Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 45 Keadaan Yang Goncang


__ADS_3

Setelah Soleh dan Juriah beserta kedua orang tua mereka pergi, Amelia mulai menata diri.


Memang betul, dirinya tidak sekuat yang terlihat. Bahkan rapuh lebih rapuh daripada sebilah papan yang terbuat dari bubuk gergaji.


Semalaman air matanya tumpah dan penyesalan panjang kenapa bisa Ia harus bertemu dan jatuh cinta pada pria yang memiliki keluarga gila harta dan tahta.


Sejak awal menikah, perlakuan Mariana dan Anta pada Amelia memang sudah terlihat. Terlebih setelah tahu bibit, bebet dan bobot keluarganya yang hanya petani miskin saja.


Mulai hidup terintimidasi dan tertekan oleh keinginan nafsu Ibu Bapak Soleh yang kian merongrong.


Tapi kala itu Amel berusaha kuat dan sabar karena Soleh lebih penting baginya. Soleh memberinya pengertian kalau kita wajib menghormati orang tua walaupun kelakuannya tidak kita sukai.


Bahkan Amelia bertahan sampai sepuluh tahun karena Soleh yang pandai memberi argumentasi tentang ketika Amelia mencoba menanyakan sebagian uang gajinya yang fokus untuk Mariana dan Anta.


Kini, rumah tangga itu ambruk tak bersisa.


Pondasinya telah hancur karena kesetiaan sang kepala keluarga yang terbagi rasa.


Entah mengapa, Amelia seperti kerbau yang dicucuk hidung, menerima pernikahan kedua Soleh bahkan tanpa pemberontakan yang berarti. Ternyata,


"Karena Aku pergi ke Nyai Dasima yang terkenal di daerah selatan itu!" jawab Mariana dengan bangga ketika Soleh mempertanyakan kenapa dulu Amel menerima pernikahan dirinya dengan Juriah namun kini seolah gelap mata sampai kekeuh minta cerai.


"Ibu... memberinya jampi-jampi?" tanya Soleh kaget.


"Dasar anak bodoh! Ya Aku lah yang harus bergerak supaya kamu terbebas dari perempuan pembawa sial itu!" tukas Mariana.


Soleh merutuk dalam hati. Pantas saja Amelia memberinya izin bahkan turut serta hadir mendampingi Soleh mengucapkan ijab kabul kepada Juriah. Rupanya,...


"Kau harusnya berterima kasih pada Ibumu ini. Kau bisa memiliki motor gede bagus, langsung menempati rumah toko megah di Asamka berikut bengkel besar dan toko onderdilnya. Dengan si Amel, sepuluh tahun kau punya apa? Cuma penyakit bengek dan lambung karena kalian selalu mengirit makan!" Anta turut mengumpat. Dia merangkul bahu istrinya yang tersenyum jumawa seolah telah merangkul seorang pahlawan kehidupan bagi putra sulung mereka.


Soleh tersenyum. Ia turut memeluk kedua orang tuanya meskipun dalam hati ada longsoran patah yang bergemuruh karena kesedihan ditinggal oleh Amelia yang setia menemaninya sepuluh tahun dalam suka maupun duka.


Memang benar perkataan mereka. Setelah meninggalkan Amelia sendirian di rumah kontrakan di Ibukota, Ojan dan Samsiah langsung memberikan kunci ruko bengkel mereka untuk ditempati Soleh dengan Juriah.


Sore itu juga, kedua pengantin baru itu tinggal di ruko besar di bilangan Asamka dan Soleh langsung ditunjuk Ojan sebagai pengurus sekaligus pemiliknya yang wajib menjaga kestabilan usaha perbengkelan Ojan family.


Semua merasa puas dengan hasil yang didapat.


Mariana Anta puas, Soleh akhirnya bercerai dari Amel dan hanya menikah dengan Juriah sehingga mereka dengan mudah mengatur keuangan sang putra pula tanpa harus mendengar jawaban 'tunggu gajihan' karena dipikiran mereka sang putra akan memegang uang banyak setiap saat.


Sementara Ojan dan Samsiah juga puas. Akhirnya ada menantu yang bisa menjadi backing mereka dalam menghandle segalanya sehingga mereka tidak takut lagi orang luar curiga dengan ritual pesugihan yang mereka jalani selama ini.


Juriah juga puas, karena akhirnya Sang Suami hanya miliknya sendiri tanpa harus berbagi hati dan ranjang kepuasan lagi.

__ADS_1


Hanya Soleh yang merasa sedih entah mengapa hatinya seperti terendam air es yang dingin sekali.


Amelia, telah memutuskan untuk melepaskan dirinya. Padahal Ia ingin sekali terus memiliki Amelia bahkan mungkin kalau bisa sampai mati meskipun Juriah tetap akan dia genggam juga.


Sangat egois memang. Namun perjalanan cintanya pada Amelia tidak bisa dilupakan begitu saja.


Disaat masa remajanya yang tak ada gambaran masa depan cemerlang, dikala banyak perempuan yang meragukan bahkan meragukan dirinya serta kehidupannya di masa mendatang, Amelia bagai bidadari surga yang diturunkan Tuhan dari langit.


Amelia menerima dirinya yang hanya bermodalkan kata-kata cinta romantis saja.


Meskipun Soleh sadar Ia hanya menggombal saja. Tapi Amel tetap mendukungnya. Bahkan Amel membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Soleh adalah orang yang moodian. Cepat emosi dan gampang memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang. Namun hidup sepuluh tahun bersama Amelia, membuat Soleh memiliki harga diri yang tinggi dan juga nama baik yang lumayan besar dipandangan teman-teman mereka.


Kini Soleh harus memulai lagi mempelajari Juriah yang jauh lebih muda dan jauh lebih sulit diatur karena merasa punya segalanya.


Amelia juga mulai menata diri setelah dua hari mengurung diri.


Tasya dan Diki juga beberapa tetangganya datang silih berganti memberikan semangat kepada Amelia. Bahkan putri Tasya selalu bolak-balik mengunjungi Amelia sehingga perempuan yang kini berstatus janda itu tidak sering melamun seorang diri.


"Mbak, di konveksi Bang Diki ada lowongan pekerjaan!" ujar Tasya membuat Amelia senang.


"Tapi, Aku cuma punya ijazah SMP saja. Apa bisa, Tasya?"


Amelia mendes++ lemas. Ia tak bisa melakukan keduanya. Dulu pernah bekerja semasa remaja di pabrik saos dan kecap selama empat tahun. Lalu berhenti karena menikah dan pindah ke Ibukota bersama Solehudin.


"Tapi kata Bang Diki biasanya ada bagian buang benang dan pengepakan. Itu bagiannya Lukman. Dia kan mandor di pengepakan."


Amelia terdiam.


Bukan apa-apa, Ia sungkan untuk bertanya kepada temannya Diki karena khawatir akan menambah daftar panjang ghibahan para tetangga yang mulai kasak-kusuk melebar dari satu mulut ke mulut yang lain.


Apalagi mengingat ucapan Soleh yang seolah ingin mencari kelemahan dirinya yang disangka ingin cerai karena dia anggap ada pria lain.


"Yu' Amel!"


Amelia terkejut, Tia dan Alif meneriaki namanya setelah motor mereka memasuki wilayah kontrakan.


Tia yang langsung turun dari boncengan motor Alif langsung menghambur ke pelukan Amelia yang tengah duduk di teras rumah kontrakan.


"Kalian,..."


"Apa benar Ayu' sudah ditalak Bang Soleh?" tanya Tia langsung memberondong.

__ADS_1


"Dari siapa kamu tahu, Ti?"


"Bang Alif kemaren servis motor di bengkel besar yang ada di Asamka. Bang Soleh ternyata pemilik bengkel itu. Dan, Bang Alif kaget, Bang Soleh katanya tinggal dengan... istrinya, tapi bukan Ayu'! Yu', ada apa? Coba ceritakan padaku! Kamu pergi ke rumah orangtuanya Bang Soleh, tapi gak kembali pulang ke rumah Emak Bapak. Mereka khawatir, Yu'!"


"Kan Aku sudah WA kamu juga Inayah. Aku juga sudah telepon Emak. Maaf... , maaf Tia!"


Amelia menangis di pelukan adik perempuannya itu.


Mereka berjalan masuk rumah dan Alif mengikuti dari belakang.


"Ada apa, Mbak Yu'? Kenapa bisa jadi seperti ini? Bang Soleh sudah menikah dua minggu kata istri barunya. Berarti..., Mbak tahu bukan?"


Amelia hanya menangis.


"Berarti, ketika Ayu' tinggal di rumah Emak minggu lalu, itu sudah kejadian Bang Soleh nikah lagi? Astaghfirullah... ya Allah!"


Tia tak henti-hentinya mengucapkan kalimat istighfar.


Tak percaya tapi kenyataannya...


"Yu', setegar itu dirimu Yu'! Lalu kata Bang Alif, Bang Soleh bilang Ia sudah mentalak Mbak Yu'? Itu benar?"


Amelia mengangguk. Tangannya sibuk mengusap air mata yang terus-menerus menetes.


Tia memeluknya lagi. Kakak beradik itu saling memberikan kekuatan. Saling luapkan kegundahan hati yang menyesakkan dada.


"Tega! Teganya si Soleh itu! Dasar laki-laki ga tau diri! Kemana orang tuanya? Kenapa gak melarang anaknya yang mau nikah lagi?" umpat Tia terus nyerocos tiada henti.


Amelia tidak ingin memperpanjang cerita sedihnya. Ia hanya diam dan tidak mau bercerita kalau sebenarnya justru kedua orang tuanya Soleh lah awal dari ini semua.


"Dasar pria mata keranjang! Harusnya Mbak Yu'Amel ceritakan kelakuannya pada keluarganya, biar semua segera diselesaikan!"


"Tia, apa Mak tau keadaan rumah tanggaku? Tolong, mereka jangan dulu diberitahu. Takut Emak Bapak jadi kepikiran, Ti!"


"Kami belum cerita ke Emak Bapak, Yu'!"


"Jangan."


"Makanya pas bang Alif cerita, aku langsung minta diantar ke sini pas libur. Biar bisa dengar langsung dari mulut Mbak Yu'. Kalau di telpon, pasti Yu' ga bakalan mau cerita!"


Amelia menghela nafas. Ini yang paling Ia takutkan. Keluarganya pasti akan goncang mendengar rumah tangganya telah usai.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2