Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 129 Hati Amelia Yang Kebat-kebit


__ADS_3

"Silahkan duduk, Mas..."


Bimo mempersilakan Soleh untuk duduk di kursi ruangannya yang luas di lantai dua.


Soleh mengedarkan pandangan, kemudian menuruti perkataan Bimo.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas? Oiya, dengan mas siapa saya bicara?" tanya Bimo lagi dengan tenang.


"Soleh. Saya Soleh. Anda?"


"Saya Bimo. Ayah kandungnya Lukmanul Hakim."


"Hm. Ternyata, Lukman adalah anak orang kaya. Tapi kelakuannya, sama sekali tidak mencerminkan anak seorang pengusaha."


Bimo tersenyum tipis dan mengangguk hormat.


"Atas nama putra saya, Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya yakin, Mas orang yang baik. Setidaknya, Mas pasti punya adab sopan santun dan tatakrama."


"Anda mau tahu kenapa saya marah?"


Bimo mengangguk lagi sambil merendahkan kepala. Gayanya sangat santai tapi elegan. Ciri khas pengusaha yang memang memiliki karisma dan karakter diri yang kuat.


"Saya, adalah mantan suami Amelia. Ternyata, putra Anda dan istri saya melakukan perselingkuhan sejak kami masih berstatus suami istri. Anak Anda adalah perebut istri orang!"


"Astaghfirullahal'adziiim..."


Soleh senang. Ia berhasil membuat Bimo terlihat kaget dengan wajah pucat pasi.


"Saya kira, Anda bisa menilai sendiri bagaimana calon menantu Anda, Amelia. Saya kesini dengan niatan baik, khawatir dengan keadaan keluarga Anda yang terpandang. Jangan sampai menyesal menikahkan putra Anda dengan Janda saya, Amelia."


"Terima kasih atas kebaikan Mas jauh-jauh datang dari kampung ke sini, demi untuk membuka semuanya kepada saya."


"Mumpung masih ada waktu, hentikan sebelum Anda menjadi malu. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Terima kasih, sudah menerima saya dan mendengarkan suara saya."


"Sama-sama, Mas! Saya pun terima kasih atas perhatiannya."


Bimo menekan tombol telepon diruangannya.


"Hallo, Cahyo? Tolong antarkan tamu saya kembali keluar! Dan pastikan antarkan Mas ini selamat sampai kampung!"


Soleh tersenyum puas dalam hati.


Gagal, pasti! Amel! Maaf...! Maaf sekali lagi Aku jahat padamu. Tapi, cukup sekali ini lagi karena aku emosi dengan kau dan Lukman!


Sementara itu, Rama yang shock mendengar dan melihat keributan yang Soleh lakukan di hotel tempat akad dan resepsi akan digelar langsung menelpon Amelia.


Sontak Amelia sangat terkejut dan segera pergi menuju hotel bintang lima milik Bimo, calon mertuanya tanpa cerita pada siapapun.


Air mata Amelia berderai dalam perjalanan menuju hotel dengan taksi.

__ADS_1


Ia tak sanggup menghadapi Soleh yang sudah gila bahkan sampai mendatangi tempat pernikahan yang sedang berhias menyambut kedatangan kedua mempelai esok hari.


"Bang Soleh diterima diruangannya Pak Bimo, Yu'!!!"


Terngiang-ngiang kata Rama menerangkan bagaimana Soleh masuk dan sepertinya berhasil menjatuhkan nama baik Amelia.


Bagaimana kalau Papa Bimo marah? Lalu pernikahan ini dibatalkan? Sedangkan semuanya telah seratus persen disiapkan bahkan keluargaku serta tetangga-tetanggaku di kampung. Bagaimana...???


Risau hati Amelia.


Hampir saja Ia tersandung jatuh ketika berlari keluar dari taksi.


Dan matanya bersirobok dengan mata orang yang begitu Ia benci sampai ke ubun-ubun dengan senyuman tipis serta lambaian tangan.


Soleh ada dalam mobil bagus, keluar dari halaman parkiran. Membuat Amel luluh lantak perasaannya.


Dengan langkah lemas dan lutut gemetar, Amelia melanjutkan langkahnya menuju ruangan Bimo.


"Mbak Yu'!!!"


Rama berlari menghampiri Kakaknya.


"Yu'! Yu', tenangkan diri dulu. Aku juga deg-degan ini!"


Rama meraih tangan Amelia yang dingin dan menggenggamnya erat.


"Amelia? Rama? Kalian sengaja datang untuk menemui Papa?"


Amelia merasakan kerongkongannya bagaikan menelan duri. Sakit sakit tersekat dan bingung hendak bicara dari mana.


"Masuklah!"


Bimo terlihat seperti biasa saja. Tidak ada yang berubah. Namun hati Amel juga Rama tak karuan, khawatir dengan keputusan yang akan diambil salah satu konglomerat di Ibukota itu.


"Papa..., saya dengar dari Rama, mantan suami saya datang membuat suasana disini menjadi gaduh..., saya,"


"Itu sebabnya kamu sampai ngos-ngosan langsung meluncur ke sini?"


Amelia mengangguk sambil menunduk.


Tetesan air matanya kembali mengalir.


"Tegakkan kepalamu, Amelia! Jangan menunduk dan jangan lemah jika kamu merasa tidak salah. Tatap saya dengan harga diri yang tinggi karena kamu merasa bukan seperti orang yang mantan suamimu bilang."


Amel spontan berdiri tegak dan menatap wajah Bimo dengan kekuatan penuh.


Tidak ada kata-kata keluar dari bibirnya sebagai pembelaan. Tapi sorot matanya tajam dengan ketenangan serta keikhlasan pada apa yang akan Bimo lakukan nanti. Even itu membatalkan pernikahannya dengan Lukman. Amel telah pasrah.


Bimo menatapnya cukup lama.

__ADS_1


"Saya, menerima semua keputusan yang Papa Bimo ambil. Sekiranya itu adalah keputusan yang paling baik untuk mas Lukman kedepannya."


Suara Amel terdengar bergetar.


Amelia merasa detik jam terasa lambat sekali bergerak. Lamaaa bagaikan dunia berhenti tiba-tiba.


Bimo tersenyum puas sambil meraih jemari Amel yang tampak kebingungan.


"Pulanglah! Istirahatlah! Besok pagi kamu akan jadi pengantin wanita yang paling cantik di dunia."


"Pa_pa?!?"


Rama seperti meledak jantungnya. Matanya menatap lekat Bimo yang tenang dan lepaskan genggaman tangannya pada Amel.


"Rama,..."


"I_iya, Om?!"


"Antarkan Kakakmu pulang! Pastikan tidak ada yang tahu kalau dia baru saja kabur dari pingitan terutama Fanny. Oke? Hehehe..."


"Papa? Papa Bimo?..."


"Amelia. Aku sudah lebih dulu mendapatkan data lengkap tentang dirimu. Jangan khawatirkan itu! Pernikahan ini akan tetap berlangsung dan tak ada yang bisa mengubah pendirianku dalam menilaimu."


"Papa Bimo?! Hik hiks hiks... Papa Bimo!"


Amelia nyaris tersungkur ingin bersujud pada calon bapak mertuanya itu tetapi Bimo langsung menyanggahnya.


"Jangan, Nak! Jangan seperti itu. Aku sudah mengenalmu sebelum kamu memperkenalkan diri pada keluarga kami. Aku senang sekali bisa menikahkan putra sulungku dengan perempuan terbaik yang tangguh menjalani hidup. Jangan selalu merasa rendah diri, Nak! Jangan! Tegakkan pandangan, tatap dunia! Songsong hari esok dengan optimisme yang tinggi! Aku bangga denganmu. Kamu akan menikah dengan anakku besok. Kamu akan masuk menjadi anggota keluarga kami mulai pukul satu nanti. Semangat. Tersenyumlah, Anakku!"


Amelia menangis haru sambil memeluk Rama yang juga sembab matanya karena ikut menangis.


Rama sangat bahagia, Bimo sangat baik. Begitu bijaksana sekali dalam menentukan sikap.


"Apakah Mama Fanny,"


"Kami tidak ada masalah tentang dirimu sedari awal Lukman memperkenalkan kamu, Mel! Kami tahu, Lukman telah menceritakan semuanya juga pada keluarga inti. Hehehe... Sudah, jangan khawatir lagi, Oke?"


Amelia mencium punggung tangan Bimo.


"Terima kasih, Pa! Amelia pulang dulu ya Pa!?"


Bimo mengangguk.


Ia tersenyum melihat kedua kakak beradik itu sampai berpegangan erat datang menemuinya karena ada orang yang sedang berusaha menggagalkan pernikahan yang sudah siap seratus persen itu.


Hatinya menghangat. Ada haru juga bangga. Serta doa-doa semoga kekuatan cinta putranya bisa sampai jannah dan mendapatkan keberkahan berlimpah dari Allah SWT.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2