
Soleh menghela nafas, agak kesal. Ternyata Ojan suka sekali berkata kasar pada siapapun disaat hatinya sedang jengkel. Termasuk kepadanya yang konon katanya menantu kesayangan.
"Dasar blo'on! Masa' menghitung nominal uang jutaan saja sampai salah! Bagaimana sih kamu? Sekolah belajar berhitung apa belajar pacaran?"
Sontak memerah wajah Soleh seketika. Ojan menegurnya tanpa perasaan dihadapan banyak orang yang notabenenya adalah karyawan bengkel.
"Kalau kau terus-terusan salah hitung kayak gini, cuma butuh satu tahun bengkel dan toko onderdil ini bangkrut! Memangnya kau mau usaha yang kurintis dari nol ini bangkrut? Makan apa kalian nanti? Bisanya cuma minta ini itu, butuh ini itu tapi gak bisa usaha lebih!"
Rasanya nyeletit sekali di ulu hati. Nyeri.
Seumur-umur Ia berumah tangga dengan Amelia, tak pernah Kan'an maupun Mia memakinya apalagi dihadapan banyak orang.
Dulu sekali pernah Soleh yang sedang libur di kampung dan membantu Kan'an di sawah. Kerjaannya lamban karena tidak pernah memegang pacul.
Kan'an justru menyuruh Soleh untuk duduk saja di saung menunggu kerjaannya mencangkul lahan selesai sebentar lagi.
__ADS_1
"Sudah, Nak! Jangan dipaksakan. Ini memang bukanlah pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan kamu. Wajar saja, kamu kesulitan beradaptasi. Kalo bapak, sudah biasa. Dan ini adalah pekerjaan sehari-hari. Sama halnya bapak yang bodoh tidak mengerti pekerjaan kamu di kota, karena bukan pekerjaan sehari-hari Bapak. Sudah, sudah. Kamu tungguin bapak di saung saja, Leh!"
Soleh rindu suara Kan'an, bapak Amelia yang sangat ramah dan baik padanya. Perkataannya selalu dengan nada suara yang rendah meskipun kadang ada rasa ingin menyelidik.
Berbeda sekali dengan Ojan. Sering menegur dengan intonasi suara yang tinggi dan nada bicara yang keras. Membuat orang yang ditegur langsung down kena mental. Seperti Soleh saat ini.
Ojan sedang mengontrol pembukuan toko onderdilnya yang sudah sebulan lebih ditangani Soleh.
"Ini bagaimana ceritanya beli sparepart Yamaha harganya per unit 250 ribu dikali sepuluh jadi 25 juta. Gobl+k! Kira-kira dong kalo ngitung, Leh!"
Soleh mengerti, kalau Anta sedang cari uang tambahan dengan mencoba mengkalkulasi keuangan bengkel. Berharap Ojan tidak akan mengetahui kecurangan yang dia buat agar bisa mendapatkan cuan lebih meskipun dari perbuatan yang tidak halal.
Ternyata Ojan tidak benar-benar memberikan kekuasaan sepenuhnya pada Soleh. Membuat ia akhirnya hanya bisa uring-uringan melampiaskan kekesalannya pada Juriah.
Tetapi ternyata Juriah juga meledeknya kalau kepandaian berhitungnya dibawah rata-rata anak TK. Semakin jatuh harga diri Soleh dihadapan Juriah dan para anak buahnya yang bekerja di bengkel.
__ADS_1
"Mas, juga. Kenapa bisa salah ngitung jauh begitu? Ya Tuhan... Tentu saja Abi marah. Mas teledor sekali. Ini kan menyangkut keuangan bengkel dan toko! Anak TK saja bisa tahu kalau cara berhitung Mas salah!"
Beberapa karyawan bengkel yang sedang mengerjakan motor pelanggan sampai menoleh dan tersenyum tipis mendengar Juriah mengomentari aduan suaminya setelah Ojan pergi beberapa menit yang lalu.
"Itu yang mindahin catatan ke buku besar dari buku oret-oretan adalah bapakku, Juriah! Bukan Aku! Namanya orang tua, wajar saja kalau salah! Jangan bilang blo'on, gobl+ok. Memangnya mau apa punya menantu blo'on! Ish, dasar mulut Abimu itu! Pakaiannya aja yang sok ala-ala orang beriman, padahal mulutnya sampah. Kotoran semua yang dia lontarkan!"
"Mas..., kenapa jadi marah dan ngambek? Kalo Abi menegur, itu tandanya memang ada yang salah. Ga perlu Mas jadi emosi. Seharusnya minta maaf pada Abi, masalah selesai bukan? Kenapa mas jadi bawa-bawa lebel orang beriman? Apa bapaknya Mas termasuk golongan orang beriman? Sholat aja ga pernah. Jangan seperti itu lah mas! Kan itu orang tua kita! Dan perlu kamu ingat juga, ruko ini, bengkel dan toko onderdilnya adalah harta dari Abi!"
"Ya, memang. Katanya menyerahkan sepenuhnya untuk diurus. Tapi nyatanya, setiap minggu setiap bulan masih rutin periksa pembukuan, tandanya Abi-mu itu tidak ikhlas memberikannya kepada anak dan menantunya!"
"Bukan begitu, Mas! Maksudnya Abi cuma mengontrol saja. Wajar toh? Kan Abi juga yang punya! Kalo sampai bangkrut, kita juga yang susah. Abi udah benar koq tindakannya! Kamunya aja yang baperan, ngambek karena ditegur mertua!"
Soleh yang ngambek hanya bisa melarikan diri ke rumah orangtuanya yang berjarak sekitar dua puluh kilometer saja dari ruko tempatnya tinggal dengan sepeda motor gedenya.
"Sialan! Bapak sama anak sama ngeselinnya!" umpat Soleh sepanjang jalan.
__ADS_1
BERSAMBUNG