Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 104 Soleh Yang Menderita


__ADS_3

Maafkan Aku, menduakan cintamu


Berat rasa hatiku tinggalkan dirinya


Dan demi waktu, yang bergulir di sampingku


Maafkanlah diriku sepenuh hatimu


Seandainya bila kubisa memilih


^^^Kalau saja waktu itu kutak jumpa dirinya^^^


^^^Mungkin semua takkan seperti ini^^^


^^^Dirimu dan dirinya kini ada di hatiku^^^


^^^Membawa Aku dalam kehancuran^^^


Alunan lagu milik Pasha Ungu lewat pengeras suara yang disetel sang pemilik kafe semakin membuat Soleh merembes air matanya.


Dia memang mampir dulu ke kafe untuk minum kopi agar otaknya yang oleng karena resah memikirkan Amelia bisa kembali sadar seperti dulu kala.


Sungguh ucapan Amelia seolah menarik sel-sel persendiannya.


Betapa jahatnya dirinya pada perempuan berhati malaikat itu hingga terus menerus menyakiti bahkan sampai akhir.


Amelia begitu membencinya. Soleh mengerti sekali perasaan istri pertamanya itu.


Dia dan keluarganya memang jahat.


Manusia-manusia jahat yang telah menghancurkan seorang hamba Allah yang dulunya begitu mencintai dan menghormati dirinya.


Amelia, perempuan sederhana yang Soleh nikahi sebelas tahun yang lalu.


Amelia, jadi pilihan terakhirnya dan ternyata kini Soleh akui yang terbaik.

__ADS_1


Menikah selama sepuluh tahun, berumah tangga dengan segala macam permasalahan yang ada. Mulai dari ekonomi yang cukup jika hanya untuk menghidupi mereka berdua saja. Tapi nyatanya dia sebagai anak paling tua harus memikirkan hidup kedua orang tuanya yang tidak punya penghasilan tetap.


Menjadi anak sulung membuat Soleh pandai mengatur. Termasuk mengatur istrinya agar bisa menyisihkan sebagian gajinya untuk menafkahi Ibu Bapaknya di kampung.


Beruntungnya Ia memiliki istri yang penurut.


Amelia tak hanya sekedar cantik fisik namun juga cantik hati.


Harusnya Soleh mensyukuri nikmat Allah yang diberikan lewat Amelia.


Mereka mengarungi bahtera rumah tangga tanpa banyak kendala dari dalam karena Amel sejatinya adalah perempuan yang mudah diajak kerja sama.


Andaikan saja Ia mengizinkan Amelia bekerja di pabrik ketika mengiba dengan alasan ingin bantu keuangan keluarga, pasti ceritanya tidak akan seperti ini.


Tapi Soleh juga seorang suami pencemburu tingkat tinggi. Amelia selalu baik dan ramah pada siapa saja baik perempuan maupun pria. Dan Soleh tak sanggup membayangkan Amelia yang bersenda gurau dengan teman-temannya berbaur tak peduli lawan jenis atau sesama jenis. Soleh takut hati Amel mendua. Itu alasannya melarang Amelia bekerja.


Tapi justru dirinya lah yang terpincut perempuan lain hanya karena faktor ekonomi dan dorongan kedua orang tuanya.


Harta ternyata tidak selamanya membawa berkah.


Orang-orang berkasak-kusuk menghibah bapak mertuanya yang kini bertingkah laku aneh dan nyeleneh.


Katanya Ojan sering tertawa sendirian, marah-marah sendirian dan kabar angin yang berhembus kencang Soleh dengar, rumah tangga Ojan dengan Samsiah juga sedang bermasalah.


Suara-suara sumbang itu kian santer terdengar dari mulut tetangga kiri kanan yang datang menyampaikan padanya ketika mampir ke bengkel.


Soleh bersyukur, sejak Juriah pulang dari rumah sakit, Ojan belum pernah menjejakkan kakinya lagi ke ruko tempat dia tinggal.


Begitu pula dengan Samsiah.


Tapi kata orang, hampir setiap malam di rumah besar milik mertuanya itu terdengar suara teriakan dan jeritan Samsiah yang menakutkan. Namun tak ada satupun orang yang berani ikut campur urusan rumah tangga mereka.


Semua takut kalau Ojan murka dan keluar sumpah serapahnya. Jadi mereka hanya bisa mendengar dari balik pagar besi yang kokoh menjulang tinggi.


Ojan juga memecat satu persatu pekerja di rumah besarnya meskipun sudah belasan tahun bekerja dengannya dan masih ada hubungan kekeluargaan.

__ADS_1


Ojan benar-benar menggila karena keadaan penyakitnya yang mulai menyerang otak syaraf.


Samsiah adalah pelampiasannya.


Sang istri menjadi bulan-bulanan dan mendapatkan kekerasan fisik juga psikis setiap hari setiap malam.


Tubuh Samsiah habis digigiti Ojan. Dan meninggalkan bekas gigitan yang menyeramkan.


Tubuh mulusnya yang dahulu terawat kini berganti menjadi penuh luka yang menghitam meskipun Samsiah membalurnya dengan handbody sebotol setiap hari.


Soleh merasa dirinya kini sedang menuai hasil dari apa yang Ia tabur.


Pernikahannya dengan Juriah juga ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan. Hanya sesaat, bahkan hanya dalam hitungan bulan, bahagianya berubah menjadi bencana.


Juriah terus mengalami sakit. Bahkan sampai merintih kesakitan ketika Ia melakukan hubungan intim setelah sekian lama puasa.


Soleh tersiksa jasmani dan rohani.


Antara kesal juga tak tega lanjutkan kegiatan malamnya yang dulu begitu indah dan mengasyikkan.


Adiknya sendiri bahkan ikut tergerus oleh pusaran permasalahannya.


Lani resmi menjadi janda dan kabarnya akan menikah lagi dengan seorang duda yang baru lama dikenal.


Sungguh kehidupan yang dramatis.


Rumah besar, tapi kehidupan justru hancur berantakan. Anak meninggal, suami diceraikan. Soleh tak lagi mampu menasehati Lani yang punya pendapat sendiri.


Mariana juga kini selalu curhat ribut dan ribut terus dengan tetangganya yang tak lain adalah orangtuanya Tito, mantan menantunya.


Semua seperti tak terkendali.


Dan puncaknya adalah kesedihan Soleh hari ini yang sampai diayunkan pisau daging oleh jandanya karena bersikukuh ingin menikahinya lagi.


Soleh menangis meratapi nasib.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2