
"Apa??? Umi meninggal dunia tertabrak kereta api di kota Cikarang???"
Juriah berteriak histeris mendapati kabar dari Ojan via ponselnya. Air matanya menetes lagi.
Juriah sedang ranap, rawat inap di rumah sakit yang sudah seperti rumah kedua baginya.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari sosok Suami yang mengurus administrasi dari tadi tapi tak kunjung datang.
Handphone yang Ia taruh barusan setelah Abinya menutup sambungan telepon.
Nama 'Suami Tercinta' jadi tujuannya.
Tuuut tuuut tuuut
Ponsel Soleh berdering tapi tak diangkat.
"Kemana lagi sih, Bang Soleh? Masa' suara ponsel ga kedengaran juga!?"
Padahal di tempat yang berbeda, Soleh sedang duduk melamun di ruang terbuka pelataran parkir rumah sakit sambil menghisap rokok kreteknya. Dan men-silent ponselnya hingga tak terdengar meskipun Juriah berulang kali menelponnya.
Soleh merenungkan nasib dirinya.
Kebahagiaan yang Ia cari ternyata hanya sekejap saja dinikmatinya. Bahkan tidak sampai setahun, hanya lima bulan saja. Lima bulan berikutnya adalah kesedihan dan kesedihan yang Ia dapatkan.
Kepergian orang-orang tersayang. Mulai dari Bapaknya, lalu keponakannya juga. Bahkan kabar berita yang tak kalah menghebohkan, yaitu perselingkuhan yang Tito adik iparnya lakukan dengan Uminya Juriah. Membuat Soleh oleng tak percaya pada kenyataannya.
Kehidupan rumah tangga Soleh dengan Juriah juga tak semanis di awal pernikahan.
Penyakit terus-terusan menggempur Juriah bahkan terakhir ia dengar hasil perkiraan diagnosa dokter, Juriah terkena kanker serviks.
Membuat Soleh kian oleng ingin lambaikan tangan berhenti di tengah jalan.
Hubungan percintaan mereka baru seumur jagung merasakan bahagia. Tapi kenapa Tuhan seolah tidak rela jika Soleh hidup aman tenteram dan bahagia.
Soleh hanya bisa merunut setiap musibah dan mengaitkan sebab musababnya.
Dan perlahan pintu hatinya kembali terbuka kalau memang dirinyalah biang kerok semua ini.
Dia sadar kalau dirinya tidak punya keteguhan dan pendirian.
Mudah terhasut omongan orang tuanya yang tidak seratus persen bagus dan wajib Ia turuti.
Fitra dan Jamal juga semakin menjauh dari keluarga. Mereka saudara kandung tetapi seperti orang lain yang tidak kenal satu sama lain.
Itu karena dua adik laki-lakinya itu malu dengan semua tindakan Soleh juga kedua orang tuanya yang cukup memalukan dan seringkali jadi omongan mertua serta istri-istri mereka.
Kini Soleh benar-benar seperti seorang diri mengatasi beban hidup yang harus ditanggungnya mau tidak mau.
Sebatang rokok telah tersisa puntungnya. Soleh kembali menyulut api dari koreknya dan melanjutkan batang rokok kedua. Hingga tanpa sadar ponselnya terjatuh ketika Ia mengambil korek.
Soleh menghela nafas.
Terlihat ponselnya berdering.
Istrinya menelpon sampai lima puluhan kali.
__ADS_1
Klik.
"Hallo? Iya, ada apa?" tanyanya dingin sekali.
...[Mas..., mas coba ke rumah Abi! Umi meninggal dunia, ketabrak kereta api di kota Cikarang perbatasan Bekasi!]...
"Hah?"
...[Tengok Abi, Mas! Tolong tengok Abi ku! Hik hik hiks...]...
"I_iya. Aku akan langsung kesana sekarang juga!"
Soleh mematikan ujung rokoknya yang menyala. Lalu bergegas beranjak pergi ke luar parkiran mencari ojek online.
Soleh memang datang ke rumah sakit dengan menggunakan mobil ambulans yang mengangkut Juriah.
Dengan gerak cepat, Ia berhasil mendapatkan ojek dan langsung meluncur ke kediaman mertuanya.
Suasana rumah besar yang dikurung pagar beton dan besi tinggi itu tampak sepi.
Tidak ada tanda-tanda kalau si penghuni rumah sedang bersiap-siap menyambut kepulangan jenazah salah satu pemiliknya.
"Abi?!?"
Soleh terkejut. Tubuh Ojan tertelungkup di atas lantai. Matanya yang tinggal satu terlihat sembab. Mungkin seharian menangis sehingga tampak terlihat lebih menakutkan dari biasanya.
Tubuh tuanya terlihat ringkih dan lebih rapuh dari usianya yang sudah 60 tahun itu.
Soleh langsung membantu tubuh Ojan bangun dan mendudukkannya di kursi sofa besar.
Tiba-tiba Ojan justru mengamuk dan bertingkah anarkis sambil memukul-mukul tubuh Soleh yang terus mundur menghindar.
"Siapa kamu? Mau apa kau? Mau mencuri? Hah? Dasar pria miskin! Pergi! Keluar dari rumahku!" hardiknya membuat Soleh menghela nafas kesal.
Ingin rasanya Ia membalas pukul Ojan hingga terkapar pingsan.
Pria tua yang amat menyebalkan.
Kini sepertinya terdeteksi hilang kewarasannya.
Kasihan.
Soleh mencoba memberikan pengertian.
"Abi! Ini Aku, Solehudin, suami Juriah! Abi dengar! Apa benar Umi meninggal dunia tertabrak kereta api di Cikarang?"
"Ya. Betul. Kau urus saja mayatnya. Jangan dibawa ke rumah ini, tapi larung saja ke laut biar jadi santapan ikan!"
Soleh menelan ludahnya sambil mengelus dada.
Ia mulai faham kalau kelakuan sang istri telah Ia ketahui hingga menjadi kesal bukan kepalang.
Andaikan Soleh jadi Ojan, ia pun akan melakukan hal yang sama. Masa bodoh dengan pasangan yang selingkuh apalagi jika selingkuhnya sengaja dengan orang yang dikenalnya juga. Bahkan usianya jauh lebih muda dari dirinya.
Perempuan macam begitu memang jangan dikasihani! Umpat Soleh dalam hati.
__ADS_1
Bodohnya Ia tak sadar kalau dirinya sendiri adalah pria yang paling menyebalkan dengan tingkat kesombongan tinggi karena merasa ada perempuan lain yang bisa Ia dapatkan selain Amelia, istri pertamanya.
"Abi, siapa yang mengabari kalau Umi kecelakaan di Cikarang?"
"Ada. Dari pihak rumah sakit sana! Minta diurus secepatnya, katanya. Aku emoh urus! Kau saja yang urus, sana! Mana anakku?"
"Juriah dirawat di rumah sakit, Abi! Sakit cukup parah."
"Kenapa anakku jadi rusak setelah menikah denganmu hah?!? Apa yang kau lakukan pada putriku? Hahh???"
Soleh tidak menimpali ocehan Bapak mertuanya yang semakin melenceng.
"Abi! Rumah sakit mana? Dan bagaimana Aku harus mengurusnya?"
"Ambil kunci mobil Fortuner di kamarku! Ambil uang secukupnya untuk tebus mayatnya. Bawa pulang ke kampung si Samsiah, biar mayatnya langsung dikebumikan!"
"Abi ikutlah denganku!"
"Tidak! Aku tidak mudah memaafkan kelakuan si Samsiah! Urus saja olehmu, Soleh!"
Soleh tak banyak berkata. Ia menuruti perintah Ojan dan masuk kamar Sang mertua yang membuat perutnya mual.
Bau pesing dan juga kotoran. Sampai Ia harus menutup hidungnya kuat-kuat.
Matanya melotot melihat pintu brangkas Ojan terbuka dan tampak tumpukan uang gepokan memenuhinya.
Naluri kejahatan Soleh terpancing.
Dengan sigap Soleh mengambil uang itu sampai lima gepok.
Soleh mengamati kembali, ternyata isinya masih terlihat banyak hingga Ia mengambil kembali lima gepok.
Soleh mengambil kunci mobil Fortuner milik Ojan yang tersimpan di garasi bawah tanahnya. Jarang dipakai. Apalagi setelah Giman pergi dipecat Ojan.
"Abi, aku sudah ambil uang dan juga kunci mobilnya. Aku pamit dulu ya? Rumah Sakit Daerah Cikarang?"
"Iya. Jangan bawa bangkainya kesini! Dengar, Soleh!"
"Iya, Abi!"
Soleh pergi dengan membawa tas ranselnya yang terlihat penuh.
Mata Ojan hanya satu. Itupun kini seperti terkena infeksi dan terus menerus mengeluarkan kotoran hingga menumpuk menutupi area bola matanya.
Pastinya Ojan tidak akan melihat tas ransel Soleh yang tadinya kosong, kini tampak berat.
Tapi ternyata tebakan Soleh salah.
Ojan justru menyeringai setelah melihat sang menantu keluar dari rumahnya.
"Dasar manusia serakah! Matanya mencorong melihat tumpukan uang di berangkas ku! Hm..., orang model begini, yang jadi racun dunia!" gumamnya sembari mencebik kesal.
Tapi Ojan tak bisa berbuat banyak. Putrinya sangat mencintai Ojan dan selalu membela suaminya itu jika Ojan mulai mengomentari kelakuan abstrak Soleh soal kemampuannya mencari uang.
Dan Ojan selalu kalah jika harus melawan putrinya sendiri. Putri tunggal kesayangannya itu. Yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan lelehan air mata.
__ADS_1
BERSAMBUNG