
Di kota Cikarang, Samsiah yang terbangun dari pingsannya setelah dibangunkan oleh para karyawan pabrik yang hendak berangkat kerja hanya bisa teriak histeris.
Semua harta bendanya dirampok orang jahat. Membuat Samsiah hanya bisa menangis pilu setelah bercerita pada mereka yang membantunya untuk bangun dan duduk di warung nasi.
Tetapi semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Satu persatu mereka yang tadinya membantu dan mendengarkan cerita pilunya pergi ke pabrik untuk bekerja.
"Saya bagaimana ini nasibnya?" jerit Samsiah bingung karena tak ada lagi orang yang mengerubunginya.
"Mau bagaimana lagi, Bu? Kami juga tidak bisa membantu. Saya cuma punya sepiring nasi uduk untuk Ibu sarapan tanpa bayar!" ucap si pemilik warung yang mulai berkurang empatinya karena Samsiah yang rewel dan terus menerus bercerita tentang kekasihnya yang bernama Tito yang bekerja di pabrik sampo.
Orang-orang yang tadinya simpatik, berubah menjadi tersenyum sinis mendengar celotehan Samsiah. Ibu paruh baya yang ternyata sedang mengejar berondongnya.
"Sebaiknya Ibu pulang saja ke kampung. Itu adalah tempat yang terbaik untuk melanjutkan hari tua Ibu karena di sini itu kejam."
"Aku akan menemukan dulu kekasihku dan hidup bahagia dengannya dalam suka maupun duka!"
"Hadeeuh, ni orang tua! Ga ada otaknya apa ya, kesini cari kekasih hati yang katanya usianya 29 tahun. La dia sendiri umurnya udah 50 tahun. Ck. Beneran Emak-emak edan!" gerutu beberapa karyawan yang tersenyum tipis sembari berjalan tinggalkan Samsiah.
"Mbak? Apa kata Mbak? Koq bisa-bisanya bilang saya ini emak-emak edan? Dengar ya, di kampung saya ini adalah perempuan terhormat. Istri juragan kaya raya. Di sana Mbak ga akan berani mencibirku seperti tadi!" Samsiah yang mendengar celetukan perempuan muda yang mencibirnya langsung bereaksi.
"Ya sudah. Ibu pulang kampung saja. Di sana toh Ibu dapat penghormatan setinggi bintang di langit. Disini kami tidak mengenal Ibu apalagi kekasih hati Ibu. Daripada Ibu terlunta-lunta karena tidak ada uang, pulang ke kampung adalah yang terbaik. Di sana orang-orang masih memandang Ibu."
"Bukan tak ada uang! Aku bawa uang dua belas juta! Tapi dirampok orang jahat sampai hapeku, anting, kalung juga cincin digondol juga!"
"Iya. Saya turut prihatin. Saya mau kerja. Kalau disini terus nanti saya terlambat masuk dan bisa dipotong gaji. Permisi!"
Samsiah mendengus. Ia kesal orang-orang seperti meremehkan dirinya.
Menganggap Ia membual tentang uang yang dibawanya dari kampung.
Setelah menghabiskan sepiring nasi uduk pemberian Ibu warung, Samsiah kembali melanjutkan pencariannya.
Hanya Tito satu-satunya harapan Samsiah.
Ia berharap hari ini Ia akan bertemu Sang kekasih hati yang telah lama pergi.
Tetapi ternyata, harapan hanyalah impian.
Sampai pukul sembilan siang keliling pabrik satu ke pabrik lain dengan berjalan kaki membuat tubuh tuanya yang mulai ringkih ambruk pertahanannya.
Samsiah hanya bisa duduk melantai di jalanan aspal.
Ia akhirnya memilih untuk masuk ke perkampungan. Mencoba beristirahat mencari belas kasih para warga sekitar pabrik karena pabrik-pabrik mulai beroperasi dan suasana depan pabrik hening tiada orang lalu lalang kecuali truk-truk pengangkut barang.
'Dih, orang gila!'
__ADS_1
'Mana?'
'Itu!'
'Iya.'
'Orang gila! Orang gila!!!'
'Sana, sana. Jangan masuk gang rumah kami!'
Anak-anak berlarian menghardik Samsiah yang penampilannya acak-acakan.
Bahkan ada beberapa orang anak yang melempari Samsiah dengan batu koral hingga Ia mengaduh kesakitan.
"Hei! Aku bukan orang gila! Berhenti mengatai Aku! Dasar anak-anak idiot! Kalian tidak pernah diajarkan oleh orang tua kalian untuk berbuat sopan ya? Kalau kekasihku tahu kalian jahat padaku, dipukulnya pasti kalian sampai berdarah! Pacarku itu jago karate, tahu?!?"
"Heh? Orang gila, seenaknya Lo ngatain anak gue anak idiot! Sana Lo, pergi ga dari kompleks perkampungan sini! Atau Lo gue laporin ke kantor polisi karena udah bikin onar di kampung sini! Sana!!!"
Seorang lelaki seumuran dengannya berteriak keras karena tidak senang dengan hardikan Samsiah pada anak-anak itu yang salah satunya adalah anaknya.
Samsiah membalas kembali ocehan pria itu.
"Dasar orang kota kampungan! Kalian semua yang harusnya masuk penjara karena jahat pada orang pendatang! Jangan-jangan kalian juga komplotan perampok yang merampas hartaku?!"
Bletak.
Sebuah batu yang cukup besar mengenai bibir Samsiah hingga luka dan mengeluarkan darah.
Samsiah makin emosi.
Ia berjongkok mengambil batu yang berserakan di bawah. Lalu melempar balik ke arah pria sepantaran dirinya yang sedang marah-marah.
Anak-anak ikut melawan dengan menimpuk juga. Samsiah kewalahan sampai lari kocar-kacir kena sambitan batu.
Samsiah berlari tertatih-tatih menuju bantalan rel kereta api.
Nafasnya terengah-engah. Jantungnya seperti mau meledak karena emosi yang membludak.
"Dasar orang-orang sinting semuanya! Yang tua, yang muda, semuanya ga punya aturan sopan santun! Cih! Sayaaang, kenapa kamu sampai kabur dan ikut kerja saudaramu di kota laknat ini?!" gerutu Samsiah seorang diri.
Ia hanya mengoceh dan mengoceh sepanjang bantalan rel kereta api di siang hari yang terik.
"Tito, dimana kamu Tito? Cepatlah datang, jemput Aku, Tito! Aku tidak sanggup lagi. Hik hik hiks..."
Samsiah mulai down mentalnya. Tangisnya pecah hingga tak sadar ada kereta api yang datang mendekat dari arah belakang. Ia menangis sesegukan.
__ADS_1
Tidak ada orang yang melihat.
Bahkan suasana sekitar jalanan kereta api itu sepi lengang.
Samsiah hanya bisa merutuki nasib diri yang menyedihkan sambil berjalan terus di atas rel kereta api.
Kwoooonggg kwoooonggg
Kwoooonggg kwoooonggg
Jusjus jusjus
Kwoooonggg
Entah bagaimana bisa Samsiah tidak mendengar suara peluit panjang yang diberikan masinis sebagai peringatan.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Tubuh Samsiah tertabrak kereta api listrik bahkan sampai tercecer dan terseret ratusan meter hingga tak berupa lagi.
Hancur berantakan potongan tubuhnya.
Nyawanya melayang tanpa sempat ia menyadari kekeliruannya melakukan perjanjian dengan iblis.
Yang sebenarnya justru iblis hitam peliharaannya dan Ojan-lah yang telah mengambil rohnya, mati sia-sia.
Ditempat yang berbeda.
Pletek.
Duaarrr
Sekring listrik rumah Ojan tiba-tiba meledak tanpa ada hujan apalagi petir yang menyambar.
Ojan yang duduk di ruang tamunya hanya bisa mengusap raut wajahnya yang kini menyeramkan.
"Hhh... Samsiah! Maafkan Aku! Demi untuk hidupku yang masih akan terus berlanjut dan butuh uang untuk hidupku juga putrimu, Aku... menumbalkan dirimu, wahai istriku yang sudah membelot! Selamat jalan, Samsiah, istriku tercinta!"
Gumaman Ojan pada dirinya sendiri mengisyaratkan kalau dirinya telah tahu tentang kabar kematian Samsiah yang tersambar kereta api listrik di kota industri.
Persekutuannya dengan raja setan masih terus berlanjut.
Usaha bengkel, rumah kontrakan, kost-kostan dan juga persawahan berkembang pesat. Pundi-pundi uangnya bertambah seiring banyaknya pelanggan berdatangan dan panen yang berlimpah setelah tumbalnya bertambah.
BERSAMBUNG
__ADS_1