Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 233 Menuju Episode Akhir Part Tiga


__ADS_3

Sekarang pukul sepuluh siang waktu bagian Dan Fransisco. Berbeda waktu 12 jam yang saat ini di Indonesia pukul sepuluh malam.


Tiba-tiba saja angin sangat kencang berhembus.


Arthur yang masih berjalan di trotoar dengan wajah merengut karena cemburu seketika mendongakkan wajahnya.


Dan,


Wusss


Prak gubrakkk


Sesuatu jatuh dari atap bangunan yang sedang Arthur lewati.


Ternyata, asbes besar terbawa terbang oleh angin put+Ng beliung yang datang tiba-tiba.


Kepala Arthur tertimpa hingga asbes tersebut seketika pecah berhamburan di aspal trotoar.


Suasana seketika ramai.


Teriakan dan pekikan orang yang kebetulan ramai lalu lalang.


Arthur terhuyung. Tapi tidak pingsan.


Tangan kanannya segera mengusap keningnya yang terasa nyut-nyutan sakit.


Semua orang berhamburan mencari tempat perlindungan.


Seorang pria menarik tangan Arthur dan mereka berlari dengan sangat cepat mencoba menghindar dari musibah bencana angin put+ing yang sedang berlangsung.


"Di sini kita aman!" seru pria yang menolong Arthur dalam bahasa Inggris yang kental.


Ternyata, beliau adalah imam masjid yang Arthur kenal.


"Syekh, terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Syekh langsung menuju mimbar. Beberapa puluh orang duduk dengan tenang dalam masjid. Menunggu waktu kembali kondusif.


Lantunan adzan syekh imam besar membuat Arthur terpekur.


Kepalanya pusing. Dia terkejut ketika memegang atas ubun-ubun dan melihat noda warna merah. Ternyata darah segar mengalir dari kepalanya yang terluka.


Seketika pusing kepalanya semakin berat dan,


Gubrakkk.


Arthur pingsan tak sadarkan diri.


..............


Ketika siuman, Arthur melihat sekeliling. Tembok putih dan bau khas menyengat. Aroma rumah sakit yang identik dengan bau obat.


"Syukurlah, kamu sudah sadar."


"Papi? Dimana Aku?"


"Di klinik 24 jam. Kepalamu bocor terkena jatuhan asbes gedung dari ketinggian sepuluh meter. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, Thur. Sudah ditangani dokter."


"Inayah? Pupu? Dimana keluargaku?"


"Arthur?!? Apa benar kamu sudah...ingat kembali?"


"A_apa? Ada apa, Pi?"


"Syukurlah. Puji Tuhan. Kau terselamatkan."

__ADS_1


"Pi?"


"Pulanglah besok ke Jakarta, karena kini kamu sudah kembali."


"Kenapa harus besok? Aku mau pulang hari ini juga! Kenapa aku bisa ada di sini? Dan bahkan tanpa Inayah juga Pupu anakku! Inayah sedang hamil, Pi! Istriku itu sedang hamil muda! Kenapa kutinggal pulang kampung sendirian?! Haish!"


Joko terkekeh. Arthur membuat hatinya gemas geregetan.


Anaknya itu padahal sudah dewasa menjelang tua. Tapi dimatanya Arthur masih saja seperti bocah yang suka uring-uringan tak jelas. Dan selalu ingin kehendaknya dituruti sekarang juga.


Infusan ditangannya di copot sembarangan. Hingga mengalirkan darah dari urat nadinya.


"Dasar memang bocah ini! Sudah tua bangka tapi masih bertingkah! Diam dulu! Habiskan cairan infusanmu dulu, baru kau boleh pulang ke rumahmu yang di Indonesia!" semprot Joko membuat Arthur membalikkan tubuhnya, mengambek.


Seharian itu Arthur terus uring-uringan.


Ia ingin segera pulang ke negara tercintanya. Indonesia.


Ada seraut wajah yang sangat Ia rindukan. Wajah cantik manis Inayah, istri tercinta.


Arthur berusaha mengingat kejadian demi kejadian yang menimpanya.


Tepatnya dimulai ketika dirinya sedang mengendarai mobil dan ponselnya berdering nyaring.


Arthur ingat, saat itu Inayah lah yang menelponnya.


Hatinya senang. Sang istri menghubungi setelah beberapa saat marah besar bahkan kabur dari rumah karena kejadian viralnya perebutan Siti Juriah dengan Victor Valdes yang kata jurnalis sinting itu di berita online.


Arthur menarik nafasnya berkali-kali.


Ia semakin kesal karena ponselnya hilang karena kejadian angin besar kemarin itu dan dia diselamatkan oleh imam besar masjid hingga akhirnya berada di ranjang besi klinik dua puluh empat jam dekat rumah orang tuanya.


Rupanya semalaman Arthur tertidur pingsan.


Ia sangat ingin menghubungi Inayah.


Hingga Joko berinisiatif memberikan ponselnya sebentar kepada Arthur untuk menelpon Inayah.


Inayah melihat layar ponselnya.


Papi mertua kesayangan menelpon.


Klik'


"Hallo, Papi? Selamat siang, Pi? Apa kabar?"


...[ Inayah!? Inayah, ini aku. Suamimu!]...


"Mas? Mas Arthur??? Mas!! Alhamdulillah! Alhamdulillah... kamu, meneleponku!" pekik Inayah kesenangan.


...[Sayang, Sayang! Aku akan pulang besok pagi. Tunggu aku pulang, Sayang!]...


"Iya, Mas! Iya! Hik hiks hiks... Alhamdulillah..."


Seperti mimpi di siang bolong. Inayah mendengar suara Arthur kembali menyebutnya 'Sayang'.


Inayah menangis tak bisa berhenti.


Bahkan di sujud syukurnya setelah sholat Dzuhur.


Inayah menangis terus membuat Pupu bingung dibuatnya.


"Bunda, Bunda kenapa? Kenapa menangis? Siapa yang buat Bunda sedih? Papa lagi?"


"Hik hiks hiks... Papa kita sudah kembali, Sayang! Papa akan pulang besok dan tinggal bersama kita lagi. Hiks hiks, Bunda menangis karena bahagia, Pupu Sayang!"


Sontak Pupu ikutan menangis keras.

__ADS_1


Ia senang, bahagia sekaligus terharu.


Kehidupannya akan kembali seperti dahulu. Bahagia bersama Papa Bunda. Dan adik yang akan lahir sebentar lagi.


........


....


Arthur benar-benar berada di Jakarta. Tapi Inayah ternyata telah di culik saudara-saudaranya sebelum bertemu Arthur.


Kediaman Lukman Amelia jadi tempat pengasingan Inayah.


Sampai Arthur datang dengan niatan menjemput.


"Tidak semudah itu, Ferguso!" kata Lukman dengan santai tapi bahasa ucapannya yang agak nyeleneh.


"Mas, aku ingin menjemput istri dan anakku. Aku minta maaf, karena selama ini telah menyusahkan kalian semua."


Amelia, Lukman, Tia, Alif, Rama sampai Gaga pun turut berdiri menjadi tameng Inayah.


"Kalian tidak boleh bersama, karena kalian sudah bukan suami istri lagi!" ujar Amelia membuat Arthur menelan salivanya.


Seharian kemarin semuanya terlihat jelas di memori ingatan. Betapa jahatnya dirinya ketika menderita amnesia retrograte selama hampir lima bulan ini pada Inayah.


Arthur menundukkan kepalanya. Nyaris sampai ke lantai, saking menyesalnya.


"Kumohon, maafkanlah Aku Mbak, Mas! Aku... melakukan itu semua diluar kondisi. Sumpah demi Allah,"


"Cukup, jangan bawa-bawa Allah ketika kau membuat dosa!" sela Rama membuat Arthur ternganga.


"Mas Rama..., hanya kamu yang paling mengerti aku. Tolong, izinkan aku menemui Inayah dahulu. Please..., aku rindu Istriku, Mas!"


"Tidak bisa."


"Kenapa tidak bisa? Tidakkah kalian kasihan padaku? Aku tidak mengingat istriku selama lima bulan ini! Dan ketika aku ingat semuanya, kalian justru melarang ku untuk bertemu! Apakah Inayah juga tidak mau menemui ku? Hik hik hiks... Kenapa nasibku seperti ini !?"


Arthur menangis keras seperti anak balita.


Lukman segera menarik kerah kemeja Arthur dan menatapnya tajam.


"Kau boleh bertemu Inayah, tapi apakah kau mau berjanji satu hal?"


"Apa? Aku mau! Mau, Mas! Janji apapun itu, aku mau!!!" teriaknya mengiyakan.


"Ayo kita ke kampung! Ziarah kubur makam Mak dan Bapak! Lalu setelah itu, nikah ulang, rujuk kembali dengan Inayah!"


Runtuh seketika pondasi kesedihan Arthur.


Ia menggelosor ke lantai. Memegang kedua belah kaki Lukman dan mengucapkan banyak terima kasih.


Setelah drama kecil itu, Amelia membawa Inayah keluar dari kamar.


"Sayang!!! Istriku!!! Istrikuuu, maafkan Aku! Maaf, Inay!"


Keduanya saling berpelukan. Sama-sama menangis keras hingga berujung lesehan di atas lantai.


"Memang keduanya sama-sama lebay. Cocokologi!" gerutu Lukman dengan candaan.


Amelia terkekeh dan meraih pergelangan tangan Lukman lalu menggelayut mesra.


"Rumah tangga itu harus lebay. Biar ada geregetnya, Mas! Hehehe..."


Lukman tertawa. Dikecupnya kening Amel. Namun seketika mengaduh kesakitan karena putri kembar mereka memukul pangkal pahanya dengan penggorengan main-mainan.


Si kembar Hawa suka cemburu kalau Papa Mama mereka terlihat bermesraan.


Sontak saja suasana jadi kian riuh, ramai ceria.

__ADS_1


Pupu dan para sepupunya juga ikut senang gembira. Orang tua Pupu kembali rukun dan damai seperti dulu.


BERSAMBUNG


__ADS_2