Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 171 Kelahiran Si Kembar


__ADS_3

Senyum Arthur mengembang sempurna. Ini adalah rasa yang pertama kali ada di hati. Bahagia sekali akhirnya setelah sempat panas dingin, meriang tak jelas tak karuan. Arthur yang sudah berumur 34 tahun itu mendapat hidayah luar biasa.


Mia beserta anak-anaknya termasuk Amelia dan Lukman juga, hadir menyaksikan pengucapan dua kalimat syahadat Arthur yang terdengar lantang dan sempurna tanpa ulang.


Rama berhasil membujuk Lukman membawa Amelia turut serta meskipun kehamilannya sudah lumayan besar.


Tapi justru yang paling antusias adalah Amelia.


"Selamat datang, saudara seiman-ku!" kata Amel dengan nada suara bergetar terharu.


Lukman bahkan memeluk Arthur cukup lama sembari menepuk bahu pria yang usianya lebih tua lima tahun itu darinya.


"Senang sekali, aku punya saudara baru, mas bro!"


Puk puk puk


Mia menatap wajah Arthur dengan penuh perhatian.


"Semoga Allah merahmati hidupmu, Nak!" kata Mia ketika tiba waktunya menyalami Arthur.


"Terima kasih, Mak. Terima kasih banyak atas dukungannya. Terima kasih, Ram, Luk. Terima kasih juga buat semuanya. Beneran berasa Aku punya banyak saudara kandung."


Inayah tersenyum lebar.


Ada setitik air yang turun cepat dari salah satu sudut mata Arthur, namun segera dihapusnya.


"Mas, selamat log in."


"Hehehe..., terima kasih calon istriku!"


Sontak saja Amelia menoleh pada Inayah dan Arthur bergantian.


"Kalian..., sedang menjalin hubungan?" seru Amelia spontan.


"Mbak Yu',..."


"Amelia baru delapan belas tahun lho, Mas!? Sedangkan Mas Arthur usianya,..." tukas Amelia lagi.


"Amel..., bisakah kita berbincang sebentar?"


"Tunggu! Kenapa hanya berbincang dengan Istriku saja? Aku?"


Sontak semua kembali tertawa melihat Arthur yang agak bingung.


"Please lah, Aku mau pepet calon Kakak iparku biar setujui hubungan kita ini!"


"Hubungan kita? Hahh???" Lukman menggoda Arthur yang sesekali melirik Inayah yang terlihat santui tak seperti biasanya.



Senyum Inayah manis sekali. Membuat hati Arthur berdebar tak henti.


"Sudahlah, hari ini selametan makan bersama di resto Amelia. Yuk, semuanya. Cobain menu baru Tia yang lagi viral!"


Amelia meredam rasa cemasnya melihat adik perempuannya yang baru saja jadi mahasiswi ternyata didekati pria yang usianya jauh di atas Inayah.


Namun diam-diam Amelia memperhatikan tingkah laku Arthur dan juga Inayah.


Tanda keduanya sadari, akhirnya Amelia melihat chamistry yang terjalin antara keduanya. Di situlah Amel menyadari, kenapa Mia Emaknya menerima hubungan Arthur dengan Inayah.


Cinta memang buta.


Cinta tak pandang bulu.


Cinta tulus semoga berakhir dengan kebahagiaan.


Seperti dirinya yang kini berakhir di pelukan Lukman.


Dua janin yang ada dalam kandungan adalah bukti cinta dan kasih sayang Lukman yang begitu besar padanya. Padahal dulu Amel nyaris tidak percaya dan tidak pernah terfikir kalau Lukman akan jadi Ayah dari anak-anaknya kelak.


Setelah makan bersama dan sholat Ashar berjamaah di masjid keluarga, Arthur mencari waktu untuk bisa mendekati Amelia.


Pucuk dicinta ulam pun tiba.


Inayah sedang duduk sendirian di gajebo pojok restoran.

__ADS_1


Arthur berjalan menghampirinya.


"Mbak..."


"Aku sudah melihat semuanya. Aku sudah bisa membaca dan menilai dengan fikiranku sendiri. Maaf ya, kalau selama ini Aku sudah berfikir buruk tentang kamu. Terima kasih, telah banyak membantu keluarga kami. Terima kasih, Mas Arthur!"


Arthur tersenyum lega.


Ia tak perlu susah-susah lagi menjelaskan semuanya dari awal pada Amelia.


"Mbak adalah perempuan istimewa. Beruntungnya Mas Lukman yang berhasil mendapatkan Mbak!"


"Hei, Amelia itu istriku. Jangan puji-puji sembarangan!" tukas Lukman membuat Amelia tertawa senang.


Amelia meraih jemari Lukman. Mereka saling bertatapan dan sama-sama tersenyum manis.


"Please, kondisikan keromantisan kalian! Aku iri hati, aku juga ingin secepatnya seperti kalian!' ujar Arthur dengan bibir mencucut.


"Eitts! Tunggu Inayah jadi sarjana!" timpal Amelia tegas.


"Inayah mau nikah secepatnya, Mbak! Boleh ya?" kata Inayah yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Sedari tadi Inayah menguping. Khawatir kalau Amelia akan marah besar dan menunda pernikahan mereka. Tujuan utamanya adalah ingin membahagiakan Mia.


"Apa??? Inay???"


Tentu saja Amelia terkesiap. Inayah adiknya sudah ingin menikah muda.


"Mak?"


"Tak apa. Banyak koq anak kuliahan yang sudah nikah. Hehehe..."


Amelia bingung, Emaknya se-ringan itu menyikapi keinginan Inay.


Tapi dibelakang keributan antar saudara itu, ada wajah tampan yang seketika bersemburat merah jambu.


Wajah Arthur Handoko.


Inayah melirik Arthur yang bersikap seperti gadis remaja yang malu-malu kucing.


Inayah menoleh ke arah Mia yang juga datang menghampiri mereka.


"Senin besok Aku pamit dulu ke San Fransisco. Seperti biasa, pulang ke tanah kelahiran menemui ibu negara dan bapak presiden. Lalu terbang lanjut ke California beberapa hari kemudian ke Bali, stay di sana untuk dua bulan lebih. Syuting "Istri Muda Untuk Suamiku" akan segera dimulai. Mohon doanya, semoga film yang ini berhasil sesuai harapan."


"Aamiin... Moga sukses ya Mas!"


Semua senang mendengar penuturan Arthur tentang pencapaiannya. Hanya Inayah yang sedih.


"Nomor mu sudah kubuka blokirannya. Sering-seringlah chat Aku ya? Kasih semangat biar semua urusanku beres dan kita segera menikah. O iya. Kuliah yang rajin juga, biar dapat nilai IPK bagus. Hehehe..."


"Ciye ciyeee... Hahaha, koq kayak Bapak nasehatin anak ya, kesannya?! Hahaha..."


"Asem. Aku normal tanpa sayang-sayangan di bilang kayak Bapak. Nanti Aku akan lebih romantis di banding kalian kalau sudah nikah. Ya, Inayah, ya?"


Semua tertawa. Semua bahagia. Termasuk Inayah yang kini wajahnya bersemu merah.


Meskipun harus menanggung rindu selama tiga bulan lamanya, Inayah berdoa semoga Allah lancarkan semua urusan Arthur dalam pekerjaan.


Ia juga akan intens menjaga Mia. Mengantar jemput Emaknya tercinta rutin periksa ke rumah sakit bergantian dengan Rama dan Tia.


Semua sudah dibicarakan sebelumnya.


Hanya Amel seorang yang belum tahu kondisi kesehatan Mia.


Semua berusaha membuat mood Mia baik. Memberinya waktu apapun itu agar Mia bahagia dan sehat selalu. Harapan semua, Mia sehat, panjang umur dan terus hidup mendampingi putra-putri sampai sukses semuanya.


...🌿🌿🌿...


Amelia meringis merasakan perutnya seperti diaduk-aduk.


"Mas..., Mas!"


Lukman yang sedang tidur pulas disampingnya masih terlelap.


Amelia menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Ia perlahan turun dan terkejut melihat saluran kemihnya seperti los dol bagaikan kran air yang dibuka.


"Mas, aku sudah pecah ketuban!" pekik Amelia membuat Lukman tersentak kaget.


"Kenapa? Kenapa, Yang? Sudah mau lahiran? Hahh? Sakit? Mules?"


Amelia menarik tangan Lukman dan mengusap wajah Lukman yang gugup sampai bingung harus berbuat bagaimana padahal mereka seringkali praktek lahiran akhir-akhir ini.


"Wudhu dulu, Mas!" ucap Amelia ditengah-tengah merasakan sakit di perut.


"Apa? Kamu mau wudhu? Ditengah rasa sakit?"


"Ihh...aduuuhhh, maksudku itu kamu.... ughhh wudhu, dulu..."


"Haish, yassalam... kenapa Aku jadi panik begini!? Bentaran ya Yang! Mbak Ziaaa... tolong Mbak! Amel mau lahiran!"


Jalan ninja Lukman tentu saja teriak ke lantai bawah. Ada Zia yang sekarang diperbantukan di rumah besarnya untuk menemani Amelia setelah usia kandungan sembilan bulan.


Sontak pagi menjelang Subuh itu suasana jadi bergaduh.


Zia membawa tas peralatan perang Amelia untuk melahirkan. Lukman segera menggendong Amelia bagaikan seorang kesatria gagah perkasa.


"Kunci mobilnya mana?"


"Ya Allah, Mas! Jangan panik, jangan panik! Biar Mbak Amel Aku yang jagain disini. Kamu ambil kunci mobil di kamar, sana!" perintah Zia dengan gercep.


Amelia meringis menahan sakit. Namun ada senyum sedikit melihat Sang Suami yang ternyata bisa lucu juga di saat genting begini.


Bagaimana tidak lucu, Amel merasa Ia masih bisa jalan. Namun Lukman langsung gerak cepat menggendongnya ala-ala pengantin baru. Tapi lupa ambil kunci mobil.


Zia mengusap peluh di kening Amel.


"Mbak masih kuat?" tanyanya sigap.


Amel memberi kode dengan kedipan mata. Ia sudah tak sanggup lagi menjawab dengan lisannya. Karena rasa sakit yang luar biasa.


Beruntungnya jalanan ibukota yang biasanya ramai, padat bahkan macet, saat ini sepi lengang.


Azan Subuh berkumandang, dan ...


"Oaaa oaaa oaaa... Oaaa oaaa oaaa!"


Zia menelan salivanya.


"Oaaa oaaa oaaa, oaaa oaaa oaaa..."


Dua bayi telah lahir dengan selamat sehat dari persalinan normal.


Lukman mencium kening istrinya yang penuh peluh.


Amelia tersenyum puas meskipun Ia kelelahan.


Proses persalinan yang begitu cepat. Bahkan berlangsung tidak sampai setengah jam, si kembar Adam Hawa lahir membawa kebahagiaan.


"Maaakkk! Mbak Yu' udah lahiran!!!"


Rumah Mia ramai suara teriakan Inayah.


Mia yang terkejut karena tertidur di hamparan sajadahnya usai sholat Subuh sontak terhuyung bangun dengan hati gembira ria.


Brukk


Tubuh Mia jatuh ke lantai. Ia meringis kesakitan.


Krieeet...


"Makk?!?" Inayah terkejut melihat Mia yang duduk di lantai dengan badan masih bermukena.


"Mak kenapa?" tanya Inayah dengan wajah cemas.


"Hehehe... tidak apa-apa, Inay. Mak cuma keserimpet mukena pas bangun barusan."


Mia sengaja menutupi keadaan dirinya yang kian tidak baik-baik saja.


Penglihatannya kian buram. Jantungnya sesak dan...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2