
Juriah mematut di depan cermin. Berlenggak-lenggok ke kanan dan ke kiri, meraba parasnya yang kini berubah drastis. Sangat jauh berbeda dengan dirinya yang dulu
Seminggu dengan tataran Rozie tentang kecantikan juga tata Krama di sekolah kilat kepribadian membuat dirinya tampak berbeda.
Baru seminggu. Tapi sudah sangat memuaskan Juriah akan penampilannya kini.
"Jangan cepat berpuas diri, Nona! Ingat, dua hari lagi Boss Victor kembali dari Vietnam. Kamu harus membuatnya pangling dan memuji kerjaanku!"
Rozie yang duduk di kursi kerja sambil memperhatikan Juriah, memberikan nasehat.
"Iya, Rozie cantik. Putri akan membuat Rozie makin disayang Tuan Boss Victor. Putri yakin sekali."
"Good job, good girl! Hehehe..."
Juriah sudah pandai memainkan perannya.
Ia suka sekali memuji Rozie karena pria b+nci itu sangat senang dipuji dan jika sudah dipuji maka Rozie akan jadi sangat baik sekali pada Juriah.
Selama seminggu, Juriah mengekor Rozie bagaikan anak ayam membuntuti induknya.
Rozie membawanya ke salon kecantikan langganannya. Mempermak wajahnya juga kulit tubuhnya yang kata Rozie burik tapi masih bisa disihir.
Kulit Juriah memang agak rusak sejak dirinya mengidap penyakit kanker rahim dan kelamin setelah menikah dengan Soleh.
Itu semua adalah efek dari obat-obatan keras yang dikonsumsi Juriah selama masa pengobatan dan recovery.
Kini Ia telah sembuh total. Tapi kulitnya jadi burik, kasar dan menjijikkan. Itu sebabnya Ia dihina dan dibully Boss pemilik brand ternama kaos t-shirt tempatnya bekerja di mall pertama kali datang ke ibukota.
Juriah memiliki paras cantik. Ketika di mall kerjanya sebagai SPG melakukan kesalahan, supervisor toko di mall mengadukannya ke atasan yang tengil itu.
Juriah justru ditarik ke rumah beliau untuk dipekerjakan di rumah sebagai anggota asisten rumah tangga.
Tapi kenyataannya, Juriah justru dicoba luar dalam. Ia dipaksa melayani boss gila itu di atas ranjang. Dan setelah itu, Juriah diusir dengan alasan dirinya berpenyakitan, padahal ia sudah sembuh total setelah rutin berobat bersama Soleh hingga harta orang tuanya ludes tak bersisa.
Mengingat masa itu, wajah Juriah menegang.
"Putri! Putri? Putri Fania?"
"Ah, ya Rosie?"
__ADS_1
"Kenapa wajahmu menakutkan seperti itu? Jangan! Jangan perlihatkan raut wajah angker seperti itu! Boss paling tidak suka melihat manekin nya bermimik seperti itu!" tegur Rozie membuat Juriah mengangguk dalam.
"Maaf, Rozie. Maaf. Aku hanya sedang mengingat masa laluku yang pahit. Teramat pahit hingga rasanya diri ini ingin menghilang dari muka bumi!"
"Cih! Pikiran bodoh! Lupakan masa lalu itu! Move on dan buat semua orang yang pernah membuatmu terluka menjadi lebih sakit dari dirimu yang dulu dilukainya!"
"Ya. Betul. Akan kubalas semua luka dihati ini, Rozie cantik!"
"Yess! Itu baru namanya gadisku! Hehehe..."
"Rozie, aku mau makan enak. Bolehkah?" rayu Juriah dengan suara lembut lengkap dengan senyuman manisnya.
"Karena kamu sudah jadi anak yang baik, oke. Mari kita makan enak biar bodimu lebih berisi lagi. Terlalu slim juga tidak bagus. Jaman sekarang laki-laki suka yang semok. Yang tipis-tipis tak lagi berkelas. Bahkan sekarang beberapa PH intertainmen memerintahkan para modelnya untuk lebih memperhatikan asupan makanannya agar tidak terlalu kerempeng!"
Juriah tertawa.
Juriah dan Rozie keluar dari salon perawatan.
Tiba-tiba mata Juriah membelalak.
"Ada apa?" tanya Rozie bingung.
"Diamlah dulu, ada seseorang yang tidak ingin kutemui!" bisik Juriah seraya menarik masuk Rozie kembali ke lorong salon yang besar dan mencari pintu jalan keluar lainnya.
Mereka berhasil menghindar lewat pintu lain tanpa diketahui seseorang yang tidak ingin Juriah temui.
"Ada siapa? kenapa kamu sampai ketakutan begitu?"
"Mantan istri tua Suamiku!"
"Hahh?"
"Sttt, sudahlah. Jangan bahas itu! Itu hanya masa lalu!"
"Yang mana? Yang mana orangnya?"
Tentu saja Rozie bukannya bungkam dihardik Juriah, justru semakin kepo penasaran ingin tahu siapa istri tua suaminya Juriah, perempuan manekin Boss Victor kesayangannya.
__ADS_1
Juriah mencebik. Ia memukul-mukul kecil bahu Rozie agar mencari topik pembicaraan lain.
"Yang mana duuhh!? Kan aku mau tahu, Putri!"
Juriah menghela nafas lega. Amelia telah menghilang masuk ke dalam ruangan salon VVIP lainnya dengan Fanny, Mama mertuanya.
Amelia memang sedang me time dengan Fanny. Mereka terbiasa melakukan perawatan massage, meni pedi, totok aura seharian di salon yang baru saja Juriah singgahi.
"Yang mana, Putri? Wanita-wanita yang datang ke salon ini bukanlah wanita sembarangan. Minimal dia itu model, selebritis, selebgram terkenal atau kalau enggak ibu-ibu pejabat. Hei! Istri tua suamimu itu siapa? Yang barusan aku lihat masuk di pintu utama ada... Madam Laila, Ibu Fanny dan menantunya. Sama Sis Devana pemilik toko berlian di mall Ambassador. Yang mana?"
Juriah tercekat. Tenggorokannya seperti tersedak dan ia terbatuk-batuk mendengar ocehan Rozie yang mampu membuat rasa kesalnya meninggi.
"Sudahlah. Bisa jadi aku tadi salah lihat! Yok, aku lapar. Kita cari makan dulu. Mungkin aku salah. Tidak ada yang kukenal tadi di dalam. Cuma mirip sekilas ternyata bukan."
"Hadeeuh, kamu ini. Nge-prank aku ya?!"
"Hihihi..."
Juriah terkikik melihat Rozie gemas dan mencubit dagunya.
"Ya kali hebat betul suami gembelmu bisa punya istri tua pejabat. Hahaha... Mimpi!"
"Hahaha..."
Juriah tertawa. Tapi hatinya sakit.
Ia semakin ingin menjadi perempuan berkelas agar bisa menyaingi Amelia.
Kali ini hatinya sudah bulat. Apapun itu nanti rencana Victor, Juriah akan mengikutinya. Apalagi jika tujuannya adalah menghancurkan kehidupan Inayah dan Amelia.
Ia tidak rela melihat kebahagiaan mantan madunya yang kini hidup bagaikan ratu itu.
Juriah juga ingin seperti Amel dan Inayah.
Ingin jadi wanita yang bahagia.
Mendapatkan cinta dan kasih sayang yang berlimpah dari pasangan yang tulus mencintainya.
Sungguh Juriah sangat iri sekali.
__ADS_1
BERSAMBUNG