Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 177 Perubahan Arthur Yang Mendasar


__ADS_3

Ini adalah tahlilan kepergian Mia hari ketujuh.


Semua anggota keluarga lebih banyak diam dibandingkan berinteraksi satu dengan yang lain.


Nyaris tak ada komunikasi yang hangat, karena semua dalam keadaan berkabung dan sibuk dengan kesedihan masing-masing.


Walaupun begitu, anak dan menantu Mia semuanya bahu membahu mengadakan pengajian setiap malamnya selama tujuh hari berturut-turut.


Mereka kompak bekerja sama meskipun tanpa obrolan yang hangat dan ceria seperti biasanya.


"Mas...! Emak kita telah tiada. Aku dan Mas Alif juga sudah pindah rumah di rumah kami di daerah Jelambar. Gaga... akan aku bawa serta karena sekolahnya di Ibukota, jauh dari Bogor juga. Apalagi sekarang tidak ada Emak yang biasanya pergi bareng Gaga. Bagaimana, Mas?" Tia mencoba berkompromi dengan Rama, kakak laki-lakinya soal Gaga.


"Inay sudah berumah tangga. Otomatis pastinya akan segera dibawa pindah Mas Arthur ke rumahnya. Aku juga sekarang ditugaskan di daerah Banten oleh Pak Bimo. Jadi..., sebaiknya kita temui Bu Fanny. Kita ucapkan terima kasih karena sudah memberi kita tempat yang sangat layak selama ini. Kita, kembalikan kunci rumah ini pada beliau. Kita pindah sesuai tempat yang terdekat dari aktivitas. Bagaimana?"


Tia dan Gaga mengangguk.


"Aku ikut Mas Rama!" ujar Tia seolah menyerahkan semua keputusan pada Rama.


Inayah sendiri kini pulang pergi dari rumah Fanny ke rumah Arthur yang jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya beda kompleks saja, karena masih berada di perumahan yang sama.


Fanny menerima keputusan yang diambil putra-putrinya Mia. Rumahnya kini kembali kosong karena penghuninya memutuskan pindah satu persatu.


Satu yang Fanny minta, seperti apapun kondisinya, Fanny ingin adik-adiknya Amelia menganggap dirinya sebagai ibu mereka. Yang selalu terbuka dan siap sedia jika ingin dimintai saran.


Tentu saja kebaikan Fanny membuat semuanya terharu bahagia sampai memeluk ibu mertuanya Amelia itu dengan erat.


Sementara itu, Frederica dan Joko juga sudah kembali ke San Fransisco sehari setelah Mia wafat.

__ADS_1


Belum banyak interaksi antara mertua dan menantu itu. Tapi keduanya bisa melihat kalau Inayah adalah anak yang baik dan polos.


Inayah bisa Ia percaya untuk menjaga putra tunggalnya yang sudah dewasa tapi terkadang manjanya melebihi anak-anak.


"Titip Arthur, ya Inayah! Jangan terlalu manut padanya. Sesekali anak itu perlu juga didebat. Jangan di-iya-iyakan saja ucapannya. Hehehe..."


Selama dua hari ini Frederica memang melihat Inayah hanya mengangguk dan menurut apa ucapan Arthur. Sehingga Frederica dan Joko menilai kalau Arthur adalah sosok yang dominan dalam hubungan itu.


Padahal itu semua karena memang Inayah masih shock juga tidak tahu harus berbuat apa kecuali menuruti perkataan sang suami yang jauh lebih faham dalam segala urusan termasuk urusan pemakaman Mia, Emaknya.


"Maafkan, Inayah, Mi! Belum sempat menjamu Mami dan Papi dengan benar karena,"


"Ssttt...! Lain kali kami akan datang lagi. Jangan khawatir. Mami turut berdukacita yang sedalam-dalamnya ya? Mami senang, sempat berbincang secara langsung dengan Ibumu. Mami juga senang, menantu Mami adalah orang yang baik dan bisa diandalkan. Walaupun usia kalian terpaut jauh, tapi... Mami lihat Arthur justru menjadi orang yang berbeda. Jauh berbeda dan lebih bijaksana serta terlihat bahagia."


Inayah tersenyum. Ia menerima pelukan hangat sang mertua. Air matanya menetes mengingat betapa rindunya Ia pada Mia yang bahkan baru seminggu meninggal dunia.


Ucapan Frederica dengan pelafalan bahasa Indonesia yang faseh layaknya orang Indonesia asli membuat Inayah kembali memeluk Frederica erat. Membuat Joko dan Arthur saling berpandangan dan tersenyum senang.


Kedua perempuan itu ternyata cepat akrab. Berbeda dengan Joko yang memang aslinya pendiam.


Semalam Joko dan Arthur berbincang serius di ruang kerjanya Arthur.


Saat itu, Frederica dan Inayah sudah tidur pulas di kamarnya masing-masing setelah acara pengajian tahlilan yang selesai pukul sembilan malam.


"Arthur...!"


"Iya, Pi?"

__ADS_1


"Walau Aku ini adalah Papimu, tapi sejujurnya Aku tidak mengenalmu terlalu dalam. Sedari muda, kamu memilih hal-hal yang diluar perkiraan. Bahkan sampai kini pun, kamu... yang dahulu sangat benci dengan perempuan berhijab yang kamu anggap adalah perempuan munafik. Tapi kini justru, kamu menikahi gadis muda berhijab. Bahkan kamu... masuk kedalam agamanya. Sedangkan dahulu kamu lebih suka perempuan matang yang sudah pernah melahirkan. Kini... istrimu justru berumur sangat muda, 18 tahun. Sungguh Aku tidak bisa menilai isi hatimu."


"Tapi... Aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal. Gadis ini masih sangat polos. Gadis yang muda belia dan... Papi harap, kamu bisa menjaganya. Jangan berbuat hal yang mengecewakan keluarga. Ingat itu, Arthur!" kata Joko lagi.


Arthur mengangguk pelan.


"Aku... bukan Arthur yang dulu lagi, Pi! Banyak pelajaran yang kudapat setelah bertemu Inayah. Betul, Aku dulu benci sekali dengan orang Islam. Terutama perempuannya yang sok suci dengan memakai pakaian panjang dan menutup kepalanya dengan kerudung. Aku benci mereka yang meskipun sudah terlihat seperti seorang biarawati tapi mulutnya nyinyir mengomentari segala hal yang bukan urusannya. Betul. Dulu Aku muak melihat para perempuan muslim yang sok cantik dengan pakaian panjang tapi masih ingin terlihat fashionable. Sok-sokan bilang cinta Muhammad, tapi bertingkah dan mengikuti trendnya kaum kafir. Itu dulu. Sebelum Aku kenal Mak Mia dan putra-putrinya termasuk Inayah. Entah mengapa. Setelah Aku mengenal keluarga itu, aku merasa betapa bodohnya Aku menyamaratakan semua orang Islam sebagai pribadi yang tidak baik. Ternyata tidak. Yang salah, bukan agamanya. Tapi karakter orang. Dan semua orang punya sifat jelek tanpa embel-embel agama. Justru agama menuntun seseorang ke arah yang lebih baik. Dan andaipun orang yang beragama itu tidak bisa membawa dirinya kedalam sifat yang baik, itu bukan salah agamanya. Tapi mungkin itulah tujuan Tuhan menciptakan manusia yang beragam sifat serta karakter. Aku terlalu bodoh dimasa lalu, Papi. Dan Aku sekarang tidak ingin terus jadi orang bodoh yang tidak percaya adanya Tuhan dan semua kebaikan-Nya."


Joko tersenyum.


Ada lega meski sedikit kecewa.


Putranya tidak lagi seiman dengannya. Tapi putranya kini lebih lembut dan bijaksana bahkan dari dirinya sendiri.


Joko senang.


"Asalkan kamu tidak ikut aliran yang keras dan mudah mengkafir-kafirkan orang. Aku turut bangga atas pencapaianmu, Arthur."


"Terima kasih, Papi. Terima kasih, sudah menjadi Papi yang baik meskipun anakmu ini mengecewakan bahkan sampai akhir pun, tetap membuatmu kecewa."


"Kamu tetap anakku, bagaimana pun keadaannya. Kami tetap orang tua kamu, yang melahirkan dan membesarkan. Tetaplah hubungi kami meskipun kalian sibuk. Karena orang tua sejatinya tetap butuh anak sampai akhir hayat kami. Aku ingin mati seperti ibu Mia. Dikelilingi oleh anak dan menantunya. Diberikan penghormatan setinggi-tingginya sebagai orang tua. Didoakan meskipun telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Aku... ingin mati seperti itu!"


Arthur memeluk tubuh Joko.


"Semoga Tuhan Memberkatimu, Arthur!"


"Aamiin ya rabbal'alamiin..."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2