
"Bulan madu ke Bali dan Raja Ampat?"
Amelia sangat terkejut, Lukman mendapatkan sebuah amplop berisi dua tiket pesawat terbang pulang pergi, tiket destinasi perjalanan honeymoon mereka dari para sepupu yang urunan untuk kebahagiaan kedua mempelai.
"Perjalanannya tiga hari lagi."
Lukman tersenyum lebar menatap wajah istrinya.
Semuanya bersorak bahagia.
Fanny merangkul bahu Mia dan mereka tertawa bersama.
"Dua mingguan lagi, Mama sama Emak bakalan bikin projects bareng! Kita akan punya banyak kerjaan. Dan keluarga Amel semua akan hijrah ke Ibukota mengisi rumah yang ada di BNR. Semuanya termasuk Tia dan Arif!"
Amelia membelalakkan matanya.
Mia tersenyum manis. Tia dan Arif juga tertawa sambil menganggukkan kepala.
"Sungguh?"
"Iyaaa!"
Serempak mereka menjawab.
Amelia langsung menubruk tubuh suaminya. Menangis terisak saking bahagianya.
"Ya Allah, terima kasih atas semua kebaikan dan keberkahan-Mu pada keluarga kami. Semoga dua keluargaku ini selalu diberikan kesehatan, umur panjang dan juga rezeki yang halal dan penuh keberkahan oleh-Mu ya Allah Yang Maha Segalanya."
"Aamiin..."
"Keluarga kecil kita? Didoain ga?" bisik Lukman menggoda.
"Tentu saja, Mas! Hehehe..."
"Aduhh! Maakk, Amel nih cubit-cubit Lukman, Mak!"
Sontak semua tertawa. Senang bahagia.
Bimo dan Ibunya ikut tertawa.
"Nenek ikut kita ya?" ajak Amel melihat kepada Neneknya Lukman.
"Masa' nenek diajak bulan madu? Yang ada jadi bulan sabit dong madunya!" timpal Bimo membuat semuanya kembali tertawa.
Amelia tak bisa menahan senyumnya yang selalu menghiasi wajah manisnya beberapa hari ini.
Sungguh tak pernah terlintas kebahagiaan yang seperti ini dalam benaknya.
Mendapatkan suami yang lebih muda, tampan dan baik hati pula. Bahkan seperti mendapatkan jakpot undian berhadiah, anak konglomerat pula.
Benar-benar sangat jauh dari khayalan Amel.
Ia hanya inginkan membangun rumah tangga bahagia. Walaupun sederhana tapi penuh cinta. Meskipun apa adanya namun berlimpah kebahagiaan. Menerima segala kekurangan dan mengisi kelemahan pasangan. Saling menguatkan ketika diterpa angin masalah yang datang. Hanya itu saja yang Amelia inginkan.
__ADS_1
Seorang laki-laki yang bisa melindunginya dengan tulus ikhlas. Mencintainya tanpa syarat. Menyayanginya meskipun punya banyak kelemahan dan kekurangan.
Itu selalu doanya disepanjang akhir lima waktunya.
Tuhan Maha Baik.
Tuhan Maha Mengetahui hati hamba-hamba-Nya.
Amelia bersyukur tak henti-henti.
Seperti beberapa hari ini, Lukman benar-benar menjadi imam sholat subuhnya.
Setelah mereka mandi junub sehabis melakukan kegiatan malamnya, Subuh yang menenangkan hati.
Dan kali ini, lebih menyenangkan lagi karena pukul sembilan pagi pasangan pengantin baru itu akan bertolak ke Pulau Bali seminggu kemudian ke Raja Ampat dengan kapal pesiar mewah.
Selesai sholat Amelia mencium punggung tangan Lukman dan Lukman pun mengecup pucuk kepala Amelia.
Sungguh damai dan tentram rasanya batin mereka.
"Sayang, apa semuanya sudah siap?" tanya Lukman dengan suara lembutnya.
"Siap, Mas! Dua koper sudah prepare tuh!"
"Hanya dua koper?"
"Iya. Koper Mas sama koperku. Memangnya harus bawa berapa koper?"
Lukman tertawa. Bahagia karena Amelia tetap tidak berubah. Masih Amelia yang santai dan sederhana.
Bawa ini lah, bawa itu lah. Alasannya banyak. Katanya ini kostum untuk di sini. Kostum untuk di situ. Dress code untuk di laut, baju couple-an untuk di tempat ini. Untuk kebutuhan foto-foto, dan lain-lain.
Bikin pusing Lukman.
Tapi isterinya, ternyata tidak demikian. Hati Lukman bersorak kegirangan.
"Cuma bawa segini, Mel?"
Mama dan Papanya Lukman terkejut berbarengan.
Lukman tertawa senang dan Amel mengangguk mengiyakan.
"Hanya segini?" tanya Fanny lagi memastikan Amelia.
"Iya, Mi...! Please deh jangan racuni Amel dengan pemikiran Mami!" Lukman mulai komplein dengan Fanny dan Bimo hanya tertawa sembari menarik wajah sang istri.
"Biarkan saja. Mereka sudah punya dunia sendiri. Jangan terlalu mengatur mereka, oke? Apakah kita juga harus ikut bulan madu ke Lombok? Ayo!"
"Beneran ini?"
"Iya beneran. Hotel kita di Lombok sudah selesai pembangunannya. Dan akan launching minggu ini!"
"Huaaaa, Papi kereen!"
Cup
__ADS_1
Merona pipi Fanny. Sang Suami mengecupnya di hadapan anak serta menantunya tanpa malu-malu.
"Kita gak liat koq! Iya kan, Sayang?" goda Lukman pura-pura sibuk memeluk istrinya.
Sontak tawa riang kembali menggema.
Mia dan anak-anak serta menantu dan cucunya telah kembali pulang ke kampung bersama rombongan dua bis dari kampung.
Ia akan bersiap-siap pindah minggu depan ke kota pinggiran Jakarta. Kota hujan, menempati sebuah rumah besar di kompleks perumahan elit Bogor Nirwana Residen. Rumah kosong yang sudah lama Bimo dan Fanny beli.
Daripada kosong tidak ada yang menempati, Fanny merayu Mia untuk tinggal disana. Bersama anak menantu dan cucunya.
Selain mereka bisa bekerja sama membuat usaha bersama, Mia juga bisa memantau Amelia Lukman lebih dekat lagi. Begitu rayu Fanny.
Fanny menyukai pribadi Mia yang lembut dan sederhana. Mereka dengan cepat saling berbagi segala hal dan nyaman karena nyambung satu sama lain. Mereka seperti sahabat lama yang terpisah. Entahlah. Begitulah Tuhan jika sudah punya Kuasa.
Rama dan Arif juga akan bekerja di salah satu perusahaan Bimo.
Tia akan ikut bergabung di usaha Katering Amelia. Inayah juga katanya tertarik untuk ikutan di usaha restoran Lukman dan Amelia disela-sela kuliahnya yang baru akan mendaftar tahun ini di Ibukota.
Gaga juga tak kalah heboh. Ia senang akan jadi anak kota.
Mia tak henti-hentinya memberikan banyak nasehat pada Gaga dan Inayah. Meskipun mereka akan pindah ke kota, Mia ingin anak-anaknya tetap menjaga nama baik keluarga mereka dengan menjaga attitude serta sopan santun di manapun mereka berada. Jangan sampai lupa pada asal diri yang sejatinya adalah orang kampung. Tetap humble dan jangan sombong karena merasa kini naik derajatnya.
Harta hanyalah perhiasan dunia. Titipan sementara yang Allah berikan.
Jika Allah sudah Berkehendak, semua bisa musnah dalam sekejap.
Jika baru saja diuji dengan harta berlimpah lantas sombong, tiba-tiba Allah ambil kembali semua harta itu, wusss... hilang. Tinggal kesombongan kita yang pada akhirnya ditertawakan orang. Diteriaki kalimat, "Kasiaaan deh Lo!" begitu Mia kata.
Gaga dan Inayah bergidik ngeri.
"Naudzubillah ya Mak? Jangan sampai kita seperti itu!"
"Aamiin..."
"Tapi Mak kemarin-kemarin itu cantik lho! Pakai bulu mata palsu, wajah full makeup, ginclong. Manglingi!" sela Inayah membuat Mia tersipu malu.
"Halah, anak ini! Malah bahas itu! Wis lah! Yok mulai berbenah. Minggu besok kita pindahan! Tapi Mak mau ke makam Bapakmu dulu ya? Mau curhat. Hehehe..."
Mia tersenyum.
Seperti itulah kesehariannya.
Sedang susah ataupun sedang bahagia, ia pasti akan selalu menyambangi kuburan Kan'an, suaminya yang telah memberinya lima orang anak yang membuatnya kuat dan semakin kuat.
"Pak... Alhamdulillah, anak sulung kita kini hidupnya sudah bahagia. Suaminya juga baik, sama persis seperti dirimu. Aku tenang sekarang tak terlalu memikirkan nasib Amelia lagi. Masih ada tiga anak yang harus kuurus sampai selesai tugasku di dunia ini, Pak. Rama, Inayah dan Gaga. Semoga Allah senantiasa memberiku kesehatan untuk bisa tuntaskan tugas ini dan kita bisa bersama lagi di tempatnya Allah Ta'ala."
Curhatan sederhana, layaknya suami istri yang berbincang santai sambil menikmati teh atau kopi di sore hari.
"Pak..., maafkan Aku. Bukan bermaksud meninggalkanmu, tapi anak-anak ingin menyongsong masa depan mereka di Ibukota bersama kakak mereka tercinta. Aku, wajib mendampingi mereka. Khawatir mereka salah jalan dan melenceng dari tujuan. Aku sebagai orang tua, wajib memberikan pertolongan dengan petuah-petuah yang menguatkan mereka nantinya. Maaf ya, Pak? Kemungkinan Aku akan jarang menemuimu disini. Kita akan berbincang lewat telepati saja ya? Lewat doa-doa setelah ibadah wajibku. Semoga kamu tenang di alam barzakh sana. Aamiin..."
Doa-doa khusus ziarah kubur serta Al-Fatihah untuk sang suami tercinta tak lupa Mia panjatkan. Juga beberapa makam anggota keluarganya yang lain termasuk bapak dan ibunya, tak lupa Mia bersihkan dan kirimkan doa.
Ia benar-benar telah siap tinggalkan Ibukota. Menyongsong hari esok bahagia.
__ADS_1
BERSAMBUNG