Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 206 Kisah Sedih Dibalik Cerita Arthur Pada Victor


__ADS_3

"Arthur..."


Arthur terkejut setengah mati. Victor menyesapkan bibir dan lidahnya mencuri ciuman bibir Arthur secara tiba-tiba.


"Gila!!!"


Arthur segera mendorong tubuh Victor yang lebih kecil dan lebih pendek darinya.


"Apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja berpisah dariku? Apa kau kini hidup bahagia dan benar-benar sudah melupakan diriku?"


"Victor! Kukira dua tahun kita tak bertemu, kau akan jadi orang yang lurus. Ternyata..."


"Aku masih lurus. Masih lurus mencintaimu, Arthur!"


"Istighfar! Jangan gila! Jangan pernah berfikir gila!"


"Hah?!? Hahaha... hebat, hebat. Sekarang kau sudah ber-Tuhan. Hahaha, dan apakah kau sudah hidup bahagia? Bahagia kah dirimu kini bersama betina yang kau bilang makhluk paling menyusahkan di dunia ini?"


"Inayah berbeda dari betina-betina lainnya. Istriku, membuat hidupku dipenuhi dengan kebahagiaan dan keberkahan, Vic. Aku bersyukur sekali mengenal Inayah. Aku akan mengenalkanmu pada istriku."


"Tidak! Aku tidak sudi berkenalan dengan perempuan yang telah merebut mu dari aku!"


"Victor! Aku ini adalah temanmu! Sahabatmu dikala susah maupun senang. Disaat aku kini senang, aku ingin kau pun ikut senang, Victor! Kusudah bilang berkali-kali, carilah jalan yang lurus. Keluarlah dari kaum Sodom, kaumnya nabi Luth yang ditenggelamkan Allah ke dalam tanah karena kemunkarannya yang merajalela. Ayolah, mumpung Allah masih sangat sayang padamu."


"Sekarang kau pun sudah pandai berkhotbah. Hm. Ternyata dirimu sudah benar-benar jauh dariku, Arthur! Kau melupakan persahabatan kita yang tulus. Kau juga melupakan semua kebaikanku kepadamu selama ini!"


"Tidak, Vic! Aku sampai mati pun akan selalu mengingat kebaikan-kebaikan mu. Kau yang mengurusku ketika aku sakit, kau yang tak pernah jemu mengantarku bolak-balik masuk rumah sakit ketika penyakit kantung kemih ku kambuh. Aku selalu mengingat kebaikanmu. Tapi jalan yang kau ambil salah. Aku tidak bisa terus berjalan denganmu jika kau masih berkelakuan seperti itu."


"Aku menyayangimu tulus. Cintaku suci. Tak ada tujuan untuk memanfaatkanmu! Tapi..., ternyata kau tak pernah mencintaiku!"

__ADS_1


"Aku mencintaimu sebagai seorang sahabat. Aku menyayangimu sebagai seorang kerabat. Kita ini sejenis! Pikir pakai otak, Victor! Aku laki-laki dan kau pun sama! Tuhan menciptakan manusia berpasangan agar bisa saling berkasih sayang dan mencurahkan kegundahan satu sama lain! Bukan sejenis dengan sejenis! Hadeeuh..."


"Bulshiiit! Dulu kau selalu mengiyakan perkataanku! Perempuan adalah biang kerusakan dunia! Perempuan adalah Dajjal yang sesungguhnya! Perempuan ada di dunia hanyalah sebagai makhluk pemuas saja! Mana kini semua dalilmu itu? Mana? Kau lupa hanya karena bocah perempuan kampungan itu? Gara-gara perempuan bau kencur itu kau lupa semua kekecewaanmu pada perempuan? Cih!"


"Betul. Dulu aku seperti apa yang kau bilang, Victor! Semua itu benar! Dan sejak aku mengenal Inayah juga keluarganya, fikiranku menjadi terbuka. Yang dulu dangkal dan selalu merutuk dunia terutama wanita, ternyata itu hanyalah fikiran negatif ku saja. Aku..., jatuh cinta pada perempuan yang kini menjadi istriku. Aku bangga menjadi bagian dari keluarganya kini. Aku bahagia karena kini telah berubah menjadi pribadi yang jauh jauh lebih baik dari Arthur yang dahulu. Itu semua karena perempuan bau kencur yang kamu bilang, Victor!"


"Cih! Menjijikkan! Kau benar-benar telah menjadi budak cinta! Terkungkung oleh cinta para betina yang berlindung dari tameng kelemahan padahal dia sedang tertawa terbahak-bahak menunggu kehancuranmu yang bertekuk lutut mengagungkan nama cinta! Laki-laki bodoh!"


"Sejatinya Tuhan ciptakan kita, kaum laki-laki... adalah untuk melindungi dan menuntun kaum perempuan menuju surga, Victor. Itu adalah hukum alam. Dan sudah selayaknya laki-laki mengalah pada kaum perempuan. Andaikan kau tulus hati, InshaAllah perempuan akan menaruh seluruh jiwa, raga juga perasaannya pada kita kaum laki-laki. Percayalah, Vic! Kalaupun dulu kita pernah hancur sehancur-hancurnya oleh kaum perempuan, itu adalah ujian cinta dan kehidupan."


"Jangan berkhotbah di depanku! Aku sudah tidak lagi mengenalmu!"


Victor melengos. Ia melenggang pergi, tapi Arthur menariknya lagi.


"Tunggu! Masih ada yang harus kita bahas!"


Victor berdiri dekat sekali dengan Arthur. Mereka saling berhadapan dengan mata bertatap-tatapan.


"Kau jahat! Kejam! Kejam!!! Hik hik hiks... Kejam tak punya perasaan kepadaku, Arthur! Padahal aku berharap banyak sekali. Berharap jadi manusia yang punya rasa syukur karena kau ada disampingku. Ternyata,... hik hiks hiks..."


Victor menangis. Pecah hingga raungannya terdengar cukup keras menggema di lorong belakang aula gedung yang sepi lengang.


Arthur menangkap bahu Victor. Ia merangkul dan berusaha menenangkannya.


"Hik hiks hiks... Aku jatuh, dan terjatuh semakin dalam tanpamu. Kau tahu itu! Tapi kau malah mendiamkan aku! Kau tidak peduli padaku! Kau dulu pernah bilang, kita ini seperti saudara senasib! Kita adalah dua manusia yang terluka oleh kejamnya dunia! Tapi kau, kau bahkan meninggalkan ku tanpa memberiku pengertian. Hingga aku bertanya-tanya, kenapa? Kenapa kau sekejam itu padaku? Hiks hiks hiks..."


Victor menangis dibahu Arthur. Ia memukul-mukul pelan punggung Arthur dengan tangannya yang gemetar.


"Kau menakutkan bagiku, Victor! Kau... kau memiliki obsesi yang membuatku perlahan ingin menjauhimu. Aku takut kau perko++ aku, disaat aku terlelap tidur. Aku ini masih ingin jadi lelaki normal. Aku tidak mau Tuhan merajamku menjadi butiran halus hingga tak bersisa lagi."

__ADS_1


"Cih! Dulu kau tidak percaya adanya Tuhan! Kau bilang Tuhan itu hanyalah ciptaan otak-otak manusia yang gila ibadah. Kau bilang mereka hanya mencari sosok untuk penguat diri mereka saja. Mana Tuhan, mana Tuhan? Aku tidak melihat Tuhan! Kau dulu pernah bilang begitu!"


"Ya, betul. Itu sebelum aku kenal Tuhan. Sebelum Tuhan membukakan jalan fikiranku yang buntu dan kosong kopong. Allah memberiku hidayah. Dari banyaknya kisah-kisah hidup manusia lain. Dari banyaknya cerita nyata yang akhirnya kuangkat jadi naskah film. Aku sekarang beralih ke film indie yang mengisahkan tentang kehidupan. Bukan lagi film-film pendek panas hareudang yang memain set otakku agar cepat meraup cuan dan laris manis di pasaran internasional. Bukan, Victor!"


"Hiks hiks hiks..."


"Dengarlah! Dengarkan Aku. Kita hidup tiap hari bertambah usia. Tiap hari pula berkurang sisa umur. Kau tahu, aku ini berpenyakitan. Kemungkinan nyawaku sudah diujung tanduk, mati di meja operasi atau ketika menahan sakit nyeri hendak pipis, who knows, Victor! Aku yang setiap kali terbaring sakit dan harus opname untuk kesembuhan penyakit saluran kemihku yang selalu bermasalah, Tuhan memberiku hidayah. Aku mengenal Tuhan. Aku merasa Tuhan sangat dekat denganku. Setiap saat setiap detik, bisa saja dia mengambil nyawaku. Dan aku sangat takut ketika menyadari itu, betapa aku sombong mengatakan kalau Dia tidak ada padahal ada dan sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari urat nadiku sendiri. Aku ketakutan sendiri, Victor. Aku berfikir keras, jika aku mati dan dalam keadaan masih tidak mengakui keberadaan-Nya, entah bagaimana aku jadinya di alam kubur nanti. Aku..., aku takut sekali, Victor. Hingga aku melihat seorang bapak tua penjual pisang. Dia buta, tak bisa melihat. Tapi dia nekad berkeliling jualan pisang dengan membawa tanggungan keranjang anyaman bambu depan belakang. Kupikir pria tua itu sangat tolol. Dia buta, tapi dagang keliling. Untuk apa bersusah-payah seperti itu, sedangkan untuk berjalan pun dia meraba-raba dan dibantu dengan tongkat kayunya yang sudah tua dan mungkin saja rapuh. Aku..., berjalan mengikuti langkahnya dari belakang. Beberapa kali dia tersandung, nyaris jatuh. Tapi langkahnya terus ke depan meskipun sangat pelan karena dia tidak bisa melihat. Hingga tiba-tiba terdengar suara azan dari seberang masjid di seberang jalan. Dia berhenti. Dan lama terdiam mendengarkan lantunan adzan di siang hari yang terik itu. Aku tidak menegurnya. Tidak membantunya. Tapi dia meminta bantuan pada seseorang yang lewat di depannya. Pak tua itu meminta bantuan agar di sebrangkan ke masjid. Katanya, ia ingin sholat Dzuhur. Pikirku, pria tua ini benar-benar menyusahkan dirinya sendiri. Tapi aku penasaran. Aku sangat penasaran dan ingin terus mengikutinya tanpa ketahuan. Singkat cerita, dia masuk masjid dan menaruh keranjang pisangnya di depan masjid. Ditinggalkannya begitu saja tanpa rasa takut kalau ada orang jahat yang mengambil cuma-cuma pisang dagangannya yang masih banyak. Aku tidak ikut masuk ke dalam masjid. Tapi duduk dipinggiran masjid dengan mata memperhatikan keranjang dagangannya. Benar saja, beberapa orang perempuan yang melintas berhenti dan mulai memilah-milah pisangnya. Aku terkejut melihatnya dan berdiri hendak menghardik mereka yang sedang asyik di depan dagangan pak tua. Lalu aku menegur mereka. "Pemiliknya sedang sholat di dalam. Kalian mau beli?" tanyaku kala itu. Mereka tersenyum dan mengangguk. Ketiga orang perempuan paruh baya itu mengambil pisang masing-masing satu tandan. Dan menaruh uang masing-masing pula sepuluh ribu rupiah. Aku sontak protes. "Hei, apa jual beli itu seperti itu?" tanyaku yang tidak suka cara mereka membeli pisang pak Tua. Mereka bilang, "Ini adalah cara kami beli pisang di pak Sulaiman. Setiap seminggu dua kali, dan sudah biasa begini." Tentu saja aku kaget. Para perempuan itu bertanya apakah aku anaknya bapak tua itu. Jelas aku bilang bukan. Hanya seseorang yang kebetulan berbarengan dengannya di jalan. Pak tua keluar dari masjid. Dia kaget kami ada sedikit ribut-ribut di depan keranjang pisangnya."


Arthur menarik nafasnya dahulu sebentar. Menjeda ceritanya yang semakin membuat Victor terlarut kedalamnya. Rasa penasaran menyeruak.


"Lalu?" tanya Victor membuat Arthur terkekeh kecil. Victor memang seperti seorang adik kecil baginya. Begitulah pertemanan mereka sedari awal dulu.


"Dia melerai kami. Menjelaskan kalau memang seperti itu konsep dagangannya. Para perempuan itu pergi setelah aku minta maaf pada mereka karena kesalahpahaman ini. Aku bertanya pada pak tua itu, kenapa dia menjual pisangnya dengan harga murah sekali setandannya. Seharusnya dua puluh ribu untuk satu tandan, bukan sepuluh ribu. Tapi dia bilang itu sudah harga tinggi. Di kampungnya tinggal, setandan cuma dihargai lima ribu rupiah. Aku makin terkesiap. Lalu kami berbincang-bincang di warung mie ayam. Dia menolak kubelikan mie ayam. Katanya istrinya sudah menyiapkan bekal makan siangnya dari rumah. Dia tidak berani makan sembarangan diluar bekal yang dibawanya. Ia memikirkan istrinya yang sedang menunggu di rumahnya katanya. Aku bilang padanya, makan mie sekarang, nanti pulang belikan istri bapak sebungkus juga. Impas kan? Tapi dia tetap menolak. Katanya, mubazir jika bekal yang istrinya buatkan tidak dia makan hanya karena ada yang traktir mie ayam. Sungguh pria tua yang tegas. Dan kami masih lanjut bercakap-cakap sementara aku makan mie sendirian sementara dia makan nasi bekal buatan istrinya. Aku bilang, bapak tak melihat tapi kenapa nekad jualan di jalan keliling pula. Tidakkah takut resiko yang banyak? Kau tahu Victor, jawabannya apa?"


"Tidak."


"Dia bilang, setiap langkah setiap pilihan, semuanya ada resiko. Itulah konsep Tuhan menciptakan manusia. Untuk mengambil banyak pelajaran selama hidupnya di dunia. Katanya, jatuh bangkitlah. Jatuh lagi, bangkit lagi. Terjatuh bahkan terluka dan sangat nyeri, obati dulu tapi kemudian harus bangkit dan semakin semangat lagi. Itulah konsep kehidupan."


Victor menatap Arthur tak berkedip.


"Pak tua buta yang gila!"


"Betul. Awalnya pemikiranku sama sepertimu. Tapi aku justru semakin penasaran dengan kepribadian pak tua buta itu. Aku mengikutinya setelah minta izin sebelumnya. Dia tertawa, tawanya terdengar lepas semakin membuatku penasaran. Orang ini padahal buta, hidupnya seperti serba kekurangan karena kulihat dari nasi dan lauk pauknya yang hanya terdiri dari tumis kangkung di plastik terpisah dan sepotong ikan asin. Wajahnya terlihat tenang menyejukkan. Dia juga seperti orang yang tidak punya rasa takut kalau dagangannya dicuri orang, dibohongi orang. Sementara Aku, berbanding terbalik. Aku banyak takut. Takut mati, takut sekali disakiti perempuan, takut sendirian, takut filmku tidak laku, takut usahaku bangkrut dan harus kembali ke orangtua meminta-minta modal tambahan. Sepanjang perjalanan, dia tak banyak bercerita. Aku pun hanya mengekornya dari belakang. Dan menyeberangkannya jika dia minta bantuan. Aku tanya, bapak sudah hafal jalan ini? Dia jawab, sudah cukup hafal karena seminggu dua kali dia keluar kampungnya untuk berdagang. Aku tanya, kenapa tidak minta anaknya saja yang melanjutkan dagang dan dia duduk manis di rumah bersama istri. Dia bilang, anaknya perempuan dan hanya seorang. Sekarang tinggal di kota yang berbeda sejak menikah. Hanya pulang setahun dua atau tiga kali. Jadi dia hanya tinggal berdua saja dengan istrinya. Sebenarnya anak menantunya setiap bulan intens mengiriminya uang untuk biaya hidup. Tapi dia jenuh jika harus diam saja di rumah tak punya kegiatan. Dia yang buta sedari lahir, memiliki sebidang tanah yang ditanami pohon pisang karena tidak terlalu butuh perhatian menggarapnya. Dan itulah hasilnya, dipanen dan dijual seminggu dua kali. Banyak sekali ucapannya yang membuatku terkagum-kagum. Dan ketika aku sampai di rumahnya yang asri dan sederhana, ternyata, pak tua itu memiliki kebun pisang yang sangat luas. Dan dia bukanlah orang miskin seperti yang diperkirakan. Dari situ aku mengorek banyak pelajaran hidup. Tentang Tuhan, tentang nasib dan takdir yang Tuhan berikan. Tentang kehidupan yang ada siang ada malam. Ada kesedihan dan ada kebahagiaan. Semua itu Tuhan berikan untuk kita, umat manusia agar ada pilihan. Jangan mana yang ingin kau pilih. Baik atau buruk. Positif atau negatif. Itu memang keinginan Tuhan, agar manusia menjadi semakin pintar dan bijaksana dalam menyikapi setiap kejadian di hidupnya."


"Mas Victor?"


Kedua pria yang sedang duduk bersila di lantai lorong itu terkejut dan menoleh.


Juriah berdiri tak jauh dengan wajah kikuk dan gugup.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2