
Inayah gugup sekali. Saat ini Ia sedang berada di gerbang pintu rumahnya Arthur Handoko.
Di tempelkannya kertas karton berisi tulisan huruf kapital di pintu pagar dalamnya,
...SEMANGAT, MAS KU YANG JELEK! SEHAT KEMBALI, AKTIVITAS KEMBALI. AAMIIN... JIAYO, JIAYO!...
Sepertinya rumah Arthur memang tidak dijaga sekuriti, karena sepi sekali.
Inayah pergi melanjutkan aktivitasnya yang akan ngampus dengan sepeda motor maticnya.
Harapannya, semoga operasi Arthur berjalan lancar.
.............
Arthur terkejut ketika Ia hendak membuka pintu pagar rumahnya sendiri.
Saat ini memang Ia sedang tidak memiliki ART. Sehingga harus mengurus keperluannya seorang diri termasuk membuka dan menutup kembali pagar rumah.
Matanya bersinar terang. Senyumnya mengembang indah.
"Inayah! Ini pasti kerjaannya Inayah!" gumamnya dengan tebakan yang jitu.
Arthur langsung menchat Inayah.
...Terima kasih, gadis ingusan imut ku. Saranghayeo....
Ia semakin semangat untuk berangkat ke rumah sakit dan tak lagi ada ketakutan seperti hari-hari kemarin.
...πΏπΏπΏπΏπΏ...
Seperti doa Inayah, operasi berjalan lancar.
Arthur melakukan semuanya tanpa didampingi siapapun termasuk kedua orang tuanya yang sama sekali tidak mengetahuinya.
Arthur yang introvert memang tidak memberitahukan kondisi kesehatannya pada siapapun. Hanya Inayah saja yang tahu karena mereka bertemu di rumah sakit Jakarta ketika Amelia tengah di rawat di rumah sakit yang sama.
Sampai dirinya dipindahkan ke ruangan kamar inap VVIP pun tak ada seorang pun yang menjenguk apalagi menemani. Termasuk para stafnya sendiri.
Dan Arthur sudah terbiasa dengan kesendiriannya. Bahkan sejak siang hari sebelum masuk ruang operasi, ia telah menon-aktifkan handphonenya agar tidak ada yang menghubungi.
Hanya akhir-akhir ini saja dirinya terlihat begitu ingin diperhatikan oleh Inayah, gadis imut yang sering dicapnya masih ingusan itu.
.............
Malam hari, Inayah merasakan kegelisahan yang sama seperti Arthur rasakan kemarin malam.
"Mak..."
"Ya, Nay?"
"Mmm... Inayah boleh jenguk teman yang sedang di rawat di rumah sakit?" tanya Inayah pada Mia setelah berfikir keras.
"Kenapa tidak boleh? Menjenguk teman sakit itu Sunnah hukumnya, Nay. Dilakukan mendapatkan pahala."
"Tapi, Mak..."
"Tapi kenapa?"
"Teman yang beda keyakinan, bagaimana?"
"Ya ampun, anak gadis Emak ini. Apa kamu lupa cerita Bapak tentang persahabatan Nabi Besar Muhammad SAW dengan seorang pendeta? Nabi kita adalah teman yang baik, bahkan dengan orang yang tidak seagama dengannya sekalipun. Apa kamu lupa kisah itu?"
__ADS_1
Inayah tersenyum. Kembali terkenang saat Kan'an, Bapaknya masih ada. Mereka berempat sering sekali bercerita-cerita. Terutama Bapaknya yang memiliki kemampuan bercerita yang luar biasa.
Inayah jadi rindu masa-masa itu.
Dipeluknya erat-erat tubuh Mia yang tersenyum dengan netra berpendar menahan keharuan.
Mia juga sedang merindukan almarhum suaminya itu.
Inayah semakin membuat rasa rindunya kian memblunder membesar.
"Mak mau Isya dulu ya?" kata Mia dengan suara agak bergetar.
"Mak..."
Inayah tahu sekali perasaan Emaknya itu. Ia kembali memeluk Mia. Keduanya terisak dalam diam.
Tak lama kemudian Mia melepas rangkulannya dan mengusap air mata di pipi Inayah.
"Jenguklah temanmu! Dia pasti senang sekali melihat kamu peduli padanya. Teman lelaki atau perempuan?" tanya Mia membuat Inayah tergagap.
"Le_lelaki."
Bola mata Mia membulat. Senyumnya mengembang.
"Teman dekat?"
"Di_dia Mas Arthur, Mak!"
Inayah menunduk. Takut sekali kalau Mia marah karena dirinya yang selama ini menyembunyikan hubungan pertemanan dengan Arthur.
Inayah mengusap kedua belah pipi Inayah.
"Mas Arthur operasi pengangkatan batu ginjal tadi sore. Dia... dioperasi di rumah sakit yang sama tempat Mbak Yu' dirawat waktu itu, Mak! Inayah juga ketemu dia waktu jenguk Mbak Yu'. Kami... membuka komunikasi lagi. Maaf..., Mak! Tapi sumpah demi Allah, Inayah tidak intens komunikasi dengannya. Cuma... semalam dia chat Inay. Inay kasih balasan semangat. Ini, ini chattannya kalau Mak tak percaya."
Inayah menyodorkan hapenya setelah berhasil membuka sandinya dan memasuki ranah WhatsApp nya.
Mia terkekeh.
Dikecupnya pipi putri pengais bungsunya itu.
"Terima kasih, telah menjaga kepercayaan Mak! Emak percaya Inayah! Hehehe..."
"Dia... kasihan, Mak! Dia... operasi sendirian. Sepertinya memang tidak menceritakan keadaan dirinya yang sedang sakit penyumbatan. Inay, Inay cuma... merasa kasihan. Dia sangat kesepian dan juga hidupnya terlihat hampa, Mak! Hik hik hiks... maaf, Mak! Inay menyembunyikan pertemanan kami selama beberapa hari ini. Hik hiks hiks..."
Inayah menangis.
Mia semakin gemas melihat kecemasan yang Inayah rasakan.
"Jenguklah dia! Kasih dia support! Asalkan jangan berlebihan! Jangan terlalu akrab juga berteman. Apalagi dia orang dewasa. Pergaulannya lebih luas darimu, Nak! Dia baik. Dia menghargai kita karena kita menghargai dia. Rama juga sempat cerita banyak sama Mak tentang dia yang senang bersilaturahmi dengan keluarga kita."
"Mak, hik hik hiks... makasih Mak!"
Inayah memeluk tubuh Mia. Terisak semakin keras membuat Gaga jadi keluar kamar mendengar suara ribut-ribut.
"Mbak Inay? Kenapa?" tanya Gaga.
Anak itu sudah besar. Dia sudah bisa menebak dan melihat segalanya dengan mata dan hatinya juga.
"Ada yang jahatin Mbak Inay, Mak? Siapa? Siapa orangnya? Biar jadi urusan Gaga!"
Mia tersenyum. Diraihnya genggaman tangan Gaga yang mengepal.
__ADS_1
Dalam hati Mia bangga dan bahagia. Putra-putrinya memiliki rasa empati yang tinggi pada saudara-saudaranya.
"Tidak apa-apa. Mbak Inay cuma lagi curhat sama Emak! Hehehe..."
"Kenapa, Mbak? Ada yang nolak cintanya Mbak ya?"
"Haish... kamu ini, Ga!" seru Inayah dengan cepat mengusap air matanya. Malu diledek Gaga yang sebenarnya perhatian sekali padanya.
"Mbak lagi jatuh cinta?" goda Gaga.
"Gaga!!! Mak, Gaga nih Mak, jahilnya kumat!" rengek Inayah membuat Mia tertawa.
"Jatuh cinta pun tak apa, Nay. Normal koq. Asalkan jatuh cintanya lihat-lihat dulu ya, Nduk!" seloroh Mia semakin membuat Inayah belingsatan dan lari, kabur masuk kamar.
Hatinya deg-degan.
Jantungnya berdebar tak karuan.
Jatuh cinta? Jatuh cinta sama Mas Arthur? Ya Allah gustiii...
Netra Inayah meredup mengingat ucapan Mia barusan.
Jatuh cinta tidak apa-apa. Normal. Asalkan jatuh cintanya lihat-lihat dulu ya, Nduk!
Berarti..., kalau Aku jatuh cinta sama Mas Arthur, Aku asal lihat! Harusnya Aku pikir-pikir masak-masak! Begitu maksudnya Mak, kan? Secara, dia bahkan jauh lebih tua dari mas Lukman. Bahkan juga lebih tua dari Yu' Amelia. Ya Allah... tolong hapus rasa cinta di hatiku jika itu benar, ya Allah!
Tanpa sadar, ada bulir-bulir bening jatuh di kedua belah pipi Inayah.
Sedih rasa hatinya. Tapi Ia tak bisa berbuat apa-apa.
.............
Keesokan harinya.
"Jadi Nay jenguk Mas Arthur?" tanya Mia sebelum berangkat ke Ibukota bekerja di restoran Amelia dan juga urusan bisnisnya dengan Fanny Sang Besan.
Inayah diam tak langsung menjawab.
"Kenapa?" tanya Mia lagi.
"Entah, Mak!"
"Jenguklah! Temani beberapa jam, tak apa. Hari ini ga ada kelas kan? Setelah jenguk Arthur, mampir ke resto Mbak Yu'-mu. Tolong belikan buah naga sama pisang Ambon juga sebelum ke resto. Ya?"
"Mak..."
"Kenapa?"
"Inayah di rumah aja."
"Kenapa? Apa kamu merasa gak enak sama Emak?"
Inayah menggeleng.
"Hapenya juga gak aktif dari semalam. Mungkinkah..."
"Apa kita jenguk berdua?"
Keduanya saling bertatapan.
BERSAMBUNG
__ADS_1