Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 59 Kehidupan Lani Dan Soleh Setelah Itu


__ADS_3

Di tempat yang berbeda...


Lani merasa kehidupan mereka sedang dipuncak kebahagiaan. Padahal sebenarnya, kehidupan mereka sedang berada di ujung tanduk.


Tito bekerja dalam tanda kutip dengan Samsiah sebagai pemuas nafsu. Uang yang dihasilkan Tito tentu saja bukan uang halal meskipun Ia murni mengeluarkan keringat setiap kali bekerja.


Lani sudah tertutup pintu hatinya sehingga tidak bisa merasakan perbedaan Tito yang kini mulai nyaman menjalani profesinya sebagai teman kencan Samsiah.


Berkedok sebagai asisten pribadi Samsiah yang mengawal kemanapun perempuan paruh baya itu pergi, nyatanya Tito hanyalah seorang budak nafsu syahw+t Nyonya Ojan itu.


Ini adalah hari terakhir Ojan di rawat di rumah sakit.


Operasi pengangkatan bola mata yang rusak serta operasi pembenahan letak tulang engkelnya berjalan lancar.


Masih ada satu operasi besar lagi yang harus Ojan lakukan. Yaitu operasi pencangkokan bola mata baru jika sudah mendapatkan donor mata yang sesuai.


Keadaan Ojan kini semakin menakutkan juga semakin membuat stres Samsiah, Juriah serta Soleh.


Ojan memilih untuk tinggal di rumah toko yang ditempati oleh sang putri bersama Soleh suaminya.


Tentu saja keinginan ini membuat Soleh pusing bukan kepalang.


Berbanding terbalik dengan Samsiah yang justru merasa bahagia karena kesempatan berduaan dengan Tito berondongnya kian terbuka lebar.


Ojan juga masih memiliki Sima di mulutnya. Ucapan Ojan kian kasar seiring teriakan dan makian kepada Soleh tentunya.


Apalagi kini Juriah dan Ojan sedang giat-giatnya melakukan hubungan intim demi mendapatkan buah hati kesayangannya.


Bagaimana mungkin itu semua bisa terjadi jika Ojan justru membuat stres Soleh juga Juriah.


Dihari pertama Soleh sudah dibuat jengkel karena Ojan yang kini hanya memiliki mata satu itu tetap saja bisa mengawasi pembukuan toko onderdilnya dan masih bisa menemukan kesalahan Soleh dalam mengatur keuangan.


"Dasar bodoh! Benar-benar pria bodoh yang tidak bisa diandalkan!!! Masa' menghitung nominal uang segitu saja masih sering salah! Bagaimana bisa toko ini berkembang lebih maju kalau pengurusnya saja cuma tahunya cara bersenang-senang menghabiskan uang! Dasar menantu bodoh!!!"

__ADS_1


Ojan seperti sangat berniat mempermalukan Soleh didepan para karyawannya. Soleh seperti ditelanj+ngi dan hilang harga diri dihadapan karyawan yang semuanya diam hanya tertunduk saja.


Ingin rasanya Soleh memukul laki-laki yang membuatnya jadi seperti pria pecundang yang bodoh. Ibarat keset kamar mandi yang kotor dan diinjak-injak, itulah dirinya saat ini.


Juriah sendiri tidak bisa membela Soleh karena takut ketahuan mengambil uang deposito Ojan yang seratus juta tanpa izinnya.


Ia hanya sesekali mencoba mengingatkan Ojan akan tensi darahnya yang semakin tinggi dan bisa berakibat fatal pada kesehatannya.


"Justru bermenantukan orang ini Aku jadi semakin stres, Nduk! Sebaiknya kalian bercerai saja mumpung belum dikasih keturunan! Menyesal aku sungguh menyesal mengambil dia sebagai suami untuk anakku! Sumpah demi apapun Aku sangat menyesal! Cuma tampang doang tapi hidupnya tiada guna!!!"


Sakit hati Soleh mendekat celotehan pedas Ojan tentang dirinya.


Juriah mencoba menenangkan Soleh dikamar setelah keributan itu.


"Mas..."


"Pergilah, Juriah! Jangan hibur Aku!" ujarnya pelan dengan mata mengarah ke bawah.


"Tapi ini sudah kelewatan, Ju! Mas malu sekali dihadapan semua orang!"


"Juriah akan bilang pada semuanya untuk tidak memandang rendah Mas Soleh setelah Abi tidur. Ya? Jangan sedih ya, Mas?"


"Aku sedih, Abimu bilang Aku adalah menantu tak berguna. Hhh... Ya memang, Aku ini kerja di toko dia, digaji dari uang dia. Tapi..."


"Sudahlah, Mas! Jangan, hoek hoek... hoek!"


Juriah merasakan perutnya mual ingin muntah.


Sejak Abinya tinggal bersama di ruko Asamka, Ia memang jadi kurang tidur sehingga kemungkinan masuk angin.


Soleh yang melihat Juriah mual-mual merasa kalau Juriah tengah hamil.


Ia langsung menghampiri Juriah yang masih berjongkok di pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, Sayang! Jangan-jangan kamu hamil!?"


Soleh merasa gembira, bapak mertuanya pasti tidak akan sampai hati mengusirnya dari ruko karena putri kesayangannya kini sedang hamil.


Soleh hanya takut harus menceraikan Juriah padahal dirinya mulai begitu mencintai Sang istri yang telah ada ditelunjuknya.


"Hah? Ha_hamil? Tapi..., tapi Aku baru saja selesai halangan minggu lalu, Mas! Rasanya..., itu tidak mungkin!" tukas Juriah meyakini Soleh kalau keadaannya begini bukan karena sedang hamil.


"Ga. Kamu pasti sedang hamil, Yang!" Soleh terlihat tak peduli omongan Juriah.


"Paaak, Paaak... Juriah hamil! Juriah sedang hamil!"


Soleh segera turun ke lantai bawah dimana Ojan sedang duduk di kursi malas depan bengkelnya sembari memperhatikan para karyawan bekerja menyervis kendaraan pelanggan.


"Apa? Juju hamil? Iya?" tanya Ojan dengan raut wajah berubah sumringah.


"Iya, Pak! Juriah sering mual mau muntah. Semoga cucu bapak seorang anak laki-laki kebanggaan yang jadi penerus kejayaan Bapak!" kata Soleh berusaha menjilat Sang mertua yang kadung bahagia.


"Aamiin... Hahaha... akhirnya, aku akan punya cucu! Mana ponselku?"


"Ini."


Soleh segera memberikan ponsel Ojan yang langsung mencari kontak seseorang.


"Aku akan hubungi Si Anta. Tanah yang dia garap akan Aku oper alih namanya sore ini lewat Mas Bejo Sarjana Hukum. Hehehe... Hutang janjiku lunas ya Leh!"


Soleh tersenyum lebar. Bibirnya menyeringai puas. Ojan berhasil dikelabuinya.


Kini Ojan sedang menelpon Anta dan langsung menghubungi Bejo seorang notaris sekaligus pengacara di kampung mereka yang Ojan kenal laksana keluarga.


Soleh tersenyum senang. Satu lagi harta Ojan mulai berpindah di pernikahan bulan ketiganya dengan Juriah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2