
"Apa??? Anak temannya Mas Arthur ada di rumah Mbak Tia?"
Tentu saja Inayah terkejut ketika Tia menelponnya. Inayah masih di kampus biru.
Pukul dua siang, Ia masih harus menunggu kelas berikutnya.
Benar-benar hari yang sibuk.
Inayah kesal karena satu jam yang lalu Arthur menchatnya sebentar dan tak mengatakan apa-apa kecuali menyuruhnya makan siang dengan nasi, bukan dengan mie.
Inayah sebal, Arthur seolah mudah melupakan masalah yang ada tanpa melanjutkan perdebatan mereka yang masih gantung.
Inayah tidak bisa memahami jalan fikiran Arthur yang dikiranya dewasa selama ini, ternyata Arthur justru tidak pandai menyelesaikan masalahnya sendiri.
Seperti saat ini.
Yang Inay mau, Arthur menelponnya. Meminta maaf dan menjelaskan sejelas-jelasnya langkah apa yang akan Ia ambil dalam menyikapi permasalahannya dengan Bianca, mantan pacarnya yang datang dengan membawa anak laki-laki ke kediaman mereka.
Inayah ingin sekali Arthur bergerak cepat. Sehingga hatinya tidak lagi mangkel seperti sekarang ini.
Sungguh tidak enak memendam emosi di jiwa. Seperti makan tanpa minum. Ibarat mandi tidak guyur muka. Begitu perumpamaan yang Inayah rasa.
Arthur seolah lupa kalau istrinya itu baru saja kabur tadi subuh ke rumah kakaknya. Arthur bahkan sama sekali tidak membahas soal itu. Hanya mengirimi chat manis agar Inayah makan siang tepat waktu. Tidak mengkonsumsi mie melainkan nasi agar maagnya tidak sakit.
Chat Arthur memang manis. Tapi Inayah masih dalam kondisi kesal. Tapi Arthur sama sekali tidak mengungkit soal pertemuannya dengan mantan kekasih yang membawa anak mereka, katanya.
Mengingat itu, emosi Inayah kembali meninggi.
"Dasar laki-laki! Ternyata begitu kelakuannya! Sudah salah, tapi tidak minta maaf dengan benar! Justru berbuat seolah-olah dia tidak bersalah. Lalu lupakan semua permasalahan yang ada dengan gaya-gaya sok imut. Huh! Nyebelin!"
"Dan lagi malahan menambah masalah baru! Harusnya dia itu kompromi dulu sama aku sebelum benar-benar bawa anak itu. Sekarang malah dititip di rumah Mbak Tia. Padahal aibnya bisa terbongkar nantinya. Haish! Tua di umur doang! Pintar bikin film, tapi ga pintar menyelesaikan masalah sendiri!"
Inayah segera menelepon sang suami.
"Hallo, Mas? Kamu dimana?"
...[Di kantor, Sayang! Maaf... kerjaanku super super sibuk nih! Aku masih ada tamu dari luar. Maaf, Sayang ada apa? Aku harus segera masuk ruang rapat. Ada apa, Sayang?]...
Ada apa? Ya Allah Gusti! Kenapa lakiku model begini bentukannya? Cih. Nyebelin banget!
...[Sayang... Aku rapat dulu ya? Nanti aku telpon balik setelah kerjaanku selesai. Nanti malam pulang ke rumah kan? Oke, bye see you next time, Beb!]...
Klik.
Ya Allah! Dia tutup gitu aja? Aaarrrggh...
Inayah menggerutu dalam hati.
"Gimana urusan bisa cepat selesai kalau tingkahnya dia malahan seperti ini!? Hhh... Sibuk pula dengan kerjaannya. Anaknya malah dititip di rumah Mbak Tia!"
Inayah ingin segera pulang, tapi masih ada kelas satu mata kuliah lagi.
"Sepertinya pukul tiga baru bubaran kelas. Aku harus pergi ke Jakarta, ke rumah Mbak Tia jemput anak bulenya itu! Kalau anak itu berlama-lama di rumah Mbak Tia, Aku khawatir keluarga kami bakalan tahu kisah yang sebenarnya nanti!"
Inayah bertekad akan mengambil Arthur Pangestu dari rumah Tia sore ini.
......
Inayah menghela nafas setelah turun dari gojek dan membayar ongkosnya.
Bogor Jakarta lewat jalan Cibinong itu bukan sebentar.
__ADS_1
Bahkan Ia baru sampai di depan rumah Kakaknya itu pukul lima lewat beberapa belas menit meskipun dengan menaiki gojek karena padatnya kendaraan di sore hari.
"Mbak Inayah..."
"Mbak Cici, Mbak Tia mana?"
Cici adalah orang yang bekerja di rumah Tia. Mengurus semua pekerjaan rumah tangga sejak setahun lalu.
"Ibu Tia pergi ke taman kota sama Mas Reyhan sama anak temannya Mas Arthur. Dari tadi jam empat perginya, Mbak!"
"Mmmh... Kira-kira lama gak ya, Mbak?"
"Katanya sih mau nge mall juga. Den Aturr ga mau makan. Kepingin makan bistik katanya. Hehehe... hampir kita sejam bingung, anak bule itu nangis bilang bistik, bistik. Untungnya dia pakai isyarat makan. Jadi mas Reyhan bisa nebak kalau Aturr mau makan bistik, makanan orang bule. Hehehe..."
Inayah menepuk dahinya.
"Ck... ampun deh ah!"
"Mall yang dekat taman itu ya?" tanya Inayah sambil kembali pergi tanpa sempat masuk rumah Tia.
"Iya, Mbak!"
"Aku susul mereka deh!"
Inayah bergegas menuju mall kota yang ada di dekat taman.
Di depan mall, Inayah segera menelpon Tia. Mereka pun bertemu setelah menentukan tempat, yaitu restoran steak yang ada di dalam mall itu.
Inayah terkejut, ternyata Arthur benar-benar mirip Arthur suaminya.
"Arthur!?!"
"Mama kamu kemana?" tanya Inayah.
"Dia ga bisa bahasa Indonesia, Nay!"
"Where is you Mama?"
Arthur kecil menggeleng lemah.
Inayah mendekapnya agar Aturr tidak takut padanya.
"Arthur dari tadi sama Mbak?"
"Dari pukul sepuluh. Mas Arthur bilang nitip Arthur di sini untuk beberapa hari. Dia sedang sibuk mengurus film terbarunya. Kamu sendiri kenapa malah minggat dari rumah subuh-subuh, datang ke rumah ku lalu berangkat ke kampus jam delapan pagi. Gajebo tau, ga?!"
Inayah hanya menyunggingkan senyuman tipisnya tanpa menjawab.
"Ribut itu hal yang wajar dalam rumah tangga. Tapi jangan biasakan minggat-minggat dari rumah. Itu tidak baik. Selesaikan masalah kalian dengan fikiran dewasa dan kepala yang sudah dingin."
"Apa Mas Arthur cerita, Mbak?"
"Mana mau dia cerita masalah pribadinya sama aku? Dimatanya aku ini lebih muda umurnya. Dan dia juga ga bilang apa-apa tentang kejelekan kamu juga. Dia itu dewasa, ga kayak kamu kekanak-kanakan!"
"Apanya yang dewasa!? Justru kebalikannya, Mbak! Mana yang tua mana yang muda. Aku sampe shock lihat kelakuannya!"
"Nay, laki-laki itu ya begitulah. Egois. Selalu mau menang sendiri. Tapi kalau kulihat, Mas Arthur itu orang yang dewasa dalam menyikapi setiap persoalan."
"Iya. Dia pandai menyelesaikan masalah orang. Tapi masalahnya sendiri, dia tidak bisa karena dia itu orang yang plin plan aslinya. Tidak bisa menentukan sikap. Dewasa apanya itu! Sok dewasa, iya!" gerutu Inayah yang akhirnya curhat.
"Ya wajarlah dihadapan kamu dia itu bertingkah kekanak-kanakan. Dia kepingin dimanja kamu, itu. Itu taktik laki-laki yang ingin dicinta. Tahu?"
__ADS_1
Inayah hanya mendengus kesal.
Ia tak berani bercerita lebih jauh lagi pada Tia mengingat itu adalah aib besar bagi suaminya.
Hanya netra Inayah menatap penuh wajah Aturr yang sedang makan daging steak dengan lahap dibantu Reyhan yang sangat sayang sekali pada bocah bule imut itu.
Selesai makan mereka berjalan-jalan menyusuri mall. Berakhir di sebuah arena time zone tempat permainan untuk anak-anak.
Wajah Arthur terlihat jauh lebih tenang dan nyaman setelah Inayah mengajaknya bermain bersama.
Inayah cukup terbantu karena Arthur anak yang tenang sekali. Tidak menyulitkan dirinya meskipun masih balita.
"Auntie, I want to pee."
"Pee itu apa ya?!" Inayah kebingungan sendiri.
"What is pee, Aturr?"
Arthur memberikan kode dengan menunjukkan ke arah alat vitalnya.
"Pipis?"
Bocah itu mengangguk sambil menuntun jemari Inayah seraya berkata, "Toilet!"
"Oh okay."
"Tante ikut masuk ya? Bantu kamu buka celananya."
Inayah tersentak, tubuh Arthur bagian paha ternyata memiliki banyak luka baret seperti luka cakar kuku.
"Ke_kenapa ini?"
Arthur panik. Dia segera mengangkat pakaian dalamnya dan mendorong Inayah agar mundur ke belakang.
"What happen?"
"Nooo!!!"
"Ok. Don't be afraid, Sayang!"
Inayah berusaha menenangkan Arthur yang mulai merebak air matanya.
Ya Allah... anak sekecil dan seimut ini rupanya sudah jadi korban kekerasan. Aku harus beritahu Mas Arthur segera!
Treeet treeet treeet
Baru saja fikiran Inayah tertuju pada Arthur, tiba-tiba orang yang dipikirkan menelpon.
"Mas..."
...[Inayah, kamu ada dimana? Aku sekarang di rumah Mbak Tia]...
"Mas bisa jemput kami di mall Artha Gading?"
...[Oke. Tunggu Aku ya Sayang?]...
Inayah lega. Arthur memanggilnya Sayang. Sedikit berkurang rasa sebalnya pada Arthur. Berganti menjadi rasa kangen yang meluap karena seharian tidak melihat wajahnya yang tampan.
BERSAMBUNG
__ADS_1