
Inayah masih cemas sekali mencari keberadaan Pupu yang menghilang dari rumah.
Ia makin panik karena hujan gerimis turun membasahi bumi.
"Ya Allah, Pupuuu... dimana kamu, Nak! Hik hiks hiks... Ya Allaaaahhh... tolong Aku temukan Pupu ya Allah!"
Hujan makin deras. Aroma tanah yang tersiram air hujan membuat Inayah pusing kepalanya dan mualnya kembali timbul.
"Hoeek hoekkk! Hoekkk..."
"Ibu pulanglah! Biar saya yang lanjutkan cari DenPu di setiap persimpangan!" kata supir pribadinya yang menyodorkan payung dari dalam mobil setelah berhenti tepat di depan rumah besarnya.
"Aku mau cari Pupu, Pak Noor."
"Ibu sedang hamil. Kondisi Ibu juga mengkhawatirkan. Saya yakin, saya bisa bawa pulang Pupu kembali ke rumah sebelum pak Arthur datang."
"Hik hiks hiks... Harusnya kehamilan ini jadi kabar baik yang menggembirakan. Ternyata bagi Pupu, ia belum siap mendengarnya dan berfikir lain menurut kaca matanya."
Pak Noor turun membukakan pintu gerbang. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk Inayah, kemudian mengambil dan mengembangkan payung yang sedari tadi hanya di pegang Inayah.
"Saya yakin, Pupu tidak akan pergi jauh."
Tiin tiin tiiiinn
Inayah terkejut. Suara klakson motor membuatnya kaget.
Seorang pria berjaket kulit warna hitam dengan helmet tertutup rapat duduk di atas motornya yang basah kena air hujan.
Inayah terkejut. Sebuah kepala menyembul dari belakang punggung pria misterius itu.
"Bundaaa..."
"Pupuuu!!!"
Inayah langsung keluar dan bergegas mendekati motor yang membawa putra sambungnya itu.
Pupu turun dari motor dibantu pria itu.
"Cepat, cepat. Hujannya deras. Ayo masuk ke dalam rumah kami, Mas!"
Inayah merangkul bahu Putra Arthur Pangestu yang basah kena air hujan.
"Sayaang, kamu dari mana?" Isak Inayah dengan air mata merebak basahi pipi.
"Maaf. Tadi, tadi Pupu bingung. Pupu mau pergi. Tapi... tapi tidak tahu pergi kemana."
"Kenapa? Kenapa Pupu mau pergi? Pupu justru sudah bikin Bunda panik dan sedih karena pergi dari rumah. Hik hiks hiks..."
"Maaf..."
Inayah memeluk tubuh Pupu yang ikut menangis keras merasa bersalah.
"Mas, terima kasih banyak sudah mengantarkan putra saya pulang."
__ADS_1
Inayah menoleh kepada pria berjaket hitam. Dan...
"Re_rendy?"
Kedua netra mereka saling beradu pandang.
Pria yang baru saja membuka helmnya itu mengalihkan pandangannya ke halaman luas.
"Anak bule itu... ternyata anak kamu ya?"
"Iya. Terima kasih banyak sudah membantu putraku kembali ke rumah."
"Tadi dia terlihat kebingungan di depan alfamid. Dia juga tidak bawa uang, tidak habis berbelanja juga. Waktu kutanya, dia gugup dan bahasa Indonesia kacau balau. Malah terlihat campur aduk bahasa Inggris."
"Pupu kami memang lahir di Amerika. Pupu sedang sedih karena akan punya adik. Terima kasih banyak, Rendy!"
"Kukira kamu bohong kalau kamu sudah menikah dan punya anak. Kukira itu hanya alasanmu menolak cintaku yang cuma seorang asisten dosen saja."
"Maaf. Tapi Aku memang berstatus Ibu rumah tangga. Aku ini Ibu satu anak. Makanya Aku dengan tegas menolakmu. Maaf ya?"
"Aku menolakmu bukan karena status pekerjaan kamu. Tapi emang aku ini perempuan bersuami. Sebentar lagi anakku tambah satu. Hehehe..."
"Kamu? Sedang... hamil? Umurmu memangnya berapa tahun? Nikah umur berapa?"
"Hehehe... Memang menikah muda. Alhamdulillah, jodohku dekat hingga di usia 19 tahun sudah dilamar seorang pria tampan dan baik hati yang tulus mencintaiku. Hehehe..."
"Ah, aku beneran patah hati. Ternyata gadis yang kuincar dua bulan belakangan ini ternyata sudah jadi milik orang lain. Beneran ga ada kesempatan ya?"
Inayah tertawa kecil. Menggelengkan kepala dengan kedua belah tangan diangkat keatas.
"Maaf, Rendy. Aku tidak buka lowongan. Hanya suamiku seorang, tidak ingin ada selingkuhan. Oiya sekali lagi terima kasih sudah bantu Pupu pulang."
"Sama-sama. Ya udah, aku pamit permisi, Nay."
"Iya. Makasih ya?"
"Betewe, gue beneran ga ditawarin masuk dulu ke dalam rumah kalian nih?"
"Hehehe, maaf. Suamiku lagi ga ada di rumah. Terima kasih ya. Sampai ketemu di kampus next time."
Rendy tertawa. Ia mengacungkan dua ibu jarinya.
"Benar-benar istri idaman!" pujinya sambil berlalu pergi ke luar gerbang rumah Arthur dan Inayah.
Inayah tersenyum sambil melambaikan tangan.
Rendy adalah asisten dosen di kampus Inayah.
__ADS_1
Pemuda itu adalah alumnus fakultas tempat Inayah kuliah dengan IPK tertinggi di jamannya.
Rendy berusia 24 tahun. Tampan, cerdas, juga seorang yang santun serta taat beribadah.
Dia juga dengan gentleman menembak Inayah setelah tiga kali pertemuan mereka di perpustakaan kampus universitas.
Tentu saja Inayah langsung menolaknya tanpa pikir panjang. Itu adalah kejadian dua bulan yang lalu. Tepatnya tiga bulan setelah Ia menikah siri dengan Arthur Handoko.
Anehnya meskipun foto Inayah bahkan sempat masuk di berita online ketika kasus Arthur Bianca mencuat, Rendy sama sekali tidak mengetahuinya. Inayah menikah resmi dengan pesta besar-besaran di Puncak Pass pun ternyata pemuda itu tidak tahu sama sekali. Benar-benar pemuda yang buta media sosial sepertinya.
"Sayang..., dengar Bunda! Pupu tidak boleh seperti itu lagi lain kali ya? Ya Sayang?"
Inayah kini fokus pada Pupu.
Ia memandikan putra sulungnya Arthur dan memakaikan pakaian sambil memberi wejangan.
"Bunda dan Papa tentu saja akan tetap sayang Pupu meskipun nanti ada Dede bayi. Pupu juga harus sayang adek bayi karena Bunda dan Papa juga akan mendidik adek bayi agar sayang juga sama Pupu. Karena Pupu adalah Kakaknya adek bayi. Faham ya Sayang?"
"Iya."
"Pupu sayang Bunda?"
"Iya."
"Pupu sayang Papa?"
"I_iya. Hik hik. Pupu takut tidak disayang Bunda lagi. Huaaa hik hik hiks..."
Inayah memeluk Pupu.
"Pupu adalah anaknya Bunda sama Papa. Tentu saja sampai kapanpun Bunda sama Papa bakalan sayang Pupu. Meskipun ada adek bayi nanti. Sayang kami tidak akan berkurang. Bahkan semakin bertambah besar. Kami bahagia punya Pupu. Semakin bahagia Pupu akan punya adik."
"Buuunn... hik hik hiks..."
Inayah tersenyum lega. Putranya kembali manja dan mesra padanya.
Meskipun Pupu tidak lahir dari rahimnya, tapi Inayah tulus menyayangi Pupu. Bahkan ketika Arthur terlihat agak cuek pada anak biologisnya itu, Inayah lah yang mengingatkannya untuk sayang pada Pupu.
"Hujan sudah reda. Kita makan di McD yuk? Chicken sama kentang gorengnya bikin Bun lapar. Yuk?"
"Hayo?!? Hehehe... Pupu sayaang Bunda!"
Cup.
"Bunda juga sayang Pupu. Sayaang banget!"
Pupu tersipu malu. Ia memang selalu malu-malu kucing ketika Inayah mengecup pipinya dengan lembut.
Keduanya kini telah bersiap akan pergi ke kedai junkfood favorit Pupu. Menikmati hari yang indah setelah melewati drama yang sempat mengharu biru.
Alhamdulillah Pupu sudah ketemu. Ga kebayang gimana reaksi Mas Arthur kalau Pupu hilang. Hhh... Hampir saja Aku gagal jadi Ibu tiri yang baik bagi Pupu. Batin Inayah lega.
BERSAMBUNG
__ADS_1