
Obrolan mereka berlanjut. Menjadi semakin hangat dan terasa istimewa bagi Arthur yang baru pertama kali merasakan obrolan santai bersama satu keluarga yang terlihat begitu sederhana namun peduli satu sama lain.
Secangkir kopi panas yang rasanya begitu spesial di lidah Arthur membuatnya lupa kalau saat ini dia tengah melakukan penyelidikan dan interogasi secara diam-diam.
Kisah Amelia dan Lukman dibeberkan mereka tanpa ada penghakiman pada Solehudin, suami pertama Amelia yang kurang baik.
"Berarti ini adalah karma Solehudin, ya? Amelia kini hidup bahagia dengan Lukman, suami barunya. Hm. Bisa saya ambil kesimpulan dalam kisah ini, yang benar akan menang."
"Bukan seperti itu juga, Mas Arthur." Mia menyela, membuat Arthur mengangkat alisnya menunggu argumen Mia selanjutnya.
"Maaf..., dalam hidup itu ada susah ada senang. Ada kesedihan ada juga kebahagiaan. Semua Allah beri silih berganti. Itu namanya ujian. Ujian kehidupan. Dan Allah ingin kita umat-Nya mengambil pelajaran hidup dari setiap ujian yang datang. Akankah berhasil melewati, atau justru memilih pergi dan berharap ujian itu tidak lagi membebani. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengatasi masalahnya. Seperti Solehuddin. Mungkin bagi Soleh, menikah lagi dengan Juriah disaat sudah menikah dengan Amelia adalah yang terbaik. Menurut dia. Dan tidak menurut kita keluarganya Amel. Tapi semua itu, sudah jalan-Nya Tuhan. Emak percaya, jodoh, hidup mati seseorang serta rezekinya sudah ada catatannya masing-masing di lauful Mahfudz."
Arthur menganga tanpa sadar. Ucapan Mia sangatlah bijak. Tapi dia merasa sangat ingin menentangnya karena merasa sesuatu yang salah harus diluruskan.
"Mengapa Tuhan kalian begitu jahat? Mengapa jika kalian adalah orang yang taat beragama, justru masih diuji coba dengan masalah-masalah berat? Bukankah Tuhan kalian suka jika kalian menuruti kehendak-Nya? Tapi kenapa masih terus diuji dan diuji sampai kalian harus merasakan sakit hati, kekecewaan bahkan sampai depresi jika tidak bisa berfikir jernih? Dan apa itu lauful Mahfudz?"
Semuanya termangu mendengar perkataan Arthur.
Rama kian yakin, kalau kedablegan Arthur pasti ada sebab musababnya. Arthur pasti orang yang pernah gagal bahkan kecewa dengan percintaan hingga sikapnya terlihat acuh tak acuh pada hubungan kekeluargaan apalagi hubungan kasih sayang.
"Mas Arthur punya saudara? Adik atau Kakak?"
Arthur menggeleng.
"Tolong jawab pertanyaan saya yang awal!" komentar Arthur tapi langsung dipatahkan Rama dengan jawaban, "Akan saya jawab setelah mas Arthur menjawab pertanyaan saya. Hehehe..."
"Mami Papi saya memutuskan untuk memiliki satu orang anak saja, yaitu Saya. Hehehe..."
"Saya punya tiga orang adik!" ucap Rama membuat Arthur mengeryit.
"Satu lagi?"
"Tia. Saat ini sedang beberes juga di rumah mertuanya. Kami akan pindah semua ke Jakarta termasuk Tia dan Arif, suami serta anaknya."
"Jadi kamu punya adik yang sudah menikah?"
"Ya. Kakaknya Inayah."
"Tolong jawab pertanyaan saya yang awal tentang lauful Mahfudz!" Arthur kembali pada rasa penasarannya.
"Maaf, Mas Arthur seorang Nasrani kah?"
Arthur menghela nafas. Terlihat sekali rasa kesalnya mulai menggeleyut membuat Rama tersenyum dalam hati.
__ADS_1
Pria ini ternyata masih kekanak-kanakan meskipun usianya sudah 34 tahun dan seharusnya sudah matang sempurna soal kehidupan. Gumam batin Rama.
"Orang tua saya Nasrani yang taat. Saya,... saya memilih tidak beragama."
Inayah dan Gaga terkejut. Rama juga Mia sama terkejutnya, tapi bersikap pura-pura tidak terlalu kaget agar Arthur tidak merasa illfeel.
"Tidak beragama? Atheis? Kenapa?" tanya Inayah sontak seakan mendesak.
"Nay?"
"Terus terang Inay bingung sama orang-orang yang berfikiran seperti Mas Arthur ini. Bahkan ada beberapa bias Inay yang juga seperti Mas Arthur!"
"Bias? Apa idol favoritmu? K-Poppers ya?"
"Hehehe... ada lah. Tapi sekarang perlahan mulai saya lepas. Karena toh mereka juga manusia biasa sama seperti saya. Saat ini saya cuma kagum aja. Selepasnya, mendoakan kebaikan untuk para member BTS agar bisa mendapatkan kebahagiaan."
"Hm. Ternyata kamu seorang army ya?"
"Waktu sekolah, Mas. Hehehe..."
"Mbak Inay setiap hari puasa gak jajan biar uangnya bisa beli poster-poster RM." Gaga ikutan nimbrung obrolan.
"Apa itu RM? Ringgit Malaysia?" tanya Rama yang tidak mengikuti perkembangan zaman karena fokus bekerja.
"Aku taunya Kim Jong Un, Presiden Korea Utara."
"Ish, dasar orang tua!"
"La, kamu udah dewasa tapi masih kayak balita!"
Arthur tersenyum lebar. Keributan kecil antara Kakak dan adik. Itu adalah kerinduannya di masa kecil. Ia sangat ingin sekali memiliki adik. Tentu saja tujuannya karena ingin berdebat kusir dan ribut dengan saudara seperti yang Inayah dan Rama lakukan saat ini.
"Sudah, sudah. Koq jadi ribut di depan tamu?!" lerai Mia mengingatkan. Rama dan Inayah tersenyum malu. Arthur tersenyum lebar tak terasa terganggu karena justru interaksi Inayah dengan Rama adalah part yang menyenangkan baginya.
"Tuhan itu Maha Baik, Mas Arthur. Tuhan tidak jahat. Bahkan Tuhan ingin kita hidup dalam keadaan terbaik. Dan coba lihat, betapa banyak kebaikan Tuhan pada kita selama ini. Bisakah kita menghitungnya? Tidak bisa. Karena sedari kita lahir ke dunia ini, Tuhan sudah menyiapkan satu kisah hidup luar biasa untuk setiap insan makhluk ciptaan-Nya. Dan lauful Mahfudz itu adalah lembaran catatan kehidupan kita dengan Allah Ta'ala. Dimana disitulah ada perjanjian Tuhan dengan setiap insan. Semua sudah ada dalam catatan hidupnya. Jodohnya, Rezekinya, bahkan hidup dan matinya telah tercatat disana."
"Berarti, setiap manusia seharusnya tahu waktunya mendapatkan rezeki, waktunya mati, waktunya Tuhan mengirimkan kesedihan. Iya kan? Karena sudah tahu di buku perjanjian itu, bukan?"
"Betul. Tapi bukan untuk menjadi cenayang atau dukun spiritual yang mengetahui dengan pasti karena hanya Tuhan-lah Yang Maha Berkehendak. Tuhan yang memegang buku catatan lauful Mahfudz itu. Dan tugas manusia adalah berbuat baik selama hidup di dunia agar raport lauful Mahfudznya lebih banyak catatan amalnya ketimbang catatan dosa yang dilakukan. Itulah fungsinya kita hidup beragama. Karena agama adalah aturan kebenaran. Dan kita hidup berada dalam jalur kebaikan Tuntunan Tuhan Allah Azza Wajalla."
"Bagi saya, agama hanyalah kedok seorang manusia agar terlihat agamis. Taat perintah Tuhan, tapi sebenarnya hatinya jauh lebih buas dari binatang."
Mia menatap Arthur dengan tatapan kesedihan. Seolah bisa merasakan kalau Arthur sebenarnya adalah orang yang kesepian.
__ADS_1
Inayah dan Rama hanya bisa terdiam. Sementara Gaga mulai tidak suka dengan obrolan yang menurutnya sangat berat dan membuatnya mengantuk.
"Jangan tidur, Ga! Bentar lagi azan Maghrib!" tegur Inayah membuat Gaga menyeringai.
"Kamu tidak percaya Tuhan?" tanya Mia pada Arthur.
Arthur menggeleng.
"Tuhan yang saya sembah justru selalu membuat saya susah. Ketika saya memutuskan untuk tidak menganut agama apapun dan tidak memiliki keyakinan pada Tuhan, saya justru merasa hidup saya sangat enteng. Perjalanan karir melesat, usaha lancar dan tidak ada hambatan bahkan orang tua pun seolah tidak lagi memusingkan sikap saya yang demikian. Nikmat apa itu? Berarti keputusan saya untuk atheis adalah yang terbaik."
Inayah, Rama juga Mia tertegun.
Arthur sangat ringan menceritakan dirinya yang memilih tidak ber-Tuhan. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan mereka yang justru merasa sedih dan ikut prihatin dengan kondisi hati dan jiwa Arthur yang kosong melompong.
"Apa kalian tidak suka dengan kepribadian saya? Tidak ingin berteman lagi hanya karena saya seorang atheis?"
Sontak keempatnya menggeleng.
"Masalah agama adalah masalah pilihan hati. Kami tidak mengkotak-kotakkan seseorang apalagi dari agamanya." Mia segera meralat ucapan Arthur.
"Saya masih suka BTS dan semua karya-karyanya. Masih kagum sama RM meskipun dia atheis. Saya selalu mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang saya sayang walaupun tidak saling mengenal."
"Bagaimana dengan saya?" goda Arthur pada Inayah.
"Tentu saja saya mendoakan Mas Arthur semoga Allah memberikan kebahagiaan dan juga hidayah suatu hari nanti."
"Tidak. Saya tidak mau hidayah. Saya maunya Inayah. Bagaimana?"
Semua melongo. Arthur tertawa terbahak-bahak.
"Maaf, maaf. Candaan saya terlampau garing ya? Hahaha... hahaha..."
"Saya bersedia, asalkan mas Arthur mau masuk Islam, saya mau menikah dengan Mas!"
"Hahh?!?"
Kini Arthur yang melongo dan Inayah justru yang tertawa terbahak-bahak. Diikuti Gaga dan Rama serta Mia.
"Maaf, Nak Arthur. Inayah memang suka sekali bercanda. Jangan diambil hati ya?" kata Mia menyadarkan Arthur dari rasa melayang yang dia hempaskan di jiwa.
Menikah? Aku menikahi gadis polos imut bau kencur ini? Wh_what??? O my God!!!
BERSAMBUNG
__ADS_1