Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 72 Status Amelia Yang Kini Diketahui Adam


__ADS_3

Treeet treeet treeet...


Amelia melihat layar ponselnya.


...Boss Adam is calling...


Amelia segera mengangkat sambungan telepon dari Adam.


"Assalamualaikum, Mas Adam!"


[Waalaikum salam, Amel! Amel, maaf... Mas baru menelpon kamu. Semoga keadaan kamu dan keluarga baik-baik saja. Saya turut berbelasungkawa atas wafatnya Ayahanda Amel. Semoga almarhum mendapatkan tempat yang indah di surga-Nya Allah Ta'ala]


"Aamiin. Terima kasih banyak doanya, Mas Adam. Alhamdulillah, kami sekeluarga sudah legowo menerima keputusan Allah yang pastinya terbaik untuk Bapak dan kami juga."


[Semangat ya, hari esok pasti bersinar lebih terang dari hari ini.]


"Aamiin, aamiin ya Rabb. Mas, Saya minta maaf, untuk beberapa hari kedepan katering dihandle dulu oleh Tasya dengan bantuan tetangga sekitar. Maaf, Saya pulang kampung gak bilang!"


[Tidak apa-apa, Amel! Saya sangat mengerti. Jangan dipikirkan hal itu! Tasya mengurusnya baik sekali. Walaupun masakan kamu jauh lebih enak, tapi kami tidak ada keluhan soal menu masakan penggantinya. Semangat ya? Oiya, apa saya telepon malam-malam begini mengganggu? Apa suamimu ada di samping kamu? Apa dia cemburu? Tolong bilang,]


"Saya sudah bercerai dengan Suami saya lima bulan yang lalu, Mas!"


Deg.


Tentu saja Adam terkejut mendengar ucapan Amelia tentang statusnya.


[Bu_bukannya kata Lukman suami kamu ada?]


"Iya. Suami saya memang masih ada. Kami berpisah secara baik-baik. Jadi,... Maaf, Mas! Tolong jangan lanjut percakapan kita soal pasangan dan,"


[Saya 'Jodi'. Jodoh ditinggal mati. Istri saya sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu. Cancer menyerangnya.]


"Maaf. Maaf, Mas,... saya jadi membuat mas sedih."


[Sayalah yang membuat Amel sedih. Oiya, apakah di rumah diadakan tahlilan?]


"Iya. Tadi ba'da Maghrib, Mas!"


[Amel pasti lelah, istirahat lah. Semoga esok hari kondisi Amel jauh lebih segar. Assalamualaikum...]


"Terima kasih doanya. Waalaikum salam!"

__ADS_1


Klik.


Amelia termenung setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Adam Malik.


Ternyata Boss Adam seorang duda. Gumam Amelia dalam hati.


Tak jauh beda dengan Amel, Adam juga memikirkan hal yang sama.


Ada rasa senang meliputi seluruh ruang hatinya yang hampa.


Ada kesempatan untuk Adam mengenal Amelia jauh lebih dalam. Karena mereka sama-sama single.


Adam berharap, Amelia adalah perempuan yang tepat untuk Ia jadikan pelabuhan terakhir setelah lima tahun hidup sendiri tanpa pasangan.


Tetapi ada sedikit pertanyaan, mengapa Amelia bisa cerai dengan suaminya.


Sebagai seorang laki-laki, Adam harus tahu dulu duduk permasalahan rumah tangga mereka hingga berakhir perceraian. Apakah Amelia adalah perempuan yang banyak menuntut, sehingga Sang Suami lebih memilih mundur. Atau ada cerita lain yang biasanya terjadi karena orang ketiga.


Tiba-tiba Adam mengingat Lukman.


Ada gelagat aneh yang Ia ingat pada pemuda bujangan itu.


"Apakah... orang ketiga di antara Amelia dan suaminya itu adalah si Lukman? Memang sih, mereka kelihatan dekat satu sama lain. Tapi...mmm, Amel terlihat biasa. Hanya si Lukman saja yang sepertinya begitu protektif mengatur hidup Amelia!" gumam Adam pada dirinya sendiri.


"Ehh, Aku sepertinya harus tanya pada si Diki! Dia kan tetangganya Amel. Dan istrinya juga sangat dekat dengan Amelia. Hm. Tapi tidak boleh terdengar si Lukman soal rencanaku ini. Bisa-bisa lain lagi ceritanya!"


Adam mulai menyusun strategi.


Besok Ia akan memanggil Diki ke ruangannya.


Berbincang santai dan berharap Diki mau menceritakan yang sebenarnya tentang kehidupan Amelia. Adam benar-benar ingin cepat melangkah maju.


.............


Lukman pulang hari itu juga. Dan Ia tiba di rumah kontrakannya pukul sepuluh malam.


Pria single itu merenung mengingat wajah Amelia yang terlihat sedih di hari pemakaman Bapak kandungnya.


Lukman sangat ingin sekali berada di samping Amel untuk memberikan dukungan.


Ia rela berkorban apa saja demi kebahagiaan wanita yang dicintainya.

__ADS_1


Semakin hari mengenal Amelia jauh lebih dekat, rasa cinta dihatinya kian terpahat.


Lukman sudah siap dengan segala niatnya melepas masa lajang dan menikah dengan Amelia.


Ada satu sisi yang Ia rahasiakan dalam hidup, yaitu tentang keluarganya.


Lukman adalah anak sulung dengan tiga adik perempuan. Ia jujur mengatakan itu semua pada Amel termasuk dua adik perempuannya yang telah menikah dan memiliki anak.


Tapi sebenarnya Lukman adalah anak seorang pengusaha pemilik hotel bintang lima di pusat Ibukota.


Bimo Aruan, Papanya adalah salah satu pebisnis yang paling disegani di kota Jakarta.


Lukman kabur dari rumah, melarikan diri karena tidak ingin menjadi penerus Papanya mengurus perusahaan properti yang tidak begitu Ia minati.


Lukman suka mendesain pakaian dan menjahit juga. Pekerjaan yang lebih banyak disukai oleh kaum hawa membuat Bimo kesal dan membuat Lukman memilih keluar dari rumah.


Lukman yang bernama lengkap Lukmanul Hakim Aruan itu memang memiliki hati yang lembut.


Dididik santun oleh Sang Mama yang berbudi halus dengan tiga orang adik perempuan membuat Lukman cenderung memiliki sifat yang condong ke arah yang mengkhawatirkan.


Bimo mengkhawatirkan perilaku Lukman yang menjadi feminim karena lebih suka bergaul dengan perempuan ketimbang laki-laki.


Lukman sering mendandani Mama serta ketiga adiknya dengan pakaian yang Ia jahit sendiri.


Sehingga Bimo sempat memasukkan Lukman ke pesantren dan menjadi anggota karate club diusia belasan.


Meskipun Lukman suka hal-hal yang lembut, bukan berarti kondisi kejiwaannya jadi belok. Bimo terlalu berlebihan, karena Lukman laki-laki normal yang masih menyukai lawan jenis tetapi tidak terlihat fulgar seperti anak laki-laki pada umumnya.


Lukman mengingat betul nasehat guru mengajinya. Jika Ia berbuat jahat pada siapapun, balasan perbuatannya itu bisa saja menimpa pada ketiga saudara perempuannya.


Lukman sangat menyayangi Mama dan ketiga adik-adiknya. Terlalu sayang dan tak ingin karena tingkah bejatnya bisa menghancurkan kehidupan mereka.


Itu sebabnya Lukman sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan dan mengambil langkah. Terlebih soal jodoh.


Bahkan dirinya yang sudah tiga kali menjalin hubungan, ketiganya selalu kandas dengan keputusan yang diambil sepihak dari pacar-pacarnya. Bukan Lukman yang memutuskan. Dan Lukman tidak suka membuka jati diri kalau dirinya adalah putra pemilik hotel bintang lima kecuali memang perempuan yang menerima segala kekurangannya dan mau menikah dengannya lah yang akan dia beritahukan status sosial keluarganya yang masuk kategori keluarga konglomerat.


Lukman tidak mendendam kepada pacar-pacarnya dimasa lalu. Ia menyadari kalau memang jodoh, pasti akan Tuhan mudahkan. Begitu pikiran positifnya.


Dan kini melihat semangat Amelia menghidupi diri sendiri di kota besar hanya berbekal keyakinan dan doa kepada Yang Maha Kuasa, membuat Lukman jatuh cinta dan tergila-gila.


Jika Amelia menerimanya, maka Ia akan memboyong wanita itu ke istana keluarganya dan memulai hidup baru dengan membuka usaha garmen dan butik besar seperti cita-citanya di masa muda.

__ADS_1


Besar harapannya, untuk mempersunting Amelia. Tidak peduli status janda dan pendidikan rendah yang Amelia sandang. Cintanya tulus dan murni untuk Amelia, jandanya Solehudin.


BERSAMBUNG


__ADS_2