Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 67 Barter Yang Meresahkan


__ADS_3

"Bagaimana mungkin hari kepindahan kita ke rumah baru tanpa didampingi Bang Tito?" sungut Lani kesal pada suaminya.


Tito baru saja memberi kabar kalau besok dia harus mengantar Samsiah keluar kota mencari barang dagangan untuk butiknya yang baru dibuka seminggu yang lalu.


Entah apakah itu alasan, atau memang benar. Tapi Samsiah memang ingin menyelam sambil minum air. Ingin belanja untuk toko barunya juga ingin bersenang-senang dengan berondongnya itu.


Lani tentu saja kesal mendengar Tito mendadak mengatakan tidak bisa ikut bantu pindahan karena tidak bisa izin cuti kerja.


Mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa menghibur Lani dengan mengatakan kalau dirinya hanyalah bawahan. Semua kerjaan adalah hak mutlak atasan, termasuk waktunya juga.


Ditambah lagi Samsiah telah banyak memberikan sumbangsih kepada Lani sekeluarga. Otomatis Tito juga harus mengikuti semua perintah Samsiah termasuk harus masuk kerja mengantar ibu mertuanya kakak Lani itu.


Akhirnya Lani hanya bisa pasrah meskipun bibirnya mencucut kesal sekali.


Pikirannya juga melayang mengingat betapa semua kenikmatan hidupnya kini adalah karena kebaikan Samsiah, ibunya Juriah.


"Jadi, Aku harus membawa sanak saudara ke rumah baru kita tanpa Abang? Terus, makannya?"


"Nanti beli saja nasi box paket lengkap ayam geprek. Pesan berada puluh kotak. Jadi kamu gak perlu repot-repot masak, Lan! Ga usah terlalu capek juga. Praktis kan?"


"Iya juga sih. Terus, uang untuk beli nasi kotaknya?"


"Nanti Aku yang bayar!"


"Asyiiik...! Bang, kamu emang mau ke mana sih?"


"Kalo ga salah dengar, Bu Samsiah mau hunting batik di pasar Beringharjo Yogyakarta. Makanya perjalanan ga bisa pulang pergi. Otomatis menginap di penginapan satu malam."


"Memangnya Pak Ojan mau ditinggal istrinya begitu? Bukannya Pak Ojan kondisinya masih memprihatinkan ya?"


"Ya, gitu deh, Lan! Tadinya kan tinggal di rumah toko bersama Bang Soleh dan Mbak Juriah. Tapi Mbak Juriah keberatan juga lama-lama. Pak Ojan sekarang sangat cerewet dan suka marah-marah. Untungnya sama Abang dia ga terlalu sensi. Abang kan suka ambil hati dengan pijatan terapi di pinggang dan kakinya yang sempat nyengsol itu, Lan!"


"Iya. Lani pernah dengar cerita Bang Soleh. Bapaknya Juriah sekarang persis setan merah yang emosional parah. Paling benci sama Bang Soleh dan setiap saat selalu mengoceh, mengomel bahkan maki-maki Bang Soleh dengan bahasa yang sangat kasar. Tadinya aku kuatir dia akan lakukan hal yang sama sama Abang."


"Alhamdulillah. Walau memang agak cerewet, tapi sama Abang Pak Ojan ga terlalu. Cuma kalo kebetulan Abang keluar dan belum pijat badannya, dia marah-marah. Tapi ucapannya masih bisa Aku terima sih!"


"Syukurlah."


............


Hari kepindahan Keluarga kecil Lani berlangsung keesokan harinya.


Sanak saudara dan juga kerabat serta tetangga diajak serta oleh Lani ke rumah barunya yang megah yang terdiri dari dua lantai.


Dua buah angkutan kota milik Pak Ojan sudah standby dan katanya mobil angkot itu adalah milik Pak Ojan yang diperbantukan Bu Samsiah sebagai atasan Tito gratis. Tito dan Lani hanya cukup memberi uang rokok untuk para sopir angkot saja. Bensin ditanggung Bu Samsiah.


Tentu saja Lani semakin senang.


Ia tidak tahu kalau semua itu adalah barter tubuh suaminya yang kini semakin dimiliki Samsiah secara utuh.


Samsiah sendiri semalaman harus merayu Ojan dahulu agar mendapatkan izin ke kota gudeg membeli pakaian yang akan mengisi butik barunya tak jauh dari toko onderdil yang diurus Soleh.


"Abi Sayang! Umi melakukan ini untuk kita semua. Untuk masa depan kita juga. Uang kalau tidak diputar lama-lama akan habis. Umi sengaja memperluas usaha bisnis dengan membuka butik pakaian. Dan resikonya yaitu, Umi harus cari barang bagus, kualitas terbaik dengan harga yang terjangkau. Kabarnya Jogja adalah surganya batik murah. Umi butuh survei dulu."


"Kamu pergi ke luar kota tanpa Aku, Sam! Bagaimana mungkin Aku bisa tenang melepasmu?"

__ADS_1


"Bukankah Aku bersama Tito? Adik iparnya Juriah!? Dia pasti bertanggung jawab menjagaku, Mas!"


"Hhh... Andaikan tubuhku tidak seperti ini. Andaikan kecelakaan itu tidak terjadi. Pasti Aku akan antarkan kamu kemanapun pergi, Sam!"


Samsiah memeluk tubuh Ojan.


"Kamu terbaik. Suami terbaik, Mas! Tak akan ada suami yang seperti dirimu!" pujian Samsiah membuat hidung Ojan merekah.


"Kamu hanya semalam saja tinggalkan Aku kan? Paginya langsung pulang?"


"Iyalah. Aku mau kabur kemana? Semua uang disimpan di rekening bank atas nama kamu, Mas!"


"Sam...! Sekarang kan kamu yang mengelolanya. Aku belum sempat ke bank dan juga menengok semua usaha bisnis kita. Bahkan hampir tiga bulan ini Aku tidak mendatangi kontrakan-kontrakan kita di daerah Jaya Giri."


"Semua aman terkendali. Hanya kontrakan kita ada yang baru selesai direnovasi. Total pengeluarannya senilai Lima puluh juta. Tapi uang bulanan yang kontrak juga akan segera menutup pengeluaran."


"Hhh... Terserah padamu saja, Sam! Aku percaya sepenuhnya padamu, wahai istriku yang cantik dan pintar! Dan satu hal, bagaimana caramu mencari tumbal setiap bulannya untuk peliharaan-peliharaan kita?"


"Jujur, untuk yang itu Aku belum bisa memberikannya. Ini sudah batas waktu sebenarnya. Makanya, niatku pergi ke Jogja, sekaligus mencari tumbal di jalan raya. Untuk itu, aku minta pengertianmu, Mas Ojan!"


"Baiklah. Pergilah! Cepat kembali karena Aku pasti akan merindukan dirimu!"


"Iya, suamiku tersayang!"


Samsiah terkejut. Netranya bersirobok dengan sepasang mata milik Tito yang masuk tanpa Ia sadari.


Jantungnya berdebar. Berharap Tito tidak mendengar obrolannya dengan Ojan barusan soal tumbal dan peliharaan.


Tito tidak tahu. Tepatnya belum tahu kalau Nyonya Besarnya adalah pemuja setan.


"Bu! Tas mana yang mau saya bawa dan taruh di mobil?" tanya Tito dijawab singkat oleh Samsiah.


"Itu."


"Tito!"


"Ya, Pak?"


"Jaga istriku dengan baik. Hati-hati bawa kendaraannya. Bawa kembali Samsiah pulang ke rumah ini dengan selamat!"


"Baik, Pak!"


"Ya sudah. Aku pergi dulu ya Bi! Mumpung masih pagi sehingga aku bisa cepat sampai dan cepat pulang lagi!"


Samsiah mencium punggung tangan Ojan. Tapi Ojan justru memeluknya erat. Menarik dagu Samsiah dan mencuri manis bibir merah Sang istri yang selalu menggoda.


Samsiah pasrah.


Tito yang melihat itu langsung bergegas keluar dari ruang tengah rumah Ojan dan menunggu Samsiah di mobil.


Tak lama kemudian Samsiah keluar dan Ojan yang agak terpincang-pincang mengekor istrinya sampai depan pintu.


"Hati-hati! Alon-alon asal kelakon!" pesan Ojan pada Tito.


"Iya, Pak!"

__ADS_1


Tito memang sudah pintar mengendarai mobil. Ia juga telah memiliki SIM hanya dengan kurun waktu tiga bulan bekerja dengan Samsiah.


Mobil Fortuner baru milik Ojan atas nama Samsiah kini jadi kuda kencana yang nyaris setiap hari Tito bawa.


Mobil yang Ojan beli tepat setelah seminggu Anta wafat.


Samsiah tersenyum pada Ojan sambil melambaikan tangan.


Hatinya senang, akhirnya bisa keluar rumah dan pergi untuk dua hari.


Ia menghela nafas lega sembari menoleh ke arah Tito yang fokus duduk di belakang kemudi. Dan baru berani memegang tangan Tito setelah mobilnya berjalan cukup jauh dari kediaman Ojan.


"Ibu pandai bermain api."


Samsiah terkejut, Tito berani menyindirnya. Ia memang menaruh tangan kanannya di atas paha Tito kini.


"Ada apa? Kenapa nada bicara kamu seperti itu? Bahkan dengan terang-terangan menyindir Aku!"


"Tadi Ibu berciuman mesra dengan Bapak!"


"Apa kamu sedang cemburu?"


"Apalah artinya saya dimata Ibu."


"Gustiii. Apa benar kamu cemburu?"


"Tolong maafkan saya! Hari ini perasaan saya sedang tidak baik-baik saja!"


Samsiah tersenyum gemas melihat wajah Tito yang bersemu.


Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Tito yang tidak berani memalingkan muka dan tetap fokus ke jalan.


"Kamu manis sekali, Tito!"


"Sudahlah. Jangan ratu saya, Bu!"


Samsiah terbahak-bahak. Hatinya kian senang melambung tinggi di awan karena Tito dengan jelas memperlihatkan kecemburuannya pada Ojan.


Samsiah mengecup pipi berondongnya itu.


"Kamu adalah segalanya bagiku, Tito! Sungguh. Cuma kamu dihati ini."


"Gombal!"


"Kamu tahu, aku pandai bersandiwara. Tapi tidak denganmu kini. Buktinya, Aku tadi berbohong bersandiwara dengan bilang pada si Ojan kalau kontrakan-kontrakannya habis di renovasi dan habiskan uang lima puluh juta. Padahal tidak ada renovasi. Uang lima puluh juta itu adalah untuk membeli perabotan baru rumah barumu. Kamu senang Aku pandai mencari uang untukmu?"


Kini Tito tersenyum.


Samsiah memang setan perempuan yang lihai.


Sehari yang lalu Ia mengirimkan ranjang baru, meja makan, lemari dan juga sofa untuk rumah barunya. Semua kualitas premium yang membuat Lani tertawa bahagia.


Barter yang semakin meresahkan sebenarnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2