Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 202 Dalam Semalam Semua Berubah


__ADS_3

"Jangan bergerak! Serahkan suamimu kalau anak-anakmu tak ingin nyawanya melayang!"


"A_apa???"


Amelia tersentak. Seseorang berpakaian ala ninja lengkap dengan penutup kepala menodongkan senjata laras panjang pada Adam dan Hawa dan seorang lagi mencengkeram kerah baju serta tangan Lukman.


"Gila!!! Aku tidak akan memilih salah satu diantara mereka!!!" teriak Amelia keras membuat orang itu menarik leher Lukman semakin keras.


"Aagghhh!!!"


"Jangan!!!" pekik Amelia kian panik.


"Jadi kau lebih pilih Suami ketimbang anak?"


"Jangan! Jangan mereka!!! Tembak saja Aku! Bunuh Aku, jangan suami atau anak-anakku!" teriak Amelia kencang.


"Kau ingin dirimu saja yang mati? Bagus! Itu lebih baik! Tapi..., adikmu dulu yang akan kubunuh sekarang. Baru kau setelah itu!"


Dorrrr


Orang tak dikenal yang berpakaian ala ninja itu tiba-tiba menembak Inayah yang baru saja masuk dan masih berada di depan pintu dengan senyum sumringah.


"Jangaaannn!!!" teriak Amelia histeris.


"Sayang, Sayang?! Sayang bangun, Sayang! Amel..."


"Jangan! Jangan!!! Hik hiks hiks... Jangan bunuh keluargaku!!!"


Lukman berusaha membangunkan Amelia yang ternyata mimpi menakutkan di pukul dua malam.


Amel tersadar.


Air matanya tumpah ruah dan Ia langsung memeluk erat Lukman yang duduk disampingnya dengan wajah lega karena akhirnya sang istri terjaga.


"Kamu hanya mimpi, Sayang. Mimpi itu bunga tidur. Setan memasuki alam tidurmu dan memainkan peranan agar kamu gundah gulana. Ayo, baca surat An-Nas dan Al-Ikhlas tiga kali."


Amelia menuruti perintah sang suami.


Setelah dirinya agak tenang, Amelia berkata, "Mimpi barusan seperti nyata, Mas! Beneran. Aku sampai shock lihat Inayah terkulai lemas kena tembakan orang-orang jahat berpakaian ala ninja itu! Mereka memintaku menyerahkan dirimu dan anak-anak jadi taruhan,"


Grepp


Tangan kekar Lukman segera menekap mulut Amelia yang masih berkicau menceritakan mimpi buruknya barusan.


"Tidurlah, Sayang! Sini, biar kupeluk supaya rasa was-was yang masih memenuhi fikiranmu hilang berganti kenyamanan."


Amelia menghela nafasnya. Dipejamkan kedua bola matanya serasa mengucap syukur dalam hati, karena kedewasaan Lukman membuatnya jauh lebih baik dan juga bersyukur karena itu semua hanyalah mimpi.


Seperti kata Lukman. Semoga mimpi itu hanya sekedar bunga tidur. Mimpi yang dihembuskan setan karena mungkin saja Ia kurang khusyuk berdoa sebelum tidur.


Lukman mengelus-elus lembut punggung istrinya. Beberapa kali kecupan sayangnya mendarat di kening Amel yang masih agak basah oleh keringat.


"Bismillahirrahmanirrahim. Bismika allohumma ahyaa wa bismika amuut.”


Keduanya kembali terlelap setelah setengah jam berlalu.


Ditempat yang berbeda,

__ADS_1


Inayah merasakan perutnya sakit dan mual-mual.


Ia beberapa kali ingin muntah tapi tidak keluar.


Kepalanya pening sekali. Dan tubuhnya menggigil padahal cuaca malam ini sangatlah panas karena sedang musim kemarau.


AC kamarnya pun tidak dinyalakan sejak tadi siang.


"Ya Allah, Mas! Koq badanku gak enak begini ya? Ya Allah..., haduuhh!"


"Kata Suster Arini dan Bi Tinah, itu biasa bagi ibu yang sedang hamil muda, Nay. Yang sabar ya Sayang. Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja? Biar kamu diopname dulu beberapa hari di sana?"


"Aroma rumah sakit justru membuatku semakin mual, Mas! Ingat ga waktu kita periksa kandungan tiga hari lalu. Aku malah pucat pias sesak nafas mencium bau obat-obatan."


Arthur mengusap pucuk kepala Inayah dengan sangat lembut. Ia tahu kelemahan istrinya sehingga terlihat semburat merah jambu di kedua belah pipi Inayah meskipun di malam hari.


"Masss..."


"Hmmm?"


"Minta tolong diusap-usap punggungku ya? Aduhh..., perutku berasa begah banget ini. Haaa..., ya Allah...! Ternyata seperti ini ta pengorbanan seorang Ibu. Masya Allah... ini baru tiga bulan menjelang empat bulan. Masih ada enam bulan kurang aku harus merasakan ini. Haaa, Maaasss!"


Inayah merajut merasakan tubuhnya tidak enak dan tersiksa seperti ini.


"Sabar Sayang, sabar ya...!(Cup) Sini kuelus pelan punggungnya! Kamu baringan di pangkuan Aku. Sholawatan, biar nyaman. Atau,... aku minta bantuan Mbak Tia atau Mbak Amel ya?"


"Jangan, jangan dulu Mas! Aku mau bertahan sampai usia kandungan ku empat bulan dan kita mau buat selametan, baru mereka kita beri tahu keadaannya."


Arthur tersenyum.


Inayah memang sengaja ingin merasakan kehamilannya pada keluarga besarnya sampai usia empat bulan.


Ada kekhawatiran kalau sudah sesumbar perihal kehamilan jika belum cukup umur kandungannya. Pamali mitosnya.


Arthur tersenyum mengikuti keinginan Inayah. Padahal hatinya seperti ingin melonjak keluar raga saking gembiranya. Ia ingin mengabarkan kepada semua orang kalau istrinya yang muda belia itu sedang mengandung janin calon anak mereka.


Waktu Pupu, Arthur tidak tahu dan setengah tidak percaya kalau bocah laki-laki tampan itu adalah darah dagingnya. Bianca bahkan menantangnya tes DNA jika Arthur masih tidak percaya. Tapi melihat wajah Putra Arthur Pangestu yang nyaris mirip dirinya, luruh juga rasa curiganya.


Kini, Inayah mengandung. Istri yang ia nikahi dengan rasa cinta yang baru pertama kali Arthur rasakan.


Ternyata seperti ini eforia seorang pria yang sudah menikah dan mendapatkan kabar gembira tentang kehamilan istri.


Arthur bahkan seperti merasa mimpi indah yang panjang. Ia selalu sujud syukur setiap selesai sholat. Mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada Allah Ta'ala karena telah memberinya kebahagiaan yang begitu berlimpah dan bertubi-tubi.


Masalah-masalah kecil yang timbul dalam biduk rumah tangganya berhasil Ia atasi.


Seperti kemarin Juriah hampir membuat Arthur jantungan.


Ia tidak ingin Inayah tahu kalau perempuan yang Suster Arini tolong dan sempat menginap di rumah mereka itu adalah mantan istri muda Solehudin, suami pertama kakaknya.


Masa lalu adalah masa lalu. Tapi jika saat itu dihadapkan dengan masa lalu biang penyebab kehancuran rumah tangga Amelia, hati Inayah pasti tergores juga.


Itu sebabnya Arthur setengah mengancam Juriah agar tak pernah berkeinginan untuk kembali menjejakkan kaki ke Ibukota lagi.


Ibukota kejam. Tidak seperti yang dibayangkan. Begitu Arthur bilang. Bahkan Arthur sempat membuka kehidupan Soleh yang kini sudah membeli rumah di desa kampung halaman Amelia Inayah.


Soleh sudah hidup lebih terarah. Punya penghasilan dari usaha bengkelnya di jalan raya di kampung mereka.

__ADS_1


Harapan Soleh, Juriah menyesal memilih bercerai dengan Soleh dan mereka kembali rujuk melanjutkan rumah tangga yang pernah jadi bumerang Kehidupan Amelia Soleh beberapa tahun lalu.


...............


Pagi hari di kota Jakarta kali ini sangat berbeda dengan pagi hari ketiga Juriah masih menjadi seorang Sales Promotion Girl di sebuah mall pusat Ibukota.


Kini ia seperti seorang Putri Raja yang baru bangun tidur dan di meja kamarnya sudah tersedia segelas susu putih hangat dan sepinggan roti isi telur dan sayuran.


"Morning, Non Putri! Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak kah? Oiya, kita belum kenalan. Aku Rozie, Boss Victor suka memanggilku Rosie. Terserah kamu mau panggil aku apa. Hehehe,... Aku adalah salah satu asisten pribadi Boss bagian wardrop. Tugasku adalah mendandani kamu agar terlihat cantik, elegan dan anggun mempesona layaknya princess-princess di negeri dongeng sana. Wake up, sarapan, lalu mandi yang bersih. Dan ini adalah pakaianmu. Ayo, GPL Gak Pake Lama. Aku tunggu satu jam, setelah selesai berpakaian, segera turun ke bawah. Okay?"


Juriah termangu dengan wajah menatap lekat wajah Rozie asisten Boss Victor yang telah menolongnya kemarin.


"Boss Victor kemana, Mas Rozie?"


"Huaaaa, jangan panggil aku 'Mas'! Panggil Kaka boleh, atau nama Rozie pun boleh. Aku geli kalau dipanggil 'Mas'!"


Rozie berlari keluar kamar dengan gayanya yang gemulai ciri khas pria-pria tulang lunak yang banyak bertebaran di Ibukota.


Juriah hampir tersedak susu yang Ia seruput pelan karena tertawai tingkah Rozie yang feminim.


"Cepat Nona Putri Fania!!!" serunya sebelum menutup pintu kamar Juriah kembali.


"Iya, Rozie cantik!" jawab Juriah dengan canda membuat Rozie terdengar memekik senang.


Juriah tertawa kecil.


Ia menoleh ke arah cermin besar yang ada di depan ranjang tidurnya yang besar.


Wajahnya pucat, sangat terlihat tidak menarik meskipun hidung Juriah cukup mancung dan bibir imut padat berisi.


"Hhh...! Ayolah, Ju! Bangkit dari keterpurukan! Mumpung ada Boss Victor yang baik hati mengangkatmu dari selokan kotor berbau comberan! Ayo, jangan kecewakan dia! Tunjukkan dirimu dengan perubahannya setelah dia pulang dari Vietnam!"


Juriah bertekad dengan tujuannya. Ingin merubah diri dan nasib menjadi perempuan yang jauh lebih beruntung daripada Amelia dan Inayah.


Ia makan roti sandwich itu dengan lahap dan meneguk habis susu putih non fat lalu bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Lah? Mana bak mandinya? Mana air dan gayungnya?"


Ia celingak-celinguk memperhatikan ruangan kamar mandi yang kosong melompong.


"Ini..., kamar mandi khan?" tanyanya pada diri sendiri.


Matanya menyelidik dengan seksama.


Akhirnya ia menemukan kran air dan memutarnya.


Byuurrr...


Juriah terkejut. Tubuhnya basah karena air tiba-tiba mengguyurnya dari atas langit-langit.


Ada shower cantik yang dikiranya lampu mengeluarkan percikan air hangat.


Juriah tertawa terbahak-bahak.


"Aku saja yang pernah jadi orang kaya begini noraknya. Bagaimana dengan Mbak Amelia dan Inayah dulu waktu pertama kali mengalami perubahan hidup yang mewah seperti ini! Hahaha..., membayangkannya saja sudah membuatku bahagia. Hm. Mbak, tunggu aku! Aku akan melampauimu menjadi wanita yang jauh lebih anggun berwibawa. Tunggu saja tanggal mainnya!"


Belum apa-apa Juriah sudah jumawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2