Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 199 Juriah Dan Kebodohannya


__ADS_3

Juriah termenung di atas bus kota yang akan membawanya ke Jawa Tengah.


Tangannya meremas sebuah amplop berisi uang senilai tiga ratus ribu rupiah untuk ongkosnya sampai tujuan.


Uang itu lebih dari cukup. Masih ada banyak sisa.


Tapi yang jadi lamunan Juriah justru adalah rasa penasaran yang menggelora di dada.


Ia masih terus memikirkan nasib baik Amelia dan adik perempuannya yang meningkat derajatnya kini.


Dimana mereka berguru? Adakah seseorang yang mengetahui pada dukun mana mereka jadi berubah drastis beruntung seperti itu? Amelia dan Inayah. Kini dua kakek beradik itu jadi orang kaya dan hidup bermewah-mewah di Ibukota bersama pasangan masing-masing. Padahal dulu, mereka cupu. Orang kampung yang kampungan yang bahkan seorang Solehudin sendiri lebih memilih Aku ketimbang dirinya. Tapi sekarang...


Juriah mengambil handphone jadulnya dari dalam tas.


Ia membuka aplikasi galeri yang sudah lama menyimpan ratusan foto-fotonya dari beberapa tahun yang lalu.


Gambar diri yang dulu bertubuh ideal, sintal dengan wajah yang lumayan menarik cantik.


Dulu, banyak pria yang datang ingin melamarnya. Bahkan ada beberapa anak tetangga juga yang jatuh cinta pada Juriah namun ditolak Samsiah, ibunya Juriah dengan alasan mencari bibit, bebet dan bobot yang cukup bagus. Meskipun Juriah punya catatan buruk di masa sekolah dulu.


Juriah menundukkan kepala. Matanya terus menatap layar ponsel menscroll foto demi fotonya yang kala itu masih muda dan segar.


Sungguh Ia rindu masa-masa itu.


Walaupun kala itu Juriah sedang dalam keadaan terpuruk, dilecehkan pria tak dikenal, diambil keperawanan. Namun tubuhnya saat itu segar bugar tidak berpenyakitan seperti sekarang ini.


Juriah menghela nafas.


Tangannya mengusap pelan layar ponselnya.


Benda pipih telepon seluler yang setia menjadi alat komunikasinya sedari empat tahun lebih yang lalu. Ponsel hadiah Ibunya ketika Juriah menikah dengan Solehudin.


Tak terasa, dirinya kini bahkan sudah bercerai dari Soleh sekitar lima bulan lebih.


Banyak suka namun lebih banyak lagi dukanya.


Juriah teringat ucapan Arthur barusan yang lebih mirip nasehat agar dia tak menyesal bercerai dengan Soleh setelah sebelumnya berhasil merebut pria buntung itu dari istrinya dahulu.


Katanya, Soleh kini sudah jauh lebih baik kehidupannya dan memiliki rumah sendiri di kampung. Tidak seperti dirinya yang terkatung-katung tak jelas juntrungan dan masih labil mencari kebahagiaan.


Mendengar itu, hati Juriah terasa sesak.


Pria bule itu tidak tahu apa yang telah terjadi pada kehidupannya serta rumah tangga mereka.

__ADS_1


Juriah mencebik mengingat ucapan Arthur.


Memang benar, Juriah mengakui telah merebut Solehudin dari Amelia. Tapi bukan dirinya saja yang memiliki andil, tapi Soleh juga. Bahkan Soleh lah penentu rumah tangga mereka terjadi.


Andaikan Soleh dulu menolak untuk menikahi Juriah atas permintaan Ojan, tentu saja Ia tidak akan menjadi pelakor. Begitu pemikiran Juriah saat ini.


Hhh... Si bule itu benar-benar sok tahu dan sok bijak. Dia menyuruhku untuk kembali pada Mas Soleh hanya karena lelaki cacat itu kini sudah bisa beli rumah tetangganya si Amelia! Hm. Berarti, dia masih mengharap bisa bertemu dan CLBK lagi sama istri pertamanya. Hehehe, mas, mas. Sadarlah, Mas... Dia itu sudah beda kasta sekarang sama kamu. Jangan mimpi di siang bolong! Jangan harap kau bisa dapatkan lagi Mbak Amel! Dia bahkan sudah punya anak dari rahimnya sendiri. Bahkan dua sekaligus sepasang. Andaikan kau tahu, pingsan mendadak kau, mas! Mungkin mati ditempat. Hihihi...


Juriah bergumam dalam hati. Ada tawa juga kesedihan bercampur aduk menjadi satu.


Bus masih nge-tem di terminal. Masih ada separuh kursi yang kosong sehingga pak supir dan kernet nya masih menunggu penumpang hingga beberapa puluh menit kemudian.


Juriah menghela nafas panjang. Agak kesal karena bis tak kunjung menyala mesinnya dan jalan tinggalkan terminal.


Brukk.


Ia terkesiap. Seorang pria tinggi besar tiba-tiba duduk di sebelahnya dengan segenap kekuatan sehingga Ia hampir saja terjungkal kena hempasan tenaganya.


Juriah menoleh.


Ternyata pria itu juga menengok ke arahnya.


Pria itu berwajah lumayan tampan. Tapi kulitnya sawo matang melebihi warna kulit Soleh yang coklat agak sedikit kuning langsat.


Juriah menelan ludah. Pria itu cengengesan menyadari kalau kedatangannya yang tiba-tiba cukup mengganggu Juriah.


Juriah mengangguk pelan, kemudian kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia memang duduk di kursi pojok agar bisa menikmati pemandangan jalan raya sepanjang perjalanan ke kampung halamannya.


"Boleh kenalan?"


Juriah terkejut dan kembali menoleh.


Sebelah telapak tangan menjulur menunggu sambutannya.


"Victor!" katanya seraya menyebutkan namanya.


"Juriah."


"Nama yang cantik secantik orangnya. Oiya, saya seorang sutradara film."


Pujian Victor dan keterangan pekerjaannya membuat Juriah memicingkan mata.


Bagaimana mungkin sutradara film naik angkutan umum model gini? Hm. Ternyata, laki-laki itu memang ahli tipu menipu untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan!

__ADS_1


Juriah tersenyum tipis.


Ia tak mudah terbujuk rayu apalagi setelah begitu banyaknya kejadian pahit yang menimpa.


"Mbak cantik. Saya... tertarik dan ingin sekali mengajak Mbak kerjasama."


Juriah tersenyum menyeringai. Hanya dengusan kecil yang keluar dari bibirnya.


"Mbak? Mbak pasti sedang berfikir kalau saya ini penipu ya?"


Juriah tercekat. Pria yang usianya sekitar 40 tahunan itu bisa menebak jalan pikirannya dengan benar.


"Ti_tidak."


"Saya bisa maklum. Memang harus waspada dan berhati-hati menerima itikad baik laki-laki yang baru dikenal. Bisa-bisa, Mbak tertipu luar dalam. Dan sejujurnya, saya sudah mengamati Mbak dari kemaren sore di taman kompleks perumahan Arthur Handoko."


"Hahh?!? Maksudnya???"


Tentu saja Juriah terkejut. Apalagi ternyata pria yang kini duduk disebelahnya itu berkata hal yang tidak ia perkirakan.


"Bisakah kita turun dulu dari bis ini dan berbincang di kafe itu?"


Victor menunjuk ke arah sebuah kafe di seberang terminal.


"Saya sudah sarapan. Terima kasih." Tentu saja Juriah makin waspada.


"Saya ingin, mengajak Mbak berkongsi. Saya pikir tadi Mbak terlibat obrolan yang tidak menyenangkan dengan Arthur Handoko. Dia memang orang yang menyebalkan. Dan saya..., adalah rivalnya. Mbak mau kemana? Mbak diusir oleh sutradara sekaligus produser tengil itu dan dilarang menginjakkan kaki ke Ibukota lagi, memang hak apa dia berbuat begitu sama Mbak! Huhh. Semua orang berhak menaklukkan Ibukota dan mendapatkan keberuntungannya. Memangnya hanya dia, orang yang bisa sukses sedangkan Mbak tak berhak. Dia sombong sekali apalagi setelah nama buruknya perlahan bersih kembali sejak menikahi gadis muda belia."


Juriah menyimak ocehan Victor yang terus membuka aib-aib Arthur Handoko.


Otaknya mulai konek dan hasratnya ingin mendapatkan kebahagiaan di Ibukota seperti Amelia dan keluarganya kembali bergejolak.


"Kongsi apa? Saya... bisa bantu Mas dengan cara apa? Bukan dengan cara haram menjual...diri, khan?"


Victor terkekeh. Ia berusaha menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak.


"Ayo, kita mengobrol di sana!" ajaknya lagi. Dan kali ini Juriah terpancing untuk mengikuti langkahnya.


Mereka turun dari bis jurusan sebuah kota di Jawa Tengah yang masih menunggu penumpang memenuhi kursi-kursi yang masih kosong.


Kepalang tanggung Aku datang ke Jakarta. Kepalang terjerumus Aku karena terlalu polos dan bodoh. Aku tak bisa menaklukkan kota kejam ini. Namun Aku juga tidak bisa kembali ke kampung dengan wajah tertunduk malu. Ini kesempatanku! Mumpung ada orang yang mengajakku kerjasama. Aku akan ambil kesempatan apapun itu! Toh dulu Mbak Amel pun pastinya modal nekad tinggal di Jakarta setelah berpisah dari mas Soleh. Dia bisa berjaya, masa' Aku tidak bisa!


Juriah dan kebodohannya serta kekecewaan yang mendalam membawanya turun mengekor langkah Victor yang entah orang baik ataukah jahat.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2