
Treeet treeet treeet
Treeet treeet treeet
...Mbak Cantik is calling...
"Apa? Mbak Amel nelepon Aku?"
Tentu saja Lukman senang bukan main. Bahkan Sang Nenek dan anggota keluarganya yang lain termasuk Papa dan Mamanya turut terkesima melihat aura kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Lukman.
"Nenek, sebentar ya? Lukman angkat telepon dulu!"
Semua menatap wajah Neneknya yang tersipu.
"Hallo? Assalamualaikum? Mbak Amel? Ya ada apa, Mbak?"
...[Waalaikum salam. Lukman, maaf... duh Aku mau ngerepotin kamu. Maaf...]...
"Bilang aja, Mbak, jangan sungkan. Aku akan membantu jika mampu. Kenapa, Mbak?"
...[Aku ada di pasar Gembrong. Tadi kami belanja di pasar ular, tempat biasa kita beli bumbu. Terus..., belanjaan kita ketinggalan di toko keramik pasar ular, Man. Mmm... Aku mau ngerepotin kamu, minta tolong diambilin di sana. Ini Mas Adam sebenarnya mau putar balik, tapi kita terjebak macet parah di simpang. Maaf ya? Soalnya khawatir ada yang bawa belanjaan kita di kolong meja toko. Itu... lumayan besar belanjaan kami. Jadi, kalau hilang... rugi banyak. Duhh, koq aku kesannya seperti lagi memanfaatkan kamu ya, Man?!]...
"Tenang aja, Aku meluncur sekarang. Oiya, Mbak langsung pulang?"
...[Mmm kenapa, Man?]...
"Bisa gak tunggu Aku di pasar ular? Masalahnya, Aku ga bisa antar ke rumah kontrakan. Aku masih di rumah orang tua. Ada Nenek di sini yang baru datang dari kampung. Maklumlah, Aku jarang pulang. Juga nyaris gak pernah ke kampung tuk temui Nenek. Jadi, sebenarnya aku... hehehe... oke Aku berangkat sekarang!"
...[Ya Allah, maaf ya Lukman! Ya udah, ga usah biar Aku aja deh yang turun buat ambil barang yang ketinggalan. Maaf, maaf. Kamu tetap di rumah orang tua aja. Ga jadi, Man. Ga usah. Maaf ya? Hehehe... ya udah, assalamualaikum]...
Klik.
Lukman tersenyum.
"Nek, Lukman pamit sebentar dulu ya? Nenek akan menginap kan? Jadi Lukman masih bisa mengobrol lama nanti setelah pulang ketemu gebetan. Hehehe..."
Lukman mencium punggung tangan Neneknya, Papa dan juga Mamanya.
"Bawa gebetannya kemari!"
Sontak Lukman terkesiap. Ia tersenyum lebar sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sedikit mumet.
Ia bergegas pergi setelah mengucapkan salam.
Bimo dan Fanny hanya tersenyum saling berpandangan.
Doa hati kecil mereka, semoga Sang putra segera menikah di usianya yang menjelang 29 tahun.
.............
Amelia meminta Adam membukakan pintu mobil yang dikunci otomatis.
"Mas, saya mau ambil belanjaan yang tertinggal."
"Ya udah, kita putar balik, Mel! Sabarlah dulu."
"Takutnya belanjaan kami ada yang bawa, Mas! Kasihan Tasya juga Dea. Di situ juga ada barang belanjaan Dea yang kami beli pas tinggal satu. Kalau hilang,"
"Kalau hilang ya beli lagi. Jangan dibuat susah, deh!"
Amelia tersenyum tipis. Pemikirannya jauh berbeda dengan Adam yang banyak uang.
Selain itu, belanjaan yang tertinggal adalah kerja keras Ia dan Tasya dalam mencari barang dan bahan berkualitas baik. Kalau hilang, selain rugi, juga kecewa berat.
"Gimana kalo seandainya kamu kesana, tapi barangnya udah gak ada? Ruginya dua kali!" imbuh Adam lagi karena Ia tidak ingin Amelia turun tinggalkan dirinya hanya bersama istri dan anaknya Diki.
__ADS_1
"Antiii, penggorengan kecil punya Dea juga ada di sana ya?" celoteh Dea, nimbrung bertanya.
"Iya, De! Anti mau turun di sini. Mau ambil belanjaan kita yang ketinggalan dan Dea bisa langsung main masak-masakan nanti pulang. Ya?"
"Iya. Horeee..."
Adam hanya bisa menghela nafas.
Tasya tersenyum kecut, bingung dengan situasi ini. Sedangkan jalanan sangat macet bahkan kendaraan Adam sudah beberapa menit belum bergerak juga.
"Hati-hati di jalan!" ujar Adam dengan wajah kecewa.
"Iya, Mas! Terima kasih! Aku naik ojek biar cepat!"
Bruk.
Amelia menutup pintu mobil Adam dan langsung mencari ojek di sekitar kawasan macet itu untuk kembali ke pasar ular.
"Kenapa bisa terlupa ya?!" sungut Tasya berusaha mencairkan suasana hati Adam yang sepertinya sangat kesal dengan situasi ini.
Tasya semakin tak enak hati. Adam tak menjawab, hanya diam sambil berdecak.
Disini Tasya mulai merasa tidak nyaman dengan Adam yang sifatnya menakutkan menurut istri Diki itu.
Sementara Amelia setelah mendapatkan ojek online, langsung menuju toko tempat belanjaan mereka tertinggal.
Hari libur, ternyata banyak orang yang keluar rumah bersama keluarga. Jalanan benar-benar macet di mana-mana. Beruntung Amel naik ojek, sehingga dengan mudah bisa selap-selip berzigzag melewati kendaraan roda empat yang stuck ditempat alias tak jalan-jalan.
"Mbak Amel!"
Amelia menoleh ke arah suara seseorang yang memanggilnya di depan parkiran.
"Lukman?"
Amelia menyelesaikan pembayaran ojek dan bergegas menghampiri Lukman yang sedang duduk di atas jok motornya.
"Alhamdulillah..., masih ada ya Man?"
"Iya. Alhamdulillah. Hehehe..."
"Ayo, kuantar pulang!"
"Aku naik ojek lagi aja. Kamu kembali pulang ke rumah, Man! Maaf ya, tadi yang kuingat itu kamu. Soalnya kamu tahu toko keramik langganan Aku di pasar ular."
"Ayo naik. Sekalian Aku mau minta tolong balik! Hehehe..."
"Apa itu, Man?"
Amelia akhirnya naik ke atas motor Lukman. Duduk manis di belakang bujang yang dua tahun lebih muda itu dari Aku.
Lukman menyalakan mesin motornya. Dan perlahan mereka keluar dari lahan parkiran menyusuri jalan raya.
"Mbak!"
"Ya?"
"Aku mau minta tolong, boleh?"
"Apa?"
Amelia masih bisa mendengar suara Lukman karena laju motor lambat.
Lukman berhenti di pinggir sebuah taman.
"Turun dulu yok sebentar? Mau minta tolong dengan sangat. Ini soalnya darurat."
__ADS_1
Amelia mengekor Lukman dengan mimik wajah serius penasaran.
Bangku taman yang tak jauh dari parkir motor Lukman jadi tujuan.
"Mbak Amel bersedia bantu Aku?"
"Bantu apa? Kalo sekiranya bisa, Aku mau bantu."
"Mbak... waduhh... gimana ya bilangnya?!"
Amelia ikut bingung. Lukman terus terusan menggaruk pipinya pelan.
"Duduklah yang tenang. Cerita ada apa? Tarik nafas dulu!"
Lukman tersenyum manis tapi menuruti apa yang Amel kata.
"Hhh... Di rumah Bapak Ibu ada Nenek."
"Terus,"
Lukman terdiam sejenak.
"Nenek maksa mau kenal sama teman perempuanku."
Amelia menatap fokus wajah Lukman. Ia masih menyimaknya dengan seksama.
"Aku, Aku sering bohong kalau Aku punya pacar untuk menenangkan hati mereka. Nenek bilang, setidaknya kenalkan saja dulu pacarku sama mereka. Itu saja sudah cukup bagi mereka karena sudah tenang kalau aku ini normal dan pria tulen."
"Ehh? Maksudnya Lukman? Aku harus bohong sama mereka kalau,"
"Ngga, ga perlu sejauh itu. Mbak ga usah berbohong, cukup temani aku sebentar saja. Aku juga ga ingin mencari Mbak Amel pada situasi yang tidak baik. Cuma, Aku ingin bikin kedua orang tuaku tenang melihat Aku punya pacar perempuan. Mereka... menganggap Aku ini, hhh... ga suka perempuan karena suka menggambar gaun, suka mendesain pakaian, juga suka menjahit sejak masih remaja."
Amelia terpekur.
Ternyata Lukman memiliki rahasia yang baru kali Ia ketahui selama ini.
"Aku..., sedari sekolah suka mendandani boneka Barbie ketiga adik-adikku dengan gaun buatanku. Kami, tiga bersaudara dan Aku laki-laki seorang diri. Tinggal di perumahan membuat kami hanya berinteraksi dengan anggota keluarga inti saja di rumah kecuali di sekolah. Mama dulu punya mesin jahit portable dan Aku suka kotak-katik sampai akhirnya bisa menjahit. Aku suka mendesain pakaian perempuan. Bermain dengan ketiga adik perempuan membuat aku faham sekali dengan karakteristik perempuan. Otomatis Aku dipandang kemayu oleh Papaku. Bahkan sampai tamat SMA. Papa kecewa dengan pilihanku yang memilih kursus menjahit pakaian perempuan ketimbang lanjut kuliah di jurusan yang Papa mau. Hm... Mbak Amel?"
"Ah ya?! Hehehe..., ayo. Aku mau bantu kamu!"
Netra Lukman membulat.
"Beneran?"
"Iya. Tapi bukan buat bohong semakin jauh. Ya?"
"Bagaimana kalau..., kita jadian beneran? Aku kan... mmm... aku, sudah nembak Mbak tapi belum dapat jawaban."
"Ssstt! Kamu pasti bakalan dapat yang lebih baik dari Aku. Aku ini Janda lho! Usiaku juga dua tahun lebih tua. Aku..., aku diceraikan suamiku yang lebih memilih Istri mudanya karena tidak punya kelebihan apapun. Bahkan Aku punya kesulitan memberikan keturunan. Keluargamu pasti tidak akan bisa menerima kenyataan kalau putra harapan mereka mendapatkan jodoh perempuan seperti aku."
Grep.
Amelia terkejut.
Lukman menarik dua tangannya dan menggenggam erat.
"Dalam hubungan rumah tangga, memang pastinya ada komitmen yang dijunjung. Tapi bagiku, cukup saling pengertian dan keterbukaan komunikasi yang harus kita jalani!"
"Cih! Hehehe..." Amelia melengos dengan senyuman sinis. Ia sudah terlanjur mendoktrin kalau setiap hubungan itu hanya akan manis di awal saja. Lalu pahit dan anyep setelah melewati masa yang panjang.
Seperti dirinya dan Soleh dahulu.
Saling mencinta, berjanji setia seiya sekata sampai maut yang memisahkan. Toh nyatanya, perjalanan hidup membuat Ia apalagi Soleh berubah.
Cinta tak selamanya indah. Apalagi Lukman masih dianggap ingusan oleh Amelia yang sudah berpengalaman menjaga mahligai rumah tangga selama sepuluh tahun.
__ADS_1
BERSAMBUNG