Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 25 Racun Soleh Mulai Ditebar


__ADS_3

Setelah sempat sedikit perdebatan kesalahpahaman saja, Juriah dan Soleh izin masuk kamar pada Samsiah untuk menunaikan sholat Maghrib karena azan sudah berkumandang di masjid.


Soleh terkesima, Juriah mengurusnya nyaris sama seperti Amelia.


Sepotong sarung, Koko dan juga kopiah serta sajadah kecil telah tersedia di atas ranjang tidur setelah Soleh membersihkan diri di kamar mandi.


Senang sekali hatinya, memiliki istri lain yang ternyata pandai mengurus semua keperluan dirinya.


"Sayang?" panggil Soleh pada Juriah yang sedang memakai mukena dan berkaca di cermin meja rias.


Juriah yang bergetar hatinya dipanggil sayang oleh Soleh seketika menoleh.


"Iya Mas?"


"Aku... sholat di masjid ya?"


"Mmmh... seandainya Aku minta mas sholat di sini dan jadi imanku, mmmh boleh kah?"


Soleh melongo.


Sholatnya selama ini bolong-bolong. Bahkan nyaris lebih sering tidak sholat karena imannya yang labil dan suka naik turun.


Jadi Ia khawatir kalau bacaan sholatnya ada yang salah.


Tidak seperti Amelia yang memang insan pribadi yang taat beribadah.


"Mmm, bukan tak boleh,... tapi, ilmuku cuma seujung kuku, Ju!".


"Mari kita belajar bersama."


Ajakan yang istimewa. Membuat Soleh mengangguk dan melangkah mendekat kepada Juriah. Tak jadi sholat Maghrib di masjid.


Keduanya sholat berjamaah.


Soleh sebagai imam dan Juriah jadi makmumnya.


Dua hati yang berbeda pemikiran menjadi satu tujuan. Tujuan untuk kebahagiaan.


Soleh dengan harapan bahagia dan memohon Juriah membuka pintu hati untuknya sehingga tercapai semua cita-cita. Cita-cita yang membuat dirinya tidak lagi berat memikirkan masalah ekonomi, keuangan dan tekanan keluarga perihal keturunan.


Sedangkan Juriah berdoa dengan penuh kekhusu'an , bahagia karena akhirnya telah Allah kirimkan seorang pria pendamping yang bisa Ia jadikan imam dalam hidup. Juriah telah berjanji, akan merubah dirinya menjadi lebih baik lagi. Terutama dalam melayani sang suami nanti.


Ditempat yang berbeda, Amelia juga memohon dengan hati tulus ikhlas untuk kebahagiaan sang suami tercinta. Berharap Allah memberikan mereka kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi segala ujian kehidupan.


Amelia berharap, waktu segera berjalan cepat. Sehingga tiga tahun yang Soleh janjikan tiba dengan dirinya yang menjadi pemenang.

__ADS_1


Entah hanya Allah Yang Maha Tahu karena Allah Maha Pengatur Kehidupan semua umat-Nya. Dia Maha Melihat kedalaman hati setiap insan mana yang salah dan mana yang benar.


Ketiga insan manusia yang saling bertautan satu sama lain hidupnya meminta pertolongan Allah Ta'ala, namun entah bagaimana kisah hidup ketiganya, Allah lah penentunya. Baik buruk, takdir qodo dan qodar, Allah Yang Maha Kuasa.


..............


Juriah mematut dirinya di cermin meja rias kamar.


Soleh sedang berbincang-bincang dengan Ojan, Abinya di ruang tamu.


Sesekali Juriah tersenyum manis mengingat keningnya yang dikecup Soleh usai Ia mencium punggung tangan Sang Suami setelah selesai tunaikan ibadah sholat Maghrib.


Sesekali kepalan tangannya bergoyang di udara karena senang.


Baru tersadar dan merah merona wajah Juriah mengetahui kalau Soleh sedang memperhatikannya setelah membuka pelan pintu kamar.


Juriah yang malu-malu langsung menutup wajahnya.


Soleh tertawa kecil. Senang hatinya melihat Juriah yang semakin sumringah aura wajahnya.


Soleh menutup pintu kamar dan berjalan perlahan ke arah Juriah yang masih duduk di kursi depan meja rias.


"Hehehe..., Nona cantik mau kemana?" godanya dengan hati-hati.


"Ish, malah di ledek!" tukas Juriah sedikit keluarkan jurus manja.


Soleh duduk di tepi ranjang dengan wajah menghadap Juriah.


"Istri cantik, harus disayang!" gumamnya sembari menyorongkan tubuh ke arah Juriah dan...


Cup.


Bibirnya mengecup pucuk kepala Juriah dengan lembut.


Hampir meledak hati Juriah yang penuh bunga-bunga.


Tingkah Soleh yang manis dan perhatian membuat Juriah terdiam dengan lamunan tinggi melayang.


Soleh hanya mengecup keningnya, lalu berbaring pelan dan terlentang dengan mata terpejam.


Sepertinya sedang merasakan kepenatan karena seharian pergi keluar.


Pagi mengantar Amelia, sorenya membawa Juriah. Sehingga Juriah menjadi kasihan melihat suaminya yang nampak kelelahan.


Tangannya memegang kaki bagian bawah Soleh. Tetapi Soleh justru kaget dan terbangun segera ketika sadar ada sentuhan lembut pijatan seseorang yang ternyata adalah pijatan tangan Juriah di betis kaki kanannya.

__ADS_1


"Sayang?!?"


Juriah tersipu dengan wajah menunduk, namun tidak menghentikan pelayanannya pada Soleh.


Terang saja hati Soleh semakin melambung tinggi rasa bahagianya.


Soleh bangun dari rebahannya dan duduk sambil meraih jemari Juriah.


"Tangan halus ini sedang apa?" tanyanya menggoda.


"Sedang memijat kaki suaminya." Jawaban Juriah yang pelan namun terdengar jelas di telinga membuat Soleh menyeringai.


"Aih, istri yang sangat baik!" pujinya membuat Juriah makin merona wajahnya.


"Apa... selama ini, Mbak Amel jarang memijat kaki Mas Soleh?" tanya Juriah ingin tahu.


Soleh nyaris tersedak air ludah sendiri ketika Ia langsung menjawab, "Jarang!"


Hatinya mengakui kebohongan mulai jadi jalan ninjanya untuk bisa menggapai Juriah.


"Mbak Amel kan tidak bekerja? Kenapa?..."


"Amel tidak bisa memijat!"


Lagi-lagi Soleh merasakan debaran jantungnya berdegup kencang. Ia kembali berbohong, bahkan mulai jahat karena menjelek-jelekkan istri pertamanya, Amelia.


Padahal, Amelia juga selalu mengurusnya dengan benar.


Soal pelayanan, Amelia istri luar biasa baginya selama ini.


Selesai sholat Maghrib Amelia selalu sediakan segelas kopi capuccino kesukaan Soleh. Bahkan kadang berikut cemilannya jika uang belanja masih ada lebih.


Khusus Soleh, Amelia selalu lakukan yang terbaik.


Tapi mengapa kini Soleh justru seolah sedang menceritakan kebalikannya.


Soleh pun menyadari kekeliruannya dalam hati. Namun...


Amelia Sayang! Maafkan aku. Maaf telah berkata bohong tentang dirimu. Ini semua kulakukan demi masa depan kita. Demi untuk kebahagiaan kita nantinya setelah tiga tahun berlalu. Kumohon maafkanlah aku!


Soleh mulai menyimpang.


Terus lanjutkan cerita palsunya demi untuk menarik perhatian Juriah yang kian menatap wajahnya dengan penuh rasa iba.


Kasian sekali kamu, Mas! Ternyata... seperti itu kelakuan istrimu. Kukira kedua orang tuamu melebih-lebihkan cerita. Tapi rupanya..., sifat Mbak Amel memang sedikit bermasalah.

__ADS_1


Juriah pun mulai berfikir buruk tentang Amelia, madu suaminya.


BERSAMBUNG


__ADS_2