
"Mama, Mama... Mamaaa!!!"
Aulia terkejut mendengar putranya teriak padahal sedang tertidur pulas.
"Sayang, Sayang! Laa haulaa walaa quwata illa billaahil'alihil 'adziim... Laa ilaa ha illallah Muhammadarrosulullaah..."
Aulia berusaha meniupkan kalimat tauhid di kedua telinga putranya yang masih berumur empat tahun itu. Terus dan menerus
Malam ini adalah malam kelima kematian Anta.
Keluarga kecil Fitra memang masih menginap sampai hari ketujuh karena akan mengadakan tahlilan penuh selama seminggu di rumah Mariana.
Daripada harus bolak-balik, Aulia akhirnya menyarankan kepada sang suami agar menginap selama seminggu sekaligus menemani Mariana yang masih dalam suasana berkabung.
Jamal dan Lestasi istrinya juga melakukan hal yang sama.
Hanya Soleh saja yang pulang pergi karena harus tetap buka toko karena bapak mertuanya sedang ada di rumah toko yang mereka tempati.
Lani bolak-balik karena rumah orang tua Tito tepat berada di samping rumah Mariana. Jadi tidak perlu butuh waktu serta uang ongkos untuk ke rumah ibunya yang kini menjadi janda setelah ditinggal mati Anta.
"Laa haulaa walaa quwata illa billaahil'alihil 'adziim... Allahu laa ilaaha Illa huwal hayyul-qoyyuum... Bismillahirrahmanirrahim... Qul'audzubirobbinnaas..."
Aulia adalah anak seorang Kiyai. Otomatis Ia hafal doa-doa pendek dan bisa melakukan rukiyah mandiri pada keluarganya sendiri.
Fitra juga ternyata adalah salah seorang pria yang rajin ibadah termasuk penghafal Al-Qur'an di kampung istrinya.
Malam itu, Aulia dan Fitra menjaga putra mereka dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an sehingga setan pemakan roh itu kepanasan dan kabur kembali ke rumah Samsiah.
Bledarrr.
Samsiah terkejut. Lampu bohlam dikamarnya tiba-tiba meledak. Untung saja saat itu Ia tidak berada tepat di bawah bohlam LED yang paling mahal harganya karena ke-estetikannya.
Samsiah menyadari, kalau ternyata perintah kepada makhluk peliharaannya itu gagal menjalankan tugas sehingga tubuhnya menjadi bergetar dan lututnya lemas seperti orang yang kehilangan tenaga.
"Siallan!!! Rupanya aku salah sasaran!" makinya kesal pada diri sendiri.
"Makhluk bodoh! Pergilah dan cari sendiri mangsamu sebagai gantinya! Cih! Aku bisa saja menjualmu kembali ke pabrik Blau!"
Begitulah ancam Samsiah kepada setan peliharaannya yang murang-maring marah karena tidak mendapatkan makanan malam ini.
Samsiah segera mengambil botol yang berada di dalam kulkas kecil yang terdapat di kamarnya.
Itu adalah air jampi dari dukun tempatnya memuja.
Dengan meminum air yang berada dalam wadah botol mineral itu, Samsiah kembali menjadi segar kembali. Dan Ia pun pergi ke luar untuk memanggil orang yang tinggal bersamanya.
"Le Giman! Le!"
"Iya, Mbak?"
"Tolong angkat spreiku. Hati-hati, banyak pecahan beling bohlam. Ganti juga lampu bohlamnya sekarang juga. Cepat, Aku ngantuk Le!"
"Ehh? Bohlam di kamar Mbak pecah? Kenapa?"
"Jangan banyak tanya. Berisik! Kerjakan saja tugasmu kalau tak ingin gajimu dipotong!"
"Oala Mbak! Jangan toh! Yo wes, saya ambilkan dulu bohlam yang baru."
Giman adalah sepupu Samsiah yang sudah lama tinggal bersama keluarga Ojan.
Rata-rata yang bekerja dan tinggal di rumah besar itu masih saudara atau kerabat. Mereka biasanya bermasalah dan minta bantuan keuangan kepada pasangan suami istri Ojan Samsiah.
Jadi, sebenarnya semakin lama mereka tinggal semakin tahu sepak terjangnya Ojan dan Samsiah dalam mengumpulkan pundi-pundi uang.
Sebagian dari mereka bahkan juga percaya dengan praktek perdukunan.
Mereka lebih suka mendatangi orang pintar yang konon langsung dikabulkan keinginannya ketimbang memohon doa kepada Sang Illahi Robbi.
Padahal jalur langit doa sepertiga malam kepada Sang Pencipta adalah yang paling terbaik untuk semua umat-Nya.
..............
Amelia sendiri semakin terlihat bersinar dan dirinya lebih percaya diri setelah bercerai dari Soleh.
__ADS_1
Dagangan masakannya laris manis. Bahkan udara kateringnya juga berjalan sesuai yang diharapkan.
Lukman senang, Amelia kini mulai terbiasa hidup sendiri dan raut wajahnya pun terlihat lebih segar karena Ia adalah perempuan yang manis dan murah senyum.
Tetapi hati Lukman juga ketar-ketir seperti saat ini.
Sebulan tepat perusahaan konveksi tempat Lukman dan Diki bekerja sama memakai jasa katering Amelia. Sang atasan yang biasanya cuek justru kini penasaran ingin kenal Amelia, Sang juru masak katering pesanannya.
Bahkan Adam Malik, pemilik konveksi bersikeras ingin memberikan sendiri uang makan katering selama satu bulan pada Amelia.
Hati Lukman deg-degan.
Bagaimana tidak, Ia baru mengetahui kalau Sang pemilik perusahaan pembuatan pakaian rumahan itu adalah seorang duda yang ditinggal mati isterinya lima tahun lalu.
Adam Malik adalah pria keren yang usianya 40 tahun. Kulitnya putih bersih, berhidung mancung serta amat berkharisma. Tubuhnya juga tinggi tegap, nyaris sempurna. Seperti bodi-bodi pilot dan para model macho yang sering Lukman lihat di televisi.
Kemungkinan besar Amelia bisa saja terjerat oleh ketampanan atasannya.
Lukman benar-benar galau.
"Man, dimana kontrakannya Mbak Amel?" tanya Adam membuat Lukman tergagap.
"Boss tunggu aja di mobil. Biar saya saja yang anterin uang kateringnya. InshaAllah saya amanah seperti biasa, Boss!" ujar Lukman berusaha mencari jalan lain.
""Ga papa. Sesekali saya turun ikut sendiri ke rumah kontrakan Mbak Amel. Sekalian lihat kondisi dapur dan cara memasaknya juga. Khawatir kalau ternyata tidak higienis, Man!"
"Duh, Boss! Kalo Mbak Amel jorok, ga mungkin saya ajukan untuk join katering ke konveksi tempat saya kerja. Hehehe... Dijamin kan, masakannya? Boss sendiri suka makan masakan katering akhir-akhir ini."
"Justru itu. Saya juga perlu tahu dan kenal siapa orang yang sudah bekerja sama dengan perusahaan kecil saya ini, Lukman! Sesekali turun lihat-lihat boleh dong!"
Lukman tak berkutik. Adam tersenyum tipis mengunci pintu mobilnya yang terparkir di pinggir jalan raya depan gang kontrakan Amelia.
"Yok, saya juga gak bisa lama. Ada Mama Mertua saya di rumah."
Lukman berusaha membalas senyuman Bossnya.
Harapannya, semoga kedua orang yang akan saling bertemu ini tidak terkena panah asmara. Masalahnya Amelia berstatus janda muda dan Adam juga seorang duda tanpa anak.
Lima tahun telah berlalu, Adam masih betah hidup sendiri karena cinta yang besar pada almarhumah isterinya.
Lukman khawatir kalau setelah melihat Amel, Adam akan kepikiran hal yang lain.
"Yang mana rumah kontrakan Mbak Amel?" tanya Adam setelah tiba di deretan rumah kontrakan yang berbaris rapi.
"Itu, paling tengah di samping kontrakan Diki, Boss!"
Tok tok tok
"Assalamualaikum..."
"Assalamualaikum, Mbak! Mbak Amel..., Mbak ini saya Lukman, Mbak!"
Lukman mencoba mengetuk pintu juga setelah Adam.
Ia ingin lebih dahulu memperlihatkan wajahnya daripada wajah Adam Malik, Bossnya.
"Waalaikum salam..., sebentar Man!"
Krieeet...
Hampir saja Lukman meloncat kaget.
Amelia rupanya sedang memakai masker wajah bengkuang. Muka manisnya tertutup oleh lapisan putih masker yang dipakai Amelia sehingga membuat Lukman hampir ketakutan.
"Ada atasan saya, Mbak!" ujar Lukman kikuk.
"Waduh, maaf, maaf. Silahkan duduk, Pak Boss! Saya cuci wajah dulu sebentar. Maaf!"
Amelia ikutan gugup. Ia grogi melihat Lukman ternyata datang bersama Boss pemilik konveksi yang sudah sebulan ini memakai jasa kateringnya.
"Ish, kamu, Man! Kenapa gak telpon dulu? Aku gak tau nih, malah disambut kayak topeng monkey ini!" bisik Amelia pada Lukman.
__ADS_1
Lukman tersipu.
Ada untungnya juga Amelia memakai masker wajah. Setidaknya pandangan pertama Adam tidak tertuju langsung ke wajah Amel.
"Maaf, Boss! Hehehe..." ucap Lukman menoleh pada Adam yang terlihat santai mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah kontrakan Amel.
Sesekali Ia mengangguk-angguk. Cukup puas karena orang yang menangani katering konveksinya bukan orang yang jorok.
Amelia yang terburu-buru, segera mencuci wajahnya yang berlepotan masker.
Ia melapnya dan berbedak tipis agar tidak terlihat pucat.
Sedikit lipgloss supaya bibirnya terlihat segar.
Kemudian keluar segera menemui Lukman dan Adam.
"Maaf, Boss! Saya tidak tahu kalau Boss akan datang ke sini. Saya kira, hanya Lukman saja."
Mata Adam menatap Amelia tak berkedip.
Seperti... melihat seseorang yang sudah sangat lama ia rindukan. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca tapi segera Ia kuasai emosinya.
".... Mbak Amelia?"
"I_ya. Saya sendiri, Boss!"
Adam berdiri dari duduknya.
Ia mengulurkan tangan dan...
"Perkenalkan, Saya Adam Malik. Pemilik perusahaan konveksi yang bekerja sama dengan usaha katering milik Mbak!"
"Saya, Amelia. Sepertinya Boss terlalu berlebihan. Bukan usaha katering, hanya jasa memasak saja. Masih kecil-kecilan. Hehehe..." timpal Amelia tersipu merasa malu.
"Sama seperti usaha konveksi saya. Masih kecil-kecilan!" jawab Adam segera.
"Konveksi Boss itu konveksi besar. CV. Mana bisa disandingkan dengan usaha masak saya. Oh iya, silahkan duduk, Boss! Mau minum apa? Kopi atau teh manis?"
"Tidak usah, terima kasih. Saya buru-buru, Mbak. Lain kali mungkin. Oh iya, boleh minta nomor kontak Mbak Amel!? Selama ini kita hanya lewat Lukman saja ya?"
"Oh iya, tentu. 0867020211**."
"Oke, saya save ya nomornya! Oh ini, uang kateringnya untuk satu bulan ke depan. Di bayar full sekarang karena saya sudah tidak ada lagi keraguan. Dihitung dulu uangnya."
"Terima kasih Boss! Terima kasih banyak atas kepercayaannya."
Amelia menerima amplop coklat tebal dari tangan Adam.
"Selama ini masak enam puluh bungkus nasi dikerjakan sendiri?" tanya Adam dengan penuh perhatian.
"Dibantu Tasya, istrinya Diki yang juga karyawan konveksi Boss."
"Oh gitu ya."
"Saya bekerjasama dengan Mbak Tasya. Kalau sendiri, lumayan kewalahan Boss. Hehehe..."
Adam pucat pasi. Senyuman manis Amelia pun nyaris serupa dengan mantan istrinya yang telah lama berpulang ke Rahmatullah.
"Waduh, Man! Saya harus segera pergi. Khawatir kalau Mama mertua saya menunggu terlalu lama sendirian di rumah. Mbak Amel, Saya pamit permisi."
"Oh iya, Boss! Terima kasih banyak. Kalau ada keluhan dari menu masakan katering saya, silakan dikonfirmasi saja seperti biasa lewat Lukman."
"Kenapa harus lewat Lukman? Saya bisa hubungi Mbak langsung, bukan? Apakah suami Mbak orangnya cemburuan?"
Amelia gelagapan. Bingung menjawabnya.
"Iya, Boss. Suaminya Mbak Amel cemburuan parah!" sela Lukman membuat Amelia membulatkan kedua bola matanya.
"Saya,"
Lukman segera mengambil alih Amelia yang baru saja ingin mengklarifikasi ucapan Lukman barusan.
"Mari Boss, saya antar ke mobil. Takutnya Boss pulang terlambat, ga enak sama Mama mertuanya Boss!" tukas Lukman membuat Amelia tersipu. Ia mulai menyadari kalau Lukman sengaja melakukan itu agar antara dirinya dan Bossnya tidak terjadi hal-hal yang diinginkan jika mengetahui status dirinya yang seorang janda.
__ADS_1
BERSAMBUNG