
Artis sekelas Sinead O'Connor datang ke masjid ini? Pakaiannya juga seperti Inayah?
Tentu saja otak Arthur bekerja keras menerka-nerka.
Artis penyanyi lawas yang dulu pernah booming pada jamannya ternyata kini seorang mualaf bahkan berhijab dengan begitu baiknya.
Lagu Sinead O'Connor pernah menjadi lagu penyemangat Arthur Handoko dikala Bianca memutuskan cintanya dan menikah dengan seorang pria tentara yang katanya dijodohkan oleh orang tuanya.
Cinta pertama yang menyakitkan.
Gagal move on meskipun belasan wanita silih berganti dalam hidup Arthur sejak saat itu.
Sampai akhirnya Ia dan Bianca embali berhubungan secara diam-diam dibalik layar padahal waktu itu dia sudah menikah dan punya satu anak.
...NOTHING COMPARES TO YOU...
...Tidak Ada yang Mampu Menandingimu...
...Sinead Oβ Connor...
Itβs been seven hours and fifteen days
Since you took your love away
I go out every night and sleep all day
Since you took your love away
Since you been gone I can do whatever I want
I can see whomever I choose
I can eat my dinner in a fancy restaurant
But nothing
I said nothing can take away these blues
`Cause nothing compares
Nothing compares to you
Ini baru tujuh jam dan lima belas hari
Sejak kamu meninggalkan cintamu
Aku keluar setiap malam dan tidur sepanjang hari
Sejak kamu meninggalkan cintamu
Sejak kamu pergi aku melakukan apapun yang aku suka
Aku bisa melihat siapapun yang aku pilih
__ADS_1
Aku bisa makan di restoran mewah
Tapi tidak satu pun
Aku bilang tidak ada yang bisa membawa pergi rasa sedih yang mendalam ini
Karena tidak ada yang bisa menandingi
Tidak ada yang bisa menandingi kamu
Mengingat kembali lagu itu membuat Arthur mendecak sedih.
Gadis pujaannya itu kini sudah berkalang tanah. Meninggal dunia karena penyakit leukimia yang menggerogotinya.
Arthur kembali teringat Sinead O'Connor yang masuk ke dalam masjid.
Ternyata dia terburu-buru karena hendak menunaikan sholat! Gumam Arthur dengan mata terpana, melihat ketaatan sang artis yang kini telah berhijrah.
Arthur kembali teringat Inayah.
Gadis bertubuh tinggi semampai itu tersenyum manis dipelupuk matanya.
"Ya ampun..., kenapa dia semanis itu meskipun aku seringkali menyakitinya!?" rutuknya pelan pada diri sendiri.
Arthur termenung memikirkan Inayah yang sedang hamil dan harus tinggal sendiri tanpa bantuan Suami.
"Hhh..."
Tanpa sadar Ia menghela nafas menyesali perbuatannya selama sadar dari koma setelah kecelakaan.
Sungguh diluar dugaan.
Penyanyi wanita yang sudah paruh baya itu tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
Seketika Arthur terpesona dengan aura kharisma Sinead O'Connor yang jauh dari kayalannya sepuluh tahun silam.
"Kamu boleh memanggil Saya Shuhada! Shuhada Sadaqat, tepatnya!" katanya dalam bahasa Inggris yang kental karena beliau berasal dari Irlandia, negara konstituen Britania Raya.
Semakin ternganga mulut Arthur mendengar penuturan sang artis.
"Amazing!"
"Ya. Sangat luar biasa sekali. Saya sendiri sampai hari ini masih sangat terkagum-kagum pada kebesaran Allah Subhanahu WaTa'ala. Oiya, siapa namamu Anak Muda?"
"Hehehe... sudah expired disebut anak muda, Miss! Usia saya sudah 37 tahun. Dan saya juga mualaf seperti Miss Connor."
"Masya Allah. Senang mendengar kalau kita adalah saudara seiman."
Banyak cerita yang Arthur dapatkan dari obrolan singkat dengan Sinead O'Connor yang berganti nama menjadi Shuhada itu.
Pertemuan pertama kali sang penyanyi dengan fans mudanya mengalir tanpa perencanaan.
Semuanya begitu bermakna dalam. Sampai-sampai Arthur tak bisa mengucapkan sepatah kalimat pun ketika mendengar sang penyanyi yang pernah hits pada jamannya itu menuturkan kisah hidupnya yang menggetarkan kalbu.
__ADS_1
"Madam, waktunya kita segera kembali!"
Supir pribadi Sinead O'Connor menghampiri dan mengingatkan sang penyanyi yang kini amat religius itu.
"Oh, oke. Arthur. Maaf, saya harus segera pergi. Senang bertemu denganmu."
"Saya yang sangat senang karena bisa berbincang dengan Madam. Juga mendengar kisah hidup yang luar biasa. Saya sangat mengapresiasi sekali."
"Semoga kamu lekas pulih ingatannya. Dan mendapatkan kebahagiaan dari Allah SWT."
"Aamiin. Terima kasih, Madam atas doanya."
"Sholat Isya lah dahulu. Saya permisi. Assalamualaikum..."
"Tunggu, Madam. Bisakah saya mendapatkan nomor pribadinya? Saya ingin sekali berkonsultasi."
"Maaf, Arthur. Saya harus pergi sekarang. Semoga kamu sukses mencapai dunia dan akhiratmu. Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Kedua bola mata Arthur menatap Sinead O'Connor hingga menghilang dari balik pintu masjid.
Seperti mendapatkan siraman rohani yang membuat Arthur bersemangat sekali menuju tempat wudhu.
Dan dia berwudhu dengan tepat dan beraturan.
Bahkan tanpa Arthur duga, ingatannya tentang bacaan niat wudhu begitu jernih. Hingga ia sendiri terbengong-bengong menyadari akan kemampuannya membaca serta menghafal huruf Arab seperti doa niat wudhu.
Arthur melanjutkan ibadahnya. Sholat Isya empat rakaat bahkan begitu lancar bacaan sholatnya sampai tahiyatul akhir.
Selesai sholat Arthur termenung sendirian di dalam masjid.
Ini adalah sholat pertama kalinya Ia setelah bangun dari koma.
Bulu kuduknya meremang menyadari kebesaran Sang Pencipta yang kini yakini.
Seketika, jatuh bercucuran air matanya.
Laksana luluh lantah seluruh kesombongannya selama ini.
Arthur menangis terisak sambil bersujud memohon ampunan Sang Kholiq.
Memori ingatannya memang belum kembali. Tetapi hatinya seperti baru saja disiram air sejuk yang menenangkan.
Kini ia menyadari, kalau dirinya memang telah beriman kepada Allah Ta'ala.
Hatinya telah kuat. Bahwa agamanya memang benar-benar Islam, seperti yang selama ini Inayah dan keluarganya serta Victor ceritakan.
Arthur baru memahami konsep keimanan yang sesungguhnya.
Iman yang bukan karena pengaruh seseorang. Iman yang benar-benar percaya akan kebesaran dan kekuasaan Allah Sang Maha Benar.
Dengan dibimbing imam besar masjid AISabeel Noor Al-Islam, Arthur kembali menguatkan imannya mengucapkan dua kalimat syahadat.
__ADS_1
Malam ini, Arthur berikrar akan beribadah di masjid tanpa pulang lagi ke apartemen sampai keesokan hari.
BERSAMBUNG