Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 168 Semua Allah Buka


__ADS_3

"Mak?! Lho, katanya Mak mau rehat dulu? Kenapa masuk kerja? Istirahat dulu aja di rumah. Alhamdulillah, Aku udah dapat rekan kerja yang masih muda dan bisa mengurus semua masalah kita. Dokter Rendy, ilmuwan magister di bidang manajemen agribisnis. Lusa dia mulai masuk kerja, Mak! Kita akan sedikit bisa berleha-leha. Biarkanlah yang muda yang bekerja. Hehehe..."


"Alhamdulillah. Kak, Aku juga ada sesuatu yang ingin kuutarakan. Aku..., mau berhenti kerja saja. Inayah dan Gaga membutuhkan perhatianku. Mereka seringkali sekolah tanpa sarapan, Kak!"


"Apa??? Mak... bisnis kita baru mulai menaik grafiknya. Tolong, pertimbangkan, Mak!"


"Kak Fanny..., Aku... Aku sedang menunggu sesuatu."


"Apa?"


Tiinn tiinn tiinn


Kedua wanita dewasa itu menoleh ke arah mobil yang tak henti memberi klakson ke arah mereka.


"Arthur?" gumam Fanny bingung.


"Mak! Jadi kan kita berangkat?" seru Arthur dengan suara lantang dan senyuman yang menawan.


"Iya!" jawab Mia.


Seketika Fanny terkejut. Mia merespon Arthur seolah mereka adalah teman lama.


"Mak?! Kamu janjian sama bocah bule itu?" tanya Fanny tak percaya.


"Kak, Aku pergi dulu ya? Maaf, Aku sedang mengejar waktu. Pasti kuceritakan nanti! Assalamualaikum!"


Mia melesat cepat, pergi menuju mobil Arthur dan masuk pintu depan setelah Arthur membukakannya untuk Mia.


Fanny termangu membatu.


Seminggu Aku tak ada di Jakarta, ternyata Mak Mia berhubungan dengan Arthur? Apakah... apakah benar besanku itu ada main dengan bujang lapuk pecinta emak-emak? Benarkah? Apakah aku tak salah lihat?


Shock Fanny melihat mobil Arthur meluncur pergi setelah kedua orang yang berada di dalamnya melambaikan tangan pada Fanny.


"Emaakkk! Gila kau!!!" pekiknya seorang diri.


Fanny yang memang tidak tahu apa-apa seketika belingsatan tak karuan melihat besan sekaligus rekan bisnisnya itu pergi bersama pria yang sempat Ia ceritakan sepak terjangnya di dunia perbisnisan.


Fanny ikutan pergi.


Tujuan utamanya adalah restoran Amelia.


Tapi Ia tidak mendapati anggota keluarga Mia karena semuanya sedang keluar. Yang ada hanyalah para karyawan resto dan katering yang sedang sibuk di dapur mengurus pesanan makan siang yang sebentar lagi menjelang.


Inayah yang kebetulan sedang libur kuliah, datang mengambil sampel makanan katering atas perintah Rama semalam dan membawanya ke tempat yang telah ditentukan.


"Inay!"


"Mama Fanny!?"


Cipika cipiki dan cium tangan seperti biasa jadi tradisi setiap kali Inayah bertemu Fanny.


"Apa kabar, Ma?" tanya Inayah yang sudah cukup akrab dengan mertua kakak pertamanya itu.


"Baik, Sayang! Inay sendiri? Gimana ngampusnya? Lancar?"


"Hehehe, baik Ma! Alhamdulillah!"


"Tunggu! Ada yang mau Mama Fanny obrolkan. Dan ini..., membuat Mama Fanny sedikit shock juga. Bisa kita bicaranya di lantai atas? Di rooftop? Mas Beni, tolong antarkan dua gelas es jeruk dan camilan ke rooftop ya? Untuk Saya dan Inayah!"


Inayah degdegan mengikuti langkah Fanny yang tergesa-gesa.


"Inayah..."


Fanny menatap wajah gadis manis itu dengan tatapan bingung setelah mereka sudah berada di lantai atas, meja paling pojok.


"Kenapa, Ma? Ada apa? Ada masalah apa?"


"Apa Mak mu akhir-akhir ini ada yang berubah?" tanya Fanny berusaha menyelidik dulu.


Inayah yang bengong kemudian langsung mengangguk.


"Iya. Memang." Jawaban Inayah dingin dengan suara yang lemah.


"Kamu juga melihatnya?"


"Apa, Ma? Lihat apa?" Inayah mencari tahu rasa penasaran pada ucapan Fanny yang menggantung.

__ADS_1


"Emak...ada hubungan dengan si Arthur?" Kalimat tanya Fanny yang menunggu Jawaban penegasan dari Inayah itu membuat luluh lantak seluruh persendian Inayah.


Lemas lututnya seketika.


Mama Fanny sampai tahu juga akhirnya! Mak...! Cobalah berfikir dengan jernih. Apakah Mak tak melihat dampak buruk yang pada akhirnya harus kami tanggung karena perbuatanmu, Mak?


"Inayah!"


"A_ uhg. Inayah tidak tahu, Ma! Inay...,"


"Kamu pasti tahu sesuatu! Kamu pasti tahu! Dari raut wajahmu Mama bisa melihatnya! Jujur, Nay! Mama Fanny bukanlah orang lain! Sejak kapan Emak mulai dekat dengan si bocah tengil itu?"


"Emmm..., sejak..., sejak seminggu lalu tepatnya Emak mulai terlihat jalan berdua. Entah dekatnya sejak kapan, Ma!"


Inayah menunduk.


Satu persatu bulir air matanya menetes jatuh di pipi.


Fanny mengangkat wajah adik menantunya itu.


"Sudah sampai sejauh itu? Sampai kamu tahu juga?"


"Mas Rama dan Gaga juga sudah lihat sendiri, kedekatan Emak dengan Mas Arthur."


"Mas Arthur? Bahkan kamu sendiri sampai menyebutnya dengan panggilan 'Mas'? Ya Allah ya Tuhanku! Kan Aku sudah pernah bilang, jangan dekat dengan pria bajingan itu! Rumah tangga Madam Yulia hampir hancur berantakan karena hubungan gelapnya dengan si Mas Arthur itu, Inay!"


Fanny langsung menaikkan intonasi suaranya.


Ada was-was juga kesal karena Ia terlambat mengetahui kalau karisma Arthur ternyata sehebat itu jika berdekatan dengannya.


Sementara di lain tempat,


Mia dan Arthur pergi ke kampung halaman Mia.


Niatnya mengunjungi makam Kan'an, suaminya yang dua tahun lalu meninggal dunia.


Betapa terkejutnya Mia melihat sesosok pria lusuh, dekil, dengan pakaian compang-camping duduk di persimpangan lampu merah.


"Solehudin? Soleh? Si Soleh jadi seperti itu?"


"What? Orang itu beneran jadi gembel? Ya ampun!!!" seru Arthur turut berkomentar.


Keduanya diam dengan mata menatap ke arah Soleh yang sedang meminta-minta. Satu kakinya memang sudah tidak ada karena kecelakaan tempo hari. Benar-benar sangat miris keadaannya. Menyedihkan.


"Kemana istri mudanya? Bukankah dia menikahi putri tunggal juragan angkot dan kontrakan yang terkenal di kampung itu?" gumam Mia masih tak percaya.


"Begitulah jika Tuhan sudah menurunkan azabnya! Hhh... Semoga dia belajar dari pengalaman hidupnya yang pahit dan segera bangkit dari keterpurukan."


Mia menoleh pada Arthur yang baru saja berkata sangat bijak.


Lampu merah telah berubah menjadi hijau. Arthur kembali memacu mobil dan meninggalkan Soleh yang sedang menadahkan tangan meminta-minta dengan kaleng kosong di depannya.


Sangat menyedihkan sekali.


Rupanya kehidupan mereka kian jatuh terpuruk hingga tenggelam ke dasar jurang kehancuran.


Rumah-rumah kontrakan yang diwariskan Ojan dan istrinya habis satu persatu dijual demi untuk pengobatan Juriah serta Solehudin.


Bahkan ruko besar yang dibawahnya ada bengkel dan toko onderdil pun sampai berpindah tangan karena keduanya yang butuh biaya besar.


Juriah dan Soleh berhasil sembuh, namun harta mereka ludes tak bersisa.


Kini mereka bahkan tinggal di gubuk kecil yang dibangun di atas lahan sisa keluarga Ojan. Dan Soleh menganggur karena tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakannya yang cacat fisik itu.


Alhasil demi menyambung hidup, Juriah mendandani suaminya dengan pakaian compang-camping dan menyuruhnya duduk di persimpangan lampu merah. Meminta belas kasihan orang-orang yang lalu lalang melintas di sana.


Waktu tiga tahun benar-benar menjadi masa kehancuran Solehudin yang awalnya serakah dan pongah.


Tak perlu menunggu waktu di akhirat, karena di dunia pun karma berlaku untuk orang-orang yang jahat.


Arthur mengantar Mia sampai kuburan suaminya.


Pria itu memang menchat Mia kalau mulai minggu depan Ia akan kembali sibuk dan terbang ke benua Eropa untuk urusan pekerjaan.


Kemungkinan Arthur akan sibuk sampai beberapa bulan kedepan.


Jadi Arthur minta maaf jika komunikasi mereka tidak lancar dan dia tak bisa mengantar juga menjemput Mia kontrol ke rumah sakit.

__ADS_1


Arthur menyarankan agar Mia menceritakan keadaannya pada semua anaknya.


Arthur berusaha memberikan pengertian, karena kalau Mia terus bersikukuh menutupi penyakitnya, khawatir justru anak-anak akan kecewa dan berimbas kesedihan serta penyesalan yang ada.


Mia akhirnya mau menurut nasehat Arthur, dengan syarat Arthur mau mengantarnya ke makam suaminya di kampung.


Arthur setuju karena masih ada beberapa hari lagi waktu senggangnya.


"Pak... Aku datang, Pak. Aku, istrimu yang sebentar lagi akan datang menemuimu di alam barzakh. Hehehe...! Ternyata, seperti ini mengetahui kalau kita akan segera mati, Pak! Kamu sendiri dulu mati tanpa sakit, tanpa pemberitahuan, tiba-tiba kecelakaan. Hhh... Sungguh jalan hidup seseorang tidak bisa kita tebak ya?"


Arthur menunduk. Dia hanya diam dan membiarkan Mia berkomunikasi dengan nisan kuburan suaminya.


"Pak..., kenalkan. Mas Arthur. Aku berharap pria yang setia mengantarku kesana-kemari bahkan sampai sini ini akan jadi bagian dari keluarga kita. Semoga dia menjaga putri kita, Inayah. Walaupun...umur mereka berbeda cukup jauh, tapi Aku percaya pada pria campuran Amerika ini. Aku berharap banyak padanya, Pak."


Arthur mengambil nafas sejenak. Menoleh pada Mia karena namanya disebut dan dia diperkenalkan secara resmi pada almarhum Bapaknya Inayah.


"Saya Arthur Handoko, Pak. Salam kenal. Saya tidak bisa berjanji banyak hal. Tapi, saya hanya ingin mengakui kalau saya mencintai putri bapak yang bernama Inayah. Saya ingin mempersunting Inayah, dan senang sekali karena Emak sudah memberi restu. Mohon bantuannya agar Inayah luluh hatinya dan menerima saya, Pak!"


"Jangan memohon kepada orang yang sudah meninggal, Mas! Bapak justru butuh doa dari kita yang masih hidup di dunia."


"Oh? Maaf, Mak!"


"Mak hanya komunikasi saja. Hanya untuk meluapkan perasaan fi hati ini agar menjadi lega. Bukan meminta doa Bapak yang sudah meninggal dunia. Hehehe..."


"Begitu ya? Maaf. Akhirnya saya kembali tahu satu hal. Hehehe..., terima kasih Mak!"


"Jangan meminta doa pada kuburan. Meminta doalah pada Tuhan. Sholat dan ibadah lainnya yang diwajibkan. Ziarah kubur hanyalah Sunnah hukumnya. Dan dilarang memuja ataupun melakukan sesembahan di atas kuburan. Emak membersihkan makam Bapak hanyalah sebagai adab seorang istri yang selalu berusaha mendoakan beliau tenang di alam sana. Mengirimkan doa berharap Allah memperingan siksa kuburnya. Dan masalah komunikasi seperti yang Mak lakukan ini, itu hanyalah sekedar refleksi Mak, agar tidak terlalu lena dengan dunia karena pada akhirnya kita akan mati jua, Mas!"


Arthur mengangguk.


Ia semakin faham karena Mia menjelaskannya dengan sangat gamblang.


Selepas ziarah kubur, mereka mampir dahulu ke supermarket. Lalu membeli beberapa sembako dan membuatnya menjadi dua bungkus totebag. Mia juga menaruh uang seratus ribu di dalamnya.


Mia meminta Arthur untuk kembali ke persimpangan lampu merah. Tapi memarkir mobilnya agar jauh dari tempat Soleh duduk bersidekap.


"Mas..., boleh minta tolong ga?" Mia meminta bantuan kepada seorang pedagang asongan.


"Ada apa, Bu?"


"Ini, tolong sampaikan kepada pria yang minta-minta di seberang sana. Dan ini satu lagi untuk mas. Tolong ya?" pinta Mia dengan sopan.


"Baik, Bu! Saya berikan pada bapak yang kakinya satu itu kan?"


"Iya, Mas. Terima kasih ya? Dan jangan bilang dari saya atau menunjukan ke arah sini ya? Bilang saja dari hamba Allah."


"Baiklah."


Mia masuk mobil. Melihat dari dalam dengan kaca jendela tertutup agar Soleh tidak merasa malu menerima bingkisan sembako darinya.


Terlihat raut wajah Soleh yang sumringah dan tersenyum lebar pada mas-mas yang memberikan totebag besar itu padanya.


Mia tersenyum lega.


"Yuk, Mas Arthur... kita jalan lagi."


Hari ini Arthur belajar banyak dari Mia. Pelajaran hidup dan kebijaksanaan yang wanita paruh baya itu tunjukkan padanya sangat berharga.


Apalagi setelah Mia turun di masjid dekat rumahnya dan memberikan amplop putih besar berisi uang untuk sumbangan.


Mia benar-benar pribadi yang hebat dimata Arthur.


"Mak,"


"Ya?"


"Maukah Mak jadi saksi perjalanan hidupku menjadi seorang muslim besok? Tapi hanya Mak saja. Maukah?"


Mia mengerjapkan kedua matanya. Ia tersenyum dan mengangguk.


"Alhamdulillah. Mas sudah bulat tekadnya?"


"Sudah lama sebenarnya. Tapi imam besar masjid Istiqlal baru ada waktu besok pukul dua belas lebih setelah Dzuhur, Mak!"


"Alhamdulillah."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2