
Kisah Inayah dan Arthur ternyata lebih membingungkan dari kisah Amelia dengan Lukman yang kini telah berhasil berlayar di biduk kapal bernama rumah tangga.
Keduanya sama-sama merasakan getaran, namun sama-sama bingung dan tidak ada yang berani memulai.
Inayah, dirinya merasa gengsi dan malu untuk menchat Arthur lebih dahulu karena selain dirinya jauh lebih muda dan Ia juga seorang perempuan.
Arthur Handoko juga tidak tahu kalau yang Ia rasakan pada Inayah adalah getaran cinta. Yang Ia tahu, Ia sangat ingin bertemu Inayah. Lagi dan lagi, setiap saat. Sangat ingin mengetahui keadaan Inayah. Sedang apa dan sedang berada di mana.
Bahkan Arthur selalu memantau Inayah lewat status What'sApp, FB juga IG nya yang berhasil Arthur temukan. Arthur juga bisa menyadap ponsel gadis ingusan itu hingga bisa mengetahui siapa-siapa saja yang Inayah hubungi dan menghubunginya.
Agak gila memang kesannya.
Tapi Arthur jauh lebih tenang daripada dia hanya bisa menunggu agar gayung bersambut.
Arthur tidak memiliki keberanian lebih untuk menchat Inayah selain memantaunya diam-diam.
Arthur senang, Inayah adalah gadis yang sangat santun dan bukan gadis lenjeh seperti kebanyakan perempuan yang Ia kenal.
Bahkan untuk gadis seusia Inayah, menurut Arthur ponsel Inayah sangatlah sepi selain chat tugas dan beberapa chat cowok iseng yang sepertinya sedang mendekati. Tapi Inayah sepertinya tidak berhasrat menanggapi. Itu membuat Arthur senang.
Pria dewasa berumur 34 tahun itu sendiri sedang lumayan sibuk akhir-akhir ini. Film indie yang diproduksi setahun yang lalu mendapatkan penghargaan di Berlinale Film Festival.
Tapi karena Sabtu ini Ia akan masuk meja operasi pengangkatan batu ginjalnya, Arthur mengirimkan staf perusahaan filmnya sebagai wakil.
Ini adalah hari kelimanya memantau Inayah.
Pukul 20.40 WIB. Entah mengapa, Arthur merasakan hatinya yang galau dan kesepian.
Hampir setahun sejak gosip tentang dirinya yang merebak cukup panas dikalangan para pengusaha menengah ke atas, Arthur mulai menutup diri dari pergaulan malamnya.
Ia duduk di teras balkon kamarnya. Menghirup vape dalam-dalam padahal dokter sudah menyarankan untuk berhenti dari kegiatan merokok untuk kesehatannya.
Jika Arthur sedang tidak pedulikan kesehatan, tandanya Ia memang sedang dalam kegelisahan yang cukup besar.
Terngiang-ngiang kalimat Fevita, perempuan bersuami yang sudah Ia pacari selama dua tahun kala itu.
"Kamu... ingin kita putus?" katanya karena Arthur menyudahi hubungan yang dipikirnya dengan lebih serius.
"Ini adalah keputusan yang terbaik."
"Kenapa? Kenapa, darling?"
"Hubungan kita ini tidak sehat, Vita!" seru Arthur mulai kesal dengan perempuan yang begitu Ia cinta namun juga mencintai orang lain yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya.
"Kau... wanita bersuami!"
"Sedari awal kamu tahu itu!"
"Ya! Tapi sekarang pikiranku terbuka lebar, Vita! Hubungan ini tidak ada manfaatnya sama sekali untuk kita! Tidak ada ujungnya!"
"Kita menikmati kebahagiaan ini!"
"Kebahagiaan? Kebahagiaan semu? Kau bercinta denganku lalu pulang ke rumah dan tidur dalam pelukan suamimu! Tidakkah kau merasa bersalah?"
"Kenapa? Kenapa kamu baru sekarang memikirkan hal itu, Sayang?"
"Karena setelah Aku mikirkan berulang-ulang, hubungan ini hanya sia-sia, Vita!"
"Tapi kita menikmatinya. Kau, Aku... kita bahagia bersama. Bukankah harusnya kamu senang, Aku tidak banyak menuntut. Apalagi menuntut pertanggungjawabanmu untuk menikahi seperti kebanyakan perempuan pada pasangannya. Kita bahkan bisa bercinta kapan pun, tanpa harus pusing takut Aku hamil dan lain sebagainya."
"Vita, sadarlah! Kita sudah menyakiti hati suamimu! Berhentilah, sebelum kita semua hancur!"
"Kau bosan padaku? Apa ada perempuan lain yang lebih menarik hatimu?"
"Vita, stop it!"
"Arthur! Aku mencintaimu!"
"Kau juga mencintai suamimu, bukan?"
"Haruskah Aku cerai dari Arsen?"
__ADS_1
"Gila! Kau sudah gila!"
"Dua anakku biar diurus Arsen! Kita bisa menikah jika itu maumu!"
"Stop it! Aku tidak inginkan hubungan kita berlanjut!"
"Ya kenapa? Kenapa, Arthur? Pasti karena ada perempuan lain! Aku ingin tahu, siapa dia! Gadiskah? Atau... istri pengusaha mana lagi yang berhasil menarikmu ke atas ranjangnya?"
Plak
Arthur menyesal. Sangat menyesal.
Dua tahun hubungan manis mereka berakhir dengan tamparan tangannya di pipi Fevita.
"Arthur?!?"
"Maaf... Maafkan Aku, Vita!"
"Dengar! Tak akan ada perempuan yang mau berhubungan denganmu! Tidak akan ada yang serius inginkan dirimu! Dengar sumpahku, dengar! Seumur hidup kau tidak akan pernah bisa bersama perempuan lain apalagi hidup bahagia!"
Fevita pergi, setelah menyumpahi Arthur yang termangu seorang diri.
Sejak saat itu, gosip tentang dirinya kian merebak.
Tentang Arthur yang sangat suka sekali bercinta dengan perempuan pengusaha yang notabenenya sudah berkeluarga.
Tentang Arthur yang senang dengan perempuan berstatus istri orang.
Ditambah lagi, tentang dirinya yang memang pernah berkelakar kalau dirinya tidak percaya akan adanya Tuhan.
Lengkap sudah.
Kisah hidupnya yang lengkap karena meskipun dia seorang Kristiani sejak lahir, Arthur memang tidak pernah pergi ibadah Minggu setelah dirinya berumur tiga puluh tahun karena kesibukannya menjalani usaha perfilman.
Semakin tinggi pohon, semakin besar angin menerpanya di atas ketinggian.
Arthur cuek, tak pedulikan gosip buruk yang kian berkembang tentang dirinya.
Bagi Arthur, cukup prestasi dan juga hasil kerja kerasnya yang wajib diapresiasi banyak orang.
Arthur nyaris tidak punya teman dekat bahkan sahabat pria sekalipun. Karena Ia memang tidak pernah bisa mempercayai orang lain.
Mata Arthur menatap nomor WA Inayah.
Tertulis online, membuat alam bawah sadarnya segera menchat gadis imut itu,
...Hallo, Inayah. P kbr...
Cukup lama tidak langsung diread.
Arthur makin gegana, hingga matanya tak berkedip menatap kata online yang tertera di bawah nama Inayah.
Dibaca!!! Pekik hatinya riang.
Come on, balas please!!!
Arthur seperti sedang menunggu nilai ujian. Tegang dan deg-degan.
...Baik, Mas. Mas sendiri?...
Arthur langsung membalasnya.
...Baik jg....
Arthur diam. Bingung hendak menulis apa. Diotaknya banyak sekali pertanyaan, tapi jarinya seolah susah dikondisikan.
Triiingg tritririiiinggg
Arthur terkejut. Ternyata Inayah menelponnya.
"Ha_hallo?"
__ADS_1
^^^[Hallo? Mas Arthur? Besok kamu operasi ya?]^^^
"Iya."
...[Sekarang udah di rumah sakit? Udah masuk kamar inap?]...
"Belum, Inay. Masih di rumah."
...[Masih di rumah di BNR?]...
"Iya."
...[Oooh. Inay pikir udah masuk kamar inap.]...
"Harusnya sih iya. Tapi Aku milih nunggu di rumah. Besok langsung operasi jam tiga sore."
...[Oh. Mas puasa dong?!]...
"Mulai besok. Hari ini masih bebas, Nay."
...[Mmh. Oke deh kalo gitu. Semangat untuk besok ya!? Inayah tutup teleponnya ya?]...
"Inay, tunggu!!!"
...[Ya?]...
"Inay..."
Tak terdengar suara. Sepertinya Inayah sedang serius menyimak.
...[Hallo? Hallo? Mas Arthur? Suaranya koq hilang? Sinyalkah?]...
Arthur tersenyum. Gadis ingusan, imut nan lugu itu terlihat sekali kepolosannya.
"Iya, Nay. Bolehkah... Aku minta tolong?"
...[Apa?]...
"Besok lusa, maukah Inay menjengukku di rumah sakit?"
Tak terdengar jawaban.
Sepertinya Inayah sedang berfikir panjang.
"Kalau sibuk, tidak usah. Maaf. Tidak bisa juga tidak apa-apa, Nay. Makasih support semangatnya. Tolong doakan saja Aku disetiap kali sujudmu. Hehehe..."
...[Aku, Aku ga bisa janji ya Mas? Maaf...]...
Aku tahu. Aku sudah bisa menebak itu. Anak gadis baik-baik pasti akan langsung menolak. Aku senang, gadis imut ku ini bukan perempuan yang gampangan.
Arthur tersenyum meskipun sedikit kecewa.
"Ga apa-apa. Hehehe..."
...[Aku lagi ngerjain tugas. Aku permisi dulu ya Mas?]...
"Oke. Semangat belajarnya, Inayah!"
...[Terima kasih. Bye.]...
Klik.
Arthur meloncat-loncat kegirangan.
Suara merdu Inayah membuatnya seperti pria yang hilang akal sehat.
"Dasar, anak ingusan! Hehehe... Semoga kamu sukses dikemudian hari, Inayah!"
Esok Ia akan di operasi.
Kini kegalauannya telah mereda karena habis teleponan dengan Inayah.
__ADS_1
Arthur bisa pergi tidur dengan nyenyak hingga esok hari tiba dan Ia berangkat ke rumah sakit Jakarta.
BERSAMBUNG