Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 197 Akhir Yang Bahagia 9


__ADS_3

Arthur tidak lagi menanyakan banyak hal pada Siti Juriah. Ia juga tidak membuka cerita kalau dirinya kini adalah adik ipar dari perempuan yang pernah Juriah dan Soleh sakiti dahulu.


Itu bukan lagi urusan Arthur.


Sebenarnya Arthur ingin sekali berbuat kejam dengan mempersilahkan Juriah keluar dari rumahnya saat ini juga.


Tapi mengingat waktu yang sudah cukup larut dan Juriah hanyalah seorang perempuan yang sedang butuh pertolongan, Arthur menahan egonya.


Air mata Juriah menjadi saksi bisu penyesalan perempuan yang masih cukup muda itu.


Arthur akhirnya kembali ke kamarnya karena azan Isya telah berkumandang di masjid yang ada di depan gerbang perumahan.


Kali ini Ia tidak ingin mengajak para asisten rumah tangganya untuk sholat berjamaah termasuk Juriah yang sedang menjadi tamu. Ia hanya membangunkan istrinya dan mereka sholat Isya berdua di kamar.


Setelah sholat, Inayah dan Arthur menengok Pupu di kamarnya.


Anak itu sedang asyik menggambar sendirian di kamar.


Itu memang rutinitas Putra Arthur Pangestu hampir setiap malam setelah selesai belajar.


Ia lebih suka sendirian tak ingin Arini temani.


Alasannya karena usianya kini sudah lima tahun lebih dan harus mandiri, belajar serta tidur sendiri.


Arthur senang, putra biologisnya itu bisa diandalkan dan tidak menyusahkan dirinya juga Inayah.


Bahkan istrinya yang masih muda belia itu kian sayang pada Pupu seolah Pupu adalah putra kandungnya.


Juriah sholat berjamaah dengan Arini.


Ia diajak Arini makan di meja makan dekat dapur kotor yang ada di lantai bawah.


"Tuan dan Nyonya? Terus, kerjaan Mbak sudah selesai?" tanyanya pada Arini.


"Mereka makan di meja makan utama. Ada Bi Menul yang siaga mengurus makan kita-kita semua disini. Kerjaanku fleksibel, cuma sampai pukul tujuh malam. Kalau DenPu sudah masuk kamar tidur, istirahat, aku udah bebas. Mulai sibuk lagi nanti pukul lima Subuh. Bangunkan DenPu sholat dan belajar pagi, periksa PR nya yang dikerjakan semalam. Lalu mandi dan sarapan, terus antar sekolah tuan muda ganteng rumah ini."


"Kerjanya enak, majikannya juga baik. Senangnya..." gumam Juriah membuat Arini tersenyum dan mengangguk.


"Aku pernah kerja jadi baby sitter dua tahun urus anak empat tahun tapi kerjanya nonstop. Di daerah Karawaci sana, lebih sultan dari ini. Tapi,... sangat merki dan judes sekali. Anaknya tidak boleh menangis, tidak boleh terluka. Pokoknya buat kesalahan sedikit saja, potong gaji."


"Merki itu apa, Mbak?"


"Merki itu pelit bin koret. Tau gak koret? Ya diatas pelit kuadrat. Hehehe... Untungnya, aku cuma kontrak dua tahun. Setelah Tuan Muda umur enam tahun, aku tidak lanjut kontrak. Kembali ke yayasan dan dapat majikan Ibu Inayah dan Pak Arthur. Awalnya kesulitan karena DenPu belum fasih bahasa Indonesia. Harus was wis wus wes wos pake bahasa Inggris. Alhamdulillah Bu Inayah ambilkan kursus kilat DenPu juga rajin ngomong bahasa Indonesia. Alhamdulillah sekarang DenPu nyaris full ngomong pake bahasa Indonesia. Hehehe..."


"Waah, ternyata kerja sesulit itu juga ya, Mbak?"


"Semua kerja sulit. Apalagi diawal-awal. Harus siap mental hadapi tantangan. Alhamdulillah majikanku kali ini super duper baik dan sederhana sekali orangnya. Pak Arthur juga meskipun bule, dia orangnya merakyat banget. Sangat cinta istrinya. Jadi apapun perkataan Bu Inayah, pasti diiyakan. Hehehe... Aku tadi sempet kuatir pak Arthur melarang kamu numpang tidur semalam di sini. Untungnya Bu Inayah datang dan menghandle. Kamu benar-benar terselamatkan."


"Iya, Mbak. Hehehe... Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya Mbak. Kalau tidak ada Mbak, aku ga tau lagi harus gimana. Paling tidur di terminal, di atas bus nunggu besok pagi berangkat. Apalagi ibukota ini begitu kejam. Aku takut..., ada orang berbuat jahat di terminal."


Arini mengusap-usap bahu Juriah.


Selepas makan malam mereka hendak kembali ke kamar.


Juriah mengagumi rumah besar milik Arthur yang terdiri dari dua lantai.

__ADS_1


Kamar pemilik rumah ada di lantai dua sementara para asisten rumah tangga, sopir dan pekerja lainnya tidur di lantai bawah.


Juriah terkesiap.


Matanya membulat tak berkedip. Sebuah figura besar berwarna keemasan membingkai gambar foto keluarga besar sang pemilik rumah.


"Itu..." Seru Juriah sembari menunjuk ke arah foto itu.


"Itu semua Keluarganya Bu Inayah."


Juriah menelan ludahnya.


Jantungnya berdegup sangat kencang.


Fikirannya menerawang.


Wajah cantik Amelia terlihat jelas di gambar besar foto keluarga dekat ruang tengah.


"Itu..., Mbak Amelia!" gumam Juriah dengan bibir bergetar dan tubuh gemetar.


"Mbak Ju kenal Ibu Amel? Beliau kakak tertua ibu Inayah."


"Hahh? Apa???"


Sontak lemas lutut Juriah.


Ternyata, ia sedang menginap di rumah adik kandungnya mantan madunya. Tentu saja gugup gelisah hatinya.


"Ibu Amelia,... kakaknya Bu Inayah?"


"Itu anak bayi yang digendongnya, siapa?"


"Anaknya. Kembar sepasang. Adam Hawa namanya. Anaknya cantik dan tampan seperti Bu Amelia dan pak Lukman."


Juriah diam seribu bahasa mendengar Arini bicara.


Hatinya bercampur aduk tak karuan rasanya. Apalagi setelah mengetahui kalau Amelia sudah punya anak dan dua sekaligus.


Mukanya merah, matanya panas. Juriah menahan sekuat mungkin agar tidak menangis di depan Arini.


Ternyata kehidupan Amelia kini sangat senang dan bahagia.


Berbanding terbalik dengan dirinya juga Solehudin.


Sangat miris hatinya.


Malam itu Juriah tidak bisa tidur walaupun sekejap.


Fikirannya meremang menerawang jauh tinggi di awan.


Mereka dulu memiliki konflik yang cukup pelik.


Konflik rumah tangga yang terkesan jadi rebutan.


Juriah mengenang wajah Soleh, sang mantan suami.

__ADS_1


Soleh sebenarnya juga berwajah tampan. Bahkan mungkin andaikan Soleh sekaya Lukman, dandanan Soleh jauh lebih glamor dibandingkan Lukman suaminya Amelia sekarang.


Tapi, nasib Soleh buruk. Sangat buruk. Bahkan dirinya yang dulu mencintai Soleh begitu dalam ikut terpuruk dan mengalami nasib yang sama na'asnya.


Juriah iri sekali melihat kebahagiaan Amelia.


Padahal Mbak Amel hanyalah tamatan SMP saja. Tapi garis hidupnya bagus sekali. Nasibnya mujur. Sedangkan Aku, aku ini tamatan SMK. Lebih berpendidikan dibandingkan dia. Hidupku pun dulu termasuk anak orang kaya raya di kampung. Jauh beda dengan dia. Tapi kenapa dia bisa mendapatkan nasib sebagus ini? Bahkan nasib baiknya pun menular dengan adiknya. Memang sih, Inayah anak kuliahan. Tapi..., perempuan asli kampung itu bisa menikah dengan orang Barat. Ck ck ck... Mereka berguru ke dukun mana? Bisakah aku mengetahuinya?


Juriah membalikkan badannya.


Jam beker di nakas Arini menunjukkan pukul tiga pagi.


Suasana begitu hening karena semua penghuni sedang terlelap dalam mimpi.


Juriah bangun dan duduk di atas ranjang menatap lekat Arini yang tidur dengan nyenyak.


Perlahan Ia turun dari ranjang.


Berjalan dengan hati-hati agar Arini tak mendengar pergerakannya.


Juriah membuka pintu kamar dengan pelan sekali.


Ia keluar kamar dan berjalan selangkah demi selangkah menjaga suara kakinya agar tidak terdengar.


Juriah penasaran.


Ia kembali ke ruang tengah, menatap lekat wajah Amelia yang kini berubah drastis seratus delapan puluh derajat.


Amelia tidak seperti Amelia yang Juriah kenal dulu.


Wajahnya, dandanan juga pakaiannya, terlihat elegan dan penuh wibawa sekali.


"Andaikan Mas Soleh melihat dirimu lagi, pasti dia bakalan nekad ingin kembali padamu, Mbak. Hmmm..." gumamnya pelan.


Grep


Nyaris Juriah lompat mendapati sebuah tangan menepuk bahunya kuat.


"Aku sudah curiga, kamu pasti bakalan berkelakuan seperti ini! Dasar perempuan tidak tahu diri! Ditolong malah jadi seperti ini!"


Juriah membelalakkan matanya. Arthur berdiri tegak tepat dibelakangnya.


"Pa_pak Arthur?!? Saya...,"


"Apa maumu? Penasaran dengan kehidupan mantan istri dari suamimu? Belum kapok untuk membuatnya susah seperti dulu?"


Juriah mundur beberapa langkah. Kini Ia kian terpojok hingga tubuhnya menempel di dinding.


"Kembali ke kamar Suster Arini! Besok pukul tujuh pagi, aku sendiri yang akan mengantarmu ke terminal dan memastikan kamu naik bis tujuan kampung halaman!"


Juriah mengangguk. Ia berjalan cepat setengah berlari. Tinggalkan Arthur yang masih berdiri mengawasi.


"Bisa-bisanya perempuan itu kepo dengan kehidupan Mbak Amelia sekarang. Hhh..."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2