
Tahlilan kematian Anta telah sampai pada malam ketujuh.
Sayup-sayup terdengar suara orang membaca doa dan juga yasinan yang dipersembahkan kepada almarhum Anta agar tenang di alam baka.
Soleh dan Juriah juga turut hadir diantara saudara Soleh yang lain.
Hanya Tito seorang berhalangan hadir dengan alasan harus keluar kota mengantar Nyonya Besarnya yaitu Samsiah.
Mereka memang pergi ke luar kota. Tetapi sudah pulang sejak sore dan kini sedang menikmati malam indah di kamar rumah Ojan yang sepi tanpa ada orang lain selain mereka berdua.
Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan Samsiah untuk bersama berondong manisnya yang bertubuh tegap serta berperut kotak-kotak.
Tito sendiri tidak bisa menolak.
Sejumlah uang seperti biasa jadi alasan dirinya menerima ajakan Samsiah yang seperti singa betina yang kelaparan kasih sayang.
Usia matang tak menjadikannya halangan.
Tanpa malu dan sungkan kini justru Samsiah yang berperan lebih dominan. Dan Tito lebih banyak pasif membiarkan Samsiah memperlakukan dirinya bak mainan saja.
Sungguh perempuan separuh baya yang binal karena separuh jiwanya telah berubah menjadi setan.
Sementara Lani dan keluarganya sedang sibuk mengurus tahlilan bapaknya yang ketujuh hari.
Dia menunggu di dapur rumah Mariana dengan ditemani Lestari, istrinya Jamal.
"Lan, Mbak mau keluar sebentar ya!? Mau memastikan apakah besek nasi yang kita buat cukup untuk tamu yang datang tahlilan!"
"Iya, Mbak!"
Awalnya Lani biasa saja duduk sendirian di pintu dapur yang seperti lorong sembari merapikan tumpukan kotak nasi besek yang akan dibagikan setelah tahlilan usai.
Tiba-tiba, seperti ada angin kencang yang menerpa pintu dapur. Dan...
Gabruk.
Pintu seolah ada yang menutup dengan begitu kerasnya.
"Angin dari mana? Koq,"
Lani melotot. Wajahnya pucat pasi setelah kedua bola matanya menatap sesosok tubuh yang sangat Ia kenal dengan wajah hitam gosong juga mata merah mengarah kepadanya.
"Ba_ba_ba...bapak!!!" jeritnya ketakutan dan langsung ambil langkah seribu.
Dadanya ngos-ngosan setelah berhasil keluar dari pintu dapur.
Hampir saja Lani menabrak Cia yang baru datang bersama Ardi, putranya Fitra.
"Ma? Kenapa, Ma?" tanya bocah cilik cantik itu tidak tahu apa-apa.
Mata polos Cia seolah berubah merah. Sontak Lani berteriak keras.
"Huaaa!!!"
"Mama!?"
"Bibi kenapa?" tanya Ardi juga.
Dua bocah yang masih balita itu menuntun tangan Lani yang dingin dan basah karena ketakutan.
"Lani?" Lestari dan Aulia yang datang bersama langsung ditubruk Lani yang ketakutan.
"Bapak, Mbak! Bapak!!! Ada bapak di dapur!!!" pekiknya membuat Aulia langsung mengumandangkan beberapa doa penolak bala.
Ditiupnya wajah Lani yang putih seperti kapas.
"Istighfar, De' Lani. Istighfar!" kata Aulia membuat Lani langsung tersadar.
__ADS_1
"Astaghfirullah astaghfirullahal'adziiim..."
Cia dan Ardi turut serta membantu Lani mengucapkan kalimat istighfar.
Lestari memberi Lani minum.
Lani kini terlihat lebih baik dari sebelumnya. Meskipun nafasnya masih tersengal dan dadanya bergemuruh kencang.
"Bapak datangi Aku, Mbak!"
"Bapak sudah tiada, De'! Ikhlaskanlah kepergian bapak. Mari kita doakan bapak tenang di alam barzakh, De'!" tutur Aulia dengan bijak.
Lani mengangguk sembari mengusap air matanya yang menetes.
Mariana ada di kamar depan. Ikutan duduk tahlilan dengan pintu kamar sengaja dibuka.
Air matanya juga tidak berhenti menetes.
Semakin banyak hari yang Ia lalui tanpa Anta, Mariana semakin sadar. Dirinya sangat membutuhkan suaminya itu.
Pria yang sudah menjadi belahan jiwa selama 38 tahun itu ternyata lebih dari sekedar suami.
Anta adalah teman hidup, sahabat sekaligus musuhnya.
Anta selalu ada disampingnya untuk mendukung juga mensupport apapun yang jadi pilihannya.
Dulu, ketika suaminya masih hidup. Mariana lebih sering mengeluhkan tingkah laku sang suami yang tidak sesuai dengan harapannya.
Suami yang agak pemalas. Suka foya-foya ketika diberi banyak uang oleh Yang Maha Kuasa. Orang yang paling menyebalkan yang kerjanya hanya merongrong Mariana sedari muda.
Memiliki anak empat membuat Mariana berusaha bertahan disisi Anta.
Pernah suatu kali Ia kabur pulang ke rumah orangtuanya tinggalkan pria yang suka berjudi dan minum minuman keras itu dengan meminta cerai.
Tetapi Anta langsung memeluk dan merengkuh tubuhnya. Pria itu membopong tubuh Mariana kembali ke rumah butut warisan keluarganya.
Karena terbiasa di manja orang tua, hidupnya terlalu banyak berleha-leha. Tidak fikirkan masa depan dan tidak punya tujuan hidup yang jelas.
Baginya, menikah dan punya banyak anak adalah pencapaian yang luar biasa yang sudah Ia dapatkan. Selebihnya urusan ekonomi, Anta berkeyakinan kalau Tuhan pasti akan memberikan setiap orang rezeki sekecil apapun.
Beruntungnya Mariana adalah perempuan yang terbiasa bekerja keras sedari kecil. Berdagang di pasar, mengambil pekerjaan sebagai tukang kuli tandur dan panen juga kuli ngored, Ia jalani.
Sesekali Mariana mengeluhkan tentang kehidupannya yang begini-begini saja.
Satu keuntungan yang Ia dapat dengan menikahi Anta, keempat anaknya sekolah sampai SMA dibiayai oleh orang tua Anta sepenuhnya.
Itu sebabnya baik Soleh, Fitra, Jamal dan Lani memperoleh pendidikan sederajat yang cukup tinggi jika disejajarkan dengan anak-anak kampung lainnya yang mayoritas hanya sekolah sampai SMP saja.
Mariana juga punya sifat jumawa karena menikah dengan anak saudagar beras kaya raya. Sehingga jalan pemikirannya semakin picik dan lebih menghamba uang.
Ketiga putranya telah menikah dengan gadis baik-baik. Hanya Soleh saja yang menurut Mariana salah pilih istri karena menikahi gadis miskin dari kampung sebelah.
Sementara Fitra dan Jamal, membuat Mariana dan Anta kembali naik derajatnya di mata para tetangga penduduk desa.
Lani, anak perempuan satu-satunya justru sempat membuat malu Mariana dan Anta.
Lani berpacaran diam-diam dengan anak tetangga sebelah. Dan mengakui kalau Ia sudah dua bulan tidak datang bulan.
Tentu saja mau tidak mau Mariana dan Anta menerima pinangan Tito dengan mas kawin ala kadarnya agar keluarga mereka tidak dihujat orang seperti keluarga Ojan Samsiah yang putrinya hamil diperk+sa pria tak dikenal di kamar mandi sekolah.
Gubrak.
Mariana terkejut. Figura fotonya bersama Anta jatuh pecah berhamburan. Potongan kayu serta serpihan kacanya tergeletak tak beraturan di lantai.
Tahlilan baru saja usai. Satu persatu warga tetangga yang ikut hadir mendoakan kematian Anta pulang ke rumah masing-masing.
Tinggalkan Mariana beserta putra-putri dan menantu-menantunya.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" tanya Soleh yang mendengar suara keras dari kamar Ibu Bapaknya.
"Figura foto jatuh, Leh!"
"Ya sudah. Biar Soleh yang bersihkan. Ibu pindah saja ke ruang tengah. Duduk bersama Juriah dan yang lainnya."
Mariana menurut. Dengan langkah lesu Ia berpindah ke ruang tengah yang telah sepi tamu. Hanya Keluarga inti saja.
"Sini, Bu!" ujar Juriah membuat Mariana terhibur.
Menantu terbaik baginya itu kini harapan terakhir.
"Ju..."
"Ya, Bu?"
"Apa Ibu boleh ikut tinggal di ruko sama Soleh dan kamu?" tanyanya tanpa pikir panjang.
"Boleh saja, Bu! Tapi Abi juga tinggal sementara di sana. Abi ingin tinggal bersama kami dulu sebelum sembuh total."
Mariana kembali teringat kepada cerita Soleh tentang keculasan serta kata-kata kasar Ojan pada putra sulungnya tempo hari. Membuat bibirnya mencucut.
"Oala... katanya ruko dan bengkel bakalan jadi milik kalian kalau sudah nikah. Tapi koq ternyata Abimu masih merongrong kalian sampai saat ini ya?" sindiran Mariana membuat hati Juriah tersentil juga.
"Kan memang ruko dan bengkel itu milik Abi, Bu! Bang Soleh cuma diserahi untuk mengurusnya, Bu!" tutur Juriah dengan senyum mengembang.
"Cuma jadi pengurus? Berarti, gak lebih dari pada kacung?"
Sontak wajah Juriah memerah.
Ia agak tersindir seolah Mariana mengatakan Abinya adalah orang yang kejam padahal sangat baik dan dermawan pada Mariana dan Anta. Bahkan minggu lalu lahan pertanian yang digarap Anta Mariana yang seharusnya membayar biaya garapan setiap bulan kini telah berpindah tangan menjadi milik Anta Mariana.
Juriah sedikit sensi hingga berani mengungkapkan kegelisahan hatinya.
"Kurang baik apa Abi Umi, Bu? Kalian sudah dapat tanah delapan ratus meter persegi. Menantu kalian juga bekerja dengan Umi. Anak kalian juga jadi menantu kesayangan Abi Umi. Apa ada besan yang lebih baik lagi dari Abi Umi saya?"
Kini Mariana yang tertohok mendengar ucapan Juriah.
Tapi Mariana tidak berani membalas perkataan Juriah. Karena semua yang diucapkan Juriah benar adanya.
Hanya Ojan sekeluarga saja yang memberinya kenikmatan harta secara besar-besaran.
Besan yang lainnya tidak.
Aulia, Lestari sebagai menantu yang lebih lama hanya bisa terdiam.
"Sudah, sudah. Untuk apa ributkan masalah sepele. Sudahlah. Ibu bisa tetap tinggal di sini dan Lani bisa menemani. Kita juga akan menengok ibu sesekali."
Fitra sebagai anak kedua berusaha mengambil alih mencairkan suasana.
Soleh masih membersihkan kamar Mariana agar tidak ada sebongkah kecil pun beling kaca figura yang tertinggal di lantai.
"Aku mau pindah rumah baru, Bang!"
Serempak semua mata menatap Lani.
"Kapan?" tanya Mariana kaget.
"Lusa, Bu! Aku ingin segera merasakan tinggal di rumah sendiri. Tidak terus-terusan menumpang di rumah mertua juga di rumah Ibu bapak."
"Terus ibu bagaimana?" tanya Jamal.
"Rumah ini lantas bagaimana kalau Ibu tinggal bersama Lani? Ini adalah rumah peninggalan Bapak buat ibu. Tetaplah Ibu tinggal di sini. Kita-kita akan datang bergiliran menengok Ibu!"
Semua saling pandang dan mengangguk tanda setuju.
Tinggalkan Mariana yang menghela nafas panjang. Karena kesepian akan segera menemani hari-harinya kedepan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...