Lihat saja nanti kau, Ojan! Jika kau menyiksaku, siap-siap aku colok matamu yang satu lagi. Biar buta dua-duanya sekalian!


Samsiah mengumpat dalam hati.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2