
"Juriah? Ini beneran kamu yang buat?"
Samsiah melotot ketika melihat satu notice pesan kiriman pihak bank yang mengabari kalau satu dokumen Sang Suami sudah dicairkan oleh putri tunggalnya senilai seratus juta rupiah. Sedangkan dirinya masih istri sah Ojan yang lebih berhak mencairkan dibandingkan Juriah.
"Untuk apa, Nduk? Tabunganmu kemana?" tanya Samsiah, kali ini jauh lebih lembut.
Walaupun Ia sangat terkejut mendapati kabar kalau Sang Putri telah membuat surat Kuasa tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepadanya, Samsiah berusaha memperlakukan Juriah dengan baik.
Ojan masih di rumah sakit.
Penanganannya tidak cukup dengan uang ratusan juta saja. Bahkan setelah operasi pengangkatan satu mata Ojan yang rusak karena kecelakaan lalulintas, masih harus ada operasi lain yaitu operasi pencangkokan mata palsu yang didapat dari donor mata di rumah sakit internasional.
Belum lagi patah tulang yang diderita Ojan juga harus segera mendapatkan penanganan serius. Ojan akan masuk ruang operasi lagi.
Dan semua itu, butuh biaya yang sangat besar.
Sementara Sang Putri justru tanpa pikir panjang mencairkan satu debit deposito Ojan dengan memanipulasi data dan membuat surat kuasa palsu.
"Maaf, Mi! Maaf..."
Juriah menangis di pelukan Sang Ibu.
"Katakan ada apa, Nduk?! Kalau kamu butuh uang cepat, kenapa gak bilang Umi? Kenapa kamu malah ambil keputusan sendiri? Bukankah Abi masih hidup? Umi juga punya simpanan kalau cuma senilai seratus juta, Ju!"
"Umi..., Ju bingung."
"Kenapa? Ada apa? Apa kamu mau ikut program kehamilan? Bayi tabung? Kamu hanya harus bersabar dalam waktu beberapa bulan lagi, Nak! Kamu pasti hamil asalkan ikuti pola hidup sehat dan kegiatan malamnya sesuai dengan waktu masa subur. Sabarlah. Baru juga dua bulan."
"Adik mas Soleh ada masalah sama mertuanya..."
"Lalu? Apa hubungannya kamu dengan adik iparmu itu, Nak?"
"Mereka ingin bangun rumah, tapi... belum punya uang, Mi! Mereka pinjam koq, bakalan diganti setiap bulannya!"
"Apa? Kamu cairkan deposit Abi cuma buat bantuin adiknya si Soleh bangun rumah?"
Tentu saja Samsiah kaget. Putrinya sudah hilang akal sehat. Padahal itu bukan urusannya juga. Dan lagi, deposito Ojan pasti akan dipertanyakan oleh si pemiliknya. Walaupun saat ini kondisinya sedang tanpa daya.
"Pasti Soleh sudah menyuruhmu, ya kan?"
"Bukan, Umi! Mas Soleh justru takut sekali ketika Ju berikan uang seratus juta itu ketangannya. Takut Abi Umi marah. Bukan. Mas Soleh tidak sejahat itu. Ini murni keinginan Juriah sendiri, Mi!"
__ADS_1
"Sayang...! Ada Umi. Kalau ada apa-apa, diskusikan dulu sama Umi! Ya? Jangan ambil keputusan sendiri. Apalagi ini menyangkut harta juga simpanan milik Abi. Janji?"
Samsiah berusaha menekankan pada putrinya untuk bertindak lebih hati-hati nanti.
"Istri mas Soleh... mmm... mantan maksudnya, menelpon Mas Soleh, Mi! Juriah takut sekali kalau dia minta balikan sama Mas Soleh. Jadi, Juriah...mmm... berharap Mas Soleh tetap pertahankan Ju walaupun istrinya menggoda lagi. Secara, dulu yang minta cerai itu Mbak Amel, bukan Mas Soleh duluan. Ju takut, Mas Soleh kembali berpaling pada Mbak Amel. Pastinya dia lebih cantik dan mengurus diri sekarang, Mi! Ju... takut! Hik hik hiks..."
Samsiah memeluk erat tubuh putrinya.
Juriah memang memiliki mental yang sangat rapuh dibalik ketegarannya selama ini. Selalu memiliki ketakutan-ketakutan yang berlebihan. Itu karena dirinya yang pernah jadi korban kebiadaban seorang laki-laki.
Samsiah mulai berfikir.
Ia tak ingin Putri kesayangannya itu terjatuh lagi dan harus menjauhkan Soleh dari Amelia, istri pertamanya yang telah diceraikan.
Samsiah bergerak cepat ke dukun kepercayaannya. Ia meminta supaya Amelia diberikan pengasihan lain agar pria-pria jatuh cinta pada Amelia dan Janda Soleh itu segera menikah dengan pria lain.
Sungguh pemikiran yang lucu yang sebenarnya justru menguntungkan Amelia.
Dengan kiriman buhul jarak jauh, Sang Dukun yang terkenal sakti mandraguna itu mengirimkannya ke raga dan ruh Amelia.
Pemikiran Samsiah, jika Amel dikejar-kejar banyak pria, otomatis kesempatan untuk menikah kembali terbuka lebar. Dan Soleh hanya akan tetap menatap Juriah putrinya.
Ia tidak rela melihat keluarga Soleh semakin menikmati harta Ia dan suami sedangkan dia dan Ojan justru dalam kondisi kurang baik. Bahkan Ojan masih butuh biaya banyak untuk pemulihannya.
Samsiah ingin melakukan barter gaib agar Ia tidak merasa rugi.
Di tempat yang berbeda, Lani tentu saja senang menerima amplop tebal berisi gepokan uang dari Sang Kakak sulung.
Bahkan Kakak kedua serta Kakak ketiganya hanya bisa memberinya doa padahal istri-istri mereka juga orang berada, tetapi tak ada satupun yang memberinya pinjaman untuk bangun rumah.
Fitra dan Jamal adalah adik Soleh. Mereka hanya beda usia masing-masing dua tahun saja, sehingga secara pemikiran dan tindakan sebenarnya sudah sama dewasa.
Tetapi Fitra dan Jamal yang juga mengurus harta keluarga mertuanya sangat berhati-hati karena khawatir salah langkah dan dia didepak oleh istri-istri mereka.
Berbeda dengan Soleh, yang jauh lebih beruntung. Dijodohkan dengan perempuan anak kaya raya yang justru sangat ingin melepas masa lajang karena suatu masalah.
Jadi istri baru Soleh otomatis mengekor terus disampingnya. Takut kehilangan dan demi menjaga cinta Sang Suami tetap besar padanya, rela lakukan apapun termasuk memalsukan tanda tangan Abinya sendiri untuk mencairkan sejumlah uang deposit di Bank.
............
Soleh tertunduk dihadapan ibu mertuanya.
__ADS_1
Ia takut juga karena ternyata Samsiah tak lebih lembut dari Ojan. Bahkan intimidasi yang Samsiah lakukan jauh lebih beringas dibandingkan Ojan yang lebih suka berkata kasar tapi tidak dengan tindakan.
"Kamu, pasti sudah buat Juriah memikirkan pernikahannya yang baru seumur jagung!"
"Maksudnya Ibu, a_pa?" Soleh tergagap.
"Itu, Juriah bilang, Amel kembali menghubungimu. Lalu kamu mulai bermain dengan senangnya. Membuat putriku gusar takut kalau kamu kembali ke pelukan si Amel!"
"Enggak, Bu! Mana mungkin saya balikan lagi sama Amelia. Saya sudah tidak punya keinginan untuk rujuk. Saya hanya menunggu Juriah seorang. Mencintainya hingga kami diberi keturunan."
"Terus, kenapa sampai Juriah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak perlu?"
Samsiah mengintrogasi setelah Ia mengunjungi ruko dan mengajak Soleh berbincang ketika Juriah sedang memasak di lantai dua.
"Saya, saya juga tidak tahu. Sejujurnya saya tidak enak, Bu! Juriah bilang, ingin membantu adik saya yang ingin membangun rumah. Adik saya memang pernah cerita, kalau Ia butuh uang untuk bikin rumah sendiri. Dia selama ini tinggal di rumah keluarga suaminya. Juriah terharu dengar cerita Lani. Dan... ia berinisiatif memberikan pinjaman. Tapi katanya tabungannya tidak cukup segitu. Juriah bilang, untuk bilang Abi rasanya tidak mungkin. Jadi... jalan satu-satunya biar rumah Lani cepat terealisasi ya... dengan bikin surat kuasa. Saya,"
"Cukup. Dimana sekarang adikmu dan suaminya tinggal?"
"Di rumah orang tua suaminya. Tapi kami tetanggaan karena rumah bapaknya Tito bersebelahan dengan rumah Bapak."
"Hm. Tuliskan alamat, serta nomor telepon adikmu juga suaminya. Aku ingin ketemu mereka."
Soleh menegang. Samsiah jauh lebih sadis dari Ojan. Akhirnya Soleh tahu kalau Samsiah adalah peminjam uang juga dengan bunga tinggi dan administrasi yang besar.
Kini Ia tak bisa berkutik. Samsiah turun tangan mengurus peminjaman uang yang Juriah berikan kepadanya beberapa hari lalu.
"Kamu, tidak pernah lagi datang ke rumah sakit! Kenapa? Sebagai menantu tunggal, kesayangan, yang sebagian harta Mas Ojan kamu nikmati juga beserta keluargamu, dimana sumbangsihmu, Soleh?"
"E e, saya... saya harus jaga toko, Bu! Maaf. Saya sedang kejar target uang bapak yang kemarin itu hilang karena Bapak saya. Maaf, Bu!"
"Sesekali, jenguklah Mas Ojan. Ambil hatinya dan jangan ambil hati setiap perkataannya yang menyakitkan, Leh! Kita ini adalah keluarga sekarang. Kamu harus menerima kekurangan dan kelebihan kami juga Juriah!"
"I_iya, Bu!"
"Ingat! Berani kau menyakiti hati Putri tunggal ku, urusannya akan panjang denganku, Soleh!"
Soleh menunduk dengan wajah pucat pasi.
Dirinya bagaikan singa ompong dihadapan macan betina tua yang luar biasa gagah perkasa.
BERSAMBUNG
__ADS_1