Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 57 Amelia Yang Sekarang


__ADS_3

Sementara itu Amelia, mulai menata hidup baru.


Status janda tidak menghalanginya untuk bergerak mencari nafkah sendiri.


Dengan berbekal uang lima juta yang tempo hari Samsiah, Ibunya berikan sebagai dispensasi harta gono-gini motor yang Ia minta pada Soleh, Amelia membuka usaha warung kecil-kecilan.


Kini bahkan Ia mulai mengambil jasa katering dari konveksi tempat Diki dan Lukman bekerja.


Lukman sendiri kian intens merapat Amelia.


Amelia yang kian kalem, santun membuat Lukman semakin tergila-gila pada Janda Soleh yang berumur 31 tahun itu. Sedangkan dirinya berumur 29 tahun.


Amelia sendiri juga merasa kalau Lukman begitu menghargai dan menyanjungnya setiap saat. Lukman tak segan membantunya pula membawakan barang belanjaan jika melihat Ia pulang dari pasar di sore hari.


Amelia sejujurnya sedikit risih.


Beberapa mulut tetangga di warung Bu Saodah mulai terdengar nyinyir dan sering menyindir supaya mereka segera menikah saja.


Amelia tidak bisa sembarang semudah itu pula membuka hati.


Selain Lukman sudah Amelia anggap seperti adiknya sendiri, Masa iddahnya pun masih satu bulan lagi.


Rasanya sangat kejam jika belum apa-apa tetapi sudah memikirkan untuk menikah lagi.


Hatinya terlalu sakit mengingat pernikahannya yang gagal dan kandas dengan Soleh hanya karena permasalahan belum punya keturunan.


Dalam membina rumah tangga, butuh kerja sama dan kesepakatan antara kedua belah pihak termasuk keluarga besar masing-masing agar tidak ada kesalahpahaman seperti yang Amel dapatkan ketika menikah dengan Soleh.


Menikah tidak hanya menyatukan visi misi dua orang saja. Tetapi ada keluarga besar masing-masing dibalik semua itu. Apakah akan mensupport hubungan mereka bahkan disaat badai datang mengguncang, atau justru akan menjadi masalah tambahan seperti halnya Mariana dan Anta yang turut campur menggerecoki rumah tangga mereka.


Amelia kini jauh lebih berhati-hati.

__ADS_1


Suatu hari Ia mencoba mengajak ngobrol Lukman yang kian intens main di warung kontrakannya.


"Man...! Apa kamu gak ngerasa jengah karena ibu-ibu mulai mengghibah kita?" tanyanya setelah melihat suasana hati Lukman yang sedang tenang dan juga obrolan mereka sudah kian nyambung.


"Biar saja. Toh kita tidak berbuat hal yang tak senonoh. Kita tidak berzinah juga. Lagipula, Saya dan Mbak Amel juga sama-sama single. Tidak perlu mengkhawatirkan omongan orang!"


Dada Amelia seperti bergetar. Ucapan Lukman yang dewasa terkadang memang membuat hatinya meleleh juga. Tetapi, dia segera tersadar. Dalam hubungan cinta saja tidak cukup.


Banyak hal yang harus Ia pikirkan terutama kini untuk kesehatan mentalnya yang terluka karena pengkhianatan serta kelakuan keluarga Soleh kepada dirinya.


Anak ini seorang bujangan. Pastinya orangtuanya menginginkan Ia menikahi seorang gadis, bukan janda seperti diriku. Selain itu, dia juga umurnya setahun lebih tua dari Rama adikku. Hm... Aku tidak mungkin bisa hidup bersama anak ini. Sadarlah, Amel! Sadar! Batin Amelia dalam hati.


Hidup sendirian tanpa seorang pendamping yang memberikan bantuan support dan dukungan moril maupun materil, terkadang memang membuat Amelia jauh lebih kesepian.


Usianya belum terlalu tua. Tiga puluh satu tahun, masa yang paling baik untuk seseorang menjalani hubungan yang dewasa.


Terlebih dirinya sudah pernah menikah. Sudah tahu nikmatnya bercinta yang terkadang baper juga dan kangen masa-masa indah berhubungan intim dengan pasangan. Terlebih setelah selesai menstruasi. Dimana hormon menjadi jauh lebih meningkat inginkan sentuhan belaian lembut kasih dan sayang seseorang.


Tetapi ada satu hal yang tidak ia ketahui, sebenarnya uang yang Samsiah berikan tempo hari membawa hal mistis.


Samsiah yang punya perjanjian dengan dukun perempuan yang memuja setan pemakan janin maupun anak-anak balita itu menempatkan satu setannya yang masih anak-anak untuk menggambil kesehatan bocah-bocah sekitar sebagai barter kekayaan Samsiah yang kian membludak.


Itulah sebabnya, anaknya Tasya dan Diki tempo hari sempat mendapat serangan sakit demam mendadak karena perbuatan setan anak yang memegangnya.


Beruntungnya Amelia adalah pribadi yang rajin ibadah, sehingga setan bocah itu tidak betah tinggal lama-lama di sekitar Amel dan kembali ke rumah asalnya yaitu rumah Samsiah.


Setan bocah itu merasakan hawa panas setiap kali Amelia sholat dan mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur'an setiap selesai shalat atau ketika sedang masak.


Satu hal lagi yang kini Amelia tidak ketahui.


Dukun yang diperintahkan Samsiah untuk mengirimkan pengasihan kepadanya kini mulai kembali bekerja lewat jalan udara.

__ADS_1


Foto Amelia yang memang ada ketika pernikahan Soleh dengan Juriah tempo hari menjadi media sang dukun untuk mengirimkan pengasihan agar Amelia segera mendapatkan jodoh dan menikah lagi secepatnya.


Membuat aura Amelia semakin terpancar cantik dan indah.


Ini juga yang membuat Lukman semakin enggan jauh dari Amelia.


Setiap pulang kerja, pria bujangan itu selalu pulang ke rumah Diki dan membeli makan di warung masakan Amelia. Bahkan kadang sering menginap di kontrakan Diki ketika kerja shift malam.


"Mbak... Daripada kita cuma digosipkan punya hubungan spesial, lebih baik kita jadikan saja gosip itu menjadi kenyataan." Kata Lukman pada akhirnya setelah merasa hatinya semakin resah karena selalu memikirkan Amelia.


Amelia yang terkejut dengan tembakan Lukman secara tiba-tiba, tentu saja tertawa kecil dan menggeleng.


"Man...! Aku ini baru saja menyandang status janda. Baru dua bulan dan masih masa iddah. Selain itu, Aku benar-benar..."


"Jangan dijawab sekarang, Mbak! Jangan! Maaf... Maaf kalo saya terkesan terburu-buru. Maaf ya?!"


Lukman segera meralat ucapannya. Ia yakin saat ini Amel pasti akan langsung menolaknya. Ia lupa, Amelia adalah perempuan yang diceraikan suaminya karena suatu hal yang sensitif. Dan Ia juga lupa, kalau hubungan mereka memang masih terlalu dini untuk dilanjutkan ke jenjang berikutnya.


Lukman hanya takut kalau Amel tidak segera Ia miliki, akan ada pria lain yang datang dan gerak cepat menembaknya. Lukman takut sekali kalau itu sampai terjadi.


Setiap hari setiap malam, Ia selalu berdoa pada Yang Maha Kuasa. Berharap Allah menjodohkan dirinya dengan Amelia. Hidup bahagia bersama perempuan yang manis dan tidak seperti kebanyakan perempuan diluar sana. Hanya itu impian Lukman.


Ia ingin sekali menikah. Memberikan kebahagiaan kepada Ayah Ibunya yang ingin dirinya segera melepas masa lajang.


Dua adik perempuan Lukman sudah menikah dan masing-masing dikaruniai satu anak.


Tinggal dirinya dan satu adik perempuan yang masih duduk di bangku SMA.


Lukman hanya bisa tersenyum ketika kedua orang tua menanyakan perihal gadis yang memikat hatinya dan siap diberi hantaran pernikahan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2