
Keluarga Mia pindah ke kota hujan dengan dijemput bus elf milik keluarga Bimo. Sementara barang-barang mereka diangkut dengan mobil truk dan konvoi dibelakang.
Bule bernama Arthur juga turut serta meskipun Ia tidak mengantar sampai kediaman Fanny Bimo yang ternyata hanya berjarak beberapa puluh meter saja dari kompleks perumahannya.
Dia lebih memilih untuk menyusun strategi baru agar bisa mendekati Amelia secara persuasif.
Walau bagaimanapun, Lukman adalah suaminya dan setiap kali Lukman melihat Arthur pasti akan timbul kesalahpahaman. Arthur tidak inginkan kesenjangan diantara mereka kian melebar.
Inayah bisa Arthur jadikan pionir.
Mia beserta keempat anak dan menantu serta cucunya benar-benar merasa bahagia.
Rumah yang besar dengan enam kamar. Dua kamar utama di lantai dasar dan empat kamar di lantai atas. Ada tiga lantai namun lantai paling atas adalah balkon tempat tanaman holtikultura yang sengaja dibuat Fanny untuk waktu senggang Mia nantinya.
Fanny dan Bimo ternyata langsung meluncur ke sana setelah mengetahui Mia sudah tiba di rumah hibahannya.
"Bagaimana Mak?" tanya Fanny yang ikut terbiasa memanggil Mia dengan sebutan 'Mak'.
"Keren banget, Mbak!" jawab Mia sambil memeluk Fanny bahagia.
Mereka memang sudah seperti bestie yang saling curhat segala hal bahkan urusan yang agak nyerempet pun Fanny berani ungkapkan meskipun kadang Mia sering memberinya warning untuk tidak terlalu terbuka padanya.
Jawab Fanny, "Kamu sangat mirip adikku yang meninggal dunia sebelas tahun lalu. Sangat sangat mirip! Bahkan jika disandingkan berdua bakalan seperti pinang yang dibelah dua. Tak ada bedanya. Makanya Aku senang sekali melihat kamu hadir dan jadi besanku, Mak!"
"Hehehe..."
Mereka sudah ada rencana untuk melakukan kerja bareng. Yaitu bisnis sayuran hidroponik yang akan digarap Mia di sebuah lahan milik Fanny di wilayah pinggiran Ibukota.
Mia adalah istri petani. Dan Mia sudah berkecimpung di dunia pertanian nyaris sejak Ia masih kecil. Fanny ingin mengajaknya kerjasama karena saat ini yayasannya sedang menggalakkan pemberdayaan wanita ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan selain menunggu suami di rumah.
Gayung bersambut. Mia tertarik dan ingin sekali mendalami pertanian hidroponik yang berbeda sekali dengan pertanian yang sudah lama Mia geluti bersama almarhum suami.
Fanny mendorong dan menyokong sepenuhnya. Mulai dari bahan dan juga bibit unggul yang akan dikirim Fanny setiap saat.
Semua telah direncanakan dengan matang.
Itu sebabnya Fanny memberikan rumah kosongnya di daerah kota hujan untuk dihuni Mia serta putra-putrinya selama mereka saling bekerja sama.
Rama serta Arif ikut bekerja dengan Bimo. Inayah kuliah dan membantu bisnis katering Amelia bersama Tia yang juga mulai ikut membantu sang Kakak.
__ADS_1
Semua punya kesibukan masing-masing.
Berbeda sekali kehidupan Soleh dan Juriah yang kian susah dari hari ke hari.
Bengkelnya sepi sekali. Hanya satu dua orang saja yang datang dan membutuhkan servis kendaraannya. Satu persatu karyawan hengkang. Toko onderdil juga makin kosong melompong, stok ludes sementara uangnya pun habis.
Satu persatu aset Keluarga Ojan berpindah tangan karena Juriah dan Soleh jual demi untuk menyambung hidup.
Soleh sendiri mulai merasakan tubuhnya kian ringkih dan gampang sakit hingga bobot tubuhnya menyusut drastis.
Ada yang sedikit membahagiakan. Juriah telah sembuh dari kankernya. Tubuh Juriah juga mulai berisi dan terlihat padat kembali.
Justru Soleh lah yang kini sering bolak-balik ke rumah sakit untuk berobat penyakit yang sudah kadung dideritanya itu.
Tubuhnya dipenuhi ruam-ruam kemerahan terlebih area vit4l yang sensitif.
Soleh masih menutupi penyakitnya pada Juriah. Padahal Juriah sendiri telah mengetahuinya dari Le Giman, pamannya dari Ojan.
Juriah sendiri selalu meminta Soleh untuk memakai pengaman setiap mereka hendak berhubungan.
Sejak Soleh terinfeksi virus mematikan itu dan Juriah juga masih dalam tahap pemulihan, keduanya jarang sekali berhubungan intim layaknya suami istri seperti diawal pernikahan.
Ia benar-benar ingin merubah keadaan yang semrawut menjadi lebih tenang dan damai.
Hatinya sengaja Ia balut dengan ibadah dan ibadah daripada terlalu larut dalam kesedihan yang mengakibatkan kufur bahkan menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi pada hidupnya.
Juriah tak ingin mengikuti jejak kelam kehidupan kedua orang tuanya yang mempunyai hubungan spesial dengan demit iblis.
Juriah lebih meningkatkan ibadah ketimbang harus terjerumus ke lembah dosa yang sama seperti yang dialami Abi dan Uminya yang telah meninggal dunia.
Amelia justru berada di fase yang paling membahagiakan.
Menikah dengan seorang pemuda yang energik dan sangat menyayangi dirinya tak pernah ada dalam khayalnya selama ini.
Kini Amelia benar-benar mengalami perubahan hidup yang drastis luar biasa.
Lukman memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan Lukman selalu bangun paling pagi untuk membuatkan sarapan nasi goreng untuk Amelia setelah mereka pulang dari bulan madu dan tinggal di sebuah rumah tak jauh dari lokasi restoran Amel.
"Selamat pagi, Sayang!"
__ADS_1
Amelia masih saja tak percaya, beberapa hari ini Lukman membuatnya seperti seorang putri raja.
Pria itu membawa baki besar berisi sepiring nasi goreng spesial buatan Lukman sendiri dan segelas jus buah.
"Sayang..., tolong jangan lakukan ini terus! Aku malu, Mas! Ini harusnya kewajibanku menyiapkan sarapan dan membangunkanmu setiap pagi. Ini kebalikan!"
"Selamat hari kebalikan. Hehehe...!"
Cup.
Amelia menutup wajahnya yang memerah karena malu. Kecupan manis di kening menjadi jawaban Lukman lengkap dengan senyuman manisnya.
"Izinkan Aku melakukan hal ini, Sayang! Selagi Aku bisa dan senggang, akan kulakukan. Jangan rubah Aku, karena ini adalah impianku. Faham?"
Amelia menunduk malu.
Sepiring nasi goreng yang masih hangat dan mengepulkan aroma sedap menjadi santapan pertama Amelia di pagi hari.
Ini sudah hari ke tiga, Lukman sengaja merubah jadwal alarm di ponsel Amelia. Supaya Lukman bisa bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan pukul lima, lalu sholat Subuh berjamaah.
Tadinya Ia ingin mulai sholat Subuh di masjid. Tapi mengingat istrinya masih belum ada yang bantu, membuat Lukman urung lakukan itu.
Lukman ingin mencari dahulu seorang asisten rumah tangga untuk membantu dan menemani Amelia ketika dirinya mulai sibuk bekerja.
Bisnis properti Papanya kian meroket pesat usahanya. Lukman yang semula ingin banting setir ke bisnis pakaian seperti yang Ia rencanakan terpaksa menunda dahulu karena ternyata properti cukup mengasyikkan juga baginya.
Banyak hal baru yang Ia pelajari dari Bimo, sang Papa dan juga adik iparnya yang juga merintis usaha properti.
Keuntungannya lumayan besar. Menggiurkan jika sudah faham. Belum lagi kepuasan bagi sang arsitek yang bangunan buatannya jika disukai banyak orang.
Ternyata bisnis properti agak mirip dengan bisnis pakaian. Yang membedakan hanyalah produk yang dihasilkan.
Jadi untuk sementara ini Lukman mengubur dahulu keinginannya untuk buka usaha konveksi seperti rencana yang sudah dibuatnya.
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa pernikahan mereka sudah melewati satu bulan.
Arthur, sedang ada projects lain yaitu membuat film pendek yang akan ditayangkan di festival internasional di negara Perancis. Sehingga untuk minggu-minggu Arthur seperti menghilang bak ditelan bumi. Sedikit membuat Inayah bertanya-tanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1