
"Amel akan menikah hari Sabtu dan resepsi hari Minggu? Beneran Lan? Bukan hoaks?"
Soleh terkejut mendengar kabar tentang mantan istrinya itu dari adik kandungnya.
Lani mengangguk.
"Ijab dan resepsinya diadakan di Jakarta. Kata tetangga Mbak Amel, hari Sabtu pagi akan ada dua bis yang menjemput para tetangga yang mau ikut hadir di pesta pernikahan mereka. Dua bis besar, Bang!"
Soleh menelan ludah. Jakunnya turun naik mendengar berita yang seharusnya gembira itu.
Soleh memang sudah pasrah. Ia sudah tidak lagi terlalu bernafsu untuk mendapatkan kembali Amelia karena keadaannya yang cacat kini.
Tetapi rasa penasarannya pada siapa calon suami mantannya itu begitu tinggi.
Hingga setengah harian ini Ia gelisah tak tentu hati.
"Ju!" serunya dari anak tangga paling bawah pada Sang istri yang ada di dalam kamar atas.
"Ya, Mas?!?" jawab Juriah juga dengan teriakan karena sedang menyetrika pakaian.
"Mas mau ke dealer dulu ya? Ada onderdil barang yang ketinggalan!" ujarnya pada Sang istri.
"Iya, Mas! Hati-hati di jalan! Aku masih nyetrika, tanggung ini!"
"Iya! Jalan dulu ya? Toko dijaga Afdal!"
"Iya!... Maass, pulangnya belikan Aku soto ayam ya?" pesan Juriah tanpa curiga.
Juriah tidak tahu, Suaminya itu ada niatan lain selain ke dealer.
Soleh ingin sekali memastikan kalau kabar itu benar adanya. Dan sangat ingin tahu siapa yang akan jadi pendamping Amelia berikutnya.
Setidaknya, Ia akan tenang bila mengetahui apakah pria yang jadi penggantinya itu layak atau tidak untuk Amel. Begitu pikir Soleh.
Soleh mendatangi rumah mantan mertuanya sebelum benar-benar ke dealer seperti ucapannya pada sang istri, dengan motor matic Juriah.
Sejak kakinya tinggal satu, Soleh hanya berani membawa motor kecil. Motor besarnya berdiam diri di pojokan.
Juriah sama sekali tidak tahu kabar yang dibawa Lani via sambungan telepon dengan Soleh. Dikarenakan Ia ada di lantai atas sementara Soleh ada di toko onderdil.
Soleh memang telah berubah lebih baik. Tapi jika menyangkut kabar terbaru tentang Amelia, rasa keingintahuannya mencuat dan jantungnya terus berdegup kencang sehingga harus segera mendapatkan berita yang jelas menurutnya.
Kabar yang Lani bawa baginya masih gantung. Belum jelas.
"Mas! Mas Pri!"
Soleh langsung memanggil tetangga Mia yang sudah Ia kenal belasan tahun lalu.
"Soleh? Soleh? Kakimu kemana?? Ehh maksudku kenapa?"
Priambodo, pria yang tinggal beberapa rumah dari rumah orang tua Amelia terkesima melihat keadaan Soleh kini.
Soleh menepiskan tangannya. Ia tak terlalu pedulikan pertanyaan Pri.
"Mas! Beneran Amelia mau menikah?" tanyanya langsung pada intinya.
Priambodo menatapnya beberapa detik tak berkedip.
"Iya, Leh!"
"Boleh tau, siapa calonnya? Apa... masih orang kampung sini kah? Atau..."
"Mmm. Orang kota, Leh! Kamu masih dengan anaknya juragan angkot yang mati gant+ng diri itu kan?"
Sontak Soleh merasa sedih dan menunduk.
"Amelia calon suaminya namanya siapa?"
"Mmm... kenapa, Leh? Jangan ganggu Amelia. Biarkan dia bahagia. Toh kamu bahkan sudah menikah juga. Bahkan lebih dulu dibandingkan dia."
Priambodo tentu saja membela Amelia dan mencoba mengingatkan Soleh. Ia sempat mendengar cerita dari Sang istri kalau Soleh pernah datang dan buat onar hanya karena ingin rujuk dengan Amel.
__ADS_1
"Aku cuma ingin tahu, Mas! Demi Allah ga ada niatan ganggu. Istriku juga baik, masih muda. Aku ingin tenang setelah tahu kalau calon suaminya Amel adalah orang yang baik."
"Mbak Amel menerimanya sudah pasti pria itu baik. Waktu bawa seserahan juga lumayan banyak anggota keluarganya."
Soleh semakin ingin tahu.
"Mas, apakah mereka tidak sedang menipu Amelia? Aku khawatir, makanya ingin tahu siapa pria yang beruntung itu!"
"Hhh... Sebentar, Aku tanya Lidia dulu!" ujar Pri beranjak masuk ke dalam rumahnya.
Tak lama Priambodo kembali ke luar.
"Siapa namanya, Mas?"
"Lukmanul Hakim."
"Luk_man??!"
Soleh merasakan desiran di dadanya. Berdenyut menyakitkan hati.
"Lukman?" gumamnya lagi dengan suara pelan.
"Iya."
"Makasih ya Mas! Yo wes Aku pamit!"
"Doakan saja Amel bahagia seperti dirimu yang sudah memiliki tambatan lain, Leh!"
"Iya, Mas!"
Soleh langsung tancap gas.
Pikirannya melayang, hatinya sedih bukan kepalang.
"Ternyata firasatku memang benar! Mereka memang ada apa-apanya sedari dulu! Kenapa aku sama sekali tidak berfikir kearah situ? Hm... Bisa-bisanya si Lukman jadi pebinor! Hhh... Dasar laki-laki pencuri! Ternyata..."
Lukman mengoceh dengan dirinya sendiri sepanjang jalan.
Dadanya berdenyut, hatinya panas.
Siang yang terik itu tak dipedulikan Soleh.
Emosi jiwa membakar seluruh isi hati sampai kepala. Hingga otaknya pun seperti kopong entah kemana.
Soleh meluncur dengan sepeda matic memakai kekuatan segenap jiwa.
Ia pergi tinggalkan kota kecil menuju Ibukota.
Ada rencana jahat yang bersarang di otak dan memblunder terus makin besar, kian membesar.
Tak tolih dengan dirinya yang terlihat menyedihkan.
Tak pikirkan apa yang akan terjadi nanti jika Ia berhadapan dengan Lukman dan Amelia.
Ibukota menyambutnya pukul sembilan malam sampai di rumah kontrakannya dahulu.
Tujuan utamanya adalah Bu Saodah, pemilik warung yang ada di depan jalan raya gang rumah kontrakan.
"Bu! Boleh saya minta surat undangan pernikahan Amelia dan Lukman?"
Terkejut sekali Saodah melihat seseorang yang datang di malam pukul setengah sepuluh disaat Ia bersiap-siap untuk menutup warung.
"Bang... Soleh?"
Selembar uang kertas seratus ribu rupiah membuat matanya seketika melirik ke Soleh lalu ke uang itu.
"Dikiranya saya ini akan gampang disogok!?" cetus Bu Saodah dengan suara sinis.
Soleh mengambil tiga lembar lagi dari dompetnya.
"Ini? Ga mau?"
__ADS_1
Saodah segera menarik lembaran uang dari tangan Soleh.
Kapan lagi Ia punya uang empat ratus ribu rupiah tanpa harus lelah berdagang seharian.
"Tunggu!"
Ia masuk setelah mendapat uang. Lalu kembali dengan selembar kertas undangan pesta pernikahan Amelia Lukman.
"Ini, alamatnya? Beneran?" tanya Lukman terkejut melihat tempat resepsi yang tertera di surat undangan.
"Ya masa' saya ganti itu tempat pestanya!" Saodah menjawab dengan suara ketus karena dituduh memanipulasi data yang tertera.
"Bisa-bisanya mereka akan menikah di hotel?" tanya Soleh benar-benar tak percaya.
"Ya suka-suka orang dong! Kalau punya uang, kenapa enggak?"
"Ya udah, makasih! Oiya, saya titip motor sebentar ya Bu!?"
"Iya. Kunci stangnya saja dan masukkan ke teras rumah saya!" jawab Saodah.
Saodah tersekat melihat Soleh yang jalan tertatih dengan bantuan tongkat stainless steel yang bisa di lipat.
Dan matanya tertegun melihat sebelah kaki Soleh yang hilang.
"Ke_kenapa dia jadi seperti itu?" gumam Bu Saodah dengan suara seperti berbisik.
Soleh sedang terbakar api yang sangat besar.
Malam itu Ia langsung sambangi hotel tempat yang tertulis di acara resepsi pernikahan mantan istrinya.
"Amel! Kau memang tidak bisa kumiliki. Dan tak akan pernah kumiliki lagi. Tapi menikah dengan Lukman, sungguh Aku tidak akan terima dengan pengkhianatan kalian ini! Aku, Solehudin, kalau tidak bisa menjadi suamimu lagi, si Bujang lapuk itu pun tidak boleh memilikimu!"
Janji hati Soleh yang sangat jahat.
Hatinya terbakar emosi.
Pikirannya semakin kotor di dalam hatinya yang busuk.
Dengan uang yang dibawanya cukup banyak, Soleh langsung meluncur ke hotel bintang lima milik Bimo naik taksi argo.
Ini adalah hari Jumat malam. Esok hari Sabtu pukul satu, pernikahan Amel dan Lukman akan dilaksanakan.
Soleh bertekad ingin menggagalkan pernikahan itu.
"Ini? Disini tempatnya? Ck ck ck... Si Lukman itu memangnya siapa? Penjudi yang habis menang lotre? Sampai bisa membuatkan Amel pesta di hotel ini!?"
Lukman turun dari taksi, berjalan tertatih.
"Maaf, Pak! Kami tidak menerima pengemis!"
Seorang sekuriti mencegah Soleh yang hendak masuk ke dalam halaman hotel yang sedang dihiasi bunga-bunga dan balon warna-warni.
"Apa kamu bilang? Pengemis? Sembarangan!" pekik Soleh berteriak keras.
Tiga orang sekuriti datang dan langsung menarik kedua tangannya.
"Hei! Bilang pada pemilik hotel ini, batalkan pesta pernikahan yang akan digelar besok pagi! Bilang dia untuk keluar dan temui Aku jika tak ingin aku obrak-abrik bikin malu seumur hidup mereka semua!"
"Keluar! Atau kami bawa ke kantor polisi!"
"Silahkan! Tapi kasus ini bakalan semakin besar karena Aku akan mengoceh pada wartawan tentang keburukan hotel ini!"
"Mau apa kamu ketemu pemilik hotel ini?"
"Aku ingin ia membatalkan pesta besok, sekarang juga pada penyewa hotel yang akan menikah besok!"
"Mas Lukman adalah putra pertama pemilik hotel ini. Untuk waktu tiga hari kedepan, hotel ditutup untuk umum! Tidak ada kamar satupun yang kami sewakan!"
"Apa??? Bagus dong! Sekalian rusak semua nama hotel sekaligus nama pemiliknya karena mereka adalah perebut istri orang!"
Soleh berkoar-koar bak orang yang kesetanan.
__ADS_1
Akhirnya seorang sekuriti berinisiatif untuk memberitahukan Bimo yang memang ada di dalam, memantau keadaan untuk acara besok.
BERSAMBUNG