Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 162 Kesalahpahaman Yang Kian Melebar


__ADS_3

Melihat sebuah mobil yang suaranya terdengar familiar di depan gerbang rumah, Inayah mengintip dari jendela kamar.


Terkejut sekali Ia melihat Mia turun dari mobil milik Arthur di pukul sepuluh malam lebih.


Bahkan Emaknya itu terlihat berbincang santai dengan senyuman mengembang seraya melambaikan tangan pada orang yang ada di balik kemudi.


Arthur?!? Ternyata...! Ternyata dia lebih suka Emak dibandingkan Aku!


Sontak amarah Inayah mencuat tinggi.


Ia menelan saliva sembari menatap tak berkedip.


Emaknya pulang lewat pukul sepuluh, diantar pulang Arthur dan ini adalah yang pertama kali Emak bertingkah seperti ini.


"Selama ini Mak selalu marah dan larang Aku buat berteman dengan pria bule dingin itu. Rupanya... hhh...!"


Inayah menggebrak meja.


Ia marah sekali sampai tanpa sadar meneteskan air mata.


"Mak... hik hiks hiks! Mak kenapa gak bilang sejujurnya kalau Mak juga suka mas Arthur!? Makanya larang-larang aku agar jangan dekat-dekat dengan mas Arthur! Hik hik hiks..."


Inayah terisak. Ia menangis sedih. Sakit sekali rasanya. Ternyata fikirannya selama ini telah dinodai oleh perilaku Emaknya dan Arthur.


Inayah salah faham.


"Ya Allah..., Aku lupa, Emakku masih muda. Emak pasti kesepian dan juga butuh teman berbincang serius. Hik hiks hiks... Tapi kenapa Mak ga terus terang kalau Mas Arthur juga masuk kriteria cowok idamannya?! Mak, hik hiks Mak!"


Inayah kesal dan sebal.


"Bodohnya Aku! Harusnya Aku sadar diri dan peka' dengan blokiran si bule dingin itu pada nomor pribadiku! Lagipula apa susahnya bilang kalau Aku ini bukan tipenya. Apa susahnya bilang kalau Aku sedang me-mepet emakmu, bukannya kamu. Jadi kamu jangan kegeeran! Hik hiks hiks... Ya Allah!!!"


Inayah semakin larut dalam kesedihan.


Hingga esok hari pun Ia mengurung diri tak keluar kamar walaupun Mia, Rama dan juga Gaga bergantian mengetuk pintu kamarnya dan mengajaknya sarapan pagi bersama.


"Inaaayyy! Inayah! Kamu kenapa, Nduk?"


"Inay lagi gak enak badan, Mak! Inayah mau tidur lagi. Hari ini Inayah absen ngampus. Udah chat ketua kelas juga!" teriaknya dari dalam kamar.


Sejujurnya Ia tak ingin bertemu muka dengan Mia.


Hatinya terlampau sakit namun Ia juga tak ingin jadi anak durhaka.


Bila melihat wajah Emaknya, pasti pikirannya akan mengingat keintiman Mia dan Arthur yang semalam.


Inayah khawatir mulutnya kebablasan dan mencerca Emaknya kelewat batas.


Jadi Inayah lebih memilih menghindari Mia dengan berbagai alasan.


Ia benar-benar tidak keluar kamar sampai Mia dijemput mobil Fanny dan berangkat ke lokasi perkebunan organik mereka yang ada di daerah Sentul.


Inayah lega. Rumah telah sepi karena Mia, Rama dan Gaga berangkat untuk melakukan aktivitas masing-masing.


Mia menatap wajahnya di cermin kecil.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Harusnya kamu itu sadar sejak dia seringkali mengataimu sebagai bocah ingusan, bocah bau kencur, bocah imut yang masih ingusan. Dasar kau ini, Inayah! Padahal usiamu sudah delapan belas tahun, tapi bodoh dan polos macam anak umur lima tahun! Cih! Bodoh, bodoh, bodoh!"


Inayah memaki dirinya sendiri.


Ting tong


Ting tong


"Siapa sih? Pagi-pagi udah namu!" gerutu Inayah yang sedang kesal.


Ia mengintip dari balik gorden kamar.


"Mas Arthur? Ngapain dia kesini? Mau jemput Emak???"


Inayah gugup dan gelisah.


Ia belingsatan bingung harus bagaimana.


Pacar Emaknya datang tiba-tiba sedangkan dia belum siap mendengarkan hal gila jika sampai mereka benar-benar menjalin hubungan secara terbuka.


"Pak, Pak! Inayah harus bagaimana kalau Emak beneran jodoh sama bule tengil itu? Ya Allah..., Aku harus bagaimana!?!"


Inayah mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.


Ting tong


Bel rumah kembali berbunyi.


Akhirnya Ia harus turun dan menemui Arthur.


Cepat atau lambat, suatu saat nanti, mereka tetap harus bertemu dan menerima kenyataan kalau sampai Emaknya dan Arthur naik ke pelaminan.


Krieeet...


"Selamat pagi, Inayah!"


"Pagi. Maaf, Emaknya udah berangkat sepuluh menit yang lalu. Kamu telat jemputnya!"


Inayah langsung memberikan keterangan lebih dahulu sebelum Arthur berkata-kata.


Arthur menghela nafas panjang dan menggaruk tengkuknya.


Sepertinya dia kecewa sekali karena Emak jalan lebih dahulu! Cih!


Inayah baru saja hendak menutup pintu. Tapi ditahan Arthur.


"Hei! Kenapa langsung tutup pintu?"


"Tujuan kamu kemari pasti mau ketemu Emak kan?"


"Iya sih. Semalam Emak bilang mau ajarkan Aku cara berwudhu."


Hahh?!? Ya Allah, Mak! Ternyata...


"Ya cari saja Emak di tempat kerjanya! Permisi!"

__ADS_1


"Tunggu! Kamu kenapa? Kamu marah karena Aku blokir nomor pribadimu?"


Deg.


Inayah seperti terkena pukulan telak.


"Itu urusanmu! Aku gak peduli juga. Lagipula toh, hubungan kita tidak sebaik itu juga. Hak kamu buat blokir atau menyukai dan membenci seseorang!"


"Hhh... Kukira Emak libur setelah kemarin beliau melakukan general medikal check up! Ternyata, masuk kerja juga."


Ya ampuuun! Bisa-bisanya ya perkataanku dia cuekin dan malah mikirin Emak yang habis medical check up. Medical check up?!?


"Apa??? Emak medical check up??? Kemarin? Emangnya Emak kenapa???"


"Hhh... Bisa-bisanya anaknya ga tahu kesehatan orangtuanya sendiri. Ck ck ck... Benar-benar anak jaman sekarang!"


"Hei! Mentang-mentang kamu lagi dekat dan punya hubungan khusus sama Emakku, bukan berarti kamu bisa menyindirku sakarepmu! Pikir dirimu sendiri! Bagaimana kau memperlakukan orang tuamu sendiri! Apa sudah jadi anak baik yang sayang dan hormat pada kedua orang tua?"


"Ya ampun hahaha... Gadis imut bau kencur sudah pintar orasi sekarang ya? Hahaha... Mentang-mentang sudah jadi mahasiswi. Pintar ngomong sekarang nih! Hehehe..."


Puk.


Inayah nyaris terjelembab setelah telapak tangannya mampir menepuk bahu Arthur yang tiba-tiba berbalik badan dan kini mereka saling berhadapan.


"Huaa!!!"


Arthur segera menangkap pinggang Inayah. Dan kini posisi mereka seperti pasangan dansa yang sedang beradegan setengah kayang.


Sontak merah matang wajah keduanya yang benar-benar hanya berjarak dua sentimeter saja.


"Uffh!"


Arthur menarik pinggang Inayah dan dia mundur beberapa langkah karena malu berada terlalu dekat dengan gadis yang sangat Ia damba itu.


Keduanya saling memalingkan wajah.


Bingung dan gugup dengan kondisi hubungan mereka yang kadang akrab kadang bagaikan musuh.


"Ya udah. Aku pamit permisi!"


Arthur segera bergegas meninggalkan teras rumah Mia dengan wajah bak kepiting rebus.


Sebenarnya ini adalah kesempatan yang langka. Dia juga bukan bujang remaja yang baru mengenal cinta.


Tapi untuk Inayah, cintanya memang sangat spesial.


Arthur ingin memulai semuanya dengan baik dan benar. Dengan restu orang tua serta keluarga. Bukan dengan menjalani hubungan dibalik layar alias backstreet.


Ia tidak ingin menjalin hubungan seperti dulu lagi.


Sakit rasanya melakukan pedekate dan menjalani status pacaran tanpa restu, hubungan terlarang, karena ujung-ujungnya putus dan sakit hati yang sulit dihilangkan.


Arthur ingin mendekati Mia dahulu secara persuasif. Setelah restu ditangan, baru Ia akan gerak cepat melamar Inayah. Begitu angan-angannya.


Inayah melongo melihat Arthur yang berjalan cepat meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Kesalahpahaman ini kian melebar melihat gelagat Arthur yang dimata Inayah seperti sedang menjaga perasaan Emaknya.


BERSAMBUNG


__ADS_2