
Alam seperti merestui.
Hujan gerimis mengguyur Bumi.
Inayah pecah keperawanan dengan bercak merah di atas sprei ranjang tidur mereka.
Desah dan deru nafas yang turun naik, ritmenya sungguh tidak beraturan, dicampur aroma keringat tubuh keduanya yang bercucuran namun tersenyum malu-malu, bahagia.
Inayah menutup wajahnya. Malu mengingat pekiknya yang tiba-tiba meninggi ketika sesuatu barang berharga Arthur menembus pintu vag+++nya.
Arthur tertawa kecil. Ia mengecup wajah Inayah, lagi dan lagi. Gemas sekali sampai-sampai ingin menggigit dan mengem++nya.
Semua itu adalah hal baru bagi Inayah, namun juga sudah lama tak Arthur rasa.
Arthur tersenyum kecut dalam hati.
Inayah baginya adalah anugerah. Tapi kemungkinan besar Arthur bagi Inayah bagaikan musibah.
Gadis yang baru beranjak dewasa, masih polos, suci dan lugu bisa menikah dengannya yang seorang Don Yuan dimasa lalu. Sungguh kebahagiaan yang tak terhingga baginya.
Bahkan jika dibandingkan dengan tabungannya yang jumlahnya milyaran, Inayah adalah hartanya yang tak ternilai.
Inayah bagaikan permen inex yang menjadi doping obat semangat Arthur. Terlupakan semua kesedihan hidupnya di masa lalu.
Inayah menjadi candu baru bagi Arthur.
Kekuatan serta kegandrungannya akan hasrat bir+hi yang selama ini Ia pendam, seolah terlepas tutup botolnya.
Tekanan maha dahsyat, membuatnya ingin lagi menggauli Inayah yang sudah terkulai lemas banjir peluh keringat namun tersenyum lebar dengan wajah merona merah jambu malu-malu.
"Mass..., agak perih..." bisik Inayah pelan membuat Arthur tersadar.
Hujan telah berhenti. Sayup-sayup terdengar suara lantunan orang mengaji lewat pengeras suara masjid. Pertanda azan Maghrib sebentar lagi akan berkumandang.
Arthur menciumi wajah Inayah. Memeluknya dan mengucapkan kata maaf dan terima kasih.
Inayah semakin memerah malu-malu kucing.
"Aku mandi duluan ya? Mandi junub dulu!" bisik Arthur membuat Inayah tertawa kecil.
"Mas tahu juga mandi junub? Bacaan doanya?" goda Inayah membuat Arthur tersipu.
Belum tahu kamu ya, kalo itu bacaan paling Wahid yang wajib aku hafal sebelum hafalan surat-surat Qur'an pendek hehehe...
Arthur terkekeh dalam hati.
"Kan Syekh Ramdani yang tatar. Hehehe..."
Cup
Arthur mencuri kecup dahi Inayah. Lalu berlari melesat masuk kamar mandi.
Inayah menyeringai lebar.
Hatinya dipenuhi bunga-bunga cinta yang bermekaran. Bahkan kelopaknya beterbangan, memenuhi ruang hatinya yang hangat oleh api asmara.
"Ssshh..."
Inayah sedikit berdesis.
Bagian pangkal paha atasnya agak ngilu. Alat vitalnya terasa nyeri.
Perlahan Inayah bangkit dari tempat tidur dan berjalan dengan langkah kaki diseret.
Duuhh... ternyata bercinta itu lumayan bikin sakit juga ya?! Desisnya dalam hati.
Inayah menjilat bibir bawahnya.
Ada rasa senang, bahagia meskipun sedikit menderita menahan perih di bagian sensitifnya.
"Gimana Aku mau mandi junub kalo kayak gini? Duuhh..." gumamnya pelan.
Inayah sama sekali tidak faham urusan beginian. Padahal dalam hal darurat, sholat Maghrib bisa di jamak takhir di waktu Isya.
(Tata Cara Sholat Jamak Takhir Maghrib Isya
Setelah membaca niat jamak takhir maghrib isya, langsung saja melaksanakan sholat maghirb di waktu isya sebanyak tiga rakaat. Setelah salam, langsung dilanjutkan dengan melaksanakan sholat isya. Namun sebelum itu membaca niat terlebih dahulu.22 Apr 2023
https://www.liputan6.com › Hot)
Dengan langkah tertatih, Ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di luar kamar karena Arthur masih menggunakan kamar mandi yang ada di ruang tidur utama.
Ia mandi besar terlebih dahulu. Bersyukur keadaan tubuhnya lebih segar setelah mandi. Kemudian Inayah lanjut sholat Maghrib di belakang sang suami yang sudah lebih dahulu siap untuk sholat.
__ADS_1
"Sayang..."
Cup cup cup.
Arthur dan Inayah tertawa berbarengan.
Dunia begitu indah di mata mereka hingga tiba-tiba terdengar,
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Suara bel rumah berbunyi tiga kali.
"Ada tamu. Aku bukain pintu dulu ya, Mas?!"
Arthur tersenyum mengangguk.
Inayah bergegas turun kelantai dasar untuk membuka pintu rumah mereka.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh, Yang!" seru Arthur membuat Inayah tertawa.
Inayah bahagia, sang suami mengkhawatirkan dirinya.
Memang agak ngilu kalau aku lari-lari. Hehehe... Kata hati Inayah.
"Permisi... Arthur Handokonya ada?"
Seorang perempuan cantik menggendong anak laki-laki yang tertidur di pelukannya menyapa Inayah.
"Oh, iya, ada. Silakan masuk, Mbak! Silahkan duduk. Saya panggilkan suami saya dulu ya?".
Perempuan itu adalah Bianca.
Arthur ternyata sudah turun tanpa harus Inayah naik ke lantai atas memberitahukan.
"Ada tamu, Mas! Perempuan!"
Dada Arthur berdesir kencang.
Ia melihat seraut wajah cantik yang tak asing.
Bianca menaruh Arthur Pangestu di sofa ruang tamu rumah Arthur Handoko.
Tentu saja Arthur dibuat tegang oleh kedatangan Bianca.
Padahal Arthur baru saja mereguk manisnya madu Inayah dan sesaat terlupa kalau Ia baru saja bertemu Bianca dengan kabar terbarunya yang mengguncang jiwa Arthur soal putra yang konon katanya adalah darah dagingnya itu.
Arthur menatap wajah Arthur kecil tanpa berkedip.
Wajah anak itu manis. Sedikit mirip dirinya memang. Tapi Arthur tak yakin kalau bocah itu benar-benar murni anaknya.
Terlebih Bianca ketika berhubungan dengannya masih berstatus istri dari Roger Simons, tentara Amerika yang sedang bertugas di perbatasan Palestina.
"Inayah..."
"Ya, Mas?"
"Bolehkah Aku minta waktu untuk berbicara berdua saja dengan Bianca?"
Inayah menatap wajah Arthur yang terlihat tegas dan tegang.
Inayah mengangguk.
"Tapi Aku buatkan dulu minum, ya?"
"Ga perlu. Biar Aku yang akan ambilkan minum buat Bianca, Sayang!"
Bianca menelan ludahnya.
Sesak rasa di dada mendengar sendiri bagaimana manisnya Arthur memperlakukan istrinya yang masih begitu muda belia itu.
Inayah mengangguk hormat pada Bianca. Lalu bergegas menaiki anak tangga.
Tinggalkan Arthur berduaan dengan Bianca ditemani bocah laki-laki tampan yang tengah tertidur pulas di atas sofa ruang tamu rumah Arthur.
Siapa perempuan cantik itu ya? Seperti artis. Cantik sekali. Apakah dia artis yang ikut bermain di film terbaru besutan Mas Arthur? Apakah proyek film mereka sedang ada masalah? Ya Allah... semoga Suamiku selalu dalam lindungan-Mu ya Allah!
Inayah masuk kamar dan mengunci pintu.
Suara obrolan Arthur dengan Bianca tentu saja tak bisa Ia dengar meskipun memasang kupingnya baik-baik.
__ADS_1
Toh Inayah juga tidak menaruh curiga karena dia begitu percaya Arthur yang tidak akan pernah berbuat hal-hal yang tak senonoh dengan perempuan lain. Terlebih di rumah ini.
Inayah tersenyum malu-malu, mengingat pergumulan panas mereka sore hari tadi.
Tanpa sadar Inayah meraba bagian dadanya. Mengusap lembut mengingat cara Arthur memainkan gunung kembarnya yang tak pernah disentuh orang. Tapi barusan jadi mainan yang mengasyikkan bagi Arthur dan juga Inayah sebagai pemilik asli.
Masih terasa ngilu dan nyeri. Tapi nikmat hingga Inayah merem melek merasakan itu untuk pertama kali.
Sulit dijabarkan dengan kata-kata. Betapa sore itu dirinya seolah menjadi seorang perempuan yang begitu bahagia memancarkan syahw+t bir+++nya yang sens+++ untuk menyenangkan hati Arthur, suaminya.
"Ahhh... ya Allah! Duuhh, koq otakku jadi mesum gini sih?! Ish!"
Inayah mengibas-ngibaskan tangannya malu sendiri.
Tak peduli di lantai bawah rumah Arthur justru aura suram terpancar jelas di wajah Arthur dan Bianca.
"Sampai hati kamu mendatangi kediamanku demi untuk menghancurkan kebahagiaanku yang baru seumur jagung!" tuduh Arthur langsung to the point.
"Kamu salah, Archie!"
"Aku sudah menemukan jati diri ku yang selama ini tak kudapatkan. Kumohon, hubungan kita sudah lama usai, Bianca! Kita sudah lama tidak ada ikatan. Jangan merusak hidupku demi untuk kebahagiaanmu sendiri."
"Aku tidak bermaksud merusak kebahagiaanmu! Sungguh! Andaikan itu benar, sudah kulakukan jauh-jauh hari disaat nama baikmu masih harum dulu."
"Lalu? Maksudnya ini apa?"
"Aku... ingin menitipkan putraku pada kalian!"
"Apa???"
Arthur meradang.
"Ck! Dimana otakmu, Bianca? Dimana akal sehatmu?"
"Arthur adalah anakmu. Pada siapa lagi aku titipkan dia selain padamu. Kedua orang tuaku sudah tiada. Dan aku juga menderita leukemia akut yang kemungkinan besar akan pergi tinggalkan dunia ini dalam waktu dekat. Aku tak ingin anakku terlunta-lunta."
"Putrimu, Shannon? Bukankah kamu bisa tinggalkan anak ini pada keluarganya Roger Simons?"
"Shannon memang ikut adiknya Roger. Tapi Arthur, sudah selayaknya diurus oleh Papa kandungnya sendiri."
"Gila!!!"
"Aku memang sudah gila!"
Arthur menjenggut rambutnya sendiri.
Ia nyaris depresi melihat tingkah Bianca kini.
"Pergilah, dan bawa putramu dari sini. Sebelum Aku berubah menjadi pria kasar padamu!" tukas Arthur emosi.
"Aku tak akan pergi sebelum hatiku tenang, Arthur!"
Arthur tertegun. Ini pertama kalinya Bianca memanggil namanya dengan nama asli.
Sedari kecil, Bianca selalu memanggilnya dengan nama "Archie", nama yang Neneknya berikan sebagai nama kesayangan.
Arthur sangat menyukai minuman limun. Itu karena Bianca pecinta limun. Mereka seringkali menghasilkan hari bersama dengan balapan minum limun siapa yang terkuat dan dia mendapatkan benefit jajan gratis dari yang kalah.
Begitu hampir setiap hari. Sehingga lama-lama kadang gula dalam minuman limun mengendap di kandung kemih Arthur hingga akhirnya harus menerima takdir divonis infeksi saluran kemih sejak masih dini.
"Aku... divonis sulit memiliki keturunan karena kualitas sperm+ku buruk. Kau kan tahu sendiri, aku pengidap infeksi saluran kemih langka yang harus masuk ruang operasi setiap lima tahun sekali. Jadi, jangan mengarang cerita kalau bocah ini adalah anakku hanya karena berwajah agak mirip denganku, Bianca!"
"Aku berani bersumpah, ucapanku mengandung kebenaran seratus persen! Arthur adalah anakmu. Karena selama kita berpacaran kala itu, Aku hanya tidur denganmu seorang saja. Bahkan Simons setahun lebih tidak menjamahku karena sedang ada dinas luar negeri."
"Lantas mengapa sekarang baru kau datang padaku? Bukan disaat kau hamil? Kau malah memutuskan hubungan kita dan bilang tidak jadi bercerai dengan Roger Simons demi untuk pertumbuhan mental Shannon putrimu semata wayang. Kau ingat pilihanmu lima tahun yang lalu, Bianca? Dan Aku... meski terluka karena lagi-lagi aku kena PHP kamu, tapi ikhlas menerima nasib buruk ini."
"Maaf... Maaf, Archie!"
"Tiada maaf bagimu!"
"Arthur adalah anakmu! Masalah dokter memvonis sperm+mu berkualitas buruk, tapi jika Tuhan ternyata memberimu mukjizat, bukankah seharusnya kamu senang?"
Arthur melotot kesal menatap Bianca.
"Perempuan gila! Bisa-bisanya kau berfikir se-enjoy itu dan mengobrak-abrik harga diri serta kebahagiaanku saat ini! Keluar! Pergilah dari rumah ini dan jangan pernah datang lagi!!!"
Emosi Arthur meninggi.
Suaranya lantang menghardik Bianca hingga Arthur kecil tersentak kaget dan menangis keras sekali.
Suasana rumah Arthur di malam pukul setengah tujuh seketika ramai menggema tangisan bocah.
"Kamu tega mengusir kami?"
__ADS_1
"Kau sendiri, kau adalah ratu tega selama ini! Pergi! Pergilah, Bianca! Jangan pernah temui Aku lagi!!!"
BERSAMBUNG