Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 179 Sama-sama Salah Faham


__ADS_3

Inayah gugup tatkala Arthur mengubah posisinya semakin dekat, merapat.


"Inay..."


"I_iya, Mas!" jawabnya gemetar.


"Aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap. Waktu kita masih panjang. Hehehe..."


Arthur seperti bisa membaca hati Inayah yang kalut.


Perlahan Ia longgarkan diri. Merenggang dan menjauh membuat hati Inayah jadi sedih.


"Mas..."


Inayah menarik tangan suaminya kembali.


Kini posisi mereka berhadapan dekat sekali. Bahkan deru nafas keduanya bisa di dengar telinga masing-masing.


"Inayah..."


Keduanya saling bertatapan. Dalam sekali.


Berpendar jutaan cahaya pengharapan dari bola mata mereka masing-masing.


Berharap penyatuan diri berakhir bahagia. Berharap cinta mereka kekal selamanya. Berharap dunia ini berhenti berputar disaat yang mendebarkan ini.


Arthur meraih bahu Inayah.


Tersenyum manis sekali. Dan...


Cup.


Bibirnya mengecup kening Inayah seraya berkata, "Istirahat lah! Besok kamu ada kelas pagi kan? Aku juga mau ke kantor pagi-pagi. Hehehe... Have anice dreams, my wife!"


Inayah sedih. Arthur melepas rangkulannya dan berbalik arah hendak meninggalkan Inayah pergi.


"Mas..., mau tidur dimana?"


"Tidurlah duluan. Mas mau ke ruang kerja dulu. Masih ada kerjaan. Ya?"


Inayah menatap punggung Arthur yang pergi berlalu. Hatinya sedih, sang suami tampak begitu sibuk sekali.


Bahkan seolah enggan untuk tidur berduaan seranjang dengannya.


Inayah terlalu pemalu untuk menarik perhatian Arthur meskipun kini mereka telah jadi pasangan suami istri.


Gengsinya mengalahkan keinginannya untuk bercinta, bermesraan dan manja ria seperti khayalan Inayah di masa remaja.


Malam itu pun berlalu tanpa ada yang istimewa.


Pagi menjelang, mentari bersinar terang.


Namun hati Inayah dan juga Arthur sama-sama diliputi kegelapan.


Keduanya tidak ada yang berani memulai mendekati diri satu sama lain.


Sama-sama takut melampaui batas padahal sudah menjadi hal yang lumrah, seharusnya.


Arthur terlalu takut pada pergerakannya memepet Inayah meminta haknya sebagai seorang suami.

__ADS_1


Inayah, terlalu cemas kalau suaminya menikahinya secepat ini karena ada niatan lain atau karena permintaan terakhir almarhumah Emaknya.


Keduanya akhirnya sama-sama salah faham.


Sama-sama terlarut dalam prasangka, hingga perlahan merenggangkan hubungan batin yang terjalin selama ini.


Mereka menikah, tapi hanya sekedar pasangan suami istri di akta nikah siri. Tapi di atas ranjang, mereka jarang sekali tidur bersama. Apalagi melakukan hal yang biasanya menjadi ritual khusus bagi para pasutri.


Hingga baik Arthur maupun Inayah, sama-sama memendam rasa keresahan jiwa.


Beruntungnya keduanya sama-sama sibuk pula dengan aktivitas masing-masing. Sehingga waktu berlalu dengan cepat.


Tanpa terasa, sebulan sudah terlewati.


Inayah sibuk menjalani harinya sebagai seorang mahasiswi.


Arthur juga masih mengurus kerjaannya merampungkan film terbarunya yang berjudul Istri Muda Untuk Suamiku.


Hingga suatu ketika,...


"Archie!"


Arthur tertegun. Dihadapannya ada seorang perempuan yang begitu cantik, anggun mempesona. Diperkirakan usianya seumuran dengannya.


Satu hal yang menggetarkan hati Arthur. Perempuan itu memanggilnya dengan nama panggilan masa kecilnya yang sangat ingin Ia lupakan bahkan Keluarganya pun tak lagi memanggilnya begitu karena Arthur sendiri yang melarangnya.


"Bi_anca!?"


Bianca, teman masa kecil Arthur. Cinta pertamanya pula. Dan karena Bianca pula, Arthur jadi seperti ini. Ragu akan cinta, tak percaya kalau cinta suci itu masih ada.


Bianca menuntun seorang anak laki-laki berwajah bule berusia sekitar tiga tahunan.


"Archie... apa kabar,"


Bianca terdiam dan tertegun.


Dunia serasa berhenti berputar. Kedua netra mereka saling bertatapan lama. Hingga...


"Papa, Papa..."


Arthur menoleh ke arah bawah.


Putranya Bianca memegang jemarinya dan mengayunkannya sambil memanggilnya 'Papa'. Tersedak Arthur sampai terbatuk-batuk.


"Archie..."


Arthur mundur selangkah. Tapi tak berani menghentakkan pegangan tangan bocah lelaki imut yang ada di hadapannya.


Arthur lemah dengan kepolosan anak-anak.


Ia menundukkan kepala, berjongkok sambil meraih tangan mungil putra Bianca.


"Siapa namamu, Anak Ganteng?" tanyanya dengan lembut.


"Arthur. Arthur Pangestu namanya!" jawab Bianca membuat Arthur meradang.


"Aku tidak bertanya padamu. Tapi pada bocah ini!" cetusnya dingin.


Bianca tersenyum tipis dengan kaki melangkah mendekat.

__ADS_1


"Arthur,... beri salam pada Papamu, Nak!"


Arthur melotot menatap Bianca.


Seperti waktu kembali kepada masa silam di masa mereka muda dulu.


"Aku bukan Papamu, Nak! Panggil saja Om!"


"Arthur ingin sekali punya Papa. Dia terbiasa memanggil setiap pria dengan sebutan Om. Baru kali ini anakku memanggil seseorang pria dengan sebutan Papa."


Tangan Arthur mungil menyentuh kulit pipi Arthur dewasa.


"Kenapa kamu menamainya Arthur juga? Untuk apa? Sengaja?"


"Hhh..."


Bianca menghela nafas. Panjang dan dalam sekali menyentuh perasaan.


Arthur kembali terkenang masa lalunya.


Usia lima belas tahun, mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Sama-sama lahir dan besar di San Fransisco, sebagai anak yang terlahir dari pasangan campuran Amerika Indonesia. Arthur dan Bianca adalah pasangan yang klop kala itu.


Bahkan mereka sama-sama baru melakukan ciuman yang pertama kali saat itu.


Tapi sayangnya, diusia 17 tahun Bianca pindah domisili ke dataran Eropa karena sang Papa yang adalah staf Kedubes yang harus sedia pindah kemanapun atasan mengirimnya.


Meski besar bersama, tapi pacaran mereka hanya satu tahun saja. Namun harus terpisah Long distance relationship antar benua.


Di usia ke 30 tahun, mereka kembali bertemu. Disatukan Tuhan dalam kampus yang sama. Saat itu mereka sama-sama sedang melanjutkan kuliah S2 nya dibidang perfilman.


Sayangnya, Bianca sudah menikah. Bahkan sudah memiliki satu orang anak perempuan.


Cinta pertama yang belum usai, membuat Arthur kembali terjerat pesona Bianca.


Apalagi saat itu Suami Bianca juga sedang dinas selama setahun sebagai seorang tentara di perbatasan Palestina.


Mereka, melakukan hubungan terlarang. Bahkan bermimpi bisa menikah di kemudian hari karena Bianca mengatakan akan menggugat cerai suaminya setelah kembali dari dinasnya.


Ternyata..., Bianca lagi-lagi membohongi Arthur dengan cinta hampa.


"Maaf, Aku permisi! Bye Arthur!"


Arthur hendak berlalu.


"Arthur adalah darah dagingmu, Archie!"


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Arthur berdiri mematung.


Namun segera sadar kalau Bianca bisa saja sedang ingin mempermainkan perasaannya seperti yang lalu-lalu.


Arthur kembali langkahkan kaki.


"Aku berani bersumpah atas nama Tuhan. Dia adalah hasil tetesan sper++mu. Arthur Pangestu adalah darah dagingmu. Bahkan sampai detik ini, tidak ada laki-laki manapun yang tidur denganku selain dirimu. Bahkan sampai suamiku meninggal dunia di perbatasan empat tahun yang lalu."

__ADS_1


"A_pa???"


BERSAMBUNG


__ADS_2