Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 165 Arthur Yang Terpaksa Membocorkan Rahasia Mia


__ADS_3

"Apa???"


Rama membelalakkan matanya mendengar perkataan Arthur.


Mereka kini memang sedang mengadakan pertemuan rahasia keesokan harinya.


Kali ini Arthur rela jadi ember untuk membocorkan rahasia Mia kepada putra Mia.


Penyakit Mia bukanlah penyakit yang ringan dan bisa dengan mudahnya ditutup-tutupi dari semua anaknya.


Semalam Mia meminta Arthur untuk tetap mengunci mulutnya agar penyakitnya tidak sampai diketahui siapapun.


"Emak mohon..., jangan sampai penyakit Emak ini diketahui yang lain. Cukup kita berdua saja. Biarlah Emak mengurus diri Mak sendiri. Emak bahagia meskipun besok atau lusa Emak mati. Emak..., hanya mohon pada Mas Arthur, tolong jaga anak-anak Emak, terutama Inayah."


"Mak..."


"Mak izinkan Mas Arthur untuk serius menjalin hubungan dengan Inayah, dengan syarat."


Arthur tertegun.


"Syaratnya apa?"


"Jangan pernah mendua, mentiga, apalagi menyakiti jiwa raga putri Emak. Andaikan Mas Arthur hanya ingin sekedar mencoba karena rasa penasaran saja seperti yang gosip-gosip beredar di luaran sana, lebih baik tidak sama sekali. Inayah masih sangat muda. Dia juga terlalu Emak jaga dengan ketat selama ini. Dia terlalu polos. Bahkan dibalik kejudesan sifatnya, dia adalah anak manis yang belum pernah mengenal dunia luar."


"Mak...! Emak percaya gosip yang beredar tentang Aku? Apa Mak percaya kalau Aku ini penjahat kel+m+n yang suka sekali menclok sana menclok sini, bercocok tanam dengan sembarang perempuan demi hasrat binalku? Begitu kan, kabar miring tentang Aku? Bahkan Bu Fanny sendiri, lebih melihatku dari sisi gelapnya ketimbang sisi baiknya. Hhh... Fine, Aku tidak akan membela diri. Aku, memang selalu kalah dalam percintaan. Aku selalu terjebak dalam hubungan yang tidak seharusnya kujalani."


Mia merenungkan ucapan Arthur. Kini dia bisa melihat kalau Arthur benar-benar pribadi yang baik. Sangat baik bahkan sampai tidak ingin membela dirinya sendiri agar namanya kembali bersih.


"Nak..., Emak merasakan ketulusan kamu mencintai Inayah. Walaupun sebagai seorang Ibu, tentu saja kekhawatiran itu mendominasi jika mendengar suara sumbang kanan dan kiri. Tapi setelah Emak mengenalmu lebih jauh, Emak yakin, banyak orang yang ingin sekali merusak namamu dengan gosip-gosip yang semakin berkembang jauh itu. Dan Mak juga memaklumi keadaanmu."


"Terima kasih, Mak! Aku senang, tapi juga sedih."


"Kenapa?"


"Mak memberiku izin dan restu untuk mendekati Inayah, tapi kondisinya... mengkhawatirkan. Seolah Aku ini adalah pria jahat yang sedang memanfaatkan keadaan."


"Jangan berfikir seperti itu, Nak! Aku memang berniat menitipkan semua anakku karena kamu memang orang baik. Bukan karena sekarang kamu terbebani dengan rahasiaku."

__ADS_1


"Emak,"


"Ya?"


"Aku mau masuk Islam."


Mia merembes air matanya.


"Demi untuk bisa dekat dengan Inayah?"


Arthur menggeleng cepat.


"Aku sudah banyak belajar tentang Islam jauh sebelum kenal Emak. Dan semakin kesini, Aku juga semakin ingin memeluk Islam. Aku juga sudah hafal syahadat. Tapi belum mengikrarkannya di depan imam masjid."


Mia semakin kagum pada Arthur.


"Aku sebenarnya sudah hafal urutan berwudhu sejak setahun lalu. Walaupun belum begitu fasih doanya, tapi yang kutahu, kita bisa mengucapkannya dalam bahasa yang kita bisa jika belum bisa dengan bahasa Arab. Betul kan?"


Mia tersenyum. Ia mengangguk haru, berurai air mata.


Arthur mengusap butiran air mata Mia yang duduk disampingnya malam itu.


"Emak..."


"Ya?"


"Maaf, jika pada akhirnya Aku tidak bisa menjaga sumpahku dan jika suatu hari nanti anak-anakmu mengetahui penyakitmu, Mak!"


"Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, suatu saat pasti kecium juga bau busuknya. Emak tidak akan menyalahkanmu, Nak! Hanya untuk saat ini, Emak belum sanggup jujur. Emak takut anak-anak Emak akan histeris. Justru membuat Emak frustasi dan drop jiwa raga. Emak belum siap menerima keadaan itu. Bukan belum siap mati."


"Tapi..., semakin lama Mak menutupinya, bukankah akan semakin menyakitkan hati mereka jika terlambat mengetahuinya?"


"Emak... takut mereka tidak bisa menerima kenyataan. Takut mereka menyalahkan Tuhan. Takut mereka jadi kufur dan... naudzubillah. Hhh... Kami pernah goyah dan sangat goyah, ketika Bapak meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di kota Jogjakarta. Bapak pergi... tanpa sempat kami memberikan kebahagiaan di akhir hidupnya. Kami semua meratapi kepergian beliau."


"Lalu..., bagaimana nanti mereka bisa menerima kenyataan kalau Emak menutupi penyakit Emak pada mereka?!"


"Mereka memang pastinya akan marah. Tapi..., Emak justru akan menyiapkan kebahagiaan untuk mereka sebelum Allah benar-benar menjemput Emak bertemu Bapak."

__ADS_1


Kali ini, Arthur yang merasa hatinya nyeri.


Sama seperti yang kini Rama rasakan.


Pria yang kini telah berumur 29 tahun itu menangis dalam diam.


Arthur menceritakan semuanya. Termasuk saran dokter untuk lebih baik menjaga kestabilan mental Mia ketimbang mengambil opsi operasi dan kemoterapi.


Tumor di otak Mia sudah sudah berada di fase akhir. Kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan untuk ambil tindakan yang justru membuat Mia kian berkurang sisa hidupnya.


Jalan terbaik adalah membahagiakan Emaknya tercinta. Hingga akhir menutup mata.


"Hik hik hiks... Hiks, Maaakkk... haruskah Aku diam saja melihat Emak sakit, Mas?!? Hiks hiks..."


"Tentu saja kita tidak akan tinggal diam. Toh Emak tetap harus rutin kontrol berobat setiap minggunya. Antar Emak dan jangan buat fikirannya resah. Buatlah Emak bahagia, itu saran dokter!"


"Hiks hiks hiks..."


Arthur membiarkan Rama menangis mengurangi rasa sesak di dadanya.


Sangat menyakitkan hati, memang. Mendengar orang yang begitu kita sayang, harus pergi karena menderita suatu penyakit yang menakutkan.


"Ram..., ceritakan semuanya pada saudara-saudaramu tentang kondisi Emak dengan pelan. Buatlah mereka mengerti. Dan jangan bikin Emak justru jadi drop karena kesedihan kalian yang ditampakkan dihadapan dia."


"Aku..., aku tidak pandai bercerita dengan benar, Mas! Hik hiks hiks..., bolehkah aku kembali membebanimu untuk mendampingiku menceritakan tentang Emak pada Mbak Yu' dan Mas Lukman? Tapi..., kondisi Mbak Yu' sekarang juga sepertinya sedang kurang tepat. Bagaimana ini? Hik hiks..., aku bingung. Dan, dokter bilang sisa umur Emak berapa bulan, Mas?"


Arthur menghela nafasnya sejenak.


"Dokter perkirakan, Emak hanya bisa bertahan kurang dari satu tahun."


"Hiks hiks..., kurang dari satu tahun? Bahkan usia Gaga belum enam belas tahun. Bahkan Inayah belum lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana. Bahkan kedua anak Mbak Yu' Amel belum sempat berulang tahun yang kedua. Bahkan Mbak Tia belum memberikan cucu baru untuk Emak. Hiks hiks hiks... Masih banyak yang belum terealisasi. Ya Allah ya Tuhanku..."


Rama menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Tangisnya pecah di bahu Arthur yang menariknya hingga mereka berbagi kesedihan.


Pertemuan yang dipenuhi tangis air mata dua orang pria dewasa di siang hari menjelang sore itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2