
Anta dan Mariana telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebuah sertifikat tanah seluas 800 meter persegi kini berada di hadapannya. Tanda tangan Anta menjadi bukti kuat kalau kini namanya yang tertera sebagai pemilik yang sah.
Tanah yang Ia garap menjadi perkebunan dan dua meter lahannya dibangun rumah besar impian Lani akhirnya resmi menjadi miliknya.
Anta dan Mariana tentu saja bahagia dan ingin merayakan keberhasilannya mencapai tujuan.
Hidup senang, memiliki banyak uang dan juga sebuah sertifikat tanah atas nama pribadi, adalah impian Anta dan Mariana ketika berniat menikahkan putra sulung mereka kepada keluarga saudagar kaya raya itu.
Fitra dan Jamal tidak bisa Anta serta Mariana andalkan meskipun memiliki istri anak orang kaya.
Mereka berdua hanya bisa menumpang hidup untuk diri mereka sendiri, tidak dengan Anta maupun Mariana. Bahkan sejak awal menikah, yang paling bersumbangsih banyak menopang hidup mereka adalah Soleh, si putra sulungnya. Saat itu Soleh masih menikah dengan Amelia.
Walaupun gaji bulanannya pas-pasan, tetapi Soleh yang rutin memberikan mereka kiriman uang.
Jauh berbeda dengan Fitra apalagi Jamal.
Bahkan kedua menantunya dari dua anak laki-laki mereka itu sangat perhitungan dan jarang memberikan Anta juga Mariana uang sangu seperti halnya Amelia dahulu.
Kini Soleh menikah lagi dengan Juriah, tetap Soleh si anak sulung yang memberi mereka banyak kebahagiaan juga keuntungan.
Membuat Anta dan Mariana semakin menyayangi putra pertamanya itu.
Lani juga turut bahagia. Rumah yang dibangun di lahan milik Ojan kini resmi menjadi miliknya tanpa harus merasa was-was.
Kedua orang tua dan putri bungsunya itu berniat merayakan keberhasilan mereka dalam mengatur hidup Soleh menjadi orang yang paling bahagia.
Mereka berniat pergi ke sebuah taman wahana yang berada di kota tempat tinggalnya.
Pukul delapan pagi Anta, Mariana dan Lani serta Felicia putri kecilnya sudah bersiap dan berdandan rapi menuju wahana taman hiburan yang tiket masuknya sebesar tiga ratus lima puluh ribu per orang.
Ini adalah pertama kalinya mereka berlibur di tempat mahal. Biasanya mereka hanya pergi ke kolam renang yang tiket masuknya sebesar lima belas ribu rupiah. Itu pun harus mereka sisihkan dalam waktu beberapa minggu dari sisa uang dapur.
Kini Lani tidak perlu lakukan itu. Tito memberinya uang belanja dua ratus ribu setiap hari. Dan ketika Lani bilang ingin pergi jalan-jalan ke taman wisata mahal, Tito memberinya uang satu juta rupiah tanpa banyak tanya. Justru Tito berpesan agar Lani membelikan apa saja yang Cia inginkan. Tito telah berubah seratus delapan puluh derajat Celcius hidupnya setelah bekerja bersama Samsiah.
__ADS_1
Sementara Anta dan Mariana juga kini memiliki tabungan yang setiap bulan dikirim Juriah rutin. Belum lagi dari Soleh ketika anak sulungnya itu mampir sebentar sebelum pergi belanja keperluan dagang alat-alat onderdil mesin kendaraan.
Hidup mereka kini tidak lagi harus pusing. Anta dan Mariana berkebun hanyalah untuk mengisi waktu saja. Bukan lagi jadi suatu pekerjaan wajib.
Kiriman uang Juriah dan tambahan dari Soleh setiap bulannya lebih dari cukup. Belum lagi dari Fitra, Jamal dan kadang Lani juga setiap bulannya memberi.
Sungguh nikmat mana lagi yang mereka dustai.
Tuhan mengijabah semua keinginan mereka meskipun lewat jalur yang negatif. Itu karena Tuhan sedang mencoba keimanan mereka dengan harta berlimpah yang sebenarnya bukan milik mereka.
Anta sangat bahagia bersama istri, anak serta cucunya menikmati setiap wahana permainan.
Sehingga tanpa sadar Ia yang sudah berumur hampir 60 tahun itu mulai lelah dan kurang konsentrasi.
Selain itu, ada makhluk lain yang sedang mengawasinya. Mengintai dengan gemerutuk gigi gerahamnya yang tajam.
"Cia, Cia... sini berenang di tepi sebelah sini!" teriak Anta pada cucunya yang sedang berenang di tepi kolam renang yang mirip sungai khusus di wahana.
"Ndak! Cia disini saja!" jawab bocah cilik itu sambil lambaikan tangannya.
Anta tertawa terbahak-bahak.
Tingkah lakunya seperti bocah yang kurang bahagia di masa kecil. Ia berenang bolak-balik kesana-kemari layaknya anak laki-laki yang berumur lima tahun.
Hingga tiba-tiba...
Kucuprak.
Keplak keplak.
Kecepuk kecepuk.
Kaki Anta terpeleset di lantai dasar kolam renang dan jatuh masuk ke dalam air.
__ADS_1
Padahal hanya setinggi satu setengah meter, dan Anta adalah seorang yang handal berenang karena terbiasa mandi di kali sedari kecil.
Entah mengapa, kakinya seperti ada yang menahan sehingga sulit untuk digerakkan dan bergerak ke atas kolam.
Blebeg blebeg blebeg...
Anta megap-megap. Nafasnya tak sekuat jaman muda dulu. Ia berusaha sekuat tenaga menarik tubuhnya yang kecil agar segera keluar dari kolam.
Tapi ...
Seperti ada sesuatu yang besar menahannya. Dan bahkan kini kaki kirinya seperti ditarik perlahan masuk ke dalam air.
Anta panik. Ia mencoba meminta bantuan dengan mengepakkan kedua tangannya. Berharap istri dan anaknya melihat lalu segera memberinya pertolongan.
Namun sayang...
Sampai akhir perjuangannya mencoba keluar dari kolam, Anta tidak mendapatkan bantuan.
Matanya melotot, melihat sosok hitam tinggi besar yang tersenyum sembari menarik tubuhnya terus masuk kedalam air.
Anta...sesak nafas dan... perlahan kehilangan kesadaran.
Mariana dan Lani masih asyik bermain air bersama Cia.
Sesekali mereka membicarakan Anta yang sebenarnya sedang berjuang melawan maut dan takdir kematian yang mendekatinya.
"Bapakmu itu selalu saja suka berenang ditempat yang dalam! Mentang-mentang dia jago berenang di masa muda. Dasar deh!" tutur Mariana membuat Lani tertawa.
"Ibu sendiri, bisa berenang gak?"
"Bisa. Tapi tak sejago bapak. Tuh lihat! Sampai sekarang pun dia masih nyelam, belum juga muncul. Sok banget kelakuannya. Dulu waktu muda sering isengin Ibu. Tiba-tiba muncul mengagetkan pura-pura mengambang. Tuh lihat. Seperti itu tuh kelakuannya! Dikiranya Ibu bakalan kaget padahal sudah tahu akal bulusnya!"
Mariana menunjuk ke arah Anta yang memang tubuhnya sudah mengambang tak bernyawa.
__ADS_1
BERSAMBUNG