
"Mbak serius minta cerai pada Mas Soleh?"
Amelia menatap wajah Juriah. Semakin membulatkan tekad untuk berpisah dari Solehudin.
"Lihat! Inilah kelakuan pria yang menikahiku sepuluh tahun yang lalu!"
Amelia mengangkat telunjuknya dan mengarahkan ke mukanya. Ia mencoba memprovokasi istri muda sang suami untuk bisa menilai sendiri bagaimana kepribadian Soleh kini.
"Mungkin Mbak yang membuat Mas Soleh marah."
Amelia tersenyum sinis. Ternyata Juriah sudah mencintai Soleh sedalam itu.
Obrolan mereka terjadi di teras rumah setelah keputusan diambil Soleh yang akhirnya bersedia menceraikannya.
Amelia tak menyangka kalau perempuan muda yang baru seminggu lebih jadi madunya itu kini terang-terangan membela Soleh.
"Ya. Mungkin juga karena tingkahku yang tidak disukainya. Harusnya aku terus diam dan menuruti semua kemauannya. Dan melihat tingkah kalian dari kejauhan saja. Begitu?"
Juriah menunduk seolah merasa turut prihatin. Namun dihatinya justru ada eforia kebahagiaan yang begitu membuncah. Juriah merasa dirinya telah menang sebagai juara baru yang mampu meluluhkan hati Soleh hanya dalam waktu seminggu lebih saja.
Amelia mundur tanpa harus diberi tekanan olehnya. Itu adalah suatu hal yang menggembirakan.
Dan Soleh akhirnya hanya akan jadi miliknya seorang.
Sementara didalam rumah, Soleh sedang mengemasi pakaiannya yang ada di dalam almari.
Wajahnya tegang dan gerahamnya sesekali bergemerutuk.
Orangtuanya dan orang tua Juriah sedang duduk di ruang tengah. Menunggu putra Kesayangan bebenah memilah-milah pakaian yang hendak Ia bawa setelah memutuskan mentalak satu Amelia.
"Kamu serius ingin berpisah denganku?" tanyanya tadi ketika beberapa pasang mata keluarganya memperhatikan dalam diam, termasuk Juriah, istri mudanya.
"Iya."
"Tidak akan menyesal?"
"Tidak."
"Baiklah, Amelia. Mulai hari ini, jam ini, detik ini, kau bukan lagi istriku. Aku, Solehudin menceraikanmu talak satu, Amelia."
Bagaikan petir menyambar di atas kepala Soleh. Ia, menyesal sekali mengucapkan kalimat yang tak pernah Ia sangka-sangka.
__ADS_1
Kini mereka bukan lagi pasangan suami istri.
Soleh mengingat memori pertama kali dirinya mengenal Amelia.
Gadis manis yang lembut dan penuh kasih. Pengertian juga sopan membuat hatinya selalu senang serta tenteram berada di samping Amelia.
Soleh merasa beruntung bisa beristrikan Amelia.
Mahar yang hanya sebesar lima juta di kala itu sebenarnya adalah mahar pernikahan yang sangat murah dikalangan gadis pada jaman itu.
Amelia bahkan menerima dirinya seutuhnya tanpa penyesalan sedikit pun. Masalah besar kecilnya uang mahar yang biasanya jadi batu sandungan para pasangan yang mau melangkah ke pelaminan tak berarti apa-apa bagi Amelia.
Gadis itu justru mencoba memberikan penjelasan kepada keluarganya, kalau uang mahar hanyalah pembuka rezeki bagi calon pasangan suami istri.
Jika tulus ikhlas menerima ketentuan takdir yang telah Allah gariskan, yang penting mau berusaha mencari nafkah halal penuh semangat kedepannya, Insyaallah rezeki akan mengalir deras.
Dan Alhamdulillahnya pula, Kan'an serta Mia adalah orang tua yang memiliki pemikiran sabar juga sadar.
Kalau memang rezekinya hanya segitu saja meskipun dikejar sampai ke ujung dunia pun, tidak akan pernah bisa jadi hak milik. Keluarga Amelia bisa menerima kenyataan yang ada.
Bagi mereka, kebahagiaan hidup Amelia adalah yang utama. Harta kekayaan masih bisa dicari asalkan giat bekerja. Masalah mahar yang sedikit atau banyak, itu relatif bagi setiap orang yang memandang.
Bagi Kan'an dan Mia, bisa menutupi uang untuk biaya mengurus dokumen serta buku nikah Putri mereka dan selametan ala kadarnya sudah Alhamdulillah.
"Lalu, bagaimana ini maumu Amelia?" tanya Mariana membuat Amelia tersentak dari lamunan.
"Saya tidak akan pindah. Silahkan Bang Soleh saja yang membereskan pakaian dan semua barang miliknya. Saya tetap akan disini."
"Jadi urusan uang kontrakan, sekarang jadi tanggung jawabmu sendiri ya? Bukan lagi kewajiban Soleh karena kalian bukan lagi suami istri!" tambah Anta membuat Amelia mengangguk.
"Iya, Pak. Saya tidak akan meminta yang sudah bukan lagi hak saya."
Soleh dengan wajah datar mulai membereskan barang-barang pribadinya. Mulai dari pakaian, dokumen penting seperti ijazah, akta kelahiran dan lain-lain langsung Ia eksekusi.
Amelia hanya diam tak berniat membantu. Khawatir kalau Soleh tambah salah faham padanya. Sampai Juriah mengajaknya berbincang di teras rumah.
"Mbak... Apa Mbak mau berjanji tidak akan mengganggu rumah tangga kami nantinya?"
Amelia terkejut. Juriah ternyata memiliki ketakutan yang cukup besar kalau dia akan mengganggu rumah tangga mantan suaminya.
"Dengar, Juriah! Kenapa saya memilih bercerai dari Bang Soleh?! Itu karena saya tidak ingin mengganggu hubungan diantara kalian! Dan kalaupun saya mengganggu, harusnya sayalah yang mengatakan hal tersebut kepadamu yang anak kemarin sore tapi sudah salah mengerti maksud tujuan saya!"
__ADS_1
"Ma_maaf, Mbak! Saya..., saya hanya,"
"Sudahlah. Saya tidak ingin semakin memendam rasa yang tidak enak karena kamu bukan alasan terbesar saya minta cerai! Ada beberapa masalah yang tidak ingin saya sampaikan juga pada kamu karena bukan kapasitas saya lagi. Hanya satu pesan saya, jaga dan rawat Bang Soleh baik-baik. Dia itu pilihan kamu, kini tanggung jawabmu sepenuhnya dan saya sudah melepaskan dirinya dengan lapang dada!"
Juriah hanya termangu mendengar perkataan Amelia. Ada rasa bersalah sedikit tapi lebih banyak rasa tersinggung yang mencuat karena ucapan Amelia.
"Kami pergi. Semua barang milik Soleh sudah dikemasi. Tak ada barang berharga yang bisa dibawa selain kendaraan bermotor yang Soleh bawa. Televisi, silakan untuk kamu melewati sepi. Kompor gas beserta tabungnya, buat kamu. Perabot rumah seperti piring, gelas juga panci-panci, itu jadi hak kamu. Aku tidak akan minta bagian Soleh!"
Amelia merasa dirinya amat sangat tidak dihargai Soleh apalagi kedua orangtuanya.
"Motor saya minta dibagi dua!"
Mariana mendongak. Tak menyangka kalau Amel akan seberani itu meminta haknya.
Soleh melenguh. Ia menyeringai sinis seraya berkata, "Kau yang minta cerai, sekarang minta bagian harta gono-gini?"
Soleh yang mencebik membuat Juriah merasa risih.
"Mas! Ada baiknya Mbak Amel yang bawa motor butut itu! Mas sudah punya motor R15 dari Abi. Kenapa,"
"Itu adalah harta berharga pertama yang mas punya, Juriah!" sela Soleh langsung menceritakan keberatannya.
"Ini uang lima juta. Kurasa cukup buat sebagian dari motor matic ini!" Ojan yang sedari tadi hanya diam saja, akhirnya angkat bicara juga.
Sebenarnya bukan Amel inginkan motor atau apapun. Tapi dirinya sama sekali tak pegang uang apalagi simpanan. Makanya Amel minta motor dijual dan dibagi dua. Itu semua untuk pegangannya setelah bercerai dan modal cari kerja.
Ojan langsung menyodorkan sejumlah uang yang barusan ia ucapkan. Dan Amelia menerimanya tanpa menghitung lagi.
"Cih, dasar perempuan tidak punya harga diri! Bisa-bisanya minta harta gono-gini padahal ia tak bekerja sama sekali!" Sindir Mariana dengan terang-terangan meskipun dihadapan besannya.
Amelia hanya bisa menitikkan air mata. Benar-benar dilucuti semua harga dirinya.
"Pak, Bu, Umi, Abi, Aku mau lapor RT RW setempat dan mengatakan kalau rumah tangga kami sudah selesai. Mohon izin untukku dan Amel menyelesaikan permasalahan!"
Juriah menatap sang suami. Lalu menatap wajah kedua orangtuanya bergantian ke wajah kedua mertuanya.
"Ya sudah. Jangan lama-lama dan jangan buat kegaduhan lagi!" jawab Ojan singkat.
"Ayo Amel! Ini terakhir kali aku jalan denganmu! Laporan kalau kita bukan lagi suami istri!"
Amelia langsung melangkah mendahului. Kini ia tak ingin menjaga perasaan Mariana dan Ojan lagi. Cukup sudah sampai disini bakti serta sopan santunnya pada kedua orang tua Soleh itu.
__ADS_1
Kini semua sudah usai.
BERSAMBUNG