
"Kamu telah jatuh cinta pada seorang pria muda yang usianya lebih sedikit dari putrimu dan kini putrimu telah mengetahui kebusukanmu?"
Samsiah menelan ludah.
Nyai Dasima membuat dirinya malu.
Tapi mau bagaimana lagi, semua itu benar adanya. Dan dia semakin sulit untuk melepaskan Tito yang kadung bersarang di hati terdalamnya.
Samsiah justru ingin bisa hidup tenang bersama berondongnya itu.
"Tolong, Nyai! Permudahkan urusan Saya! Buat Saya dan Tito tinggal bersama dalam naungan rumah tangga. Saya tahu, kamu adalah dukun paling hebat seantero jagad raya ini!"
"Jangan menjilatku, Samsiah!" hardik Nyai Dasima.
Tentu saja Samsiah langsung tersadar dan menunduk.
Ia benar-benar ingin pisah dari Ojan. Ingin hidup bahagia bersama Tito dan tinggal di kota lain.
"Dimana otakmu? Bagaimana dengan Ojan suamimu dan juga Juriah putri kesayanganmu? Demi cinta sesaatmu kau sampai rela melepas keduanya? Hm?"
"Ojan tidak lagi mencintai saya, Nyai! Lihat!"
Samsiah memperlihatkan luka-luka ditubuhnya pada dukun perempuan itu.
"Ojan memang sudah gila. Tapi putrimu?"
"Juriah sudah menikah dan hidup bahagia bersama suaminya. Saya bisa tenang tinggalkan Juriah, Nyai!"
"Begitu, kau pikir?"
Samsiah merasa bersalah dan menunduk ketika manik bola mata Dasima seolah menusuk jantungnya tajam.
"Tapi kau juga berhak bahagia. Baiklah. Bersenang-senanglah kamu, Sam! Tuhan memberimu kenikmatan bercinta dengan pria yang lebih pantas kau anggap anak itu!"
"Dia mencintai Saya, Nyai!"
"Ta++ kucing! Bohong itu!"
Samsiah seperti tersedak. Ia terbatuk beberapa kali.
"Dengar! Berondongmu hanya ingin kenikmatan dan kenyamanan. Ingin harta yang banyak dari kamu!"
"Kalau saya punya lebih banyak lagi, pasti akan saya berikan semuanya untuk dia yang memberikanku kebahagiaan."
"Hahaha... Gila! Dasar orang tua gila! Demi cinta kau rela hilang segalanya!"
"Saya tidak akan kehilangan segalanya jika Nyai Dasima sudi membantu!"
"Mana tumbalmu bulan lalu? Bulan lalunya juga!"
__ADS_1
"Bu_bukannya Aku sudah memberikan nyawa seorang pria tua di kota Jogja tempo hari?"
"Jiwanya terlalu suci! Dia tidak bisa kujadikan tumbal untuk ritual kekayaan kau dan Ojan!"
Samsiah tertegun.
Ternyata Kan'an memiliki jiwa yang bersih, semakin membuat hatinya panas dan ingin memberikan Amelia mantan istri menantunya sebagai tumbal pesugihan yang Ia dan Ojan lakukan.
"Amelia? Perempuan itu lahir di hari Rabu Kliwon. Dia sulit ditaklukkan dan bisa mental santet atau guna-guna yang ditujukan padanya."
"Bukankah dia sudah Nyai kirim pengasihan?"
"Sudah. Tapi ternyata tidak berfungsi. Dia memiliki aura sendiri. Dan jangan jadikan dia sebagai tumbal jika kau tidak mau berbalik arah kepada keluargamu sendiri!"
Tentu saja Samsiah tertegun.
Amelia tidak bisa Ia ganggu. Padahal Kan'an Bapaknya sudah meninggal dunia karena kecelakaan yang Ia atur dengan kekuatan makhluk tinggi besar peliharaannya.
Tetapi ternyata roh Kan'an tidak diterima oleh kuncen pesugihan karena berjiwa bersih.
Otomatis Samsiah dan Ojan harus segera mencari tumbal lain demi kelancaran uang yang makhluk gaib janjikan akan terus mengalir tak habis-habis sampai tujuh turunan.
"Ayo, bersihkan tubuhmu. Malam ini, ritual mandi kembang tujuh rupa untuk membersihkan tubuh serta keburukan yang ada di roh dan ragamu."
Samsiah mengikuti arahan Sang Dukun perempuan yang bernama Nyai Dasima.
Ia tidak tahu, di belahan bumi lainnya sang putri tengah berjuang mempertahankan nyawanya nya yang sedang jadi taruhan pemujaan setan Ia dan Suami dimasa lalu.
"Juriah sedang kritis!"
Ojan tertegun mendapatkan kabar buruk dari Soleh yang terlihat sangat lelah sehabis hunting darah dengan golongan yang sama untuk Juriah.
Akhirnya Soleh berhasil mendapatkan tiga kantong darah juga setelah keliling lima rumah sakit besar bahkan sampai ke luar kota tempatnya tinggal.
Ojan bertahan menunggui Sang Putri kesayangan.
Sementara istrinya sulit dihubungi dan hanya meninggalkan pesan singkat kalau Ia pergi ke selat tempat dukun kuncen pesugihan yang mereka berdua lakoni.
Ojan tidak bisa marah karena memang Samsiah lah yang menghandle semuanya.
Tetapi tiba-tiba matanya menangkap sosok hitam tinggi besar yang seakan bolak-balik keluar masuk ruangan ICCU tempat Juriah di rawat.
"Istri bodoh! Kau sedang berbuat apa? Apa kau sedang memberikan putri kita satu-satunya untuk tumbal berikutnya? Hei!!! Jangan tumbalkan Juriah! Jangan! Anak perempuan kita inilah yang nantinya akan mengurus kita di masa tua, Samsiah! Carilah tumbal nyawa yang lain! Jangan keturunan terakhir kita yang masih tersisa! Samsiah!!! Samsiah!!!"
Jedug.
Kepala Samsiah terantup batang pohon tempat Ia melakukan pemujaan karena kantuk yang menyerang.
Tiba-tiba Ia teringat Juriah. Teringat cerita Sang Putri tentang menstruasinya yang terus terusan akhir-akhir ini.
__ADS_1
Samsiah menyelipkan doa agar Sang putri segera hamil dan mendapatkan kebahagiaan bersama suaminya tercinta.
Satu doa yang ternyata langsung tembus langit dan di dengar Sang Pencipta.
Juriah lolos dari maut. Putrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu akhirnya berhasil melewati masa kritis.
Juriah kini sudah mulai kembali stabil denyut nadi serta rekam jantungnya yang terdeteksi alat-alat rumah sakit yang sejak masuk ruang IGD hingga pindah ruangan ICCU, memenuhi tubuh Juriah yang terdeteksi koma.
"Syukurlah, Juriah sudah stabil kondisinya!"
Soleh kembali mengabarkan Sang Ayah mertua yang menunggu di parkiran dalam mobil pribadinya.
Ojan dan Soleh akhirnya bisa bernafas lega.
Tetapi di ruangan yang lain, tempatnya Felicia anak Lani yang dirawat justru sebaliknya.
Tubuh bocah yang belum genap dua tahun itu berguncang hebat. Bahkan sampai terlihat menakutkan.
Cia kembali kejang-kejang setelah tadi siang kondisinya mulai membaik.
Lani langsung memukul paha Tito yang sedang tidur di lantai.
"Bang, bangun Bang! Bang Tito!!!" jeritnya ketakutan melihat kondisi sang putri yang kembali anfal.
Tito meloncat dan langsung berlari menuju ruang dokter jaga di depan kamar inap khusus anak.
"Dokter, dokter! Putri saya kejang-kejang!"
Malam itu pukul dua dini hari, Felicia langsung mendapatkan bantuan CPR karena kondisinya yang kembali menurun drastis.
Beberapa dokter dan suster perawat berusaha membantu Cia dengan SOP tatalaksana standarisasi pada umumnya.
Tapi...
"Pak, Bu... maaf! Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Putri Bapak dan Ibu..., tidak berhasil kami selamatkan!"
"Apa???"
Lemas lutut Tito seketika.
Lani berteriak histeris. Putri mereka meregang nyawa setelah berjuang terserang penyakit demam panas yang sangat tinggi hingga pembuluh darah bocah imut itu pecah.
Felicia Saputri meninggal dunia.
Membuat Lani menangis tak henti-hentinya sambil memukul-mukul dada Tito yang hanya bisa diam tak bergerak dengan mata memandang kosong.
Malam dini hari yang menyakitkan bagi keluarga kecil Tito yang mendambakan kebahagiaan.
Putri kecil mereka, yang akan dibuatkan pesta ulang tahun akhir bulan ini lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa lewat jalan halus yang dilakukan keluarga Ojan Samsiah.
__ADS_1
BERSAMBUNG