Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 97 Lamaran Adam


__ADS_3

Tring


Lukman yang sedang telungkup di kamarnya di rumah besar Bimo mengambil ponselnya.


Ada rasa senang karena Amelia yang menchatnya. Tapi kemudian rasa malunya menyeruak mengingat betapa malunya dirinya karena Amel tahu kisah masa kecilnya yang nyeleneh.


...Lukman... sedang apa?...


Lukman tersenyum.


Pertanyaan aneh. Chat yang garing. Hehehe...


Ia tidak membalas. Hanya membacanya saja.


Terkesan jahat memang. Tapi Lukman sedang sangat malu pada Amelia.


^^^Kenapa cuma diread? Apa Aku buat salah?^^^


Lukman menghela nafas.


Nggak Mbak! Bukan kamu yang salah, tapi aku. Aku yang salah dengan masa laluku.


Lukman tertegun. Amelia tidak lagi mengirim chatnya.


Mungkinkah Mbak Amel kecewa karena responku yang dingin? Ya Tuhan. Aku ingin membalasnya. Tapi Aku masih malu dan khawatir Ia meledekku sama seperti Linda dan perempuan yang pernah dekat denganku. Tapi... Mbak Amel belum mendengar cerita Mama sampai tuntas.


"Hhh..."


Lukman menghela nafas.


Dadanya sesak, nafasnya terasa berat.


Kenapa dirinya menjadi seperti ini. Hanya karena kesalahan yang tidak Ia fahami di masa kecil.


Tanpa sadar, Lukman memegang barang berharganya. Dan...


Aku normal. Aku lelaki normal, Pa, Ma! Rudalku bisa bangun seperti halnya lelaki lainnya di luar sana. Meskipun Aku belum pernah mempraktekkannya sampai saat ini. Tapi Aku tidak menyimpang. Aku suka perempuan. Aku mengagumi makhluk hidup yang bernama perempuan. Hanya karena Aku seringkali bergaul dengan adik-adik dan suka membuatkan gaun boneka Barbie mereka lantas Papa menganggap Aku aneh. Aku memang suka sekali dengan perempuan. Semuanya. Bahkan tubuhnya pun, Aku suka. Masalah aku dulu memotong barangku sendiri adalah karena Aku ingin disunat tanpa bilang-bilang. Aku sangat malu jika anggota tubuh sensitifku nantinya dilihat dan dipotong orang lain meskipun itu oleh seorang dokter. Itu adalah pemikiranku dahulu. Pemikiran seorang anak kecil berusia lima tahun. Dan Aku memendam semua cerita karena malu.


Namun Lukman mengerti. Ternyata tindakannya di usia balita yang memotong alat kel+minnya sendiri justru berakibat fatal.


Urat besarnya itu sempat bermasalah. Tidak berfungsi sebagai mana mestinya karena pisau yang Ia gunakan memotong mengenai pembuluh darah skrotum.


Tentu saja hal itu membuat kedua orang tuanya cemas. Bahkan sampai membawa Lukman berobat ke Singapura agar kembali normal fungsi ereksinya.


"Hhh..."


Bagaimana kalau ternyata Mbak Amel sama tindakannya seperti para mantanku yang lainnya? Bagaimana bisa Aku memperlihatkan wajahku dihadapannya?


Lukman hanya bisa telungkupkan wajah. Tenggelam di bantal dan tertidur pulas tanpa sempat membalas chat Amel.


..............


Ada apa dengan Lukman? Apa yang salah hanya karena Mamanya menceritakan masa kecilnya? Apa dia malu karena seringnya didandani seperti perempuan? Toh itu murni bukan kesalahannya. Haruskah Ia marah seperti itu pada Mamanya?! Apakah... apakah karena masalah itu, Lukman jadi bertengkar dengan keluarganya? Karena Aku dengarkan cerita Mamanya? Ya Allah ya Tuhanku... Semoga Lukman tidak berubah kepadaku! Sungguh Aku cemas! Aku tidak mau Lukman berubah. Aku ingin terus..., diperhatikan olehnya.


"Hhh..."


Amelia merasakan jantungnya berdebar kencang.

__ADS_1


Fikirannya jauh melayang. Mengembara memikirkan Lukman kenapa sampai tidak membalas chatnya padahal ceklis dua dan centang biru.


Itu artinya dia baca chatku kan? Tapi kenapa gak dibalas? Kenapa Lukman? Haruskah Aku telpon dia? Jam segini? Bagaimana kalau dia sedang kumpul keluarga dan Aku mengganggu kebersamaannya bersama neneknya. Haish...! Ya Allah, ternyata seperti ini perasaan Lukman ketika Aku ogah-ogahan balas chatnya tempo hari. Hhh... Kenapa jadi berbalik begini ya Allah? Rasanya... tidak enak sekali. Duh, balas dong, Lukman!


Pukul dua belas malam. Amelia masih belum bisa pejamkan mata.


Ia mengganti posisi tidurnya. Miring ke kanan miring ke kiri.


Mengingat-ingat terakhir kali berinteraksi dengan Lukman.


Tidak ada komentar yang tidak enak.


Bahkan Ia sempat menawarkan secangkir kopi untuk Lukman namun pria itu menjawab singkat lain kali saja katanya.


Amelia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati menjadi gundah dan resah.


Biasanya pukul sepuluh malam Ia sudah terlelap tidur.


Esok pukul empat dia harus bangun dan merebus daging untuk usaha kateringnya.


Pekerjaannya akan sangat padat setelah sholat Subuh. Dan baru bisa santai setelah menjelang Dzuhur sesudah kateringnya diangkut pihak konveksi perusahaan Adam Malik. Itu pun bekerja bersama Tasya dan satu orang tetangga lainnya yang bernama Mbak Ziah.


Terkadang Lukman yang datang mengambil. Namun lebih sering Adam sendiri.


Dulu-dulu Amelia tak masalah siapapun yang datang mengambil katering. Tapi kali ini, Amel berharap Lukman yang datang.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam!"


Adam tersenyum, Amelia seperti sedang menyambutnya di depan pintu rumah.


"Sudah selesai dipackingnya?" tanya Adam berbasa-basi.


"Sudah Mas. Siap diangkat ke mobil."


Amel menengok ke arah jalan. Berharap Lukman datang membantu membawakan plastik kotak kateringnya untuk di bawa ke depan gang rumah kontrakan.


Ternyata... zonk.


"Boleh gak, saya minta secangkir kopi?" tanya Adam dengan suara yang lembut.


Amelia tersenyum tipis dan mengangguk.


Tanpa banyak bicara Amel membuatkan Adam secangkir kopi.


Terkejut Amelia, Adam masuk ke dalam dapurnya dan berjongkok sembari menyodorkan sebuah kotak.


"Maukah kamu menikah denganku, Amelia?"


Amelia terbata-bata.


Sikap Adam membuat wajahnya pucat tak menyangka.


Amelia diam tak berani mengatakan apa-apa.


Otaknya serasa buntu. Pikirannya blank seketika.

__ADS_1


"Mas Adam lihat Lukman?" justru pertanyaan itu yang terlontar dari bibirnya. Membuat Adam termangu dan mulai menyadari kalau dirinya sedang ditolak Amelia.


"Aku sedang serius, Mel! Bisakah kamu juga serius?" tanya Adam dengan wajah merah menahan kesal.


"Ma_maaf, Mas!"


"Adakah sedikit saja rasa dihatimu untukku? Sedikit pasti ada kan? Aku janji, akan bahagiakan dirimu, Mel! Demi Allah, tak akan kusia-siakan dirimu jika nanti kita suami istri."


Amelia menunduk.


Ia bingung. Ingin menolak langsung tetapi takut terlalu jahat kesannya.


Amel merasa hilang respek pada Adam.


Meskipun secara tampilan visual, Adam jauh lebih keren dibandingkan Lukman.


Kulit Adam putih bersih. Mulus dan terawat. Berbeda dengan Lukman yang kulitnya sama gosong seperti dirinya.


Jika berjalan disamping Adam, Amelia merasa tidak nyaman karena terlihat kontras antara dirinya dengan Adam.


"Mas...! Saya ini perempuan kampung. Sangat tidak cocok dengan Mas yang seorang pengusaha hebat."


"Aku cinta kamu Amelia. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Kamu, mirip almarhumah istriku. Bahkan senyuman dan kelembutanmu, benar-benar mirip Adelia. Hanya kulit Adel memang sedikit lebih terang dibandingkan kulit kamu. Tapi, itu bukan masalah besar bagiku. Karena ada luluran nanti yang akan merubah itu."


Amelia tertegun.


Adam ternyata terobsesi dengannya karena mirip almarhumah istrinya yang telah meninggal dunia.


Alam bawah sadar Adam masih merindukan Adelia. Amel kini mengerti mengapa Adam sampai jatuh cinta padanya. Dan Amel semakin hilang rasa respeknya pada Adam.


Kini pandangannya pada Adam hanyalah sebatas pemilik perusahaan konveksi yang baik hati dan tampan. Tapi tidak ada sedikitpun rasa suka apalagi sayang yang tumbuh di relung hatinya.


"Mas..., Aku... aku sudah menetapkan hati."


"Iya?" bola mata Adam berbinar.


"Aku tidak bisa menerima ajakan Mas Adam untuk menikah. Karena, hati ini telah tertambat pada satu hati."


"Lukman? Karyawanku yang songong itu?"


Amelia menelan salivanya. Tak menjawab tapi hatinya mengiyakan.


"Ck. Dasar deh kamu itu. Kenapa matamu lebih suka melihat yang standar? Kenapa tidak bisa melihat berlian yang sesungguhnya?"


Amel tersenyum kecut.


Adam Malik seperti membuka kepribadiannya sendiri yang ternyata benar-benar kekanak-kanakan.


"Selamat. Semoga kalian berbahagia! Dan asal kamu tahu, si Lukman sudah resign sejak kemarin dari pabrik. Entah, mau jadi pengangguran atau kerja apa. Aku gak tahu!"


Adam pergi begitu saja tanpa pamit.


Hatinya sakit ditolak Amel yang lebih memilih Lukman.


Padahal dirinya jauh segala-galanya di atas Lukman.


Amelia benar-benar perempuan yang menyebalkan dimatanya kini.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2