Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 80 Lani Dan Anton, Juga Lani Dan Tito


__ADS_3

Tito telah kembali ke rumah. Ia terkejut, rumah besarnya dalam keadaan pintu terbuka.


Dengan langkah tergesa-gesa Tito masuk ke dalamnya.


Habis semua barang-barang berharga tiada tersisa. Bahkan pakaian mereka berserakan keluar lemari.


Sepertinya, ada maling yang mendatangi rumah megah mereka semalam ketika Lani dan Mariana pergi membawa Cia ke rumah sakit.


"Laniii! Laniii!!!"


Tito berteriak menyerukan nama istrinya.


Hening tiada jawaban.


"Laniii! Ciaaa!!!"


Tito mengambil ponsel dari tas gendongnya.


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet


Tiada jawaban.


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet


"Hallo, Lani! Kamu dimana?"


[Tito! Cia dirawat di rumah sakit! Demam tinggi kejang-kejang semalam! Lani belum kembali sejak pukul dua malam! Ibu kira dia menyusul kamu ke rumah Samsiah!]


"Apa??? Di rumah sakit mana?"


...[Seloam!]...


"Iya. Tito segera berangkat ke sana!"


Tito menelan salivanya.


Matanya berembun, putri satu-satunya semalam sakit dan rumah mereka kemalingan secara bersamaan.


Keadaan ini membuat jantung Tito bergemuruh kencang.


Mungkinkah ini adalah karma yang harus kutanggung atas semua pilihan salah yang kutempuh, ya Allah?


Satu butir air matanya jatuh menetes. Namun segera Tito usap dan keluar rumah segera setelah menutup daun pintu rumah kembali.


Engselnya telah rusak didobrak orang yang tidak berperikemanusiaan.


Sepertinya televisi besar, salon aktif dan lain-lain raib digondol maling.


Tapi fokus Tito kini hanyalah meluncur ke rumah sakit melihat kondisi Felicia putrinya.


Semalam Ia bersenang-senang dengan Samsiah. Bahkan sampai dua kali permainan meskipun ada kekhawatiran kalau wanita paruh baya yang masih lumayan sekal tubuhnya itu terkena serangan jantung karena bermain terlalu hot.


Tito menyesali perbuatannya sendiri.


Motor baru hadiah Samsiah adalah imbalannya menyenangkan hati Sang majikan yang semakin kelewat batas tindak-tanduknya. Tito senang karena semuanya dianggap setimpal.


Lani juga pasti akan senang karena motor bututnya yang dulu sering mogok setiap kali mereka pergi keluar kini berganti menjadi motor keren keluaran terbaru.


Hanya satu yang jadi sesalan. Rumah kemalingan tanpa ada orang yang mengetahui kejadiannya. Membuat Tito kesal juga jadinya karena harus memikirkan kembali membeli barang elektronik yang hilang itu sebagai ganti.


Ruang IGD. Cia masih di ruangan Gawat Darurat sebab kondisinya masih belum stabil.

__ADS_1


Lani rupanya meninggalkan ponselnya setelah menelpon Tito dan menangis semalaman dipelukan pria asing yang bernama Anton.


Ternyata, istri Tito itu sedang makan pagi di warung tak jauh dari rumah sakit bersama pria yang baru dikenalnya semalam.


"Maaf ya, semalaman kamu menghibur Aku, Nton! Sampai kita lupa waktu kalau ada Ibu dan anakku yang sedang di rawat di rumah sakit ini."


"Tidak apa-apa. Aku senang bisa menghibur kamu, Lan! Semoga jadi ladang pahala buat Aku. Dan... hehehe, maaf... andaikan kamu perempuan single, pasti Aku... hm,"


"Apa, Nton?"


"Engga jadi deh. Hehehe..."


"Andaikan Aku single, pasti Aku akan meminta kamu jadi Ayah untuk anakku! Aku punya pemikiran seperti itu!"


"Aku juga!"


Lani dan Anton saling berpandangan. Lama dan kali ini ada getaran lain dihati masing-masing. Getaran yang seharusnya Lani hindari. Tapi justru dengan sengaja Ia kobarkan karena dendam kesumat yang ada dihatinya pada Tito sang suami.


"Kamu... single?" tanya Lani serius.


Anton tersenyum.


"Istriku sudah meninggal dunia."


"Jadi kamu duda?"


Lagi-lagi Anton hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.


"Punya anak?"


Helaan nafas Anton terdengar berat.


"Bisakah kita ganti topik pembicaraan? Aku kurang nyaman menceritakan keadaan diriku yang menyedihkan!"


"Maaf..."


Tapi seketika Ia terkejut, jemari tangan Anton menggenggamnya erat dan hangat.


"Ada kamu, Aku senang. Kita bisa berbagi perasaan walaupun jalannya sangat sulit menuju ke puncak kebahagiaan."


Lani membulatkan bibirnya.


Terkejut dengan ucapan Anton yang seolah mengatakan bersedia menjalin hubungan tanpa status dengan dirinya yang seorang perempuan bersuami.


"Kamu..., kamu mau berbagi kisah denganku?"


"Kita punya chamistry yang bagus sekali padahal baru saja ketemu beberapa jam yang lalu. Kita begadang semalaman sambil berangkulan menceritakan kesedihan hati yang sedang diuji Tuhan. Iya bukan?"


"Tepatnya kesedihanku, kamu hanya mendengarkan cerita mirisku tanpa kuberikan kesempatan bercerita."


"Karena sejatinya, pria itu harus bisa mengayomi wanita. Harus bisa menghargainya dengan cara menyimak semua ucapannya lalu merengkuh hatinya yang terluka."


Netra Lani berbinar indah.


Hatinya luluh lumer mendengar perkataan Anton yang penuh wibawa.


"Apa Ibumu sendirian di kamar inapnya?" tanya Lani dengan penuh perhatian pada Anton.


"Ibu ada yang jaga. Jadi tidak apa-apa, Lan! Putrimu sendiri?"


"Ada Ibuku. Biarlah sesekali beliau menjaga cucunya. Ini pertama kalinya hatiku senang seperti gadis remaja yang baru mengenal cinta. Hehehe..."


Anton menarik tangan Lani yang sedari tadi digenggamnya.


"Pegang jantungku!"

__ADS_1


"Hah?!?"


Anton dengan berani menempelkan telapak tangan Lani di dada sebelah kirinya.


"Debarannya kencang sekali, bukan? Itu karena... Aku, jatuh cinta!"


Lani tersipu dan menunduk malu.


Warung makan tempat mereka duduk memang agak dipojok sehingga tidak banyak orang lalu lalang dan melihat tingkah laku mereka yang mirip anak baru gede.


"Anton hehehe... kamu bikin Aku degdegan, malu dan grogi."


"Kita pasti akan sering ketemu kan?" tanya Anton setelah membayar makanan yang mereka pesan.


"Iya. Nomor WA ku sudah kamu simpan. Kapanpun kamu bisa menchat Aku. Tapi jangan telepon tiba-tiba karena Aku gak mau suamiku yang angkat. Ya?"


"Baik, Tuan Putri. Hamba laksanakan!"


Lagi-lagi Lani tersipu malu.


"Kita berpisah dulu sampai di sini. Kembali ke kamar masing-masing. Semoga putriku dipindahkan ke ruang rawat inap setelah semalaman berada di IGD."


"Aamiin... Semangat ya Sayang!? Aku doakan masalahmu cepat selesai."


"Andaikan Aku janda, apakah kamu akan serius mengencaniku?"


"Bukan hanya kencan. Tapi langsung datang melamar!"


"Ah, Anton. Bisa saja kamu!"


Lani benar-benar bablas melakukan hal yang tidak sepantasnya.


Mirip gadis belasan tahun yang sedang mencari cinta. Dan haus akan cinta. Matanya menatap tubuh Anton yang pamit pergi lebih dulu hingga hilang dari pandangan.


Senyum Lani mengembang.


Aku masih muda. Masih 25 tahun. Tidak perlu takut tidak ada cinta lain. Aku masih pantas pacaran. Di kota besar perempuan seumuran Aku bahkan masih berstatus gadis yang pacaran sana-sini memilih pria yang paling pas untuk jadi pendamping. Jadi, Aku tidak perlu takut hidup sendirian tanpa si Tito!


"Lani!"


"Bang Tito?"


Keduanya berjalan mendekat.


"Gimana keadaannya Cia?"


Lani masih mengingat dengan jelas suara-suara Tito dan Samsiah dari balik ponselnya. Hatinya kembali dipenuhi amarah.


Dengan mata berkaca-kaca Lani menatap wajah Tito penuh kebencian.


"Lani lihat! Lihat motor baruku! Itu motor yang pernah kamu inginkan bukan? Bagus bukan? Setelah Cia keluar dari rumah sakit, kita jalan-jalan keliling kota naik motor keren itu!"


Seketika Lani langsung menoleh ke arah motor yang ditunjuk Tito di parkiran tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Bang..."


"Aku mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini, Lani! Untuk bahagiakan kamu dan Felicia putri kita. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, semua sesuai yang kamu inginkan!"


Tito merengkuh Lani ke dalam pelukannya.


Tangis Lani pecah seketika.


Amarahnya berubah melebur dengan air mata dan kesedihan.


Tak tahu lagi harus berbuat apa dan bagaimana menyikapinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2